Cruise masih harus tinggal beberapa hari di rumah sakit bahkan sampai jadwal Tuan Zheng Yu kembali dari pelayarannya. Beberapa kru kapal mereka termasuk Zach dan juga Luke datang menjenguk Cruise di sana.
Tuan Benedict sudah kembali ke Manhattan karena ada pekerjaan yang mendesak, jadi hanya Nyonya Benedict saja yang akhirnya bisa bertemu dan berkenalan dengan keluarga Zizi. Beliau mengucapkan banyak terima kasih kepada Tuan Zheng Yu karena telah menyelamatkan Cruise hari itu.
Dari cara bicara dan pola pikir Tuan Zheng Yu, Nyonya Benedict jadi mengerti, kenapa Zizi bisa memiliki sifat yang tulus dan ikhlas seperti itu. Beliau bersyukur bahwa Cruise diselamatkan oleh keluarga yang baik dan memiliki aura positif.
Setelah beberapa waktu, Cruise pun akhirnya diijinkan untuk pulang dan melakukan rawat jalan.
"Selamat, Tuan. Akhirnya, Anda sudah bisa pulang! Jangan lupa dengan jadwal kontrol dan terapinya, ya?" Dokter berkata dengan ekspresi puas ketika hari itu memeriksa kondisi Cruise.
Cruise mengangguk senang. Akhirnya, kakinya mengalami perkembangan yang berarti! Ia bertekad untuk segera berlatih jalan agar niatnya bertemu dengan Jillian segera terealisasi."
"Kau benar-benar tidak ingin kembali ke Manhattan, Sayang?" Nyonya Benedict masih berusaha mengubah keputusan putranya.
Yah! Akhirnya setelah melalui banyak pertimbangan, Cruise memutuskan untuk tinggal sementara di kediaman Zizi dibanding harus kembali ke Manhattan.
"Aku akan menyelesaikan terapiku terlebih dahulu sebelum aku pulang, Mom," ucap Cruise.
"Ah, kau ini! Kau bisa melakukannya di Manhattan nanti!"
Cruise memeluk sang ibu dengan erat. Ia bisa merasakan kekhawatiran Nyonya Benedict.
"Mom, aku tau jalan pulang dan aku akan segera kembali," ujar Cruise tanpa melepaskan pelukannya.
"Sungguh? Kau harus berjanji, ya?" ucap Nyonya Benedict.
"Berjanji apa? Mom! Manhattan adalah rumahku! Mana mungkin aku tidak kembali ke sana?" tanya Cruise merasa lucu dengan permintaan ibunya.
"Aku khawatir kau tidak mau kembali. Perusahaan ayahmu masih menjadi tanggung jawabmu, Son! Ayahmu terpaksa mencari pengganti darurat demi menyelamatkan saham perusahaan kita."
"Yah, aku mengerti, Mom! Aku pasti kembali."
Cruise melepaskan pelukannya dan merangkum wajah sang ibu.
"Aku senang mom and dad datang untuk menemaniku di sini! Percayalah aku akan segera pulang setelah aku sembuh. Dan, aku siap memegang kembali perusahaan dad sambil membawa calon istriku nanti!" janji Cruise.
"Benarkah? Apakah kau akan kembali bersama dengan Jillian?" tanya Nyonya Benedict antusias.
Cruise mengangguk.
"Jangan katakan ini ke Selena, Mom! Aku akan memberi kejutan pada Jillian dan juga Selena. Jika memungkinkan, aku akan membawa Jillian kembali ke Manhattan bersamaku!"
Wajah Nyonya Benedict nampak terharu. Cruise terlihat bersemangat ketika mengatakan itu dan ia cukup bangga dengan perkembangan putranya.
Zizi yang melihat percakapan ibu dan anak itu hanya bisa tersenyum. Yah, ia sudah belajar ikhlas ... Cruise memang bukan untuknya.
"Zizi, aku titip Cruise padamu, ya? Jika kau butuh sesuatu pakai saja ini!" Nyonya Benedict memberikan kartu kredit platinumnya ke tangan Zizi.
"In-ini apa, Nyonya?" Zizi terlihat gugup.
"Cruise mungkin akan membutuhkan banyak biaya untuk pengobatannya. Kau bisa menggunakan ini untuk memenuhi semua keperluan rumah sakitnya," jelas Nyonya Benedict.
"Ehm, maaf, saya tidak bisa menerimanya, Nyonya ...."
"Kau harus menerimanya, Zizi!" putus Cruise sambil mengambil kartu kredit itu dan meletakkannya ke dalam telapak tangan Zizi.
"Aku ... tidak mau membebani keluargamu dengan biaya berobatku!" ucap Cruise tegas.
Zizi jadi merasa tidak punya pilihan jika sudah begini. Ia pun akhirnya menurut saja dengan permintaan ibu dan anak itu.
"Kabari aku jika ada apa-apa," pesan Nyonya Benedict pada Zizi.
"Tentu, Nyonya," sahut Zizi.
Zizi lalu mendorong kursi roda Cruise keluar menuju parkiran mobil. Ia kali ini memutuskan untuk membawa mobil pick-up ayahnya yang sudah butut demi membawa Cruise pulang dari rumah sakit.
Cruise sudah diperbolehkan untuk menggunakan tongkat. Dan, dengan itu, ia naik ke mobil tua milik Zizi.
"Ayo, aku bantu ...." Zizi sedikit mengangkat tubuh Cruise agar memudahkan pria itu duduk di kursi.
Nyonya Benedict yang melihat perjuangan Zizi membantu Cruise tersenyum dari jauh. Paling tidak ia tau bahwa putra kesayangannya memiliki seorang teman baik yang bisa diandalkan. Dan, bukan itu saja, keluarga Zizi juga begitu baik. Cruise berada di tengah-tengah orang dengan aura positif, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan seharusnya.
Selama perjalanan menuju rumah, baik Zizi dan Cruise sama-sama memasang wajah bahagia. Cruise bahagia dengan harapannya sementara Zizi bahagia dengan impiannya untuk menjalin persahabatan dengan Cruise.
Yah, melihat tekad Cruise untuk kembali kepada kekasihnya begitu besar, Zizi tidak punya pilihan selain mengubur dalam-dalam perasaan cintanya kepada pria jelmaan Dewa Hermes itu.
Mereka tiba di rumah ketika semua orang sudah berkumpul.
"Hey, Cruise!!" Zach yang melihat Zizi datang sambil memapah Cruise segera menyapa.
Nampak Tuan Zheng Yu juga senang dengan kembalinya Cruise. Mereka menyambut Cruise seperti seorang yang menyambut teman lama kembali dari medan perang. #eh!
"Aku sudah memasak kalkun untuk merayakan kepulanganmu," ujar Zach sukacita.
"Thanks, Zach! Kenapa kau harus repot?" sahut Cruise dengan wajah gembira.
"Ah! Ini adalah kebiasaan kami untuk menyambut kepulangan salah seorang keluarga! Bukan hal besar!" balas Zach.
Mereka semua terlihat begitu antusias menyambut kembalinya Cruise, kecuali ... Luke!
Melihat Zizi begitu perhatian kepada Cruise, hati Luke jadi terbakar api cemburu. Ia duduk di sofa tanpa mau menatap ke arah Cruise sama sekali. 'Sungguh tidak penting menyambut Cruise dengan cara seperti itu!' batin Luke.
Zizi mengantar Cruise ke kamarnya semula. Kedua tongkat Cruise ia sandarkan ke tembok lalu ia pun memposisikan kaki Cruise dengan benar di ranjang.
"Zi, sesuai perjanjian! Kau tidak boleh memperlakukan diriku seperti bayi! Aku sudah diijinkan menggunakan tongkat dan aku akan berlatih berjalan sesuai petunjuk dokter!" ujar Cruise penuh peringatan.
Ia memilih tinggal di rumah Zizi dengan sebuah pertimbangan. Berharap bisa bebas berusaha untuk mandiri dibanding ketika ia tinggal di Manhattan. Di Manhattan, sang ibu akan memerintahkan banyak maid untuk berjaga di sekeliling kamar bahkan tempat tidurnya agar kakinya tidak menginjak lantai. Dan, Cruise tidak senang diperlakukan seperti itu!
Zizi tersenyum dan mengangguk.
"Asal kau tidak jatuh, Cruise, jika kau jatuh, maka aku akan memberlakukan aturan ketat padamu," ucap Zizi dengan mimik muka serius.
"Cruise!! Ayo, kita makan siang! Semua sudah kusiapkan!" ajak Zach sambil menjenguk ke dalam kamar, ketika Cruise baru saja hendak berbaring.
"Oh, okay!" Zizi yang hendak membantu segera dicegah oleh Cruise.
"Biarkan aku berusaha, Zi!" larang Cruise sambil memberi signal penolakan.
Zizi mengurungkan niatnya. Ia memperhatikan Cruise yang mulai mengatur kaki dan mengambil tongkatnya lalu berdiri.
"See? Aku bisa, 'kan?" Cruise berkata sambil tersenyum puas.
Zach dan Zizi mengangguk secara bersamaan.
"Kalau begitu, ayo keluar!" ajak Zach.
Mereka semua lalu makan siang bersama dengan menu kalkun panggang buatan Zach. Rasanya begitu lezat dengan buatan resep nenek moyang.
"Kita akan berangkat sepuluh hari lagi, aku pikir kali ini kita akan mencoba menangkap ikan di perairan Atlantic. Kemarin Doey mendapatkan banyak tangkapan di sana, keliatannya wilayah itu patut kita coba," usul Tuan Zheng Yu.
"Wow! Liburan yang panjang!" seru Bill.
"Yeah! Keliatannya rute berikutnya akan memakan waktu lebih lama dan cukup menantang! Aku setuju dengan Tuan Zheng Yu, mereka kemarin mendapatkan banyak uang dari hasil tangkapannya! Aku rasa kita juga pasti bisa seperti mereka!" sahut Eddy.
"Perjalanan ke sana butuh waktu lama, aku rasa itu tidak efektif. Belum tentu nasib kita sama dengan Doey. Kalo menurutku lebih baik kita pergi ke lokasi yang biasanya saja. Hasilnya toh cukup selama ini," ucap Luke.
"Kau terlalu pesimis, Luke. Yang dikatakan papa benar, kita butuh sesuatu yang baru! Jika Doey bisa, maka kita pun juga bisa! Keliatannya tidak banyak kapal yang menangkap ikan di perairan sana," sahut Zach.
Luke mendengus kesal. Ia tidak senang berlayar terlalu jauh apalagi jika Zizi tidak ikut. Gadis itu, pasti akan sibuk mengurus Cruise lagi! Benar-benar menjengkelkan!
Suasana makan diwarnai oleh pembicaraan seputar rencana mereka menangkap ikan di perairan atlantik. Lebih banyak yang semangat dan mendukung dibandingkan yang menolak. Hanya Luke saja yang terlihat tidak antusias, sementara yang lain setuju dengan usul Tuan Zheng Yu.
"Kedengarannya itu cukup seru, aku ingin sesekali ikut menangkap ikan bersama kalian." Cruise yang mendengar percakapan mereka jadi tertarik untuk ikut sesekali.
"Yah! Tentu saja! Jika kau mau, kau bisa ikut bersama kita!" ucap Zach sambil menepuk bahu Cruise.
"Yeah, nanti saja, jika aku sudah melepaskan tongkat ini!"
"Kau akan senang ketika mendapatkan banyak tangkapan, Cruise!" ucap Eddy.
"Dan, akan terus ketagihan untuk ikut berlayar dan menangkap ikan!" imbuh Leo.
Mereka semua tertawa mengiyakan.
"Kau akan ikut dalam pelayaran kali ini, 'kan Zi?" tanya Simon menatap Zizi.
Ya, selain Luke, Simon juga menyukai Zizi. Hanya saja, Simon tidak terlalu agresif dan lebih memilih untuk mengagumi Zizi secara diam-diam.
Zizi menatap Cruise, ia masih tidak yakin Cruise sanggup mandiri jika ia tinggal.
"Wǒ háishì bù zhīdào, Gēgē," jawab Zizi.
(Aku masih belum tau, Koko)
Simon juga seumuran dengan Zach, ia seorang perantauan dari negeri tirai bambu yang secara kebetulan bertemu dengan Tuan Zheng Yu ketika ia menjadi seorang kuli panggul di pecinan di kota Halifax. Tuan Zheng Yu yang ketika itu hendak membeli kebutuhan obat-obatan dan rempah-rempah bertemu dengan Simon dalam kondisi sedang mengangkat barang-barang. Ia lalu menawarkan sebuah peluang untuk menjadi penangkap ikan. Dan Simon menyetujuinya. Sejak itu, ia menjadi salah satu tim kapal Tuan Zheng Yu dan tinggal di rumahnya.
Mendengar jawaban Zizi, Simon tidak lagi bertanya. Dalam hati, ia pun mengetahui bahwa Zizi terlihat sangat mengagumi Cruise. Siapa yang tidak bisa melihat hal itu?
******
Cruise mulai merasa nyaman tinggal di rumah Tuan Zheng Yu, ia menyukai kehangatan dalam rumah itu. Jika mereka semua sedang tidak berlayar, maka mereka akan menghabiskan waktu di rumah dengan bernyanyi dan bermain gitar atau jika tidak, mereka akan bersama-sama pergi ke bar terdekat dan minum di sana.
Cruise mulai bisa berjalan lancar menggunakan tongkat dan ia berpikir untuk mulai mengunjungi sang kekasih. Kakinya sudah mengalami banyak kemajuan, hanya tinggal tongkat ini saja yang menghalangi langkahnya. Baiklah! Ia rasa Jillian harus ia temui terlebih dahulu agar kekasihnya itu tidak jatuh ke pelukan Reyes.
Cruise memutuskan untuk pergi ke persewaan mobil di daerah sana tanpa sepengetahuan Zizi. Ia lalu membuat janji untuk menyewa sebuah mobil dan berencana untuk pergi menemui Jillian di kafenya.
Ia ingin memberikan kekasihnya itu sebuah kejutan. Membayangkan hal itu, hati Cruise jadi bersemangat.
Pagi itu, Cruise bersiap dan sudah terlihat tampan di depan cermin.
"Kau mau kemana, Cruise?" Zizi yang melihat Cruise terlihat rapi jadi curiga.
"Aku ada urusan sebentar, Zi!" ucap Cruise misterius.
"Kemana?"
"Menemui Jillian," jawab Cruise akhirnya.
Rencananya untuk menyembunyikan hal ini dari Zizi keliatannya akan sulit.
"Aku ikut, ya?" pinta Zizi.
"Perjalanan ini jauh, sebaiknya kau di rumah saja," tegas Cruise.
"Justru karena jauh aku harus menemanimu!" tegas Zizi.
Cruise memutar bola matanya.
"Aku akan ijin ke papa terlebih dahulu!" Tanpa menunggu jawaban, Zizi lalu berlari keluar dan meminta ijin ke sang ayah.
Gadis itu menggunakan seribu macam alasan agar sang ayah mengijinkannya, mulai dari kondisi kaki Cruise yang belum pulih benar sampai kekhawatirannya jika Cruise kelelahan dan mungkin akan celaka di jalan.
"Mei, tidak baik seorang gadis pergi keluar kota hanya dengan seorang pemuda," nasehat Tuan Zheng Yu.
"Kami hanya sebentar, Pa. Cruise akan langsung pulang," dalih Zizi.
"Darimana kau tau bahwa dia hanya sebentar? Menemui kekasihnya tidak mungkin sebentar, Méi! Biar Zach saja yang menemaninya, jangan kau," larang Tuan Zheng Yu.
Wajah Zizi seketika cemberut.
"Bukankah gēgē harus berlayar sebentar lagi? Ayolah, Pa. Bukankah selama ini aku juga yang merawat Cruise ketika semua orang tidak ada, apa yang papa khawatirkan?" Zizi masih saja merengek.
"Kenapa kamu begitu memaksa untuk ikut dengannya, hm? Jika dia ingin menemui kekasihnya, itu adalah urusannya! Kau tidak perlu ikut campur!" ujar Tuan Zheng Yu dengan ekspresi tidak senang.
"Aku hanya menjaganya, Papa." Zizi masih memaksa.
"Panggil kakakmu!" Tuan Zheng Yu tidak mau lagi mendengar rengekan putri bungsunya.
Montreal sangat jauh dari Lunenburg dan ia sangat tidak setuju jika Zizi pergi berdua bersama dengan Cruise. Bagaimana jika mereka menginap nantinya?
Zizi menggelengkan kepalanya dengan frustrasi melihat ayahnya tidak setuju ia ikut dengan Cruise. Dengan wajah sebal, ia pergi mencari Zach.
"Bill, mana gēgē?" tanya Zizi dengan wajah cemas. Ia berusaha mengejar waktu untuk menemukan sang kakak.
"Dia di kapal, keliatannya sedang memeriksa mesin dan perlengkapan untuk mempersiapkan keberangkatan kita menuju laut atlantik tiga hari ke depan," sahut Bill.
"Okay, thanks!" Zizi segera berlari menuju dermaga dan dengan kuat berteriak memanggil sang kakak.
"Gēgē!!!!!!"
Nampak dari kejauhan Zach sedang berada di atas kapal dengan tubuhnya yang putih kemerahan karena sinar matahari. Keringat membasahi punggungnya yang tanpa pakaian membuat tubuh Zach jadi berkilauan seperti ada banyak berlian yang menempel di sana. Hmm ...
Zizi dengan cepat berlari sambil terus berteriak memanggil kakaknya dengan lantang.
Zach yang tadinya membungkuk segera berdiri dan menatap adiknya yang berlari dengan wajah cemas.
"Shénme, mèimei??" tanya Zach ketika Zizi sudah berdiri di hadapannya dengan terengah-engah.
(Ada apa, adik?)
"Gēgē, papa ... yào nǐ péi Cruise ... qù méngtèlì'ěr. Nǐ ... yào, ma?"
(Koko, papa ingin kau menemani Cruise ke Montreal, apakah kau bersedia?)
"Zuò shénme de?" Zach mengerutkan keningnya.
(Untuk apa?)
"Tā xiǎng jiàn tā de àirén."
(Dia ingin menemui kekasihnya)
"Astaga! Harus hari ini, kah?" tanya Zach.
"Yah, keliatannya begitu, Gēgē! Jika kau sibuk, katakan saja pada ayah, biar aku yang menggantikanmu," usul Zizi.
"Apa?" Zach langsung bisa menangkap maksud adiknya.
"Kau ingin menemani Cruise ke Montreal? Oh tidak! Lebih baik aku saja!!" Zach segera berdiri dan bersiap meninggalkan pekerjaannya.
"Eddy!! Gantikan aku! Coba kau cek mesin kapal kita, aku mendengar ada bunyi mendesis di mesinnya. Coba kau cari tau sebabnya sebelum kita berangkat berlayar. Atau kau bisa minta bantuan Luke untuk memeriksanya!"
"Memangnya kau mau kemana, Zach?" Eddy yang sedang memeriksa kondisi alat pancing tonda segera membereskan pekerjaannya dan mematikan mesin penarik tonda demi menggantikan pekerjaan Zach.
Urusan mesin tidak bisa diabaikan atau mereka akan celaka di tengah laut nantinya.
"Aku akan menemani Cruise ke Montreal," sahut Zach.
"Kau ke Montreal? Lalu kapan kau akan kembali? Kami tidak mungkin berangkat tanpamu, Zach!" ucap Eddy dengan wajah cemas.
"Aku tidak tau!" Zach mengangkat bahunya.
"Cruise mungkin hanya sebentar," sahut Zizi.
"Yah, jika dia masih rindu dengan kekasihnya, aku 'kan bisa kembali ke sini sendiri. Hal seperti itu tidak perlu dipikirkan! Pekerjaan kita lebih penting!" sahut Zach sambil membersihkan tangannya yang kotor karena oli menggunakan kain.
"Gēgē! Apakah kau ingin meninggalkan Cruise di Montreal?" Wajah Zizi makin panik.
"Dia punya kehidupannya sendiri, Meí! Jika dia sudah ingin bersama dengan kekasihnya, kau bisa apa? Sudah saatnya kita merelakan dia pergi. Kau harus ingat, kita ini hanya sebagai perpanjangan tangan Tuhan untuk menolongnya. Jangan berharap lebih!" Zach berusaha menyadarkan Zizi dari jiwa posesifnya.
Zizi terdiam, hatinya langsung merasa sedih. Apakah ini hari terakhirnya untuk bertemu dengan Cruise? Oh semoga tidak! Ia masih belum siap!
Zach mengenakan kaosnya dan berjalan dengan langkah cepat menuju rumah sementara Zizi mengekor di belakangnya dengan wajah menunduk.
Sebuah mobil SUV berwarna hitam nampak sudah tiba di depan rumah. Sementara itu, di sana juga terlihat Cruise dengan kedua tongkat di sisi kiri dan kanannya sedang berdiri dan berbicara dengan Tuan Zheng Yu.
"Itu, Zach sudah datang!" seru Tuan Zheng Yu sambil menunjuk putranya yang sedang berjalan dengan tergesa-gesa ke arahnya.
"Hai, Cruise! Sebaiknya kau tunggu dulu sebentar. Aku akan bersiap dan menemanimu!" Zach menepuk bahu Cruise dan tanpa berlambat-lambat, pria itu bergegas ke dalam untuk membersihkan dirinya dan bersiap.
Sementara itu, Zizi hanya bisa menatap Cruise dengan tatapan khawatir. Ia tidak berani berbicara banyak karena di sana ada Tuan Zheng Yu yang menemani Cruise.
"Semoga perjalananmu berhasil dan kau bisa segera kembali dengan kekasihmu, Cruise!" ucap Tuan Zheng Yu sambil menepuk bahunya.
"Terima kasih, Tuan. Saya tidak akan melupakan jasa Anda dan keluarga ini!" balas Cruise.
Mereka kembali berbincang sampai Zach akhirnya keluar.
"Ayo, kita berangkat!" ajak Zach yang terlihat sudah rapi.
"Cruise ...." Zizi merasa kacau dan ia tidak bisa menahan perasaannya.
"Ya, ada apa, Zi?" tanya Cruise.
"Ini kartu kreditmu, aku rasa aku sudah tidak perlu membawanya lagi," jawab Zizi dengan perasaan sedih yang tertahan.
"Kenapa? Bawa saja! Toh, aku akan kembali ke sini nantinya," ujar Cruise.
"Sungguh??" Mata Zizi seketika berbinar.
"Tentu saja! Aku harus mencoba untuk berlayar dulu bersama kalian, baru aku akan kembali ke Manhattan nanti!" jawab Cruise.
"Oh, baiklah, kalau begitu!" Zizi jadi bersemangat lagi.
Cruise tersenyum lalu ia pun pamit kepada Tuan Zheng Yu dan juga Zizi sebelum akhirnya ia naik ke dalam mobil diikuti oleh Zach.
Mobil yang ditumpangi Cruise bergerak dan Zizi merasa hatinya tersisa setengah ketika pria itu benar-benar tidak ada di sisinya.
Tuan Zheng Yu terus saja memperhatikan perilaku putrinya dan wajahnya nampak tidak senang.
"Jangan bilang kau menyukainya, Meí! Dia sudah punya kekasih dan dia sangat tidak cocok dengan keluarga kita!"