Dua hari pasca operasi Cruise, Zizi sama sekali tidak datang menjenguk. Ia memutuskan untuk berdiam diri di rumah dan berusaha menyibukkan diri.
Ia memiliki pemikiran, jika Cruise akan kembali ke Manhattan, maka ia harus membiasakan diri hidup tanpanya.
Jujur saja, semua ini mungkin akan lebih mudah dilakukan jika di rumah sedang banyak orang. Pikirannya akan sedikit terhibur dengan pembicaraan rekan-rekan awak kapalnya, sehingga semua pemikiran terhadap Cruise akan dengan mudah teralihkan.
Namun, sayangnya kapal sang ayah akan kembali sekitar seminggu lagi. Jadi, penderitaan di hati Zizi sungguh terasa.
"Ok, hanya sebentar lagi, maka semuanya akan kembali seperti semula, Zizi! Cia you!!" Zizi berusaha menyemangati dirinya sendiri sambil mengepalkan tangannya.
Ia membersihkan rumah, memasak, makan dan berakhir dengan ... merenung. Hatinya sungguh terasa hampa dan kosong. Ia ... benar-benar merindukan Cruise.
"Ya, Tuhan. Bagaimana ini?" Zizi menelungkupkan wajahnya di atas kedua lengannya yang terlipat di atas meja makan.
'Oh, ayolah! Dia masih ada di sini, Zizi. Menemuinya dan menghabiskan sisa waktu bersamanya bukanlah sebuah dosa,'kan?' Hati Zizi mulai memprovokasi.
Zizi terlihat semangat ketika mendengar suara itu.
Ia hendak bangkit berdiri ketika suara lain berkata yang sebaliknya.
'Dan itu akan semakin menyakitkan ketika dia pergi nanti, Zizi. Untuk apa menghabiskan waktu bersama dan mengukir kenangan? Toh endingnya kaulah yang harus menanggung semua kerinduan itu. Sementara dia? Dia tidak merasakan apapun padamu ... hatinya sudah dimiliki wanita lain, jadi berhentilah menyiksa diri sendiri.' Suara lain mencoba mempengaruhi.
Zizi kembali duduk dengan lemas.
'Kenapa kau harus menyiksa dirimu dengan menahan rindu jika hal itu bisa kau sembuhkan sekarang? Cruise masih di sini, Zizi. Sungguh tidak masuk akal jika kau menahan kakimu untuk tidak menemuinya. Soal nanti Cruise kembali ke Manhattan, biar itu jadi urusan nanti. Yang penting, jika kau bisa berbahagia hari ini, ambillah jatah kebahagiaanmu itu, karena kita tidak pernah tau kapan datangnya jatah hari kita akan berduka."
Ah! Zizi meremas samping kepalanya dengan frustrasi. Ia sungguh tersiksa dan tidak tahan lagi.
"Ya, Tuhan! Aku bingung!!" Zizi memejamkan matanya.
"Ah, sebaiknya aku membawakan sesuatu untuknya," gumam Zizi akhirnya.
Ia lalu mengambil bahan dan kembali memasak di dapur dan sesudahnya, ia mandi dan berdandan lalu tanpa berpikir panjang, ia pergi ke rumah sakit sambil membawa penganan yang baru ia buat.
Ia mengenakan terusan berbahan sifon dengan warna biru muda bermotif bunga-bunga. Rambutnya yang panjang dan lurus ia kuncir dua sehingga terlihat seperti anak sekolahan jika begini, padahal usianya sudah akan menginjak 21 tahun sebentar lagi.
Zizi dengan semangat berangkat menuju rumah sakit dengan sebuah ransum di tangannya. Wajahnya nampak berseri-seri membayangkan akan bertemu sang pujaan hati.
Begitu sampai di depan kamar Cruise, ia menarik nafas sebelum membuka pintunya. Ia masuk dan melihat bahwa ternyata, Cruise tidak ada!! Tempat tidurnya sudah kosong!
'Apakah Cruise sudah pergi?' pikir Zizi dengan cemas.
Ia lalu menghampiri salah satu pasien yang berada di sisi ranjang Cruise. Pria itu sedang berbicara dengan seorang wanita yang sejak beberapa hari ini menungguinya.
"Maaf, apakah Anda tau pasien yang ada di sini?" tanya Zizi.
Pria dan wanita itu bersamaan melihat ke arah Zizi.
"Temanmu itu sudah tidak pernah kembali kemari sejak dia dipindahkan ke ruang operasi," jawab pria itu.
"Ohh ... begitu ya?" Ekspresi Zizi jadi terlihat sedih.
"Coba kamu tanyakan saja ke pihak rumah sakit," timpal sang wanita.
"Oh, baik. Terimakasih," ucap Zizi.
Ia pun berpamitan dan keluar kamar menuju ruangan administrasi.
"Selamat siang, nurse. Saya ingin tau kondisi pasien yang bernama Cruise. Apakah dia sudah keluar dari rumah sakit?" tanya Zizi ketika ia sudah duduk di depan meja administrasi.
"Cruise siapa, Nona?" tanya perawat tersebut.
"Cruise Benedict."
Perawat itu lalu mengetik sesuatu sambil menatap layar komputer.
"Dia masih di rawat di ruang VVIP," jawab perawat tersebut.
"Oh benarkah? Apakah saya bisa tau nomor kamarnya?" tanya Zizi dengan wajah sukacita.
"Tentu saja, beliau dirawat di kamar 805," sahut perawat tersebut.
"Terimakasih, Nurse." Zizi segera bangkit berdiri dan menuju lift untuk naik ke lantai 8. Hatinya begitu lega mengetahui bahwa Cruise ternyata belum kembali ke Manhattan.
Ia berdiri di depan kamar 805 dan dengan memantapkan hati, ia mengetuk pintu. Karena ini adalah ruang VVIP, maka tidak ada yang dirawat di sini kecuali Cruise. Zizi tidak berani masuk sembarangan mengingat bisa saja kedua orang tua Cruise berada di dalam.
Knock! Knock!
Zizi mengaitkan bibirnya dengan tegang menunggu seseorang membukakan pintu dan beberapa detik kemudian, seorang wanita paruh baya sudah berada di hadapannya dengan senyum ramah khas miliknya.
"Wah, Zizi Yu, akhirnya kamu datang juga. Cruise menanyakan kabarmu dan kami semua tidak bisa menjawabnya." Nyonya Lorraine Benedict berbicara sambil membuka pintunya dengan lebar untuk mempersilahkan Zizi masuk.
Hati Zizi jadi berbunga-bunga mengetahui bahwa ternyata Cruise menantinya.
"Saya sedikit sibuk membersihkan rumah dua hari ini, Nyonya. Maafkan saya," ucap Zizi sambil sedikit membungkuk hormat.
"Oh, begitu rupanya, masuklah, Cruise sudah menunggumu," ucap Nyonya Benedict.
"Selamat siang, Tuan Benedict," sapa Zizi kepada ayah Cruise yang melihat kedatangannya.
"Selamat siang, Zizi," jawab Tuan Benedict.
"Hai, Cruise ...." Zizi melambaikan tangannya dengan kikuk ketika ia melihat Cruise juga menatapnya. Pria itu terbaring di ranjang dengan kedua kaki yang sudah di gips.
"Hai ... aku kira kau sudah tidak mau menjengukku lagi," kata Cruise.
Ia menatap penampilan Zizi yang cukup cantik hari ini. Dress berwarna biru muda dengan hiasan bunga-bunga yang ia kenakan sungguh kontras dengan kulit putihnya. Ia terlihat imut dan menarik hati. Membuat pria yang melihatnya jadi gemas.
Namun, sayang hati Cruise belum beres dengan Jillian. Penampilan Zizi yang cantik hanya menghibur matanya, tapi bukan hatinya.
"Ah, tidak! Kenapa kau berpikir begitu, Cruise?" Zizi jadi merasa tidak enak dengan pernyataan Cruise.
"Yah, aku kira kau tersinggung karena aku berkali-kali menyuruhmu pulang. Padahal maksudku adalah agar kau bisa beristirahat, bukan malah menghilang selamanya." Nada Cruise terdengar seperti orang mengeluh.
Zizi menahan senyum. Apakah Cruise sedang merindukannya? Ah, keliatannya tidak! Pria ini hanya merasa bersalah saja karena ia menghilang selama dua hari.
"Oh ya, bagaimana keadaan kakimu?" tanya Zizi sambil meletakkan ransum di atas meja nakas. Ia berusaha mengalihkan pikirannya. Membayangkan Cruise merindukannya, Zizi merasa ia terlalu berkhayal dan harus segera kembali berpijak pada bumi.
"Kakiku sudah dipasang pen dan dokter bilang dalam waktu 6-8 minggu, aku mungkin sudah bisa berjalan," jawab Cruise sambil menatap kakinya.
"Itu berita bagus, aku senang mendengarnya," sahut Zizi sambil tersenyum.
"Hm ... kau membawakan apa itu?" tanya Cruise sambil melihat ke arah ransum yang dibawa Zizi.
"Aku membawakan mantau," sahut Zizi.
"Mantau? Apa itu?" tanya Cruise sambil mengerutkan keningnya.
Zizi lalu membuka ransumnya dan menunjukkan ke Cruise penganan yang ia bawa. Penganan itu berbentuk putih berbahan dasar tepung dan aromanya begitu menggoda. Sekilas mirip dengan bakpao hanya saja ini bentuknya sedikit kotak.
"Cobalah," ucap Zizi sambil menyodorkan ransumnya.
Cruise mengambilnya dan ia menatap mantau itu berkeliling.
"Masih hangat, apakah kau membuatnya sendiri?" tanya Cruise.
"Iya."
"Ini, silahkan dicoba, Nyonya dan Tuan Benedict," ucap Zizi sambil mengunjukkan ransumnya ke kedua orang tua Cruise.
"Hmm, ini enak!" ucap Cruise spontan ketika ia baru saja menggigit dan mengunyah mantau tersebut.
"Sungguh?" Manik hitam Zizi jadi berbinar mendengar pujian Cruise.
Cruise mengangguk dengan yakin.
"Apakah ini makanan yang berasal dari negaramu?" tanya Cruise sambil menggigit lagi mantaunya.
Zizi mengangguk bangga.
"Ya, ini memang enak!" Tuan Benedict tiba-tiba menimpali.
"Bagaimana menurutmu, Lorraine?" Tuan Benedict menatap istrinya yang sibuk dengan mantau di dalam mulutnya.
"Jika kau sudah bilang enak, siapa yang sanggup membantahnya," jawab Nyonya Benedict sambil terus menyantap mantaunya.
Zizi jadi tersenyum. Ia merasa puas mendapati bahwa keluarga Cruise juga menyukai mantau buatannya.
"Kau ternyata pintar membuat kue, itu sungguh hebat, Zizi," puji Nyonya Benedict.
"Terima kasih, Nyonya," sahut Zizi dengan wajah tersipu.
Mereka semua memakan mantau itu sampai habis. Dan ...
"Ah, aku jadi haus." Cruise berkata sambil memegangi tenggorokannya yang terasa kesat.
"Oh, aku akan membelikanmu minum. Maaf, aku tidak memikirkan hal itu tadi," ucap Zizi dan ia hendak pergi ketika Nyonya Benedict mencegahnya.
"Eh, Zizi. Kamu tunggu di sini. Kebetulan aku juga haus dan aku juga ingin turun untuk minum," ucap Nyonya Benedict.
"Lewis, kau juga sebaiknya tunggu di sini, aku akan membelikanmu minuman," lanjutnya.
"Ah, kenapa aku harus menunggumu di sini jika aku juga bisa turun dan minum di bawah bersamamu, Lorraine?" protes Tuan Benedict.
"Ah, ya sudahlah, terserah kau saja! Zizi kami pergi dulu, ya? Cruise, kami akan segera kembali." Nyonya Benedict berkata sambil berjalan ke arah pintu diikuti oleh Tuan Benedict di belakang.
Zizi dan Cruise belum sempat menjawab dan kedua orang paruh baya itu sudah berjalan keluar bersama-sama.
"Keliatannya mantau-ku membuat banyak orang kehausan, ya?" Wajah Zizi jadi merasa bersalah.
"Orang makan dan merasa haus adalah hal wajar, kenapa begitu kau pikirkan?" tanya Cruise tidak mengerti.
"Yah, aku jadi merasa merepotkan. Seharusnya aku juga membawakan minuman tadi," ucap Zizi penuh penyesalan.
Cruise semakin heran dengan pemikiran Zizi. Ia lalu meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya.
"Apakah kau memang terbiasa memikirkan hal-hal yang tidak masuk akal seperti ini?" tanyanya.
"A-apa?" Otak Zizi seketika macet ketika tangannya digenggam Cruise dengan cara demikian.
"Hanya masalah minum saja begitu kau pikirkan!" Cruise melepaskan genggaman tangannya.
Darah Zizi seperti kembali mengalir dengan lancar ketika tangannya terlepas dari genggaman pria itu.
"Justru aku heran, dua hari ini kau tidak menjengukku dan kau bilang sibuk membersihkan rumah. Benar-benar tidak bisa dipercaya," ucap Cruise.
Zizi langsung meringis. Apakah pria ini tau bahwa ia sedang beralasan?
"Ap-apakah kau berharap aku datang untuk menjengukmu? Bu-bukankah sudah ada kedua orang tuamu?" tanya Zizi lagi. Perasaannya mulai berdebar membayangkan bahwa Cruise memang merindukannya.
"Hm ... apa yang membuatmu berpikir bahwa aku tidak berharap melihatmu ketika aku membuka mataku pasca operasi, hm?"
Zizi terdiam, Cruise ingin melihatnya ketika ia membuka matanya. Apa maksud dari pernyataannya itu? Ah, Zizi merasa kepalanya semakin mengembang dan sudah akan meletus saking besarnya.
"Baiklah ... kau tidak ada ketika aku membuka mataku pasca operasi, aku pikir kau mungkin lelah dan istirahat di rumah hari itu, tapi keesokannya kau juga tidak muncul. Dan, ketika aku menanyakan pada mom, mom bilang, kau sudah pulang sejak aku hendak dioperasi dan sudah tidak pernah datang lagi sejak itu. Aku jadi berpikir bahwa kau mungkin begitu terbeban karena merawatku selama beberapa hari ini," ucap Cruise.
"Eh, tidak! Ak-aku sama sekali tidak merasa seperti itu, Cruise!" Zizi jadi merasa tidak enak.
Cruise mencoba tersenyum. Ia paham bahwa mengurus orang lumpuh seperti dirinya memang sungguh merepotkan. Dan, ia sangat paham jika Zizi mungkin bosan dengan hal itu dan ingin segera lepas darinya.
"Kau tidak perlu khawatir, aku takkan lama di sini. Aku akan segera kembali ke Manhattan begitu dokter mengijinkan aku untuk pulang," ucap Cruise kemudian.
Hati Zizi jadi sedih mendengarnya.
"Kau akan segera kembali ke Manhattan?" tanya Zizi lirih.
"Menurutmu?"
Hhh! Membayangkan dirinya pulang ke Manhattan, Cruise jadi enggan. Ia sudah bisa menduga bagaimana nasibnya ketika ia pulang ke rumah nanti. Sang ibu akan memperlakukannya seperti bayi dan ia sangat membenci hal itu!
Nampak Zizi terdiam untuk sesaat lamanya. Membayangkan Cruise benar-benar akan kembali ke Manhattan membuat dadanya sesak. Oksigen di kamar itu seperti berubah menjadi karbondioksida dengan tiba-tiba.
"Aku mengharapkan hal yang tidak mungkin terjadi," jawab Zizi kemudian. Ia sedikit menundukkan kepalanya seperti orang yang siap menerima hukuman.
"Hm? Apa itu?" tanya Cruise sambil mengerutkan keningnya.
Zizi mengangkat wajahnya dan ia memberanikan diri untuk menatap manik abu-abu Cruise.
"Kalau boleh berharap, aku ingin kau tidak kembali ke Manhattan," jawab Zizi.
Ia merasa harus meluruskan kesalah pahaman Cruise tentang dirinya. Lagipula, ia juga benar-benar tidak ingin pria itu pergi. Paling tidak, untuk saat ini, ia merasa belum siap ditinggal.
"Lalu aku harus kemana jika tidak ke Manhattan?"
Zizi jadi bingung menjawabnya. Cruise keliatannya adalah orang yang kaya. Kamar yang dipilih oleh orang tua Cruise saja kelasnya diatas VIP. Dan, gaya berpakaian tuan dan Nyonya Benedict juga tidak seperti orang awam pada umumnya.
Mengajak Cruise untuk kembali tinggal di rumahnya jelas sesuatu yang tidak masuk akal. Cruise mungkin tidak akan betah.
"Lupakan ... Manhattan mungkin cocok untukmu," jawab Zizi akhirnya.
Cruise terlihat menghembuskan nafas berat. Yah, ia merasa Zizi sudah menyerah padanya. Dan, tidak ada jalan lain selain kembali ke Manhattan daripada menyusahkan gadis itu ke depannya.
"Baik, aku mengerti," jawab Cruise lirih.
Zizi kembali menatap Cruise.
"Kau mengerti apa?" tanya Zizi.
Cruise tersenyum.
"Terima kasih karena sudah mau aku repoti selama ini," jawab Cruise tanpa menjawab pertanyaan Zizi.
"Kau ... tidak berpikir yang tidak-tidak tentangku, bukan?" Zizi menyatukan alisnya dengan tatapan curiga. Ia khawatir Cruise berpikir ia terbeban dan tidak mau menerimanya kembali.
"Aku akan kembali ke Manhattan seperti ucapanmu," sahut Cruise lagi-lagi ia mengabaikan pertanyaan Zizi.
Zizi nampak mengaitkan bibir mendengar cara Cruise menjawab pertanyaannya.
"Jika menurutmu rumahku pantas untuk kau tinggali ... aku mau ... kau tinggal bersama kami di sana."
Zizi lalu berpaling dan menghadap jendela dengan perasaan yang malu luar biasa! Ia seperti baru saja mengajak seorang pria untuk menikah! Dan, jujur saja, ia sangat tidak siap dengan jawabannya!!.