7. Taman Kota

1003 Kata
[ Answer For You ] Sejak kapan aku bisa masuk ke dunia hantu dan yang lainnya? Jawabannya adalah ketika aku berusia 5 tahun dan masih duduk di bangku TK. Dimana aku tiba-tiba kehilangan kesadaran dan aku pergi menemui Amanda. * * * * * * * * * * 7 bulan kemudian . . . Aku terbangun dari tidurku karena suara ayam yang terus berkokok di depan kaca kamarku. Kesadaranku belum sepenuhnya terkumpul. Aku duduk di atas kasurku dan teringat akan sesuatu. Sudah hampir tujuh bulan aku tak menemui Amanda. Terakhir kali aku bertemu dengannya adalah saat ia mengajakku ke rumahnya ─ yang orang lain bilang adalah alam lain. Sebenarnya aku masih belum paham apa yang dimaksud oleh mereka. Tapi, mereka terus mengatakan bahwa itu berbahaya dan aku harus menjauh dari Amanda. Baiklah. Aku hanya berpura-pura mengerti. Kini, aku menarik kesimpulan bahwa menjadi dewasa itu menyebalkan. Aku turun dari kasurku dan keluar dari kamar. Seperti biasa, aku menemui Ibu di dapur yang sudah bangun lebih dulu untuk membuatkan kami sarapan. “Ibu,” panggilku manja. Ibu mengusap kepalaku tanpa melihat ke arahku dan tetap terfokus memasak sesuatu yang aku tak tahu apa itu. Tiba - tiba Ayah muncul entah dari mana dan langsung memeluk kami. "Karena sekarang hari Sabtu, gimana kalau kita bermain ke taman kota? Sudah lama kita tidak bermain bersama," ajak Ayah. Aku langsung bersemangat dan mataku pun berbinar saat mendengar Ayah yang akan mengajak kami bermain ke taman kota.. "Mau! Mau! Mau!" jawabku bersemangat. Selesai membuat sarapan dan setelah menata makanan di atas meja makan, Ibu pun melepas apron yang dipakai dan mengambill duduk. Lalu memintaku dan Ayah untuk ikut udduk di atas meja makan. "Memangnya di taman kota ada apa?" tanya Ibu. "Ada mainan saja," jawab Ayah. "Ya sudah kalau begitu, boleh saja," jawab Ibu. Aku turun dari temapt dudukku dan meloncat kegirangan. Akhirnya setelah sekian lama tidak keluar dari rumah, kami akhirnya keluar dan bermain. Kedua orang tuaku memang sangat sibuk. Meski mereka sama - sama bekerja, mereka tak lupa untuk mengingatku dan membahagiakanku. Hari ini, kami sekeluarga berniat bermain ke taman kota. Aku senang. Karena, sejak pindah kemari, baru kali ini aku diajak lagi bermain ke taman kota. Seperti baisa, kami pergi menggunakan mobil yang biasa Ayah pakai. Setibanya di taman kota, Ayah berpesan untukku agar tidak bermain terlalu jauh. Aku hanya menganggukan kepalaku mengerti. "Tetap dalam pengawasan Ibu ya!" titah Ibu. Aku berlarian kesana dan kemari mencoba beberapa permainan yang sengaja disediakan untuk pengunjung taman. “Bu, aku mau main ayunan, ya!” pekikku. “Iya sayang.” Aku berlari menuju ayunan dan segera mendudukinya, sedangkan orang tuaku duduk di kursi taman yang tak jauh dari tempatku bermain. Aku bermain dengan semangat. Tiba-tiba saja aku merasa pandanganku kabur. Aku berusaha memfokuskan pengelihatanku namun yang aku lihat hanyalah gelap. Padahal, aku yakin jika saat ini adalah siang hari. Aku turun dari ayunan dan menghampiri sosok gadis seusiaku yang duduk di kursi taman─tempat duduk Ayah dan Ibuku tadi. “Kamu siapa?”tanyaku. Gadis itu menoleh dengan wajah yang sangat pucat. Aku membelalakan mataku ketika melihatnya. “Amanda?” Dia menganggukan kepalanya. “Sedang apa kamu disini?” tanya Amanda. “Aku sedang bermain di taman. Kamu sedang apa?” tanyaku kembali. “Maksudku. Bagaimana bisa kamu masuk ke alamku, Bella. Jangan pernah menghampiriku lagi, nenek tua itu menginginkanmu!” ujarnya menyuruhku pergi. “Aku tidak mengerti maksudmu, Amanda.” “Dulu, aku mengajakmu bermain karena aku diminta oleh nenek tua penghuni pohon untuk membawamu. Tapi semenjak pohon itu hilang, ia pun ikut menghilang. Sejujurnya, aku menyayangimu seperti aku menyayangi adikku, Bella. Aku tidak ingin membawamu,” jelasnya. Aku tercengang mendengar jawabannya. Aku sama sekali tak mengerti apa yang dia maksud. “Cepat pergi dari sini. Aku takut nenek tua itu menemukanmu dan membawamu pergi!” titahnya lagi. Aku tak bergeming. “Pergi, Bella!" teriaknya begitu keras, bahkan rasanya gendang telingaku akan pecah. Aku membuka mataku menghadap ke langit yang begitu cerah. Aku masih ingat betul jika tadi kondisi sangat gelap seperti malam dan sekarang terang benderang. Apa yang terjadi denganku? “Bella, kamu gak apa-apa, kan?” tanya Ibu. “Iya, Bu. Bella, gak apa-apa kok.” “Tadi kamu pingsan dan jatuh dari ayunan. Syukurlah kalo kamu baik-baik saja, Nak,” ujar Ibu kemudian memelukku. Aku masih tidak mengerti apa yang terjadi denganku. Aku hanya mengerjapkan mata berulang kali saat Ibu memeluk tubuhku dengan erat. Setibanya di rumah, kami di sambut oleh Bapak berbaju putih yang waktu itu pernah datang ke rumah. Ia hanya duduk di teras rumah dengan wajah pucat. Saat kami tiba, ia tidak berniat menyapa. Bahkan Ayah dan Ibu melewatinya begitu saja seolah tak peduli. “Ayah, kenapa Om itu gak disuruh masuk?” tanyaku pada Ayah. “Siapa?” Aku menunjuk Bapak berbaju putih itu hingga ia menoleh ke arahku. “Tidak ada siapa-siapa, Bella. Kamu jangan mengarang.” Ayah dan Ibu masuk, sedangkan aku masih asik di depan kaca, melihat Bapak itu yang masih duduk di teras rumah. Tiba-tiba Ayah keluar dari kamar dengan ponsel yang masih menempel pada telinganya. “Baik, saya akan kesana.” Ayah kemudian pergi keluar rumah dan menembus Bapak yang sedang duduk. Aku kembali terkejut melihat apa yang aku lihat. Mana mungkin? Ibu menghampiriku dan mensejajarkan posisinya denganku, “Bella, kamu sedang apa?” “Melihat Bapak tua itu,” jawabku. Ibu terdiam. “Bapak yang pernah kemari?” tanya Ibu lagi. Aku menganggukan kepalaku. “Nak, Bapak itu sudah meninggal tadi pagi. Mungkin, yang kamu lihat adalah arwahnya.” “Arwah itu apa, Bu?” “Nanti, saat kamu dewasa, kamu akan mengerti.” Aku menggangguk, “Tadi Ayah mau kemana, Bu.” “Mau menghadiri pemakaman Pak Syaiful, Bapak tua itu.” Ibu memperlihatkan wajah khawatirnya padaku. Aku bisa melihat seseorang yang telah tiada. Bahkan hingga detik ini aku masih sulit membedakan mana yang manusia sungguhan dan tidak. Terkadang, aku merasa takut karena orang tuaku tidak dapat melihat apa yang aku lihat. Apakah aku ini normal? Siapa aku? Dan mengapa aku bisa melihat mereka?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN