18

1144 Kata
Pulang sekolah, Azerlia terpaksa menunggu di halte seorang diri karena Devan tak bisa mengantarnya pulang dengan alasan: ini penting banget, Sayang. Gue gak bisa anter dulu, kamu naik ojek aja, yah. Dan sendirilah Lia sekarang, untungnya Zidan lewat di depannya sehingga ia berteriak sangat kencang, "Zidan!" Zidan sendiri terkejut, ia hampir menabrak kucing yang lewat, "Hadeuh, ngagetin gue. Untung gak gue tabrak tuh kucing oyen." Zidan berbalik dan melihat Lia melambaikan tangannya. "Dia belum pulang?" Zidan memutar balik motornya dan menghampiri Lia. "Kenapa belum pulang?" "Devan ada urusan penting, aku disuruh ngojek tapi takut," jawab Lia. "Hm, naik gih. Gak usah mohon-mohon, nanti gue bawa ranjang terus kurungin," balas Zidan. "Habis dikurungin?" "Gue perkosa!" Azerlia memukul Zidan menggunakan ranselnya, kenapa Zidan mulai m***m seperti Devan? Sepertinya dia harus berhati-hati sekarang, dan waspada terhadap gerakan cowok tersebut. "Lama banget naiknya, mau gue tinggal?" "Ish, jangan! Aku cuman waspada, nanti kamu grepein aku di motor," jawab Lia. Zidan yang mendengar itu melongo tidak percaya, sejak kapan Lia tahu kata-kata nakal jaman sekarang? Dan dari mana dia tahu? Yang konyol adalah, bagaimana mungkin dia grepein Lia di atas motor? Harga dirinya rendah sekali, padahal ia bisa menyewa hotel dengan kamar VIP. "Otak lo kesambet apaan, Lia? Mau gue keringin di mesin cuci?" Lia tak menjawab, dirinya naik ke jok motor Zidan lalu menepuk pundak cowok tersebut dan mengatakan, "Berangkat!" Zidan tersenyum, Lia yang introver akhirnya berubah seiring waktu, dan dia tidak tahu, apa penyebab pastinya, tapi ... dalam hati kecilnya dia sedikit percaya diri bahwa dialah poin besar terhadap perubahan cewek tersebut. Sampai di rumah, mumpung ibunya Lia keluar, Zidan ingin membicarakan sesuatu yang penting pada Lia, dan juga ... situasi pun mendukung karena  trauma dalam diri Lia sudah menghilang (sepenuhnya). "Lia, sekarang diem dan perhatiin video ini." Lia menurut, Zidan pun membuka ponselnya, pria itu tersenyum karena kedok Devan yang tertutup rapat akan dia bongkar, dirinya tak bermaksud untuk menghancurkan hubungan mereka, akan tetapi ... Zidan khawatir jika orang yang disayanginya akan dirusaki oleh Devan, terlebih lagi Azerlia yang polos. "Kenapa lama?" "Wait, gue cek bentar." Zidan menyari video Devan bersama cewek lain, dicarinya terus menerus hingga dapat kemudian mengeklik video tersebut, tetapi sayang, ponsel Zidan langsung mati karena low battery. "Ow, ow. Beterainya lemah," ucap Lia. "Anjir, kalau situasinya penting kenapa langsung sial? Gak ngerti moment, anju!" umpat Zidan. "Anjir dan anju. Wah kosa kata baru lagi, yah. Besok aku terapin di kelas," gumam Lia yang didengar oleh Zidan. Plak. Zidan menepuk jidatnya, kenapa Lia rada-rada bego? Bahkan dua kata yang famous di zaman sekarang, dia pun tidak tahu? "Lia, sayang. Sekarang ambilin cas ponsel kamu, karena gue pengen berak sekarang!" "Ish, iya, iya. Jorok banget sih, ngomongnya gak usah spontan gitu!" "Bercanda," balas Zidan, kemudian kentut. "ZIDAN!" Azerlia kembali membawa cas di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya, tengah menutup hidung karena bau tidak sedap melanglang buana di ruang tamu. "Terima kasih, gak usah nutup hidung lo. Kentut gue harum, kok. Seharum bunga kasturi." "Ew! Kasturi apanya? Bunga reflesia, iya." Zidan tertawa di atas penderitaan Azerlia, walau cewek tersebut menutup hidung, itu percuma! Karena cela-cela kecil membuat aroma kentutnya menyongsong paksa ke area tersebut. Ponsel Zidan telah menyala, yang punya membuka galerinya dan memerlihatkan video tersebut ke Azerlia. Azerlia mengedutkan dahi, fokus pada pria yang sedang memejamkan mata sembari menggoyangkan pinggulnya, terlihat nikmat sekali, dengan jelas Lia mendengar pria itu mengucapkan 'sayang' pada cewek yang merintih-rintih tidak jelas. "De-Devan?" Zidan tidak membalas, hatinya berkecamuk ketika melihat Lia yang menahan tangis. Zidan, dia benci ketika wanita yang disayanginya menitikkan air mata, namun, apa daya ketika suatu kenyataan harus ia ungkap. "Ini bohong, kan? Kok bisa kamu rekam gitu, sih?" tanya Lia. "Gue cuman keliling, Lia. Gak sengaja gue denger suara itu juga dan gue rekam karena iseng, pas gue liat di rumah, gue gak tau lagi ... rasanya pengen nonjok Devan," jawab Zidan. "Hiks, kenapa dia tega banget, sih? Sebenarnya, dari awal aku memang curiga sama dia, kek ada yang menjanggal di pikiran aku. Bukan cuman ini doang, aku pernah lihat Devan ciuman sama cewek di belakang gudang, dan di hari itu pula kami bertemu untuk pertama kalinya," balas Lia, menjelaskan semua isi hatinya yang tidak enak terhadap Devan. "Maaf, tapi gue harus tanya, kenapa lo  bego banget jadi orang? Udah tau dia perusak, malah terima jadi pacar. Pas liat ini, apa tindakan lo selanjutnya, Lia?!" Lia mengembuskan napas, dan memutuskan, "Putusin Devan sekarang." "Bagus!" Zidan tampak semangat kemudian, Lia yang melihatnya menatap cowok tersebut dengan malas. Lia mengambil ponselnya dan menyuruh Devan untuk menemuinya di rumah, tidak penting jika cowok itu sedang apa dan berada di mana, karena ... hatinya sudah sakit sekarang. Di tempat lain, Devan mengumpat di tengah percintaannya bersama wanita sewaannya. Devan mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelepon. Nama yang tertera adalah, Lia. Sebelum mengangkatnya, Devan melanjutkan aksinya lalu menjawab telepon tersebut. "Yah?" "Tapi, aku si-" "Oke, aku ke sana sekarang, tu-tunggu sa-sayang." Detik itu pula, Devan mendapatkan puncaknya. Ia beranjak dari ranjang tanpa busana dan tidak merasa malu sama sekali, sang wanita bayaran menunjukan ekspresi lebih, pertanda ingin melanjutkan lagi. "Cukup, gue ada urusan penting dan gue gak suka pakai dua kali, jadi ... ini bayaran untuk servis lo." Devan melempar uang tersebut ke wajah sewaannya. "Terima kasih, kalau Anda membutuhkan saya, silakan hubungi lagi, Tuan Tampan." "Ck." Selesai mengenakan pakaiannya, Devan melesat pergi meninggalkan sang p*****r yang tengah kecewa. "Jarang, ada cowok yang kuat seperti dia." Sampainya Devan di rumah Lia, dia mendapatkan tamparan yang keras, di belakangnya ada Zidan dengan wajah yang datar dan dingin, Devan bertanya-tanya, apa yang terjadi? "Dengan tamparan ini, buat aku sadar ternyata kamu b******k, Van! Dengan tamparan ini juga, maka hubungan kita udah berakhir." "Sayang, ini maksudnya apa?" "Apa?" tanya Lia, kemudian berbalik dan meminta ponsel Zidan yang beterainya 15%. "Liat ini!" Lia menunjukan video yang di mana Devan sedang bercinta di belakang gudang. Devan membulatkan mata, ia melakukan itu satu minggu, tiga hari yang lalu. Dia menatap Zidan dengan kening yang menyatu, "Lo dapat dari mana video ini, Dan?" "Gue yang video sendiri, Van. Gue kecewa sama, lo. Gue pikir lo sayang sama Lia, tapi apa? Lo malah selingkuh, apalagi langsung main indehoian di sekolah? Gila, lo! Gue pikir ini ngadi-ngadi, Van, ternyata nggak ngadi-ngadi!" Devan mengangkat tangannya, dia ketahuan, sifat yang ada dalam dirinya telah terungkap semuanya dan dia pun menerima kata putus dari Lia, namun, dia harus dimaafkan terlebih dahulu oleh cewek yang ia sayang. "Please, lo boleh putusin gue, tapi ... maafin gue, Lia. Gue, gak bisa nahan nafsu saat itu," lirih Devan pada akhir kalimatnya. "Maaf, aku belum bisa maafin. Tunggu beberapa hari dulu baru lukanya bisa sembuh, Van. Makasih atas hari-harinya, juga sebuket bunga dan khiasan cemilan di atasnya, aku suka kok, malah bahagia banget terima hadiah itu dari kamu dan berharap bakal ada hadiah lain yang menyusul, tapi sayang ... itu hadiah yang pertama dan terakhir."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN