Awal kisah ketika aku mengenal sosok wanita angkuh bernama Diana.Si jenius yang selalu ingin menguasai semua hal.
"Apa_apaan semua ini Zul!" umpatku sambil merobek balasan surat dari sebuah dinas pemerintah.Hmmm belum kenal rupanya mereka dengan saya sehingga berani menyuruh saya menghadap ke kantor mereka.
Zulham asisten pribadiku hanya terdiam membisu sambil memainkan rokok kretek 234 di jemarinya.
"Zul... segera kirim surat balasan yang intinya adalah saya tidak bersedia mendatangi mereka tapi justru merekalah yang harus ke tempat kita untuk menyerahkan data_data yang kita inginkan" paparku panjang lebar padanya.
"Baik bos" ujarnya lirih sambil mengambil laptop yang berada di depannya.
Diana...hmmm nama itu sudah sangat familiar di telinga saya karena teman-teman sesama LSM sudah sangat sering menceritakan sosok wanita ini padaku.Diana hanya bawahan di tempat kerjanya tapi konon pimpinannya sekalipun takluk ketika berhadapan dengannya.
Iseng aku membuka f*******: yang telah lama aku buat namun sangat jarang aku buka.
Facebook?...huuu itu hanyalah mainan para pengangguran tak berguna.Begitu anggapanku selama ini terhadap sosial media kepunyaan Mark Zuckerberg ini.
Nana Melinda Sari... itulah nama wanita yang sok jagoan ini.Setengah malas aku mengetik namanya di mesin pencarian f*******:.
Aktif juga rupanya si betina ini di sosmed.Update status terakhirnya baru tertulis 25 menit yang lalu.Lumayan keren juga sih.Kulitnya putih, hidungnya lumayan mancung,tinggi sih paling banter 155.Kalau beratnya tunggu aja suatu saat akan aku bawakan timbangan berat badan ke rumahnya.
"Bos,suratnya dah kelar,tolong bos baca dulu,jika ada yang harus ditambahkan atau dikurangi bilang aja sebelum suratnya saya print".
Sejenak aku meneliti surat yang dibuatnya."Sudah ok Zul, langsung print aja dan buat arsipnya yah".
Sambil menunggu Zul print surat,aku iseng mengajukan permintaan pertemanan dengan Diana si wanita perkasa ini.Kali aja dia mau menerima permintaan pertemanan dari preman sepertiku.Ah sudahlah,ngk mungkin juga dia mau mengkonfirmasi permintaan pertemananku.
Di tengah lamunanku tiba-tiba aku melihat pemberitahuan di beranda f*******: aku.Waw...Diana Melinda Sari mengkonfirmasi permintaan pertemananku.Ada angin apa dia mau mengkonfirmasi permintaan pertemanan aku padahal selama ini aku mendengar dia sangat benci dengan aku yang sering memantau kinerja dinasnya.
Iseng-iseng berhadiah ah.Jiwa penasaranku berontak dan tak tahan untuk mengirimkan inbox.
"Hi apa kabar,tks ya mau konfirmasi pertemanan aku".Inbox aku belum dia baca, setelah nunggu 15 menit dia belum juga membaca inbox aku.
Kepikiran juga sih saat itu bahwa aku lagi menghancurkan wibawaku di depan musuhku dengan cara mengirimkan dia inbox.Bukankah selama ini aku sangat cuek dengan dia?.Ah sudah terlanjur.Daripada mikirin hal ini mending aku ke kafe ngopi.
"Bos,nih sudah aku print suratnya,tinggal cap dan ditandatangani" ujar Zul yang tiba-tiba telah berada di samping aku.
"Kamu dari tadi dibelakang aku ya?" selidik aku pada Zul.
"Ngak kok bos,cuma sempat liat aja bos tadi lagi mandangin f*******: ibu Diana"ujarnya sambil senyum-senyum ngk jelas gitu.
"ati-ati loh pak,benci bisa berubah jadi suka loh" sambungnya lagi.
"Apaan sih kamu,dia itu singa betina, walaupun cantik tapi aku ogah dekat-dekat sama dia".ujarku
"Nih suratnya,tinggal kamu amplopkan dan kirim besok ke kantor Diana"
"Ok bos" sahut Zul sambil hormat ala militer Hitler.
Siang itu suasan kafe tidak terlalu ramai.Hanya ada beberapa pelayan dan tamu terlihat.Aku langsung menuju ke sebuah kursi yang pemandangannya langsung menghadap ke hamparan sawah dan sungai yang melingkari di sebelah utaranya.
Pelayannya langsung datang membawa secangkir kopi hitam dan beberapa potong kue khas dari kafe itu.Aku memang pelanggan tetap di kafe ini sehingga pelayan ngk perlu lagi bertanya-tanya apa yang biasa aku pesan.
"Nih kopinya bang,tumben sendiri,asisten abang mana" ujar pelayan kafe itu
"Iya si Zul tadi abang ajak tapi katanya harus nganterin istrinya dulu ke rumah sakit untuk USG".
"kok nanya-nanya si Zul,kan ada abang nih yang masih perjaka ting_ting"godaku pada pelayan itu.
"hehehe abang ada-ada aja ah...aku pamit bang masih banyak kerjaan di dapur,entar lagi ada ibu Diana dan rombongan dari kementerian yang akan datang,jadi pasti super sibuk di dapur nantinya" ujar pelayan itu sambil berjalan di belakang aku.
"Tunggu....yang mau datang siapa?...ibu Diana dari dinas itu?"
"Iya bang,mang napa sih bang,serius amat nanyanya?"
"Mang Ibu Diana sering ke sini?"tanyaku
"Ngak bang,dia biasanya cuma pesan makanan lewat resepsionis kafe dan diantarkan ke kantornya" jelas pelayan kafe itu.
"Ya udahlah kalau begitu,trimz ya" sahutku sambil membuka laptop yang sedari tadi tergeletak di meja.
Berselang 30 menit,2 buah mobil berplat merah terlihat datang dan langsung parkir di depan kafe.Terlihat ada 7 orang yang turun dari mobil.4 orang pria paruh baya yang perutnya pada buncit...hmmm ini pasti tamu dari kementerian,gumamku dan 3 orang lagi sudah aku kenali dimana salah satunya adalah Ibu Diana.Si tangan besi yang sangat aku benci.
Aku pura-pura tidak memperhatikan mereka tapi sialnya mereka malah memilih tempat di seberang meja aku.
Hey rombongan ini kok malah nyari tempat di dekat aku padahal banyak kursi kosong.Gerutu aku di dalam hati.
Untung saja si betina yang aku benci ini duduk membelakangi mejaku sehingga dia tidak melihat aku.
"Pak,proyek kita ini dipantau oleh banyak masyarakat termasuk beberapa NGO atau LSM lokal loh pak,jadi kita tidak bisa sembarangan dalam mengerjakan projek ini" ujar ibu Diana kepada para tamunya.
Aku mendengar dengan sangat jelas ucapan ibu Diana sebab jarak aku dengan dia hanya kurang lebih 3 meter.
"Lah Ibu Diana ngk perlu khawatir berlebihan deh sebab palingan LSM itu hanya perlu diberi uang bensin dan setelah itu mereka diam" ujar pria yang tepat duduk berhadapan dengan ibu Diana.
"Tapi ada satu LSM yang paling keras kepala pak,pemimpin LSM itu bernama Pramudya,dia itu keras kepala dan ngk bisa diajak kompromi" sela ibu Diana.
Aku yang sedari tadi mendengar percakapan mereka sebenarnya emosi juga sih mendengar mereka mengatakan bahwa LSM hanya perlu diberi uang bensin kemudian diam.
Awas ya, setelah ini aku akan makin menjaga dan mengawasi projek kalian.Enak aja ngatain LSM seperti itu.
Tiba-tiba ada inbox masuk ke messenger f*******: aku.Rupanya dari Ibu Diana.
"Kabar baik pak,bapak sendiri kabarnya gimana" jawab Ibu Diana di messenger aku.
Aku membiarkan messenger ibu Diana dan tidak berniat langsung membalasnya.Jaga gengsi dong.Dia aja lama baru ngebalasnya,masa sih aku harus terburu-buru membalasnya.
Berselang 1 jam barulah aku membalasnya, itupun ketika aku telah memastikan bahwa Ibu Diana telah pergi meninggalkan kafe bersama rombongannya.
"Alhamdulillah kalau begitu, ngomong-ngomong ibu dimana sekarang?" balasku di messengernya.
"Ini pak baru aja dari kafe ngajak tamu dari kementerian makan siang" balasnya.
"oh,aku tahu kok kalau Ibu baru saja ke kafe" balasku
"tahu dari mana pak" balasnya cepat
"Lah ibu tadi cuma berjarak 3 meter dari saya ketika di kafe,ngk liat aja karena ibu membelakangi aku" balasku
Setelah itu ibu Diana ngk lagi membalas inbox aku.Kali aja dia sibuk atau lagi dipanggil atasannya.Tapi tiba-tiba ada panggilan telpon dari nomor asing di hp aku.
Ah paling telpon nyasar aja.Sekali berdering aku cuekin.Ke dua kali masih aku acuhkan,ke tiga kalinya barulah aku angkat.
"Halo selamat siang,maaf ini dengan siapa ya?" tanyaku
" Pak...ini aku Ibu Diana,apa bapak masih di kafe?' tanya dia seperti orang panik.
"iya Bu,emang kenapa?". balasku dengan sedikit mengintimidasi.
"Mohon bapak tunggu aku di kafe ya,aku segera meluncur ke situ" jawabnya seperti kepanikan.
"Ok" balasku sekenanya.
Berselang 15 menit,sebuah motor Honda beat masuk ke areal kafe.Ibu Diana buru-buru masuk ke kafe dan langsung menemui aku.
Tanpa basa-basi dia langsung duduk di depan meja aku." aduh Pak Pram,jadi bapak tadi mendengar semua obrolan kami ya?" tanya dia penuh selidik.
"ya aku dengar semua pembicaraan kalian termasuk LSM yang cukup diberi uang bensin untuk diam" balasku tanpa bisa menyembunyikan kegeraman aku.
"aduh maafkan kata-kata rekan kami dari kementerian pak,kami tidak pernah memandang remeh fungsi NGO dalam mengawasi kegiatan ini" jawab ibu Diana diplomatis.
"Ah kalian selalu memandang remeh kami sehingga harga diri kami hanya kalian anggap sama dengan uang bensin" ujarku sambil membuang pandangan ke arah areal persawahan yang padinya sudah mulai menguning.
"Pak Pram tolong maafkan kesalahan pahaman ini,aku mohon pak,kami sangat menghargai reputasi bapak selama ini walaupun kami tahu bapak seringkali membuat kami kelimpungan" ujarnya.
Aku hanya terdiam sambil memandangi ibu Diana dari ekor mata aku.Manis juga ternyata ibu ini.Kulitya putih.Kulit tangannya ditumbuhi bulu-bulu halus yang membuat dia terlalu makin seksi.
Kata teman aku, wanita yang tangannya berbulu nafsunya gede.
Eh.... Pram sadar,kamu lagi berhadapan dengan musuh bebuyutan, ngapain kamu malah mengagumi kecantikan dia?.
Hey...Pram,dia baru saja ngatain kamu LSM yang bisa dibayar idealismenya dengan uang bensin.
" Pak Pram...kok diam aja" sergah ibu Diana mengejutkan aku.
"Ngak kok,lagi mikirin aja perkataan teman ibu Diana tadi yang menganggap kami dengan mudahnya dibayar" jawabku.
Padahal sedari tadi aku malah mengagumi wanita ini.Parah banget kamu Pram.Batinku.
"Apa yang bisa aku lakukan Pak Pram agar kami bisa dimaafkan" jawab ibu Diana setengah memelas.
"Apa yah'' ujarku singkat
'' Yang pasti aku masih sangat terluka dengan persepsi kalian yang menganggap semua NGO bisa kalian beli,kami memang bukan NGO internasional Bu,tapi kami masih punya harga diri" sergahku
Ibu Diana hanya terdiam sambil memainkan kukunya.Dia terlihat sangat inferior di depanku saat ini.Hilang sudah sosok Diana yang selama ini aku dengar angkuh dan sok benar.
Aku telah merasa di atas angin saat ini.Aku telah menang telak darinya.
"Sekali lagi kami mohon maaf pak,mohon Pak Pram tidak menyimpan di dalam hati perasaan dendam kepada kami" ujarnya pelan bahkan nyaris tidak mampu aku dengar dengan baik.
'Pak Pram,aku mohon pamit karena tugas di kantor numpuk banget,maklum banyak proses lelang proyek yang harus aku tangani saat ini" ujarnya sambil mengambil kunci motor beat yang sedari tadi dia letakkan di samping gelas kopiku.
" Ya udah jika mau balik ke kantor" jawabku datar.
Beberapa hari berlalu, tiba-tiba Ibu Diana mengirimkan aku nomor WA dia lewat messenger.
" Maaf Pak Pram,ini kontak WA saya,jika butuh informasi atau apapun silahkan hubungi WA saya aja,ngak usah inbox di messenger lagi ya" jawabnya dengan emot senyum.
Waw nomor WA dia sangat cantik.Ada 6 kombinasi angka yang sama,jadi sangat mudah untuk dihapal.Nih nomor mahal pastinya.
"Ok" jawab aku singkat.
"PING" WA pertama aku ke nomor Ibu Diana
" PONG'' jawab dia disertai emot tertawa.
"Pak Pram hobby main ping pong ya?"
"Ngak ah,aku hobbinya berburu"jawabku.
"berburu apa pak?"
"mulai berburu burung sampai berburu janda aku suka bu' jawabku asal
'wah asyik dong Pak" jawab Ibu Diana
" jangan panggil Pak dong,kesannya aku tuh dah tua banget,panggil Pram aja,kita kan cuma beda 2 tahunan" balasku
" oh iya deh Pak...eh salah,iya deh Pram" jawabnya.
Waktu berlalu tanpa terasa aku dan Diana malah makin akrab walaupun hanya lewat WA dan telpon doang.Terkadang bukan hanya tentang pekerjaan dan urusan NGO yang kami diskusikan tapi sekarang sudah merembet ke hal-hal yang ngak penting.
Diana bahkan sudah berani menceritakan soal suaminya yang sangat pemalas,introvert dan sombong.
Aku baru menyadari bahwa dibalik sosoknya yang dikenal sebagai wanita perkasa dan disegani, tersimpan duka mendalam tentang keluarganya.
Selama ini aku hanya menjadi pendengar yang baik aja buat dia.Aku sama sekali tidak berhak masuk ke ranah pribadinya yang terlalu dalam.
Suatu saat Diana malah pernah mengajak aku video call karena dia baru saja dipukuli oleh suaminya.Matanya lebam membiru karenanya.
Aku malah makin tidak mengerti mengapa Diana menjadi sangat terbuka dengan aku padahal aku adalah sosok yang paling tidak disukai Diana sebelumnya.
Benar juga kata pepatah bahwa ketika kita telah sering berkomunikasi dengan seseorang dan merasa cocok maka seakan-akan kita menemukan oase di tengah gurun pasir.
Hingga suatu hari Diana menghubungi aku dan meminta aku ke kantornya.Awalmya aku nolak sebab selama ini aku memang sangat menghindari bertemu orang dinas.
Tapi saat itu Diana menelponnya sambil memohon padaku.
" Pram tolong kamu ke kantor aku ya,aku mohon dengan sangat" ujarnya.
Dengan perasaan setengah hati aku meluncur ke kantornya.Pandangan orang-orang ketika aku tiba di kantor Diana, semuanya penuh selidik.Dalam hati mereka mungkin berkata untuk apa sih orang ini ke sini atau tumben banget muncul di kantor.
Tapi masa bodoh aja ah, begitu masuk ke dalam kantor, aku melihat sebuah papan nama bertuliskan nama Diana,jadi aku tanpa basa basi melangkah dan mengetuk pintunya.
"Masuk aja ngk dikunci kok" serunya dari dalam.
" Terimakasih Pram sudah datang" ujarnya sambil mempersilahkan aku duduk.
Aku melihat dengan jelas bahwa Diana sedang tidak baik_baik saja.Guratan wajahnya terlihat menyimpan luka mendalam.
'' aku masih bingung kok kamu manggil saya ke kantor kamu".ujarku
" Pram,aku butuh teman cerita dan entah mengapa aku hanya bisa mempercayai kamu" ujarnya sedih.
Mulailah Diana menceritakan kegetiran hidup rumah tangganya dan entah siapa yang memulai,tanpa aku sadari, ternyata sedari tadi Diana memegang jari tanganku sambil bercerita.
"Eh maaf Pram,aku ngak bermaksud apa-apa" ujarnya sambil melepaskan jemari tangan aku
"Ngak apa-apa kok,mau pegang lagi ya jari tanganku,kalau mau aku serahkan lagi deh jari tanganku" godaku sambil menyerahkan jari tangan aku kembali.
Diana tersipu malu dan sedikit tertawa walaupun itu tidak mampu menyembunyikan duka di matanya.Entah karena butuh teman curhat atau apapun itu,tanpa aku sadari Diana telah berdiri tepat di hadapanku dengan tatapan kosong.
Aku melihat dia sangat butuh sandaran untuk melepaskan dukanya,maka aku repleks berdiri pula dan langsung memegang pundaknya.
"Prammmm" ujarnya sambil tak tahan untuk memeluk aku.
Awalnya aku hanya berdiri mematung ketika Diana tiba-tiba memeluk aku,namun perlahan aku mulai membalas pelukannya sambil mengelus punggungnya perlahan.
"Menangislah jika itu membuat kamu bisa sedikit lega" ujarku.
Diana sedikit melonggarkan pelukannya dan mendongakkan wajahnya ke wajahku.Aku melihat bibirnya merekah dan sedikit terbuka.
Entah siapa yang memulai tapi dalam hitungan detik setelah itu,kami saling berpagutan dalam ciuman bibir.
Awalnya perlahan aku mengecup bibir Diana,tapi lama kelamaan menjadi semakin panas dan menggairahkan.
Aku baru tersadar ketika merasakan napas Diana makin tidak terkontrol.
"Sudah,ntar kita ketahuan,habis kita nanti" ujarku melepaskan ciuman dari bibir seksi Diana.
"Maafkan aku Pram,aku terbawa perasaan" ujar Diana
' aku juga minta maaf karena terbawa suasana" balasku
Paska kejadian itu,Diana tidak pernah lagi menghubungi aku sampai ketika suatu saat Diana tiba-tiba telah berada di depan pintu rumahku.
" Pram...maaf yah aku nongol tiba-tiba"ujarnya
''Aku cuma mampir sebentar karena tadi ke pasar untuk membeli sayur"
"Ngak masalah,malah aku kirain kamu dah lupa sama aku" ujarku
Tapi tiba-tiba hujan datang dengan derasnya.Mau tak mau Diana tidak bisa pulang karena pasti akan kehujanan di jalan sebab dia hanya membawa sepeda motor.
'Yuk ah masuk ke rumah aja, diluar dingin''ujarku.
Tapi Diana kok tiba-tiba menggelayut manja di tanganku.Tanpa dia rasakan hal itu bagaikan setruman bagiku.Dada Diana yang hanya terbungkus kaos dan ** tipis begitu terasa mengganjal di lenganku.
Setiba di dalam kamar,kemanjaan Diana makin menjadi-jadi.Dia bahkan duduk seenaknya di sofa aku tanpa memperdulikan aku yang sedari tadi memandangi keindahan tubuhnya.
" Pram...sejak kejadian di kantor tempo hari,aku selalu ingat sama kamu,selama ini aku berusaha membuang bayang-bayang kamu tapi aku tidak bisa melupakan kamu Pram" ujarnya
" Pram...kok kamu duduknya jauh banget sih,sini dong duduk dekat aku" panggil Diana manja.
"Duh godaan apa ini Tuhan, mengapa mahluk cantik ini ada disini" gumamku sambil duduk di sampingnya.
Tanpa ba bi bu, Diana langsung tidur di paha aku.
" Pinjam paha mas ya....please" ujar Diana
"kok cuma paha sih yang mau dipinjam,bibir dan dadaku juga dipersewakan loh" godaku sambil mencubit pipinya.
" Pram,kalau pacar kamu tahu kita mesraan gini,gimana?" ujarnya
"Lah aku hanya ketahuan pacar,lah kamu malah punya suami,kalau dia tahu,bisa perang Mahabarata malah" ujarku serius.
" Pram....aku mau nanya, tapi kamu jawab serius ya.
"kamu sayang dengan aku ngak" tanya Diana sambil memonyongkan bibirku.
Ambyarrrrrrr...pertahananku jebol,bibir yang setengah terbuka itu sudah lebih dari cukup sebagai isyarat bagiku untuk melumatnya.Awalnya hanya mencium bibir dengan mesra tapi sekarang kami telah bertukar lidah dan air liur satu sama lain.
Tanganku semakin tidak sopan dan mulai traveling kebagian sensitif Diana.Nafas Diana mulai tidak teratur.Sentuhanku kebeberapa bagian sensitifnya telah membuat dia dan aku lupa segalanya.
Diana terlihat pasrah ketika bajunya aku lepaskan,tangannya hanya sedikit menahan tanganku ketika kaitan ** nya hendak aku lepaskan.
"Jangan mas" ujarnya
Tapi bahasa tubuhnya tak mampu berbohong bahwa dia juga menginginkannya.Aku hanya mengecup keningnya sambil berusaha melepas kaitan ** nya yg berwarna merah jambu
Pemandangan indah tersaji sempurna di depanku.Dua buah bukit kembar masih tegak menantang padahal Diana sudah punya anak 3.Dengan perlahan aku mulai mengeksplore keindahan bukit itu.
Diana hanya menggelinjang dan mengerang ketika aku melahap dengan lembut ke dua bukitnya.
"Pram jangan..."ujarnya.
Namun bahasa mulutnya dan bahasa tubuhnya jauh berbeda.Dia begitu menikmati setiap sentuhan aku dengan desahan yang begitu menggoda.
" Pram buka baju kamu dong,masa cuma aku doang yang kamu preteli" ujarnya manja.Tanpa aba-aba lagi segera saja aku melepas kaos oblongku yang mulai basah karena keringat.hawa dingin AC rupanya tidak mampu membuat suhu tubuhku stabil.
Kini kami berdua telah bertelanjang dada.Aku menindih tubuh Diana sambil menciumi area di belakang telinganya.
" Pram....jangan lebih dari ini ya,aku ngk mau terlalu jauh" ujarnya.
Tapi cumbuan kami makin lama makin panas hingga tanpa sadar Diana berkata "tuntaskan mas...aku dah ngak tahan" ujar Diana sambil berusaha mencopot celanaku yang memang mudah dicopot sebab aku hanya menggunakan celana pendek training.
Jeblesssss...sekali tarik,Diana sudah membuatku t*******g bulat di hadapannya.
Aku memang paling malas pakai CD saat di rumah.Tangan Diana mulai semakin liar.Torpedaku dia permainkan dengan kedua tangannya.
"kamu mau sayang?" tanyaku
Diana cuma memalingkan wajahnya yang memerah semu karena malu.
Hey Pram bodoh...kamu ngak perlu lagi bertanya-tanya apakah Diana ingin lebih jauh atau tidak.Segera eksekusi.Jadilah pejantan tangguh hari ini.
Tanpa basa basi lagi,celana jins Diana aku lepaskan perlahan.
Akhirnya tubuh kami t*******g bulat tanpa sehelai kainpun.Kami benar-benar memadu kasih.Entah kami melakukannya berapa kali tapi yang jelas kami sangat menikmati momen ini dengan begitu sahdu.
Kegilaan asmara makin membara...
Siang itu Diana tiba-tiba menelpon aku dan lagi-lagi dia memintaku ke kantornya.Begitu sampai di ruangan Diana, pintu langsung dia kunci dari dalam dan langsung memelukku.
" Pram...aku sangat kangen kamu sayang" bisiknya.
" Aku juga kangen banget sama kamu" ujarku singkat.
Kami akhirnya saling berpagutan lama dan nyaris saja berbuat lebih jauh andai staf Diana tidak menelpon saat itu.Sambil menerima telpon dari stafnya,Diana aku peluk dari arah belakang.
"Pram...aku harus segera bertemu salah satu rekanan proyek sebab ada masalah urgen yang harus aku selesaikan" ujarnya sambil mencium pipiku.
'Pram...ntar malam ke rumah ya...aku tunggu,jendela rumah ngk akan aku kunci loh" ujarnya genit sebelum meninggalkan ruangan.
Kenekatan asmara...
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 20.00 malam.Sedari tadi aku telah mandi dan siap berangkat ke rumah Diana.Aku dan Diana tak pernah lagi saling memanggil dengan sebutan ibu atau bapak semenjak kami menjalani hubungan terlarang ini.
"Pram...kamu dimana" demikian isi WA Diana tiba-tiba
"Aku di rumah sayang"
"cepetan ke sini,kak Dullah sudah keluar barusan, mungkin dia tidak lama,dia cuma ke kota membeli sesuatu" balas Diana.
"Ok" balasku sambil menyambar kunci motor dan segera on the way.
Perjalanan ke ruma Diana hanya sekitar 15 menit.Motor aku simpan agak jauh dari rumah Diana di bawah pohon ketapang rindang.
Dengan mengendap-ngendap aku langsung ke arah samping rumah Diana pas di bawah jendela kamar Diana.
"Pram cepat masuk" ujar Diana sambil membuka daun jendela kamarnya.
Aku langsung loncat ke jendela yang telah terbuka.
Diana tanpa basa basi langsung memelukku dan menghujani bibirku dengan ciuman yang panas.Lidah kami saling berbagi ruang di dalam mulut kami masing-masing.Diana hanya memakai daster tanpa ** dan CD.Rupanya dia sudah siap tempur sejak tadi.
"Pram aku kangen sayang" ujar Diana sambil meremas bagian sensitif aku.
"Ya sayang,aku juga kangen" ujarku sambil mencopot daster Diana dengan sekali tarik.Di kesempatan yang sama tanpa aku sadari karena keasyikan b******u, rupanya Diana sudah berhasil melorotkan celanaku hingga senjataku yang sedari tadi mengacung terlihat tegak menantang.
"Pram aku sudah tidak tahan sayang,segera masuki aku Pram" erang Diana sambil memeluk leherku dan sengaja menjatuhkan diri dengan posisi s**********n yang terbuka lebar.
Akhirnya kami mulai b******a dengan ganas.Diana benar-benar sangat buas di atas ranjang.Dari posisi awal dia hanya pasrah di bawah,kini tiba-tiba sudah mengambil posisi di atas seperti menunggangi kuda.
Tiba- tiba hp Diana berdering.Diana bisa mengetahui kalau itu dari Dullah suaminya sebab nada dering telah Diana khususkan untuk suaminya.
"Angkat aja" ujarku setelah hp itu berdering berkali-kali tanpa dihiraukan oleh Diana.
"Ya halo kak,ada apa?"
Suami Diana terus berbicara dengan di telpon tapi kamipun terus b******a walaupun Diana kesulitan menjawab telpon dari suaminya karena napasnya mulai tidak teratur.
Diana hanya bisa menjawab iya...iya dan Ok.Suaminya sempat bertanya,kok napas kamu seperti sesak, Diana hanya menjawab habis menyapu halaman sehingga agak kecapean.
Pergulatan kami tidak berhenti selama suami Diana menelpon bahkan itu seperti sensasi tersendiri yang makin memacu adrenalin.
Akhirnya kami menuntaskan percintaan,Diana masih terus memelukku seakan-akan tak pernah ingin melepaskan aku.Padahal ini adalah ranjang pribadi Diana dengan suaminya.Terbersit perasaan bersalah tapi sialnya aku benar-benar mencintainya saat ini.
"sayang...aku pulang ya" ucapku memecah keheningan.
"Aku masih kangen Pram"
"Tapi suami kamu pasti akan datang sebentar lagi" ujarku
"Ngak ah,tadi dia aku minta cari martabak di persimpangan kantor DPRD,di sana penjual martabak paling ramai dan dia pasti mengantri lama sayang" balas Diana sambil terus menghembuskan nafasnya di telingaku.
Akhirnya kami mengulangi lagi percintaan kami sampai kami tidak menyadari bahwa suami Diana telah tiba.
"Bu,saya sudah sampai" seru Dullah suami Diana dari ruang tamu.
"Duh gawat sayang suami kamu sudah datang dan telah masuk ke rumah''ujarku tanpa bisa menyembunyikan rasa panik.
Diana memberi kode agar aku diam.Kemudian Diana dengan santainya keluar dari kamar setelah memakai dasternya.
"Martabaknya mana pak" ucap Diana pada suaminya.
"Kok martabak rasa coklat pak,aku maunya rasa keju"
"lah bukannya kamu paling suka martabak manis rasa coklat?" ujar suaminya protes.
"pokoknya aku ngk suka pak,ganti dengan martabak rasa keju" sahut Diana ketus.
Aku yang sedari tadi menguping cuma senyam-senyum sambil kembali berpakaian di kamar.
Jantung aku terasa hampir copot ketika suami Diana menjawab " iya aku akan ganti dengan martabak manis rasa keju tapi aku mau ganti pakaian dulu di kamar baru berangkat ke penjual martabak lagi".
"Langsung aja ke sana pak,ngapain lagi pakai acara ganti pakaian segala" balas Diana setengah membentak pada suaminya.
Untung aja suaminya tidak membantah dan segera berangkat kembali.Aku pun langsung legah mendengar hal itu.
Berselang beberapa menit,Diana kembali masuk ke kamar.
"Pram, ngapain kamu sudah berpakaian,aku masih kangen Pram" ujar Diana tanpa basa basi lagi.
"Pram,masuki aku lagi Pram sekali lagi sebelum kamu pulang sayang" sergah Diana sambil mencopoti dasternya dengan sekali tarik.
Dia membelakangi aku dengan posisi ke dua tangannya berpegangan pada daun pintu kamar.
Dengan secepat kilat aku melucuti pakaian aku sendiri dan percintaan panas itu kembali terjadi.Kami berdua sama-sama sampai ke puncak dan terkulai lemas di lantai.
"Sayang,aku pulang ya'' ujarku setelah berpakaian.
Diana hanya mengangguk lemah seperti tidak ikhlas melepas aku pulang.Aku kecup keningnya sebelum akhirnya aku keluar lewat jendela seperti maling.
Ya memang maling sih,tapi maling cinta.