14

1212 Kata
Mereka telah melaporkan hal ini, dan polisi langsung menuju tempat kejadian yang di mana, terletak di rumah Meli. Meli yang sedang mengerjakan tugas terkejut karena pintunya di dobrak tiba-tiba, dia bertanya, ke mana sang satpam? "Kenapa ini?" "Meli, kami hanya datang untuk memerosesmu mengenai kejadian yang menimpa saudara Lia, benarkah kamu pelakunya?" "Hah? Lia? Dia teman saya! Mana mungkin saya melakukan itu!" "Menurut laporan, Anda menjebaknya dalam kamar bersama Satpam kemudian mengunci pintu kamar tersebut." Sebelum Meli membalas, Polisi memerintah temannya untuk menggeledah rumah ini, karena laporan lain juga menunjukkan bahwa Lia positif meminum obat peningkat gairah, yaitu Wellbutrin. "Satpam? Satpam saya tidak melakukan apa pun dia hanya berjaga di pintu gerbang." Meli tak menyadari jika Zidan ada di belakang Polisi karena saking cemasnya sekarang, wanita itu tidak menyangka jika Lia membawa kasus ini ke rana hukum. "Meli, jujur atau sesuatu yang lo tutupin gue ungkap di depan polisi sekarang!" Bisa dikatakan, wanita tersebut terjebak sekarang. "Gak, gue gak ngapa-ngapain Lia. Sumpah, dan lo jangan ikut campur karena ini urusan gue sama Lia! Mana Lia sekarang?!" Zidan terkekeh, Meli sudah gila sekarang, mungkin karena Polisi sudah ada di depannya, sebelum Meli kembali berkata, bawahan para polisi menemukan barang bukti sejumlah beberapa obat peningkat gairah pada wanita. "Bukti pertama, dan silakan periksa ruangan-ruangan yang lain!" "Baik, Pak!" Menunggu kehadiran satpamnya, pria tersebut akhirnya masuk dalam rumah Meli. Meli sendiri melototkan mata, apa lagi yang dicari pria itu? Padahal dia telah memberikannya uang 50 juta. "Semua laporan yang kalian terima, benar!" Meli tergagap sekarang, mengapa semuanya menjadi seperti ini? Dia murka kepada satpam tersebut. "Dia berbohong, Pak!" "Tidak, saya jujur! Dengan uang 50 juta, saya terima tawarannya untuk mempersunting temannya yang bernama Lia. Modus dari pelaku adalah, Meli mengajak sang korban untuk datang ke rumah pada pukul 8 malam, dengan modus kerja kelompok, padahal tidak! Setelah sang korban menyetujui, barulah pelaku utama memerintahkan saya untuk memperkosanya." "Meli!" geram Zidan, jika Meli bukan seorang wanita, wajahnya sudah tak terbentuk sekarang. Sementara Kia, dia menutup mulut dan menangis histeris kemudian menghampiri Meli dan menuntutnya pertanyaan. "Saya melakukannya, karena saya iri sama anak ibu! Dia terkenal hanya beberapa hari saja, jelas saya tidak suka itu! Dan bukan itu saja, karena Lia merebut orang yang saya suka, yaitu Zidan," ungkap Meli pada akhirnya. Meli memejamkan matanya kemudian menyerahkan diri untuk polisi memborgol tangannya, walau pun dia di penjara, dia juga puas karena Lia menderita sekarang, terlebih lagi masalah mentalnya akan terganggu. "Ha ha ha, semuanya imbas. Gak papa deh, gue di penjara, daripada harus dibuli satu sekolah. Dan ... Bokap gue bakalan ngelepasin gue dong nantinya, mana mungkin ngerelain anaknya yang cantik di penjara? Setelah itu, gue bakalan pindah ke luar negeri buat lanjut pendidikan." Zidan tersenyum miring, di keluarkannya ponsel kemudian memutar rekaman pada saat dia dan Devan bertemu dengan Meli di taman lalu mengungkap pekerjaan yang ditutup oleh dirinya sampai sekarang. "Coba denger, kalau gue kasih tau orang tua lo, gimana yah responnya?" "Zidan, lo b******k, yah! Hapus, gak?! Hapus b*****t!" "Ha ha ha, tenanglah di penjara." Setelah membawa Meli ke mobil, bagaimana dengan pelaku pemerkosaan? Dia juga mendapatkan balasannya, dia ikut bersama tuannya di sana, namun ... yang menyedihkan adalah, dia terpaksa karena istrinya akan segera bersalin dan uangnya tidak cukup untuk membayar biaya rumah sakit, tetapi dengan penghasilan dari pemerkosaan tadi, istrinya dapat bersalin minggu depan. "Tidak masalah jika saya yang harus menanggung ini, asal istri dan anak saya selamat." Zidan mengambil kesimpulan, bahwa betapa mirisnya bapak tersebut. Walau tujuannya baik, tetapi caranya yang salah, dia masih punya tangan dan kaki yang lengkap, dan pekerjaan di luar sana begitu banyak untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Wajah Lia sangat pucat, gadis tersebut memeluk lututnya sembari menggigil ketakutan, rasa takutnya semakin mendominasi ketika mengingat pria yang memerkosanya, bahkan, pria itu sempat menampar pipinya dengan keras di sela-sela perlawanan. Di sisi lain, orang-orang mulai berdatangan di rumah dan menghampiri Lia yang berada di ruang tamu sedang menangi sesugukan. Dia adalah Zidan, sementara Kia dibawa ke kamar karena masih tak sadarkan diri. Zidan mengusap pipi lembut Lia dan refleks tangannya ditepis oleh cewek itu. "Jangan sentuh, kamu mau apain aku, hah?!" tatap Lia dengan tajam, menunjukkan wajah yang waspada. Zidan melirih, Lia benar-benar trauma dan harus dibawa ke dokter psikologi agar mentalnya tidak semakin memburuk. "Lia, ini gue Zidan." "Zidan?" Lia bertanya, padahal jelas sekali dirinya melihat pria tersebut, namun jangan salah paham karena orang yang mengalami trauma memang seperti itu, walau mereka tahu, tetapi pikira mereka seolah-olah tidak mengenal. "Lia, besok jangan ke sekolah dulu, yah." Lia mengangguk cepat, dia memang tidak berani karena ketakutannya terhadap Meli sangatlah besar, dia takut kepada wanita tersebut, bisa-bisa dia dibawa ke rumahnya lagi dan menyuruh satpamnya untuk melakukan hal menjijikkan itu. "Sekarang udah malem, waktunya tidur, gak baik begadang." "Eum." Lia tak bergerak sama sekali, dia tetap menggigil sembari memeluk lututnya,  karena hal itu membuat Zidan terpaksa untuk membawanya ke kamar, dengan cara menggendongnya. Lia tak melawan, tubuhnya pun semakin tenang ketika aroma tubuh yang dikenalnya begitu terasa, perlahan matanya memejam dan dengkuran halus terdengar. Masuk dalam kamar Lia, Zidan meletakannya dengan hati-hati, dan menutupi tubuh cewek tersebut dengan selimut, tak lupa mematikan lampu lalu mengucapkan, "Selamat malam." Ke esokan harinya, Zidan berangkat sendiri, sesuai perkataannya semalam bahwa dirinya melarang Lia untuk sekolah sementara waktu. Berita tentang Lia akan ditutupi oleh pihak sekolah, dan hanya orang-orang tertentu saja yang tahu, terutama Zidan, dan juga Devan. Mengapa Devan? Pria itu sudah tahu ketika Zidan meneleponnya setelah pulang dari rumah Lia. Respon dari pria tersebut mengerikan sekali, dia ingin membunuh Meli, bahkan video Meli yang sedang bersetubuh ingin disebarnya, entah dari mana Devan mendapatkan video tersebut, jawabannya hanya 'dari seseorang yang gue kenal'. Zidan melarang Devan untuk menyebar video itu, karena ... Meli telah mendapatkan ganjarannya, jika memang semakin melunjak dan tidak sadar, barulah Devan mau mengapakan video itu, karena lama-lama, Zidan pun geram padanya. Sampainya Zidan di sekolah, dirinya bertemu dengan Devan, sesuai perjanjian mereka semalam. "Pulang sekolah nanti, gue mau jenguk Lia." "Oke, sekalian gue juga." Setelah itu, keduanya kompak saling bertos. Pulang sekolah pun tiba, mereka berdua melesat ke rumah Lia begitu cepatnya, hanya 10 menit saja, mereka telah sampai. Pintu rumah pun dibuka oleh Kia, Zidan dan Devan menyalim tangan wanita tersebut. "Lianya bagaimana, Tante?" "Masih sama, Nak. Dia sering nangis, Tante jadinya ikut nangis juga, untungnya kalian datang cepat karena Lia nyebut nama kalian berkali-kali, tadi." "Oke, Tan. Kita ke Lia sekarang." Masuknya di kamar Lia, mereka disambut oleh tatapan kosong. Devan, pria tersebut terluka melihat orang yang disayangnya layak patung diberi napas, kaku dan tak bergerak. "Hai, Lia. Ini gue, Devan." "He'eum, Devan?" Lia menengok dengan pelan, kemudian tersenyum dengan wajah pucatnya. Devan mendekat dan membawa Lia dalam pelukannya kemudian mengecup kepalanya penuh sayang. "Jangan nangis, jangan takut juga, gue ada di sini, selalu ada di samping lo." "Hiks, Meli jahat banget sama aku. Satpamnya udah perkosa aku, kejam banget kan dia? Terus, kamu sama Zidan pasti jijik dan gak mau temenan sama aku," ujar Lia. "Haish, nggak! Jangan mikir gitu, karena gue sama Zidan sayang sama, lo. Mau lo gak perawan kek, hamil kek, gue tetap cinta sama lo!" pungkasnya, mengakhiri tangis Lia secara tiba-tiba. "De-Devan?" "Gue serius!" tatapan Devan menajam dan menyorot begitu dingin, namun, melembut dalam satu waktu, ketika bola mata mereka saling menyahut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN