Cruise dan Zach mengawali perjalanan menuju Montreal.
"Maaf, aku jadi merepotkanmu, Zach," ucap Cruise.
"Ah, tidak papa, lagian masih ada tiga hari ke depan untuk menyiapkan pelayaran. So, bagaimana rencanamu nanti setelah bertemu dengannya?" tanya Zach.
"Entahlah, yang jelas saat ini, aku hanya ingin bertemu dengannya, Zach! Aku sangat merindukannya ...." Cruise berkata dengan tatapan menerawang.
"Yah, aku bisa melihat itu. Aku harap semoga kalian kembali bersama dan hidup berbahagia," ucap Zach sungguh-sungguh.
"Thanks." Cruise menoleh dan menatap temannya itu.
"Dan kau sendiri? Apakah kau tidak sedang mengejar seorang wanita? Aku rasa usia kita hampir sama," ujar Cruise lagi.
"Eh, ak-aku? Ah ... haha! Tidak!! Tidak!! Aku ... belum berpikir sampai sana!" Zach menggaruk belakang kepalanya dengan ekspresi kikuk.
"Kenapa? Kau juga pria yang tampan. Tidak mungkin tidak ada wanita yang menyukaimu," sambung Cruise.
"Eh, ehm! Gimana ya?" Zach jadi salah tingkah mendengar pertanyaan Cruise.
"Kau menyukai wanita yang seperti apa, Zach?" kejar Cruise.
"Aku tidak punya kriteria tertentu. Mungkin jika dia bisa memahamiku, bagiku itu sudah cukup," jawab Zach.
"Wow! Simple sekali kriteriamu," puji Cruise.
"Yeah, aku hanya melihat dari ayahku saja. Ibuku begitu memahami ayahku dan dengan begitu, tidak banyak konflik yang terjadi di rumah kami. Semuanya berjalan begitu sempurna dan ayah pun terlihat bahagia dengan sikap ibu. Jadi, aku pikir aku akan mencari seorang wanita yang mirip dengan ibuku," sahut Zach.
"Dan, sampai sekarang kau belum menemukannya?" tanya Cruise.
Zach mengangkat bahu.
"Belum jodoh!" jawabnya singkat.
"Yeah, suatu hari kau pasti akan menemukan wanita yang kau idamkan ...." Cruise menepuk bahu Zach sambil tersenyum.
Dan, sepanjang perjalanan itu, keduanya berbincang banyak hal dan mulai saling mengenal karakter masing-masing.
Mereka tiba di Montreal ketika hari sudah larut malam bahkan menjelang pagi. Perjalanan yang mereka tempuh sungguh panjang dan melelahkan, bahkan mencapai hampir enam belas jam belum termasuk ketika mereka harus berhenti untuk makan.
Malam itu, akhirnya mereka memutuskan untuk menginap di sebuah motel.
"Sebaiknya, kita bermalam di sini sebentar, besok pagi aku akan mendatangi kafenya," ujar Cruise.
Zach mengangguk setuju. Dalam hati, ia sungguh bersyukur bahwa bukan Zizi yang menemani Cruise. Dan, kini ia benar-benar berharap bahwa Cruise akan menetap di Montreal dan takkan kembali lagi ke Lunenburg. Perasaan Zizi ke Cruise cukup berbahaya dan harus segera diakhiri.
*****
Sinar matahari belum tinggi namun biasnya mampu menembus tirai tipis motel tempat di mana Cruise dan Zach menginap.
Nampak Zach masih terlelap sementara Cruise yang semalam tidak bisa tidur saking bahagianya membayangkan akan bertemu dengan Jillian, segera bangun dan hendak memesan sarapan untuk mereka berdua.
Dengan semangat, Cruise menurunkan kakinya dan meraih tongkat, namun karena kurang berhati-hati, ia pun terjatuh karena posisi tongkat yang belum tegak.
Boom!!
Suara tubuh Cruise yang jatuh di lantai menciptakan bunyi yang cukup keras.
"Cruise!!!" Zach yang mendengar suara berdebum keras segera bangun dan terkejut begitu melihat Cruise tergeletak di lantai.
"Astaga! Kau kenapa, Cruise?" Zach segera mengangkat tubuh Cruise dan memapahnya untuk duduk di atas ranjang.
Nampak wajah Cruise meringis kesakitan sambil memegangi lututnya.
"Aku ... hendak memesankan sarapan ... untuk kita berdua ...." ucap Cruise sambil meringis menahan sakit.
"Astagaaa, kau bisa membangunkanku tadi," ujar Zach sambil duduk di sisi Cruise.
"Tidak, kau terlihat pulas dan kelelahan, mana mungkin aku tega membangunkanmu?" Cruise menggeleng.
Zach menarik nafas.
"Baiklah, kau tunggu di sini, biar aku yang memesankan makanan," ujar Zach dan ia pun berdiri lalu menuju telpon yang tergantung di dinding.
"Halo? Kami ingin memesan dua sarapan untuk ruangan 120," ujar Zach.
" .... "
"Baik, itu pun tak masalah! Kami bisa memakan apapun!" jawab Zach dan ia pun menutup panggilannya.
"Roti panggang dan omelet, apakah itu terdengar ok bagimu?" tanya Zach sambil kembali duduk di sisi Cruise.
"Yah, di mana-mana sama. Motel seperti ini hanya menyediakan menu simple. Itu pun sudah cukup lumayan bagiku," sahut Cruise.
Ia terbiasa hidup ala backpacker jika traveling, jadi makan apapun tidak menjadi masalah bagi Cruise.
"Baguslah. Bagaimana kondisi kakimu? Apakah sudah tidak sakit?" tanya Zach.
"Masih sakit dan ahh! Siall! Aku tidak bisa berdiri!!" Cruise menggigit bibirnya menahan sakit.
"Sebaiknya, kita ke rumah sakit terlebih dahulu untuk memeriksakan kakimu, Cruise! Aku tidak mau beresiko kakimu malah kenapa-napa nanti ...." saran Zach.
Cruise yang merasa kesakitan hanya bisa mengangguk pasrah.
Setelah makan pagi, mereka keluar dari motel dan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kaki Cruise. Niat Cruise untuk menemui Jillian pagi itu terpaksa harus ditunda sampai urusan rumah sakit selesai.
Cruise dan Zach menuju ruang dokter spesialis Ortopedi. Di sana, Cruise diperiksa dan diminta untuk foto ulang. Mereka menunggu hasil rontgen selama kurang lebih dua jam. Selama itu pula perasaan Cruise jadi gelisah.
"Tuan Cruise Benedict." Suara seorang perawat membuat lamunan Cruise bubar jalan.
"Saya, Dok!" Cruise hendak berdiri tapi langsung dicegah oleh Zach begitu melihat ekspresi Cruise yang kesakitan.
"Biar aku saja yang mengambil hasilnya," ujar Zach.
Ia lalu menemui perawat yang memanggilnya dan menerima amplop yang disodorkan.
"Terima kasih," ucap Zach.
Ia lalu hendak membantu Cruise untuk berdiri, tetapi keliatannya Cruise sudah tidak sanggup. Ia benar-benar kesakitan dan semakin lama, nyeri di kakinya semakin terasa.
Tidak ada jalan lain bagi Zach selain meminjam kursi roda untuk membantu Cruise.
Mereka berdua akhirnya menuju ruangan dokter setelah mendapatkan fasilitas kursi roda.
"Bagaimana kondisi kaki teman saya, Dok?" tanya Zach begitu sampai di hadapan dokter.
Dokter yang memperhatikan hasil foto di papan LED mengerutkan keningnya.
"Anda harus kembali ke dokter sebelumnya. Pen yang dipasang di kaki Anda, menurut pengamatan saya sudah bergeser posisinya. Untuk sementara sebaiknya Anda jangan berjalan-jalan terlebih dahulu. Anda harus istirahat total sampai posisi pen diperbaiki. Atau ... kaki Anda mungkin tidak bisa tersambung dengan baik," jelas dokter.
Cruise memejamkan matanya mendengar penjelasan dokter. Dia ingin menemui Jillian hari ini, mana mungkin dia tidak boleh berjalan?
"Apakah tidak bisa diberi obat pereda nyeri sementara, Dok?" tanya Cruise.
"Tentu saja, saya akan memberikan Anda obat pereda nyeri, tapi itu sifatnya hanya sementara saja. Anda harus sesegera mungkin berkonsultasi dengan dokter bedah yang sebelumnya untuk segera dilakukan tindakan," jawab dokter.
"Baik, kami mengerti, Dok!" ucap Zach.
Dokter lalu memberikan resep dan Zach segera menebusnya. Mereka lalu kembali naik ke dalam mobil.
"Bagaimana, Cruise? Sebaiknya kita pulang dan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kakimu, bukankah begitu?" usul Zach melihat kemungkinan Cruise tidak bisa berjalan.
"Aku harus meminum obat pereda nyeri terlebih dahulu, baru aku bisa berpikir!" ujar Cruise.
Zach memberikan obatnya dan Cruise dengan cepat meminumnya.
Selang beberapa waktu ... setelah dirasa kakinya sudah tidak sakit lagi.
"Aku ingin pergi ke kafe kekasihku, Zach. Aku rasa, aku harus bertemu dengannya walaupun hanya sedetik saja. Kita sudah sampai sejauh ini, bukankah terasa sia-sia jika aku tidak bertemu dengannya?" tanya Cruise.
Zach mengangguk, perjalanan mereka jauhnya bukan main, memang sangat disayangkan jika sampai Cruise kembali dengan sia-sia.
"Tapi, kau tidak usah turun, biar aku yang memanggilnya. Bagaimana? Kalian bisa berbicara di mobil nanti ...." usul Zach.
Cruise mengangguk setuju. Berbicara di mobil juga sangat bagus! Lagian, ini sudah mendekati jam pulang Jillian, ia akan dengan leluasa melepas perasaan rindunya bersama dengan Jillian di dalam mobil nanti. Ah! Hanya dengan membayangkan hal itu saja, hati Cruise sudah bahagia.
Cruise lalu menyebutkan sebuah alamat ke sopir mobil yang ia sewa dan mereka menuju ke cafe Ron.
"Itu, D' Lab cafe and Bar." Tunjuk Cruise melihat papan nama sebuah cafe yang ada di tikungan seberang jalan.
Tampilan kafe itu sudah sangat berbeda dari yang sebelumnya pernah ia lihat. Ada banyak papan penutup yang menunjukkan bahwa sebagian dari kafe itu sedang dilakukan renovasi.
"Kekasihmu bekerja di sana?" tanya Zach.
Cruise mengangguk.
"Baiklah, aku akan turun mencarinya." Karena Cruise tidak memiliki foto Jillian, maka Zach berniat untuk menanyakannya saja nanti begitu ia tiba di dalam.
"Namanya Jillian Watson, Zach," ujar Cruise ketika Zach baru akan membuka pintu mobil.
"Okay!" Sahut Zach.
Ia sudah hendak turun ketika sebuah mobil sport berwarna hitam tiba-tiba datang dan berhenti di depan kafe. Nampak seorang pria dengan pakaian parlente keluar dari sana, membuat jantung Cruise langsung berhenti berdetak.
'Reyes!'
"Zach! Tunggu!" Cruise mencekal tangan temannya itu dengan tiba-tiba.
"Eh, ada apa, Cruise?" tanya Zach bingung.
"Tunggu sebentar!" Cruise terus menatap Reyes yang berjalan memutari mobil sambil menempelkan sebuah ponsel di telinga.
"Pria itu? Siapa dia, Cruise?" Zach yang melihat ke arah tatapan Cruise jadi ingin tau.
Cruise tidak menjawab, ia terus memperhatikan Reyes yang terlihat sedang berbicara dengan seseorang di telpon. Tubuhnya ia sandarkan di sisi pintu lalu sebentar kemudian ia menutup panggilannya dan melipat kedua tangannya di depan dadàa seolah sedang menunggu seseorang.
Tidak lama berselang ...
Muncullah Jillian dari pintu yang bertuliskan "Under renovation". Tubuh Jillian terlihat jauh lebih berisi dan perutnya juga sudah lebih besar dari yang terakhir Cruise pernah ingat. Namun begitu, wajahnya tetap saja cantik dan Cruise begitu merindukannya!
"Apakah dia kekasihmu?" tanya Zach kemudian.
Cruise mengangguk.
Zach mengerjapkan matanya, apakah Cruise telah menghamili kekasihnya? Atau pria itu yang menghamili kekasih Cruise? Wow!! Zach terdiam dan tidak lagi ingin bertanya.
Terlihat Reyes membukakan mobil untuk Jillian dan kekasihnya itu masuk ke dalamnya. Hati Cruise dilanda krisis percaya diri, yang dikatakan Selena ternyata benar! Reyes semakin serius dengan Jillian ... dan ....
Cruise tanpa sadar menatap ke arah kakinya lagi. Hari ini, ia kembali tidak bisa berjalan, lalu apa yang akan ia tunjukkan ke Jillian?
"Kita mau ke mana, Cruise?" Melihat temannya itu hanya diam, Zach terpaksa harus menegurnya.
"Kita ikuti saja mobilnya," sahut Cruise lirih.
Ia masih ingin tau, apakah mereka akan kencan setelah ini atau langsung pulang? Apakah Jillian sudah bisa menerima Reyes sepenuhnya dan mulai melupakan dirinya?
Sopir mobil mereka dengan patuh mengikuti mobil Reyes dari belakang. Sementara, Cruise dengan susah payah berusaha menata perasaannya ...
Jillian dan Reyes entah kenapa begitu nampak serasi di mata Cruise. Ia jadi merasa begitu kecil dan tidak nampak. Rasa percaya diri yang ia miliki dahulu, kini sirna dan ia jadi merasa tidak pantas untuk bersanding dengan Jillian.
Mobil yang ditumpangi Reyes ternyata menuju ke rumah Jillian. Well, hati Cruise sedikit lega mengetahui bahwa ternyata mereka tidak kencan.
Entah Jillian yang tidak mau atau memang mereka tidak memiliki jadwal kencan. Intinya, perasaan Cruise jadi sedikit lega mengetahui hal itu.
"Berhenti di sini saja!" perintah Cruise ketika mobil Reyes juga berhenti di depan rumah Jillian.
Nampak Jillian keluar sambil membawa sebuah kotak besar berwarna ungu dengan pita pink yang membingkainya. Dan, setelahnya mobil Reyes pun pergi dari sana.
"Astagaaa! Seharusnya aku membawa bunga untuknya!" Cruise seketika menepuk jidatnya begitu melihat Reyes memberikan bingkisan untuk kekasih hatinya.
Ya, Tuhan! Bagaimana dia bisa lupa untuk membawakan sesuatu bagi Jillian? Ah! Dia terlalu narsis ternyata! Ia pikir hanya dengan bertemu dengannya saja, Jillian akan puas dan senang. Yah, walaupun hal itu mungkin benar, alangkah baiknya ia juga membawakan sesuatu untuk gadis yang ia cintai, bukan?
"Antar aku ke toko bunga!" perintah Cruise kemudian.
Mobil yang mereka tumpangi segera memutar arah dan mencari toko bunga.
Cruise hendak turun ketika Zach mencegahnya.
"Kau akan cedera, Cruise! Biar aku yang memilihkan bunga untukmu," ujar Zach.
"Tidak bisa, Zach! Aku harus memilihnya sendiri!" pinta Cruise.
"Tapi kau tidak bisa berjalan! Mana mungkin?"
Cruise nampak berpikir.
"Aku harus beli kursi roda," sahut Cruise kemudian.
Ah! Zach jadi pusing jika begini!
"Kau akan membuang waktu dengan memutar jalan demi membeli kursi roda, Cruise." Zach mengingatkan.
"Tidak masalah, pria itu sudah pulang, 'kan? Aku toh harus tetap mengetuk pintu rumahnya untuk bertemu dengannya," jawab Cruise.
Melihat Cruise bersikeras, tidak ada jalan lain bagi Zach kecuali menuruti keinginan teman barunya ini. Mereka terpaksa harus membeli kursi roda terlebih dahulu baru membeli bunga.
Cruise memilih bunga yang menurutnya paling indah untuk bersaing dengan bingkisan dari Reyes. Dan, sesudahnya mereka kembali ke rumah Jillian.
Mobil sport milik Reyes kembali terparkir di depan rumah Jillian, membuat hati Cruise cemas kembali.
"Pria itu datang lagi, Cruise!" ucap Zach seolah memberi tahu.
Cruise sama sekali tidak merespon. Hatinya pun bertanya-tanya, 'Kenapa Reyes ada di sini lagi?'
Niatnya untuk masuk dan menemui Jillian harus ia urungkan sebentar sampai mobil Reyes pergi.
Menit demi menit berlalu, Cruise makin cemas, jangan-jangan, Reyes dan Jillian berbincang di dalam seperti anak muda yang sedang pedekate! (alias pendekatan!)
"Kita mau menunggu sampai kapan, Cruise?" Zach mulai terlihat tidak tenang.
Wajah Cruise terlihat tegang, ia juga tidak tau mau menunggu sampai kapan, yang jelas, Reyes tidak mungkin menginap di rumah Jillian, 'kan?
"Jika memang kau ingin menemuinya, kau harus berani berhadapan dengan pria yang sekarang sedang mendekati kekasihmu, Cruise. Kau harus siap dengan resikonya, apakah kekasihmu akan menerima keadaanmu atau dia akan memilih pria itu," saran Zach.
Cruise menarik nafas berat. Tidak! Bukan itu masalahnya, ia tau Jillian akan menerimanya, ia saja yang tidak percaya diri terlihat lumpuh di depan kekasihnya itu, apalagi sekarang ia malah menggunakan kursi roda! Ini benar-benar sangat memalukan!
"Baiklah, kita pergi saja, tapi, tolong letakkan bunga ini di depan sana," ujar Cruise sambil menunjuk carport Jillian.
Ia ingin Jillian tau bahwa dirinya baru saja datang.
"Kau yakin tidak ingin menemuinya?" tanya Zach.
Cruise mengangguk.
"Baiklah." Zach mengambil bunga dari tangan Cruise. Dan, ia hendak keluar untuk meletakkan bunga itu di tempat yang dimaksud ketika tangan Cruise kembali mencekalnya.
"Ada apa?" tanya Zach sambil menatap temannya itu.
Cruise menunjuk jendela dengan wajahnya.
Zach menoleh dan ia bisa melihat Jillian bergandengan dengan Reyes menuju mobil. Wanita itu tampak menawan dengan gaun emas yang membalut tubuhnya yang berisi. Sementara sang pria juga tak kalah keren dengan penampilannya yang sangat rapi dan terkesan mahal. Mereka benar-benar nampak seperti pasangan selebriti yang akan menghadiri acara penting.
Hati Zach jadi ikut hancur melihatnya, ia bisa merasakan kepedihan hati Cruise kali ini. Ia kembali menatap Cruise dan tampak puing-puing kehancuran di manik abu-abu pria itu.
"Cruise, biarkan aku turun dan menemuinya! Dia harus tau bahwa kau masih hidup dan berada di sini!" ujar Zach dengan tidak sabar.
"Jangan! Dia tidak perlu tau, Zach!" ucap Cruise lirih.
"Cruise!! Kau harus memperjuangkan perasaanmu!!" Zach mulai terlihat gemas.
"Ikuti saja mobilnya," ujar Cruise tanpa menghiraukan ucapan Zach.
Jillian mengenakan pakaian begitu seksi dan berdandan dengan cantik, mau kemana mereka berdua?
Bunga yang dibawa Zach kembali tergeletak di mobil begitu saja. Tanpa kata, mereka berdua mengikuti mobil Reyes hingga tiba di sebuah gedung yang megah dan terlihat sangat ramai seperti sebuah pesta selebriti.
"Kita berhenti di sini saja," ujar Cruise.
"Kita tidak bisa melihat apapun dari sini, Cruise!" ujar Zach.
"Ya aku tau, Zach, dan kali ini aku ingin meminta bantuanmu," ujar Cruise dengan tatapan penuh permohonan.
"Katakan saja, buddy!"
"Tolong intiplah ke dalam sana dan rekamkan untukku apa yang sedang terjadi ..." pinta Cruise.
Zach terlihat galau mendengar permintaan Cruise.
"Penjagaan begitu ketat, aku tidak yakin apakah aku bisa, Cruise. Namun, demi dirimu aku akan mencobanya," ucap Zach kemudian.
Cruise tidak bisa berjalan, harapan satu-satunya ada di dirinya! Ah! Ternyata perjalanan cinta Cruise cukup rumit juga!
Zach membuka pintu dan ia mengeluarkan ponselnya. Dengan menyelinap dan melompati pagar tanaman, ia mendekati jendela dan mencoba mencari pasangan selebriti itu ditengah banyaknya para tamu yang hadir.
Gaun glamour yang dikenakan Jillian memudahkan Zach untuk menemukannya. Nampak wanita itu selalu tersenyum dan tangan kurusnya terus saja melingkar di lengan Reyes.
"Ah, kasian sekali kau, Buddy!" ucap Zach dengan nada prihatin.
Ia terus merekam Jillian dan Reyes sampai nama Reyes dipanggil ke atas panggung.
"Hm? Siapa pria itu?" gumam Zach melihat Reyes terlihat begitu penting.
Nampak Reyes menggandeng Jillian dan naik ke atas panggung. Ia melingkarkan tangannya ke perut buncit Jillian dan keduanya terlihat sangat intim dan mesra.
'Ya, Tuhan! Apakah Cruise akan sanggup melihat rekaman ini?' Zach bergumam dalam hati.
Reyes mengucapkan banyak kata sambutan sebelum akhirnya memberikan pengumuman bahwa ia baru saja membuka cabang baru dan mendedikasikan cabang itu kepada kekasihnya yang bernama Jillian Watson!
"Oh my God!" Zach seketika menutup mulutnya mendengar pengumuman itu.
Jillian juga terlihat kaget, tapi ia tidak mengatakan apapun sampai keduanya turun dari panggung dan bersalaman dengan para tamu. Jelas sudah bahwa mereka ternyata adalah sepasang kekasih.
Zach tidak tau, ia harus berhenti atau terus merekam melihat semua peristiwa ini.
"Hey!!!! Berhenti!! Siapa di sana?"
Sebuah suara membuat Zach terkejut dan ponselnya pun terjatuh.
Ia segera membungkuk untuk mengambil ponselnya dan ketika ia hendak lari, kerah bajunya sudah diangkat oleh seseorang!