Perpisahan

1891 Kata
Duduk di depan cermin, Renata merias wajah serta rambutnya sedemikian rupa. Hari ini adalah hari ulang tahun Rafa dan Rafi, sekaligus hari terakhirnya di Jakarta. Pertemuannya bersama kedua putranya nanti akan menjadi pertemuan terakhir, dan ia harap mendapatkan moment yang tak akan terlupakan di sana. Penampilan Renata sangat cantik meski tidak terlalu menonjol. Dress berwarna hitam yang elegan sangat cocok dipakainya. Tubuhnya yang langsing tampak seperti wanita yang belum pernah mengalami kehamilan, nyaris sempurna untuk diminati banyak pria dewasa. Ulang tahun Rafa dan Rafi tidak diadakan di sebuah hotel, melainkan di rumah Abizard. Hal itu karena halaman rumah tersebut sangat luas, cukup untuk mengadakan pesta yang tidak terlalu besar seperti resepsi pernikahan. Tamu yang diundnag pun bukan kalangan biasa, melainkan kalangan atas. Kaki Renata berhenti melangkah saat melihat kedua putranya dari kejauhan, berdiri untuk menyambut kedatangan tamu-tamunya. Bibir Renata tersenyum bangga, mereka sangat tampan dan luar biasa. Siapa yang akan percaya bahwa dirinyalah ibu dari kedua cucu Abizard, bahkan tiga. “Selamat ulang tahun, Rafa, Rafi. Jadilah anak-anak yang membanggakan untuk keluargamu. Hadiah dari Ibu bukan barang mahal, tapi Ibu harap kalian tetap suka,” kata Renata, mengusap rambut Rafa dan Rafi dengan lembut. Ingin sekali Renata memeluknya, meminta mereka berdua mencium pipinya untuk yang pertama dan yang terakhir kalinya. Namun, hal itu tak mungkin Renata lakukan, tak ingin menimbulkan keanehan apalagi kecurigaan. “Di mana Radela?” Rafi menyapu pemandangan di belakang tubuh Renata, berharap Radela ada di sana. “Dela gak ikut, dia harus istirahat,” jawab Renata bohong. “Di mana si cantik?” Kini Elvina yang bertanya saat Renata mendapat giliran untuk bersalaman dengannya. “Dia gak bisa ke mana-mana, Bu.” Lagi, Renata menjawab asal, jawaban yang sudah ia persiapkan sebelumnya. “Oh iya, ada hadiah dari saya buat Radela. Nanti kamu bawa pulang, ya.” Elvina mengingatkan, menebar senyum tiada henti. “Bu ... boleh saya minta sesuatu?” Renata sebenarnya sangat sungkan, tapi ia pun ingin melakukan sesuatu untuk putrinya. “Tentu.” Elvina mengangguk cepat, tampak tak keberatan. “Bisa saya minta sepotong kue?” Renata menatap malu. “Ma—maksudnya bukan buat saya, tapi Dela.” “Oh, tentu. Nanti saya pisahin khusus buat si cantik.” Elvina kembali mengangguk. “Terima kasih, Bu.” Renata tersenyum senang, lalu pergi ke tempat lain. Meski permintaan Renata terdengar aneh dan terkesan tak tahu malu, Elvina berusaha untuk mengerti. Mungkin Radela yang menginginkan sepotong kue ulang tahun Rafa dan Rafi. Anak-anak, mana mengerti hal pantas atau tidak, hanya bisa merengek, bukan? Pada kenyataannya, Renata memang sengaja melakukan itu, meminta sepotong kue untuk ia berikan kepada Radela nanti. Seharusnya Radela ikut berdiri bersama kedua kakaknya, di depan kue yang sangat besar. Tapi, Renata hanya bisa memberikan sepotong kue seakan memberikan 'jatahnya' sebagai cucu Abizard. Tugas Renata sudah selesai, yaitu bertemu Rafa dan Rafi untuk yang terakhir kalinya. Juga, ia sudah meminta 'hak' Radela berupa sepotong kue. Sekarang, saatnya Renata menemui Tedi, pria tua yang merupakan orang kepercayaan Abizard. Tedi yang sudah menerima Renata bekerja, tidak salah jika Renata ingin menemuinya. “Pak Tedi.” Renata mengangguk sopan. “Renata, selamat datang.” Tedi balas menyapa, ikut mengangguk dengan ramah. “Bisa saya bicara?” Renata sedikit berbisik. “Ada apa?” Tedi terlihat bingung. “Saya berhenti ngajar, Pak.” Renata menatap tak enak. “Loh, kenapa? Apa anak-anak buat kesalahan?” Tedi tentu tercengang. “Nggak, Pak. Saya ... saya gak bisa ngajar lagi aja.” Renata tak bisa menjawab jujur. “Ada apa?” Rasyidan berhenti sejenak di dekat Renata dan Tedi, membawa kekasihnya yang sangat cantik. “Pak,” sapa Renata, sekaligus memberikan senyuman pada wanita di samping pria itu. “Jangan panggil bapak. Perasaan saya masih muda gini.” Rasyidan memprotes tak suka. “Saya dengar kamu gak mau ngajar lagi?” tanyanya kemudian. “Saya ada perlu, Pak, mau ke luar kota dulu.” Renata berkilah. “Apa jangan-jangan ....” Rasyidan menggantung ucapannya, menatap waspada. “Renata, gak mudah kamu mengundurkan diri. Apalagi mendadak seperti ini,” ucap Tedi memberitahu, bahwa tidak mudah bagi Renata memutuskan sesuatu. “Tapi ....” Renata gelagapan, menoleh ke sembarang arah dan mendapati Anjar yang sedang berjalan entah akan ke mana. “Saya permisi,” ucapnya, lalu pergi. “Pak Anjar.” Renata mengikuti ke mana Anjar pergi hingga pria itu berbalik menghadapnya. “Saya gak akan ngajar lagi. Ini adalah terakhir kalinya saya ketemu anak—” “Kenapa?” Suara Rasyadan berhasil menghentikan ucapan Renata. Pantas saja Anjar memberikan isyarat menggunakan matanya. Sayang, Renata tak tahu bahwa ayah dari ketiga anaknya berada tepat di belakangnya. “Apa gajinya kurang?” Rasyadan tampak tak senang, tatapannya menghunus ke netra Renata. “Bukan itu, Pak.” Renata langsung mengelak. “Ikut saya ke atas,” titah Rasyadan, lalu pergi begitu saja seolah tak ada kata untuk menolak. “Harusnya kamu gak perlu bilang berhenti mengajar, Renata. Kamu tinggal pergi, ganti nomor ponsel kamu, jangan ada yang tahu kamu ke mana. Astaga ....” Anjar menggeram kesal, tinjunya membulat sempurna seakan ingin menyakiti Renata di saat itu juga. “Maaf.” Renata hanya bisa menunduk bersalah tanpa berani mengelak. “Ikut ke atas, tapi jangan coba-coba bongkar rahasia kita.” Anjar lalu memimpin jalan, dan Renata ada di belakangnya. “Tapi, kenapa saya dipanggil?” Renata tak mengerti. “Nanti kamu tahu sendiri.” Anjar malas menjelaskan. Di lantai dua rumah Abizard, Rasyadan berdiri menghadap dinding yang terbuat dari kaca, di dalam ruangan pribadinya. Wajah tampan tapi menakutkannya itu sungguh tak enak dipandang. Jangankan orang lain, keluarganya sendiri termasuk Rafa dan Rafi akan diam seketika jika melihat kemarahan sang ayah seperti itu. Pintu ruangan terbuka setelah Rasyadan menyahutinya dari dalam, dan Renata segera masuk didampingi Anjar. Namun, Anjar keluar ketika si pemilik ruangan memintanya pergi, menyisakan dirinya dan Renata di sana. “Kenapa tiba-tiba mengundurkan diri? Ada masalah?” Rasyadan ingin mendengar alasan yang pasti. “Nggak ada, Pak. Saya mau pergi ke luar kota untuk beberapa minggu, jadi gak bisa ngajar anak-anak lagi.” Renata jelas menjawab asal, menatap punggung pria yang sepertinya tak ingin melihat wajahnya. “Ada urusan apa?” Rasyadan lanjut bertanya. “Haruskah saya jawab? Bagaimana jika urusannya sangat pribadi, Pak?” Renata mulai terpancing emosi. Pria itu terkesan arogan menurutnya, dan ia tak suka. “Gak mudah bekerja di rumah ini, dan kamu mau main pergi?” Rasyadan berbalik, menatap tajam membuat wanita yang ditatapnya menunduk seketika. “Harusnya saya gak terima kamu sejak awal.” “Kenapa?” Renata bingung, mencoba mengangkat kepalanya untuk bertatap muka. Tapi, di saat itu juga Rasyadan memalingkan wajahnya, berjalan ke arah meja besar yang ada di sana. “Karena kepercayaan dari saya sangat mahal.” Renata berusaha mencerna ucapan Rasyadan, tapi nyatanya ia tetap tak mengerti. “Apa maksud Pak Rasya ... saya gak bisa mengundurkan diri?” tanyanya sangat hati-hati, khawatir salah menduga. “Saya naikkan gajimu dua kali lipat lagi. Dan ini, anggap aja bonus.” Rasyadan menggeser sebuah amplop ke tepi meja, lalu keluar dari ruangan tersebut untuk menjawab panggilan teleponnya. Renata mematung di tempatnya beberapa saat, menatap amplop berwarna coklat yang diyakini berisi uang. Namun, bukan amplop tersebut yang menarik perhatiannya, melainkan sebuah jam tangan yang tergeletak di atas meja. Suara Rasyadan saat bicara bersama seseorang melalui ponselnya terus menjauh, sedangkan pintu ruangan dibiarkan terbuka. Tidak ada siapa pun di sana, bahkan di luar ruangan pun tak terdengar adanya aktivitas. Renata berjalan beberapa langkah mendekati meja, melirik ke arah luar saat tangannya meraih jam tangan dan ia masukkan ke dalam tasnya. Ada kertas dan bolpoin yang ia gunakan untuk menulis catatan, ‘Saya gak bisa terima uangnya, karena saya tetap harus pergi ke luar kota.’ “Renata,” panggil Tedi sambil buru-buru menghampiri Renata yang sedang berjalan menuju ke luar. “Ambil ini, dari Nyonya Elvina.” Tedi memberikan kantong berukuran besar. “Terima kasih.” Renata mengangguk hormat. “Kamu langsung pulang?” “Anak saya sakit. Permisi, Pak.” Renata bergegas pergi tanpa berpamitan kepada siapa pun lagi. Di dalam mobil taksi yang dipesannya, Renata memperhatikan banyak potret Rafa dan Rafi yang ia ambil beberapa menit yang lalu. Deraian air mata tak bisa ia bendung lagi, tertumpah tanpa bisa dicegah. Dadanya terasa sangat sesak, kerongkongannya dirasa tersumbat sesuatu hingga untuk bicara saja sangat sulit. Pertemuan dan perpisahan ini bukanlah keinginannya. Andai bisa memilih, Renata lebih baik tidak bertemu Rafa dan Rafi daripada harus terpisah kembali oleh keadaan. Namun, tak dapat dipungkiri pertemuan singkat itu begitu membekas dan memberi kenangan yang sangat berarti untuk dirinya. Renata tak berniat untuk menjadi seorang pencuri, tapi kondisi seolah mendukungnya untuk melakukan pencurian, yaitu mengambil jam tangan milik Rasyadan yang akan dijualnya nanti. Renata harap, kalaupun pria itu menyadari barangnya hilang, dia tidak mempermasalahkannya. “Arum, sejak kapan Dela kayak gini? Bukannya tadi pas Kakak pergi, Dela masih baik-baik aja?” Renata merasa kondisi Radela tidak baik-baik saja, dan ia baru menyadarinya saat duduk di bus. “Nggak, Kak. Dari waktu Kakak pergi juga Dela sudah kayak gitu, tapi dia gak bilang.” Arumi membantah tegas, tak ingin disalahkan. “Sayang, kamu kenapa gak bilang sama Mama kalau kamu lagi sakit?” Renata terlihat kesal sekaligus khawatir. Radela menolak untuk menjawab, malah menangis dipangkuan sang ibu. “Kenapa?” Renata semakin khawatir. “Dela mau ikut ke rumah Rafa sama Rafi, mau ikut nyanyiin lagu selamat ulang tahun buat mereka. Dela 'kan sudah janji mau datang. Mereka teman-teman baru Dela, Ma. Dela juga mau ketemu papanya, kakeknya, omnya.” Suara Radela tersenggal-senggal, memaksakan diri untuk bicara. Hanya Renata yang tahu, sedalam apa hatinya berdenyut nyeri seolah banyak benda tajam menyerangnya. Ucapan sang putri telah menyadarkannya, betapa gadis itu sangat kesepian dan menginginkan keluarga utuh. Anggota keluarga yang disebutkannya tidak lain adalah keluarganya sendiri yang tidak ia ketahui. Tidak, lupakan identitas asli putrinya. Radela adalah miliknya, bukan milik Abizard. Mereka telah memiliki Rafa juga Rafi, dan itu sudah cukup. Renata harus menghilangkan perasaan bersalahnya, tak ingin mengingat siapa keluarga ayah dari putrinya. “Sayang, ini ... kue dari Rafa dan Rafi. Makan, ya. Nanti kita lihat juga kado dari neneknya Rafa dan Rafi kalau sudah sampai.” Renata menyuapkan kue yang diterima Radela tanpa penolakan. “Mama, kita mau ke mana?” tanya Radela ingin tahu. “Mama mau obatin sesak napas kamu, biar kamu bisa main lagi, bisa sekolah lagi.” Renata menampilkan senyumnya yang mengembang. Renata sudah memutuskan untuk kembali ke Surabaya, kota yang sebenarnya sudah cukup membuatnya muak. Apa boleh buat, ia tidak punya tujuan lagi. Pun, hanya di Surabaya ia memiliki teman dan beberapa kerabat, berharap ada yang bisa membantunya mendapatkan pekerjaan. Ada banyak saudara Renata di Banten, tapi tidak ada satu pun yang bersikap baik padanya. Terlebih, mereka memandang aneh bahkan hina saat Renata melahirkan Radela tanpa ayah. Tidak sedikit cibiran yang terdengar langsung olehnya, tak sungkan juga mereka memperlihatkan ketidak sukaannya. Renata sudah terbiasa hidup susah dan dipandang sebelah mata. Tak apa, ia hanya ingin menjalani hidupnya sendiri. Dalam hati dan pikirannya, hanya ada Radela dan Arumi yang menjadi tanggung jawabnya, hanya mereka yang menjadi penyemangatnya untuk melanjutkan hidup. Apa jadinya jika Radela dibawa Abizard? Hanya membayangkannya saja, Renata sudah sangat ketakutan. Ia lebih baik tidak memiliki cinta daripada kehilangan putrinya. Seperti sekarang ini, Renata menutup diri pada seorang pria. Untuk apa? Pria yang sudah-sudah saja, selalu membahas tentang Radela seolah keberatan untuk merawatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN