11. Kepergian Si Hijau

1008 Kata
[ Quotes For You ] Ketika kamu ingin dihargai oleh orang lain, maka, mulailah menghargai orang itu. Jika kamu ingin dicintai oleh orang lain, mulailah mencintai orang itu, tapi kalau dia gak cinta kamu setelah kamu mencintainya, maka berhentilah mencintainya. Jangan BAPER! * * * * * * * * * * Area UKS tampak dipenuhi dengan beberapa orang. Aku hanya menatapnya dari luar. Adik kelasku juga banyak yang membicarakan jika Sari kerasukan, namun kenyataannya tak seperti itu. Aku pun mendekat ke UKS, melihat apa yang terjadi di dalam sana. Aku melihat Sari yang perlahan terbangun dari pingsannya. Kondisi tubuhnya benar-benar shock, hingga ia pingsan dan dibawa ke UKS. Banyak murid lain yang memenuhi area UKS. Sari akhirnya terbangun. Ia duduk dan menghampiri Bu Lita yang duduk tak jauh darinya. Ia memeluk Bu Lita begitu hangat dan ketakutan. Sepertinya, Sari tersadar akan kehadiranku yang mengintip melalui jendela UKS. Matanya terkejut dan seolah takut terhadapku. “Haaaah!” teriak Sari. “Sari, kenapa?” tanya Bu Lita. “Aku tidak ingin melihat dia, Bu! Dia monster!” pekik Sari sembari menunjuk ke arahku. Bu Lita menolehkan pandangannya dan menatapku. Ia memerintahkan aku masuk ke UKS. “Bu, kenapa memanggilnya kemari? Aku takut dengannya!” Sari semakin erat memeluk tubuh Bu Lita. Aku duduk di samping Bu Lita. Aku tidak tau apa yang terjadi dengan Sari. Saat aku duduk di samping Bu Lita, Sari menunjuk ke belakangku. “Dia, menakutiku,” ujar Sari kemudian kembali memeluk leher Bu Lita. Aku menolehkan kepalaku ke belakang, "Si Besar? Kenapa kau ada disini? Kau yang menakutinya, ya?" tanyaku. Si Besar duduk tepat di belakangku. Mungkin yang dimaksud oleh Sari adalah Si Besar, bukan aku. “Dia menjahatimu, Bel. Aku tidak ingin kamu disakiti oleh dia,” jawabnya. “Kau tidak boleh seperti itu lagi.” Dia hanya menganggukan kepalanya. Matanya tertuju pada Sari. Mata hijau itu benar-benar fokus menatap Sari dengan tatapan yang berbeda jika ia menatapku. “Bu, dia menatapku,” ujar Sari ketakutan. “Sudah, kamu kembali saja. Jangan disini,” titahku. Seketika, Si Besar menghilang begitu saja, mungkin sudah kembali ke pohon jambu itu. “Bella, kamu baik-baik saja?” tanya Bu Lita. “Iya, Bu.” “Jangan melamun, Nak,” ujarnya. Padahal aku sedari tadi tidak melamun. Apakah aku terlihat seperti sedang melamun? Pak Jaya datang dengan segelas air teh hangat yang diberikan untuk Sari. Bu Lita segera meraihnya dan memberikannya pada Sari. “Sari, kamu takut dengan Bella?” tanya Bu Lita memulai pembicaraan. Sari menggelengkan kepalanya, “Aku takut dengan makhluk besar hijau itu, Bu!” Bu Lita menghela nafasnya. Kemudian ia mengizinkanku keluar dari UKS. Saat aku keluar dari UKS aku menatap Si Besar yang sedang tertunduk di depan pohon jambu. Aku menghampirinya. Dia terduduk di atas tanah, namun tetap saja ia terlihat sangat besar. “Kau kenapa?” tanyaku. “Kau marah padaku, ya, Bella?” “Tentu saja tidak. Aku berterima kasih karena kau telah membelaku. Ya, meskipun dengan cara yang salah,” jawabku. “Maafkan aku ya, Bella. Aku berjanji tidak akan mengulangi hal seperti itu lagi,” ujarnya dengan kepala yang masih tertunduk. “Aku terima permintaan maafmu.” Ia mendongakan kepalanya dan menatapku, “Bella, berjanjilah padaku bahwa kau akan selalu bahagia dan kau harus menyingkirkan tiap orang yang meremehkanmu,” ujarnya. “Aku berjanji.” “Mungkin, aku tidak akan bisa mengobrol denganmu lagi, Bella.” “Loh kenapa? Apa karena aku sudah kelas enam dan takut jika lulus aku tidak akan mengunjungimu lagi?” “Tidak, Bella. Aku harus pergi,” jawabnya. “Kemana?” “Suatu tempat. Aku tidak dapat memberitahumu. Tapi, jika kau bisa menemuiku di alam itu, mungkin kau hebat, Bella,” jawabnya. Si Besar berpamitan padaku. Ia tersenyum menatapku dan berpesan bahwa aku tidak boleh lemah. Perlahan, sosoknya menghilang dan kini hanya tinggal cahaya matahari yang menerpa wajahku. Aku baru saja mengenal sosoknya. Ia sosok besar, aneh dan juga baik. Aku senang berteman dengannya. Tapi, kini dia telah pergi ke tempat yang sama sekali tak bisa kugapai. Aku berjalan ke arah kelas. Tiba-tiba saja, aku melihat Pak Jaya yang berjalan ke arahku. Ia menarik tanganku perlahan seolah ingin aku mengikutinya. Kami tiba di belakang sekolah, tidak jauh dari tempat pohon jambu tadi. Wajahnya tampak serius menatapku. “Bella, kamu bisa melihat penghuni pohon jambu itu?” tanya Pak Jaya. “Penghuni? Siapa?” “Sosok besar yang tinggal di pohon itu,” ujar Pak Jaya. “Ah, Si Besar?” “Kau mengenalnya, Bel?” “Tentu, aku berteman dengannya,” jawabku santai. Raut wajah Pak Jaya sedikit berubah. “Nak, jauhi makhluk itu, dia berbahaya,” ujarnya. “Tidak, dia baik.” “Jauhi dia.” “Dia sudah pergi,” jawabku. “Pergi?” Pak Jaya mengulang perkataanku dan menautkan kedua alisnya. “Dia pamit padaku. Dia baik. Dia bahkan membelaku dari Sari,” ujarku. Aku dapat mendengar bahwa Pak Jaya sedikit membuang nafasnya lega. Pak Jaya berjongkok di hadapanku dan memegang bahuku. Ia menatap manik mataku dengan sangat fokus. “Bella, Bapak tau bahwa kamu adalah anak spesial. Kamu dapat melihat apa yang kami tidak lihat. Tapi, Nak, jangan terlalu dalam. Berbahaya. Kamu mengerti kan?” ujar Pak Jaya. “Berbahaya? Tapi mereka semua baik padakku.” “Saat ini, mungkin iya. Tapi suatu saat, akan ada yang mengincarmu, Bella. Jadi, berhati-hatilah,” pesan Pak Jaya. Aku menganggukan kepalaku mengerti. Sekarang aku tau mengapa aku disebut anak spesial dan aku terkadang dilarang untuk bersanda gurau dengan para makhluk itu. Ternyata, tidak hanya di dunia manusia saja yang harus memilih teman, dunia hantu pun juga harus memilih. Karena, jika salah pilih teman akan mengakibatkan jatuh ke dalam jurang yang dangkal. Jujur saja, aku terkadang merasa risih dan diasingkan jika aku tampak ssedang berkomunikasi dengan mereka. Apakah mereka merasa jijik kepadaku atau aneh kepadaku hanya karena aku bisa berkomunikasi dengan mereka? Aku hanya berjalan kembali ke kelasku setelah mendengar suara bel berbunyi. Teman - temanku juga menatapku. Aku hanya menundukan kepalaku dan berpura - pura tak tahu jika mereka sedang menatapku saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN