15

1048 Kata
Lagi-lagi Zidan diam memerhatikan, tak ingin mengganggu moment kedua orang tersebut, terutama kepada Lia yang terlihat tenang berada di sisi Devan, berbanding terbalik dengannya yang sedikit berusaha untuk membuatnya tenang juga. "Makasih, yah, Van." "Makasih doang? Gak mau balas perasaan gue gitu?" tanya Devan. "Ck, main perasaan mulu. Kuy jalan-jalan biar ada refreshing dikit, he he he," sambar Zidan. Zidan sengaja, ini terlalu cepat untuk Lia yang mengungkapkan perasaannya yang masih labil setelah kejadian semalam, dan Zidan juga kesal kepada Devan yang tidak tahu kapan mengeluarkan momentum yang tepat. Mendengar ajakan Zidan, Lia menolak, dirinya masih takut untuk keluar karena ia masih membutuhkan waktu untuk meminimalisir pikiran buruknya sendiri. Akan tetapi, Lia tidak peka terhadap Zidan, yang mengapa dia mengalihkan topik pembicaraan? Selain momentum yang tidak tepat, pria itu berusaha untuk menggagalkan Lia menerima perasaan Devan karena dia takut, takut jika Lia tidak bersamanya. "Devan," panggil Lia. "Hm?" "A-ku terima." "Hah?" Devan masih tak mengerti. "Perasaanmu, aku terima," ulang Lia malu-malu. Devan tersenyum dan memeluk Lia kemudian dan membawanya ke dalam dekapan d**a bidangnya, "Makasih, yah. Sekarang kita?" "Kita?" "Coba tebak, kalau tadi itu gue lagi ngapain?" "Eum, sejenis menembak?" "Kalau begitu, lo pasti mati karena gue tembak, ha ha ha." "Devan, jangan bercanda ih, aku serius!" Tatapan Devan berubah serius sekarang, dengan pungkas, dia memutuskan bahwa, "Iyah, Lia pacarnya Devan sekarang!" dengan nada melantang, sengaja untuk mendengarkan Zidan yang berada di belakangnya. "Ekhem, cie, udah jadian nih?" Lia menatap Zidan dan mengangguk bahagia. Setelah itu, Zidan meminjam Devan sebentar untuk berbicara di luar. Sampainya mereka di luar, Zidan menjabat tangan Devan kemudian mengucapkan, "Selamat, dengan ini lo menang. Huft, persaingan sehat akhirnya berakhir juga, yah? Gue heran, kenapa hati gue sakit, Van?" Devan terkekeh, "Lo kurang beruntung, bro. Lia milik gue sekarang, dan sekarang ... lo udah tahu apa yang harus lo lakuin selanjutnya." "Hm, menghindari Lia sebisa mungkin?" "Yosh, lo ternyata mengerti." Devan menepuk pundak Zidan sambil tersenyum menang kemudian masuk dalam rumah Lia kembali, meninggalkan saingannya yang sedang meremas dadanya dengan sengaja. "Njir, malah semakin sakit, ha ha ha. Gini yah? Kalau udah kalah?" Zidan menatap langit, senyumnya lirih sekali, jantungnya berdegup kencang karena rasa sakitnya susah ia cakup. "Yah benar, gue gak ada hak lagi buat deket sama lo, Lia. Gue seneng bisa kenal lo selama ini, semoga bahagia dengan Devan, sampai jumpa." Tadi, Zidan ingin berpesan pada Devan, tetapi pria itu terlalu cepat pergi, padahal dia hanya ingin menyampaikan, 'jaga Lia baik-baik, jika Lia sakit karena dia, maka dirinya yang akan memukulmu untuk pertama kalinya.' Dalam kamar, Devan telah tiba dan Lia mencari keberadaan Zidan, pacarnya menjelaskan bahwa Zidan dipanggil oleh ayahnya karena urusan mendadak, Lia pun tersenyum mengerti, rasanya tanpa Zidan seperti ada yang hilang setengah dari pertemanan mereka. Lia harap, Zidan selalu ada di sampingnya, menjadi teman yang baik, dalam susah-senang karena Zidan berperan penting dalam hidupnya selama ini, bahkan dirinya tidak tahu bagaimana caranya agar membalas kebaikan Zidan. Akan tetapi, Lia salah terhadap pertemanan mereka bertiga, karena salah satunya telah retak akibat cinta segitiga. Yang di mana, dua pria yang tertarik pada wanita introver yang malang sehingga menimbulkan rotasi perasaan dalam lingkup segitiga tiada ujungnya. Sama seperti kemarin, Lia belum ke sekolah karena masih trauma. Dirinya melirik jendela dan memerhatikan Zidan yang sedang mengusap-usap motornya, suara dari pria tersebut bahkan terdengar ketika mengomeli motornya yang tidak mau menyala. Lia tertawa kecil, melihat Zidan saja membuat suasana hatinya menjadi senang. Dan ngomong-ngomong, Lia pun rindu kepadanya, tetapi, hatinya juga menolak dan menyingkirkan perasaan itu, karena dia punya Devan sekarang. Terbukti, Devan meneleponnya dan menanyakan kabarnya, Lia tentu senang, dia menjawab dengan semangat dan memberitahu pria itu bahwa dia baik-baik saja. Setelah telepon dimatikan, Lia kembali melirik jendela dan rasa kecewa pun menghampirinya ketika Zidan tak ada lagi. "Yah, bosen lagi deh, aku." Di sekolah, banyak yang menanyakan kabar Meli, kenapa wanita itu akhir-akhir ini tidak datang? Untunglah semuanya tertutup, apalagi pihak sekolah yang tampak biasa saja. Para siswa belum mengetahui kabar Lia juga, saking tidak tahunya mereka tetap mengingat rasa benci Meli pada orang itu dan ikut membenci pula, bahkan sampai saat ini mereka tetap mengirim hujatan pada pesan i********: milik Lia. Akan tetapi, untunglah ponsel Lia ditahan oleh ibunya karena khawatir jika seseorang melakukan hal yang tidak-tidak kepada anaknya sehingga mengingat moment itu lagi. Di sisi lain, Zidan berada di kelasnya, tak terasa seminggu pun berlalu dan masa hukumannya telah berakhir untuk membersihkan toilet, dia masih mencari pelaku yang melapornya pada guru konseling, karena jujur ... dia kesal, apalagi saat membersihkan toilet yang baunya luar biasa itu, kadang membuat Zidan hampir muntah dan menderita di sana. Zidan membuka ponselnya, tepat pada w******p, barisan pesan pertama adalah Lia. Entah kenapa, Zidan semakin sulit untuk move on? Tetapi, dia tidak memaksa karena keinginan untuk bermain sehat tertanam jelas dalam jantungnya. "Huft, semoga lo seneng sama Devan, Lia." Istirahat pun tiba, Zidan berkeliling di sekolah karena bosan, saking bosannya, dia tak sadar telah berada di belakang gudang. Langkahnya terhenti ketika mendengar sesuatu yang aneh, layaknya sebuah desahan. Zidan bertanya-tanya, siapa yang berbuat m***m di sini? Dia pun mengintip, namun sayang ... sebuah meja menghalangi pandangannya untuk melihat siapa pelaku m***m itu. Desahannya semakin menjadi, apalagi sang cewek mengatakan, "Lepas kancingnya, sayang." Zidan menggelengkan kepalanya, dia ingin melihatnya secara langsung karena ini kesempatan emas, kapan lagi melihat adegan m***m secara live? No online-online di ponsel? Sebuah kejadian langka bukan? Meja yang menghalanginya membuat Zidan kesal, tak ada cara lain dan dia pun mengambil ponselnya dan merekam kejadian tersebut bermodalkan tinggi badan, juga panjang tangan. (Bukan pencuri, wkwkwk.) "Eum, lebih." "Hm? Coba minta lagi." "Maunya yang lebih." Zidan menggigit bibirnya, dia terbawa suasana sehingga pikirannya menjadi liar ke mana-mana, maklum seorang pria. Zidan mengembuskan napas ketika waktu istirahat telah habis, namun itu tidak masalah juga karena terbayar oleh rekaman yang ada. Zidan tersenyum puas, pulang nanti dia akan menontonnya sampai habis, mumpung, lebih dari 10 menit ia merekam, walau tangannya menjadi korban kepegalan. Saat Zidan berbalik, tak sengaja dia menyenggol meja dan membuatnya terjatuh, refleks ... dia berlari secepat mungkin. Sedangkan orang yang telah melakukan keasoiyan yang hakiki, tentu terkejut dan meneriaki orang yang mengintip, namun, yang berteriak adalah ceweknya saja. "Ish, iseng banget sih ngintip-ngintip, mungkin dia mau gabung yah, beb?" "Ha ha, mungkin sayang. Besok kita lanjut lagi." "Oke, aku sayang kamu." "Iyah."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN