2. Awal Mula Ceritaku

1120 Kata
[ Quotes For You ] Tolong, sampaikan pada mereka yang NORMAL,  bahwa aku tak memilih menjadi INDIGO,  tapi mereka yang di DUNIA LAIN yang memilihku untuk menjadi seorang INDIGO.  * * * * * Kisahku bermulai saat aku baru saja ber usia lima tahun. Saat itu aku baru saja pindah ke sebuah rumah di kawasan kota Jakarta. Rumah itu tampak asri dan nyaman, dengan cat berwarna putih sebagai pelapisnya. Pagar berwarna hitam menjadi pembatas antara jalanan dengan halaman rumahku. Di dalamnya, terdapat dua kamar, dan salah satunya diisi olehku. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Saat itu, aku masih merasakan menjadi anak tunggal di keluargaku. Menyenangkan bukan? Apapun yang aku inginkan tentu saja akan dikabulkan. Seperti, apapun akan dilakukan oleh kedua orang tuaku. Hari pertama pindah, kami dibantu oleh Pak Radit untuk memindahkan barang-barang. Ia membantu kami menata semua perabotan rumah tangga. Ayah dan Ibuku, pun, sangat sibuk merapihkan barang-barang yang masih terlihat sangat berantakan. Kamarku rapi lebih dulu. Karena Ibu yang membereskannya. “Masuklah ke kamar, jangan keluar dan tetap di sana. Banyak debu, kau bisa bersin-bersin,” ujar Ibu. Aku menderita alergi pada debu. Jika aku menghirupnya, mungkin aku tidak dapat berhenti bersin-bersin hingga beberapa saat. Itu sangat menyiksa bagiku. Aku menuruti permintaan Ibuku dan menganggukan kepala. Kamarku terletak di bagian depan. Aku melihat sekeliling kamar dan benar, ini sudah rapi dan bersih dari debu. Aku tersenyum. Aku naik ke atas kasur yang tingginya sekitar 50cm di atas tanah. Agak sulit untukku saat menaiki kasur yang saat itu terlihat begitu tinggi. Aku duduk di atas kasur dan melihat sekeliling kamarku. Ini adalah kamar yang aku impikan. Tidak banyak perabotan disini. Hanya ada kasur, lemari dan juga meja belajarku. Terdapat kaca yang cukup besar di sudut ruangan. Kaca itu tidak begitu besar, hanya cukup mencerminkan wajahku yang tampak mungil. Aku merebahkan badanku dan berusaha menutup mata. Tiba-tiba saja aku mendengar suara pintu terbuka. Mataku gagal tertutup dan aku menolehkan kepalaku ke arah pintu yang terbuka itu. “Halo,” sapanya. Aku menautkan kedua alisku dan menatapnya dengan tatapan bingung. Ia seorang anak perempuan, sepertinya ia seumuran denganku. Rambutnya sebahu dengan poni menutupi bagian dahi nya. Ia mengenakan baju dress berwarna kuning, lengkap dengan corak bunga. Ia berjalan ke arahku dan tersenyum. Beberapa giginya tampak sudah tanggal disana. Mungkin, akibat permen yang ia makan dan mengakibatkan beberapa giginya menjadi rontok. Ia menghampiri kasurku dan berkata, “Mau main denganku?” tawarnya. Aku berpikir sejenak. Perempuan ini masuk ke kamarku dan tentu saja ia sudah mendapatkan izin dari Ayah dan Ibu. Mungkin Ayah dan Ibu mau aku bermain sehingga tidak mengganggu mereka yang sedang sibuk membereskan perbotan rumah. Aku menganggukan kepala. Dia tersenyum kemudian menarik tanganku, dan meminta aku turun dari kasur. “Mau kemana?” tanyaku. “Kita main di luar. Ada ayunan di bawah pohon dekat sini,” jawabnya. Ayunan? Wah. Itu adalah hal yang sangat aku sukai. Ya. Aku gemar mengayunkan badanku. Rasanya seperti aku akan terbang saat ayunan itu bergerak maju dan semakin tinggi. Aku tersenyum dan mengangguk. Kemudian, ia kembali menarik tanganku dan tersenyum. “Ayo,” ajaknya. Kami keluar dari kamar. Aku melihat Ibuku yang masih sibuk disana. Kini ia sedang membereskan ruang tengah. Ibu menghentikan aktivitasnya dan menatapku. “Mau kemana?” tanya Ibu. “Aku mau main sebentar, ya, Bu,” ujarku meminta izin. “Sama siapa?” “Temanku.” “Kamu sudah berkenalan dengan tetangga?” Aku menganggukan kepalaku. Ibuku tersenyum, “Baiklah. Tapi, jam satu siang harus sudah di rumah, ya.” Aku tersenyum lebar mendengar Ibu memberiku izin. Lantas, aku kembali berjalan dengan temanku keluar sembari bergandengan tangan. “Ayunannya dimana?” tanyaku saat aku menyadari sudah berjalan cukup jauh dari rumah. Perempuan itu menunjukan sebuah pohon yang cukup besar dan terdapat dua ayunan yang terbuat dari ban bekas. “Itu dia ayunannya,” ujarnya seraya menunjuk ke arah ayunan itu. Aku dan dia berlari menghampiri ayunan itu kemudian duduk disana. Kami bernyanyi dan tertawa bersama di atas ayunan itu. Sangat menyenangkan. “Oh ya, kita belum berkenalan,” ujar perempuan itu. Aku mengulurkan tangan sebagai tanda bahwa kami akan berkenalan. Sejurus kemudian, ia pun menautkan tangan kanannya denganku. “Namaku Amanda,” ujarnya. Aku tersenyum, “Aku Bella.” Baiklah, sekarang aku mengetahui namanya dan ia adalah teman baruku di kawasan ini. Hari semakin siang. Tak terasa perutku mulai berbunyi, menandakan bahwa aku sudah lapar. Aku tidak membawa jam tangan. Tanganku masih terlalu kecil untuk dipakaikan sebuah jam tangan yang ukurannya mungkin akan memakanku. Aku turun dari ayunan. Begitu pula dengan Amanda yang ikut turun dan menatapku. “Kamu lapar, ya, Bel?” tanya Amanda. Aku menganggukan kepala dan memegangi perutku yang terasa semakin lapar. “Ayo pulang,” ujarku. Amanda menganggukan kepalanya kemudian menggandeng tanganku dan menuntunku untuk berjalan ke rumah. Kami tiba di rumahku, tepat pukul satu siang. Amanda mengantarku hanya sampai depan pagar saja. “Kamu tidak mau makan di rumahku saja?” tanyaku. Amanda menggelengkan kepalanya. “Aku makan di rumahku saja, Bel,” jawabnya. “Rumah kamu dimana?” tanyaku lagi. Amanda menghadapkan badannya ke arah timur, jalan berlawanan tempat kami menuju ayunan tadi. “Di sana.” Aku melihat ke arah yang Amanda tunjuk. Jalan itu tampak kosong dan di sebelah sana tidak ada rumah sama sekali. Rumahku adalah rumah terakhir yang ada di jajaran rumah-rumah di jalan ini. Sisanya? Hanyalah jalanan kosong yang aku pun tak tahu dimana ujungnya. Perutku semakin berbunyi. Aku masuk ke dalam pagar dan melambaikan tangan pada Amanda sebagai salam perpisahan. “Besok, kita main lagi, ya!” ujarku. Amanda menganggukan kepalanya semangat dan tersenyum padaku. “Dadah,” ujar Amanda. Ia berlari ke arah yang ia tunjuk tadi dengan semangat. Melihat Amanda sudah semakin jauh, aku pun masuk ke dalam rumah. Ibuku sudah menyiapkan makanan di atas meja makan. Om Radit beserta Ayah juga sudah stand by disana. Aku menghampiri Ibuku dan memeluk kakinya. “Eh, Bella. Sudah pulang, Nak. Ayo, makan dulu.” Ibu menaikkanku di atas kursi. Ia memberikanku nasi beserta lauknya. “Makan yang banyak ya, Nak,” ujar Ibu. Aku menganggukan kepala kemudian menyantap nasiku. Di sela-sela makan siangku, Ibu tiba-tiba saja bertanya memecah keheningan. “Tadi, Bella main sama siapa? Main kemana?” “Main ayunan sama Amanda, Bu,” jawabku. “Wah, disini ada ayunan?” tanyanya lagi. “Ada, Bu.” Ibuku mengusap kepalaku dan tersenyum. Sedangkan Ayahku hanya menatapku mendengar jawab dariku. “Besok, Bella boleh main lagi, kan, Bu?” pintaku. “Iya, boleh. Tapi, temannya kenalin dulu ke Ibu, ya.” “Oke, Bu!” Kemudian kami kembali melanjutkan makan dalam suasana hening. Hari ini, aku sangat senang. Aku baru saja pindah dan memiliki kamar impianku. Lalu, aku berkenalan dengan teman baru dan bermain bersamanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN