Cruise menyipitkan matanya mendengar ucapan Zizi.
"Jika rumahmu pantas kutinggali? Apa maksudmu?" tanya Cruise sambil mengangkat tubuhnya hendak duduk.
"Aduhh!!" Cruise merasa kakinya sakit ketika ia tanpa sengaja menumpukan tubuhnya di area kakinya.
"Cruise!!" Zizi langsung membalikkan badannya dan membantu Cruise untuk duduk.
"Kau ... tidak boleh sembarangan mengubah posisimu! Kakimu baru saja dioperasi dan itu sangat berbahaya!" Zizi tanpa sadar jadi cerewet.
"Thanks," ucap Cruise setelah Zizi membantunya untuk duduk.
"Kau tidak perlu mengubah posisimu, ranjang ini bisa diubah posisinya menjadi sedikit tegak, sehingga kau tidak usah duduk seperti ini. Lihat, nanti pasti kau akan kesulitan ketika hendak berbaring," celoteh Zizi lagi.
Cruise jadi mengerutkan keningnya menatap Zizi. Tumben gadis ini cerewet sekali!
"Apakah kau sudah berubah menjadi ibuku, sekarang hm? Kau jadi mirip dengannya jika mengomel seperti itu!" ucap Cruise.
Zizi jadi mendelik mendengarnya. Ia dianggap sebagai Nyonya Benedict?? Yang benar saja!!
"Eh, aku ... maksudku, kau begitu sembrono dalam bertindak," ralat Zizi.
Ia lalu berjalan dan sedikit berjongkok untuk menekan tombol di ranjang Cruise agar posisi tempat tidurnya bisa sedikit lebih tinggi dan Cruise bisa bersandar.
"Apakah nyaman jika begini?" tanya Zizi.
Cruise tersenyum melihat cara Zizi memperlakukannya.
"Ya ... ya ... terima kasih, Zizi," ucap Cruise.
"Sudah! Duduklah di sini," pinta Cruise sambil menunjuk kursi.
Zizi dengan patuh menurutinya.
"Oh ya ... kau bilang apa tadi soal rumahmu?" tanya Cruise setelah Zizi duduk.
"Ha?" Zizi jadi pucat jika disuru mengulangi ucapannya yang tadi. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Eh, ehm ... mak-maksudku ... kau nanti pasti diminta untuk kontrol ke rumah sakit ini setelah diijinkan keluar, 'kan? Bu-bukankah lebih baik ji-jika kau tinggal sementara di rumahku sampai kau benar-benar sudah tidak diharuskan untuk kontrol lagi ?" Zizi mencoba berpikir untuk mencari alasan yang tepat dan tidak memalukan.
"Kau ingin aku tinggal di rumahmu lagi ?"
"Eh, iya. It-itupun jika kau bersedia," jawab Zizi sambil menunduk.
Cruise mengaitkan bibirnya. Jujur saja, ia pun sebenarnya berpikir demikian. Tinggal di Manhattan bersama sang ibu akan sangat menyulitkannya. Ibunya pasti akan menjaganya seperti bayi. Tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Harus ini dan harus itu! Ah! Belum apa-apa, Cruise sudah stress membayangkannya.
Namun, untuk tinggal kembali di rumah Tuan Zheng Yu, ia juga takut merepotkan keluarga itu, terutama Zizi. Lagipula, ia tidak terbiasa tinggal di rumah orang! Mending tinggal di homestay yang berbayar daripada menginap di rumah orang.
Tidak! Bukannya Cruise sombong, memang dia merasa tidak nyaman jika menumpang di rumah orang. Sejak dulu, ia bahkan tidak pernah menginap di rumah temannya. Dan, selama tinggal di rumah Zizi, ia merasa jadi benalu yang merepotkan.
Namun, untuk tinggal di homestay dalam kondisi kakinya yang seperti ini, itu juga pasti mustahil! Jadi, bagaimana....?
"Terima kasih atas penawaranmu, Zi. Nantilah aku pikirkan," jawab Cruise.
Zizi mengangkat wajahnya menatap pria itu. Keliatannya Cruise tetap akan kembali ke Manhattan jika mendengar jawabannya
"Kau tidak merasa nyaman ya di rumahku?" tanya Zizi.
"Hm, tidak juga! Aku biasa hidup ala back packer jika kau mau tau. Namun, sejujurnya aku tidak terbiasa tinggal di rumah orang," jawab Cruise.
"Kenapa? Bukankah kau sudah tinggal selama beberapa waktu di rumah kami? Dan kau juga sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri ... lalu kenapa kau masih menganggap kami seperti orang lain?"
"Zizi, aku tidak ingin merepotkan siapapun," jelas Cruise.
"Aku sama sekali tidak merasa kau repotkan, Cruise. Justru aku berpikir sebaiknya kau tinggal dulu di rumah kami sampai jadwal kontrolmu selesai. Baru kau kembali ke Manhattan."
Cruise terlihat berpikir.
"Lagipula, jika kau nanti sudah baikan, aku akan mengantarmu ke Montreal untuk menemui kekasihmu. Aku akan membantumu menyetir mobil ke sana," bujuk Zizi.
Yah, menggunakan alasan kekasih Cruise adalah salah satu cara agar pria itu mau tinggal di rumahnya sampai kondisinya kembali pulih. Dan, waktu yang dibutuhkan untuk membuat Cruise pulih pun cukup lama sekitar beberapa minggu. Cukup banyak waktu bagi Zizi untuk menetralkan perasaannya. Ia mungkin akan menjalin persahabatan dengan Cruise jika memang cinta tidak bisa menyatukan mereka.
"Menyetir mobil ke Montreal?" Cruise mengangkat kedua alisnya dengan ekspresi terkejut.
"Eh, iya. Ak-aku bisa menyetir mobil. Ada mobil pick-up ayahku. Jika kau mau dan tidak keberatan kita naik pick-up, aku bersedia untuk mengantarmu kesana," ujar Zizi dengan yakin.
Hmm! Cruise menatap Zizi penuh selidik. Gadis ini, kenapa mau begitu repot mengurusnya bahkan sampai bersedia mengantarnya ke Montreal demi menemui Jillian? Apakah dia memang memiliki hati malaikat seperti itu?
"Apa yang menjadi alasanmu sehingga mau membantuku sampai seperti itu?" selidik Cruise.
"Ha?" Zizi lagi-lagi terkejut mendengar pertanyaan Cruise.
"Ak-aku tidak memiliki alasan apapun ... ak-aku hanya ingin membantumu saja, itupun jika kau mau ...." Zizi langsung menundukkan kepalanya.
Kenapa maksud baiknya jadi dicurigai begitu oleh Cruise?
Cruise memiringkan tubuhnya ke samping dan mengangkat dagu Zizi. Ia tidak percaya dengan ucapan gadis itu.
"Zizi, jangan berbohong padaku, apa yang kau harapkan sebenarnya?" tanya Cruise penuh selidik.
"Eh, ak-aku sama sekali tidak mengharapkan apapun, Cruise!" Zizi menggelengkan kepalanya sungguh-sungguh.
"Jarak Lunenburg ke Montreal sangat jauh! Dan kau mau mengantarku? Demi apa pengorbanan yang begitu besar kau lakukan padaku?" tanya Cruise.
"Ehm, Cruise ... ak-aku ehm ... ba-baiklah, lupakan saja penawaranku tadi ... ak-aku tidak tau kenapa tadi mengatakannya," jawab Zizi gugup. Ia baru sadar bahwa penawarannya mungkin terdengar tidak masuk akal bagi Cruise! Ah! Kenapa ia begitu bodoh tadi?
"Hmm ...." Cruise melepaskan jepitannya di dagu Zizi.
Manik abu-abunya masih menatap gadis itu penuh selidik. Ia masih berusaha memahami karakter Zizi. Selama ini Zizi banyak memberi bantuan dan pertolongan demikian juga Zach dan Tuan Zheng Yu. Apakah keluarga ini memang berhati malaikat semua? Yah! Bisa jadi!
"Entahlah, aku masih belum yakin soal bertemu dengan Jillian. Jika kakiku masih pincang dan tidak normal, menurutku bukan ide yang bagus untuk bertemu dengannya," jawab Cruise akhirnya.
Zizi menarik nafas. Ekspresinya terlihat rumit. Jujur saja, mendengar Cruise tidak mau menemui Jillian, hatinya sedikit berharap bahwa ada sedikit masa depan atas perasaannya . Namun ... apakah itu menjamin bahwa Cruise akan suka padanya? Ah! Tidak juga! Semua tergantung selera Cruise dan Zizi merasa dirinya tidak pernah masuk dalam kriteria pria tampan tersebut.
"Kau sungguh terlihat seperti pria yang perfeksionis, Cruise. Dan, itu akan menyulitkan dirimu sendiri nantinya," ujar Zizi lirih.
Cruise menatap Zizi.
"Hubunganku ... dengannya sedikit rumit untuk saat ini, Zi. Dia sedang didekati oleh pria yang memiliki segalanya. Jika aku harus merebutnya dari pria itu, maka kondisiku harus sempurna ... aku akan sekuat tenaga bersaing sehat dengannya, bukan dengan kondisiku yang rawan mendapat belas kasihan dari Jillian," ujar Cruise.
"Apakah kau tidak bisa membedakan mana yang belas kasihan dan mana yang cinta? Jika Jillian mencintaimu, maka kondisimu ...."
"Kondisiku yang seperti ini, rawan dikasihani! Bukan hanya oleh Jillian, bahkan olehmu juga! Oleh kedua orang tuaku, oleh adikku bahkan oleh semua teman-temanku! Dan, aku sangat tidak suka cara mereka menatapku! Zizi ... aku mau tampil di depan semuanya dalam kondisiku sempurna! Dan, aku akan berusaha keras untuk itu!" tegas Cruise.
Nampak Zizi menarik nafas berat. Keliatannya Cruise adalah pria yang cukup keras kepala dan benar-benar perfeksionis. Ia semakin yakin bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa sehingga bisa memikat hati pria itu.
"Astagaaa! Kemana mom and dad?" Aku benar-benar kehausan!" Cruise seperti tersadar bahwa ibu dan ayahnya cukup lama pergi dan belum kembali.
"Eh, biar aku yang membelikanmu minum!" Zizi segera bangkit dari duduknya, tapi tangannya dengan cepat dicekal oleh Cruise.
"Sshh!! Telpon saja mereka! Sini, aku pinjam ponselmu, jangan sampai kau pergi dan lupa kembali seperti mereka," ucap Cruise.
Zizi menahan senyum sambil menyerahkan ponselnya ke Cruise.
Cruise memencet nomor ibunya dan ...
"Hallo, Mom. Your son is very thirsty ...." ucap Cruise.
" ..... "
"Okay, thank you," tutup Cruise kemudian.
Ia lalu menyerahkan ponsel Zizi.
"Hmm, mereka sedang menikmati makan siang di kantin," sungut Cruise.
"Biar aku saja yang turun. Aku akan dengan cepat kembali ...." sahut Zizi.
"Sudah, duduk saja di sini. Apakah kau tidak tau bahwa aku sangat merasa bosan tinggal di kamar seperti ini?"
Zizi mengangguk paham.
"Jika di kamar yang penuh fasilitas ini saja kau merasa bosan, lalu bagaimana perasaanmu ketika kemarin hanya bisa berbaring di kamar tamu kami?" tanya Zizi.
"Saat itu, aku hanya memikirkan nasib kakiku dan aku hidup dalam keputus asaan. Tidak ada yang kuharapkan, namun sekarang ... aku memiliki sedikit harapan. Aku hanya harus berpacu dengan waktu agar bisa segera sembuh dan mengembalikan Jillianku," jawab Cruise.
"Ohh!" Zizi manggut-manggut seolah paham.
"Ehm, bagaimana kalau kita jalan-jalan? Aku akan tanya ke perawat, apakah kau boleh duduk di kursi roda dan berjalan-jalan di taman. Jika boleh, aku akan mengajakmu jalan-jalan ke taman rumah sakit ini," tawar Zizi.
"Yah, itu ide bagus." Cruise terlihat bersemangat.
"Baik, tunggu di sini, aku akan mencari perawat dulu." Zizi hendak bangkit ketika Cruise kembali mencekal tangannya.
"Gunakan bel saja. Mereka akan datang!" saran Cruise.
"Oh ya, kau benar!" Zizi lalu memencet tombol panggil untuk perawat.
Terdengar suara dari sana.
"Selamat siang. Ada yang bisa dibantu?"
"Nurse, ini dari ruang 805, apakah Tuan Cruise Benedict diperbolehkan keluar menggunakan kursi roda?" tanya Zizi.
"Sebentar, kami harus berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu soal itu, nanti akan kami infokan kejelasannya," jawab perawat di seberang sana.
"Baik, terima kasih, Nurse," jawab Zizi.
Kedua orang tua Cruise akhirnya datang dengan membawa dua cup minuman di tangannya.
"Apakah kami terlalu lama? Maaf ya, Sayang." Nyonya Benedict berkata sambil tersenyum tanpa dosa.
"Aku seperti berada di tengah padang gurun, Mom," protes Cruise.
Nyonya Benedict menggelengkan kepalanya melihat Cruise begitu lebay.
"Aku membawakan dua minuman untukmu dan juga Zizi. Zizi, terima kasih karena sudah menjaga putra kesayanganku," ujar Nyonya Benedict.
"Terima kasih, Nyonya." Zizi tersenyum sambil menerima minuman yang disodorkan oleh Nyonya Benedict.
Knock! Knock!
Pintu diketuk dan sebentar kemudian, masuklah seorang perawat sambil membawa kursi roda.
"Ini untuk apa, Nurse?" Nyonya Benedict terlihat heran.
"Dokter mengijinkan Tuan Cruise untuk menikmati udara luar. Tetapi tidak boleh terlalu lama," ujar perawat tersebut.
Nyonya Benedict menatap putranya yang tersenyum senang.
"Mari saya bantu," ucap perawat tersebut.
Ia lalu mengatur kaki Cruise sedemikian rupa sehingga Cruise bisa duduk di kursi roda tanpa merasa sakit. Perawat itu hendak mendorong kursi roda Cruise keluar ketika Zizi dengan sigap mencegahnya.
"Biar saya saja, Nurse," ucap Zizi.
"Oh, baiklah. Anda bisa memanggil perawat jika nanti akan mengembalikan posisi pasien ke atas tempat tidur. Mohon untuk tidak diangkat sendiri. Karena kakinya masih rawan," nasehat perawat tersebut.
Zizi mengangguk. Ia lalu berpamitan dengan Tuan dan Nyonya Benedict sebelum mendorong kursi Cruise menuju keluar.
Cruise diajak Zizi menuju lantai bawah dan menuju taman rumah sakit. Udara di Lunenburg cukup sejuk karena akhir-akhir ini sering diguyur hujan.
"Apakah kau kedinginan?" tanya Zizi sambil menatap Cruise.
"Tidak! Aku suka cuaca di sini. Tidak terlalu dingin dan juga tidak terlalu panas. Sangat berbeda dengan di New York," sahut Cruise.
"Hmm."
Keduanya sedang asyik menikmati keindahan taman ketika ponsel Zizi berbunyi dan muncul nama Selena di sana. Ya, begitu mengetahui bahwa Selena adalah adik Cruise, Zizi langsung menyimpan nomornya.
"Hallo?"
"Hello, Zizi. Apakah kakakku ada?" tanya Selena.
"Ya, sebentar." Zizi lalu menyerahkan ponselnya ke Cruise.
"Dari Selena," ucapnya.
"Hallo?"
"Bagaimana kabarmu hari ini, brother?"
"Lihatlah sendiri," ucap Cruise sambil menyalakan kameranya.
"Wow! Kau sedang di mana itu? Apakah kau sudah bisa keluyuran, hm?"
"Aku masih di rumah sakit, Sis! Zizi yang mengantarku," jelas Cruise.
"Yah, mom bilang akhirnya kau sudah tidak gelisah lagi!" Selena cekikikan.
"Huh! Apa yang kau pikirkan, hah?" Wajah Cruise terlihat sebal.
"Hehe, tidak ada! Kau harus membalas budi baiknya, sebelum kau kembali ke Manhattan, brother! Kau berhutang banyak kepada keluarganya juga." Selena mengingatkan.
"Aku tau! Tidak perlu kau ingatkan! Dasar bawel!"
Selena kembali cekikikan. Melihat wajah kakaknya setiap hari, ia merasa begitu dekat. Kerinduannya perlahan mulai terobati.
"So, apakah kau tidak ingin datang ke Montreal sebelum kembali ke Manhattan?"
"Jangan mulai, Sel. Kau tau itu tidak mungkin kulakukan jika kondisiku belum pulih benar!"
"Hmm ... jangan menyesal, brother. Jika kau tidak berani mengejar cinta, itu akan menjadi masalah besar nantinya, ingat, kesempatanmu bisa jadi tidak datang dua kali! Dia masih menantimu," ucap Selena lagi-lagi berusaha membujuk kakaknya.
"Jangan menceramahiku terus menerus, Sel! Aku memiliki pertimbanganku sendiri ...!" tegas Cruise.
Ia jadi galau setiap kali Selena membujuknya untuk menemui Jillian. Ia merasa adiknya itu sama sekali tidak memahami posisinya.
"Ya sudah kalau begitu. Aku hanya mengingatkan saja. Jangan sampai kau menyesal ketika semuanya sudah terlambat. Ingat, rivalmu itu adalah tipe pria yang pantang menyerah!" Lagi-lagi Selena berkata dengan nada penuh ancaman.
Dalam hati ia sungguh-sungguh gemas dengan keras kepala seorang Cruise!
"Apakah kau menelponku hanya untuk membujukku setiap hari, hm?"
"Tidak! Aku menelponmu untuk mengingatkan bahwa masa depanmu sungguh terancam! Reyes sudah mulai mengajukan proposal untuk segera menikahi Jillian! Apakah kau siap untuk kehilangan dirinya? Pikirkan itu, brother!!" Dan, tanpa ucapan perpisahan, Selena langsung menutup panggilannya.
Hatinya sungguh kesal dengan sikap Cruise! Namun, ia pun tidak bisa berbuat apa-apa untuk membuat Cruise mau merubah pendiriannya. Semua cara dan ancaman sudah ia tebarkan ke kakaknya itu, tapi Cruise tetap pada keputusannya!!
Sementara ...
Wajah Cruise terlihat tegang sekarang. Reyes sudah ingin menikahi Jillian? Mimpi buruk apalagi ini? Ia lalu menatap kakinya dengan khawatir. Keliatannya ia takkan bisa mencegah rencana Reyes.
"Cruise ... yang dikatakan Selena benar. Kau harus segera menemui Jillian. Kau tidak ingin kekasihmu menikah dengan orang lain, 'kan? Temuilah dia dan biarkan dia yang memutuskan. Apakah dia akan memilihmu atau tidak. Jangan sampai kau menyesal, Cruise ... ingat, terkadang kesempatan tidak datang dua kali!" saran Zizi.
Cruise termenung dengan tatapan lurus ke depan. Hatinya terasa rumit dan kacau. Ia menarik nafas berat dan menatap Zizi.
"Baiklah, aku ... akan menemuinya setelah kakiku dilepas gipsnya," jawab Cruise kemudian.
Zizi nampak tersenyum. Okay, keliatannya waktu yang ia punya juga tidak banyak untuk bisa bersama dengan Cruise.
"Jadi, apakah kau setuju jika aku mengantarmu naik pick-up ayahku?" tanya Zizi.
Cruise menggelengkan kepalanya.
"Tidak! Aku tidak ingin membuatmu lelah! Aku punya ide yang lebih baik. Bagaimana jika kita sewa mobil bersama dengan sopirnya saja?" usul Cruise kemudian.
****
*Oh! Okay! Begitu boleh juga, Cruise!