Hari sudah semakin malam saat Renata berada di perjalanan menuju Surabaya. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai memang sangat melelahkan, kurang lebih sebelas jam.
Di pangkuannya, ada Radela yang sejak tadi tertidur nyenyak. Namun dari waktu ke waktu, wajah gadis kecil semakin memucat, suhu tubuhnya pun semakin tinggi.
“Rum, Dela ... Dela kenapa, Rum?” Renata memperhatikan wajah putrinya dengan penuh kecemasan.
“Kak, bibirnya kenapa kayak gitu?” Arumi ikut memperhatikan perubahan Radela yang sangat berbeda dari beberapa jam yang lalu.
Selain wajahnya yang sangat pucat, bibir Radela juga tampak membiru. Kondisinya benar-benar sangat mengkhawatirkan, dan sejujurnya Renata tak pernah melihat putrinya seburuk itu.
“Sayang, bangun, yuk.” Renata sengaja menegakkan tubuh Radela, bermaksud agar gadis kecilnya terbangun.
“Mama.” Radela bergumam pelan, matanya enggan terbuka, seperti sedang mengigau.
“Dela mau minum? Bangun dulu, Sayang.” Renata tak henti meminta putrinya agar membuka mata.
“Papa.” Radela terus bergumam, tapi kali ini ia menyebutkan kata ‘papa’ yang tak pernah ia sebut sebelumnya.
Renata dan Arumi saling tatap untuk beberapa saat, tercengang Radela mengucapkan panggilan itu. Apa mereka tidak salah dengar?
“Ma—ma ... Dela ma—u ... ketemu Papa.” Radela sedikit membuka matanya, menatap sayu ke arah sang ibu. Lagi-lagi gadis itu terlihat sulit untuk bicara saat sesaknya menyerang.
“Kita ke rumah sakit langsung, ya. Dela mau sembuh, 'kan?” Renata berusaha mengalihkan pembahasan seolah tak mendengar ucapan putrinya.
“Dela mau Papa.” Radela kembali menyebutkan ‘papa’ sambil menutup matanya lagi.
“Kak, gimana?” Arumi sama bingungnya.
“Kamu langsung ke kontrakan aja. Nanti pesan taksi, biar bisa angkut semua barang-barang kita. Kakak mau langsung ke rumah sakit. Nanti kamu nyusul, ya.” Renata tak mungkin mengabaikan kondisi Radela selain ingin cepat membawanya ke rumah sakit.
“Iya, Kak.” Arumi mengangguk paham.
“Dela mau Papa, Ma. Dela mau punya papa kayak Rafa sama Rafi,” rengek Radela, menangis di pelukan ibunya.
Pukul tiga pagi Renata sampai di Surabaya. Sesuai rencananya, ia langsung membawa Radela ke rumah sakit, sedangkan Arumi ke kontrakan yang pernah ia tempati. Kebetulan Renata sudah menghubungi pemilik kontrakan, dan si pemilik kontrakan tersebut sudah tahu kedatangannya.
Karena hari masih pagi, Radela hanya dapat ditangani dokter umum dengan perawatan seadanya. Alhasil, Renata harus menunggu jadwal pemeriksaan dokter spesialis anak hingga hari sudah siang. Beruntung Arumi segera menyusul ke rumah sakit hingga ia tidak merasa sendirian.
“Bu Renata, apa Ibu pernah memeriksakan kesehatan pasien sebelumnya?” Dokter spesialis yang memeriksa Radela bertanya seraya membaca hasil pemeriksaannya.
“Pernah, Dok. Waktu saya di Jakarta, dokter yang tangani anak saya bilang kalau anak saya mengidap penyakit jantung bawaan. Saya belum ada biaya buat operasi, jadi saya beli obat-obatan dulu,” jawab Renata apa adanya.
“Hasil pemeriksaan saya bukan hanya jantung bawaan, tapi juga pneumonia atau paru-paru basah, Bu.” Dokter memberitahu dengan berat hati. “Anak Ibu harus cepat mendapat penanganan khusus. Jika tidak, saya khawatir pasien mengalami gagal napas, bakteremia, atau bahkan efusi pleura yang akan mengakibatkan nyawanya tidak tertolong,” sambungnya panjang lebar.
“Apa?” Renata tercengang. “Se—separah itu, Dok?”
Jangan tanya bagaimana perasaan Renata saat mendengar penuturan dokter. Ia merasa dunianya sangat hancur, dan entah apa yang harus ia lakukan demi kesembuhan putri tercintanya. Tidak ada kata lapar, tidak ada kata haus, pikirannya hanya dipenuhi dengan gambaran uang, untuk apalagi jika bukan pengobatan Radela?
Jam tangan Rasyadan ... Renata harap harganya cukup tinggi, setidaknya dapat membantu sedikit biaya pengobatan Radela yang entah akan membutuhkan totalan berapa. Tanpa ingin berdiam diri, ia memutuskan untuk pergi ke pusat kota, mencari toko jam tangan yang besar untuk menawarkan jam tangan milik Rasyadan.
“Mbak, jam tangannya saya hargai 300 juta, gimana?” tanya pemilik toko jam tangan setelah memeriksa barang yang dibawa Renata.
“Apa?” Renata berdiri dari duduknya secepat kilat, tak percaya jam tangan itu berharga sangat mahal.
Namun, pemilik toko malah salah paham dengan keterkejutan Renata, mengira wanita itu tak terima jam tangannya dihargai murah. “Soalnya 'kan gak ada sertifikat atau surat lainnya, jadi ya harganya kisaran segitu, Mbak.”
Renata terdiam, mulutnya sedikit menganga, tak tahu harus menjawab apa. Harga 300 juta itu dalam posisi bekas dan tidak memiliki surat-surat atau yang lainnya? Memangnya berapa harga aslinya? Renata sempat ingin menanyakan itu, tapi ia urungkan karena takut dicurigai pencuri.
“Gimana, Mbak?” Pemilik toko meminta jawaban.
“Boleh.” Kepala Renata sedikit mengangguk setuju.
Tidak ada pilihan, Renata mengiyakan saja tawaran 300 juta tanpa mengajukan penawaran yang lebih tinggi. Wanita itu hanya tak tahu saja bahwa harga jam tangan milik Rasyadan mencapai 1,5 milyar. Bahkan, Renata tidak berniat untuk memeriksanya terlebih dahulu, melihat merk jam tangan itu misalnya.
Sempat ingin membatalkan niatnya untuk menjual jam tangan tersebut, takut Rasyadan melaporkannya pada polisi. Harganya sangat mahal, bukan tidak mungkin pria itu akan mencarinya. Tapi, dari mana Renata mendapatkan uang dalam jumlah besar secepatnya jika bukan menjual jam itu?
Akhirnya, Renata kembali ke rumah sakit, dan berbagai tindakan medis segera dilakukan, termasuk operasi jantung Radela. Meski uang 300 juta itu tidak akan langsung digunakan semuanya di hari yang sama, setidaknya Renata cukup lega, sudah mengantongi uang untuk segala perawatan yang akan dilalui putrinya.
“Kak, dari mana Kakak dapat uang sebanyak itu?” Tatapan Arumi menyiratkan rasa penasaran yang begitu kuat.
“Jangan dipikirin, Rum. Yang penting sekarang, Dela sudah dapat perawatan di sini.” Renata tak mungkin menjawab jujur. Lagi pula, Arumi memang tidak tahu menahu perihal keluarga Abizard.
“Tapi ... jangan bilang Kakak nyuri uang.” Arumi menatap curiga. “Atau, Kakak minta bantuan Pak Gibran?” tebaknya.
“Nggak, Rum. Kakak belum pernah ketemu Pak Gibran lagi, dan jangan sampai ketemu lagi!”
Wajah Renata terlihat kesal hanya karena mendengar nama Gibran, pria yang membuatnya nekat pindah ke Jakarta bulan lalu.
“Dela masih belum sadar. Kalau Kakak mau pulang ke kontrakan dulu, pulang aja, Kak. Siapa tahu Kakak mau mandi atau istirahat.” Arumi menyarankan.
“Ya sudah, Kakak mau pulang ke kontrakan sebentar. Kakak mau mandi, sekalian nanti mau ke mini market dulu. Kamu jagain Dela, ya.” Renata tak ingin membuang waktunya, segera berlalu dari pandangan Arumi.
Ternyata, kelegaan Renata karena mengantongi uang untuk perawatan Radela hanya berlaku sebentar saja. Pasalnya, ada empat pria yang memaksanya untuk ikut saat dirinya sedang menunggu angkutan umum, hendak kembali ke rumah sakit.
Mereka adalah orang-orang suruhan Rasyadan. Walaupun Renata tak pernah melihat mereka di rumah Abizard, ia yakin bahwa mereka memang suruhan ayah dari ketiga anaknya. Renata tidak terlalu kaget mengingat harga jam tangan yang sangat mahal. Hanya saja, ia tak percaya akan ditemukan secepat itu.
Entah akan dibawa ke mana, Renata bahkan tak berniat untuk bertanya. Mungkin kantor polisi? Tak tahu harus bereaksi apa, ia hanya diam sepanjang perjalanan. Otaknya terus berputar-putar, apa yang harus ia jawab nanti di depan Rasyadan?
Memasuki gedung perkantoran yang bertuliskan Abizard Group di dinding lobby, lagi-lagi Renata tak ingin pusing akan dibawa ke mana selain menuruti perintah mereka, yaitu mengikutinya untuk bertemu Rasyadan. Jika tidak patuh, maka sudah sejak tadi kekerasan akan diterimanya.
Salah satu pintu ruangan yang dimiliki gedung tersebut terbuka, dan Renata didorong untuk masuk ke dalamnya. Sudah ada Rasyadan di sana, duduk di meja kebesarannya dengan pakaian rapi khas perkantoran. Renata tidak berani duduk, tetap berdiri di dekat pintu yang tertutup.
Mata Renata sedikit membelalak saat mengetahui barang yang sedang Rasyadan perhatikan, yaitu jam tangannya yang tadi Renata jual. Apakah jam tangan itu jam yang sama, atau pria itu memiliki dua jam dengan model yang serupa?
“Apa kamu tahu kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya Rasyadan tanpa mengalihkan pandangan dari jam tangan yang dipegangnya.
“Maaf.” Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Renata.
“Atas apa?” Rasyadan pura-pura tak mengerti.
“Saya ... saya terpaksa.” Renata mulai gugup.
Raut Rasyadan tetap terlihat datar, tak tahu apa pria itu sedang marah atau tidak. Namun, hati Renata sangat tak nyaman. Harusnya Rasyadan memakinya, bukannya terlihat seperti pembunuh berdarah dingin seperti itu.
“Apa ada solusi?” Rasyadan mengangkat wajahnya, bertanya santai seolah sedang mengajak lawan bicaranya mengobrol.
“Maksudnya?” Renata tak mengerti.
“Kembalikan uang saya yang kamu terima, atau kamu masuk penjara.” Rasyadan memberikan pilihan dengan tenangnya.
“Pak—”
“Hanya ada dua pilihan.” Rasyadan tak ingin mendengar kesepakatan lain yang mungkin akan diajukan wanita di hadapannya.
“Saya ganti.” Renata mengangguk satu kali.
“Kapan?” Rasyadan meminta kepastian.
“Secepatnya.” Renata menjawab tanpa berpikir.
“Saya tanya, kapan?” Rasyadan meminta kejelasan sekali lagi.
“Dua minggu.” Renata hanya asal menjawab.
“Satu minggu.” Rasyadan menawar. “Jangan harap bisa lari dari saya, Renata. Silakan keluar,” lanjutnya, mengusir Renata tanpa sungkan.
Kembali memperhatikan jam tangan miliknya dengan saksama, Rasyadan merasakan sakit yang menyesakkan d**a. Ada rasa bersalah seolah dia telah melakukan kesalahan besar. Barang tersebut menyimpan sebuah kenangan yang tak mungkin ia lupakan, tak seharusnya barang itu hilang darinya.
Rasyadan sering lupa meletakkan jam tangannya, di mana pun itu. Wajar saja, kehilangan jam tangan bukanlah hal yang baru, melainkan sudah kebiasaannya. Apalagi jika ke luar kota dan menginap di hotel, sudah pasti ia akan lupa di mana menyimpannya, dan tak ingin pusing untuk mencarinya.
Sebagai pecinta jam tangan, semua jam yang dibelinya selalu berharga tinggi, bahkan limited edition dan hanya beberapa orang saja yang memilikinya. Hal itulah yang selalu menjadi bahan pertengkarannya bersama Nirina, istrinya yang selalu sederhana dan tak meninggikan kemewahan.
“Sayang, khusus jam tangan ini, jangan pernah lupa simpannya di mana. Pokoknya, aku gak mau dengar jam tangan kamu hilang lagi!” Nirina, wanita yang senang bicara itu memberikan sebuah kotak berisi jam tangan yang dibelinya.
“Jam tangan aku 'kan banyak, kenapa harus marah kayak gitu?” Rasyadan malah sengaja menggodanya, tahu dari mana kekesalan sang istri berasal.
“Pemborosan! Hilang satu jam tangan, kamu langsung beli tiga! Sayang, coba deh, jangan mentang-mentang kamu kaya, terus kamu bisa seenaknya hilangin jam tangan, beli lagi yang baru. Capek aku!” oceh Nirina panjang lebar, dan sejujurnya ia sudah bosan memarahi suaminya karena masalah yang sama.
Rasyadan malah tertawa, puas melihat wajah cemberut Nirina yang semakin menggemaskan. Tidak ada rasa takut atau setidaknya mengakui kesalahan, Rasyadan tak henti menggoda istrinya yang semakin kesal.
“Jangan ketawa!” gertak Nirina, mencubit ke sembarang bagian tubuh sang suami.
“Iya, iya, yang ini gak bakal hilang,” kata Rasyadan pada akhirnya.
“Janji?” Nirina menuntut sekaligus memohon.
“Hm.” Rasyadan berdeham tak yakin.
“Janji dulu!” Nirina merengek.
“Iya, Sayang.” Rasyadan mengangguk lemah.
“Pokoknya kalau jam tangan ini hilang, berarti kamu sudah gak sayang aku! Ini 'kan hadiah dari aku, artinya harus kamu jaga sebaik mungkin. Anggap aja kamu lagi rawat perasaan kita, pertahanin hubungan kita!” Nirina lanjut menasehati sembari memakaikan jam tangan di pergelangan Rasyadan.
Sejak saat itu, Rasyadan hampir tak pernah mengganti jam tangannya meski memiliki banyak koleksi, selalu itu yang ia pakai setiap hari. Ia pun sangat berhati-hati memakainya, tak ingin cepat lecet apalagi rusak. Terlebih, barang itu adalah pemberian istri tercintanya. Desainnya pun Nirina sendiri yang memilih, menyesuaikan style sang suami dan Rasyadan sangat menyukainya.
Rasyadan sangat ingat, ia menyimpan jam tangannya di atas meja, di ruangan pribadinya. Sekalipun tidak ada CCTV di sana, ia yakin Renata yang telah mencurinya, karena hanya wanita itu yang masuk ke dalam ruangannya. Semua orang di rumah Abizard tahu tentang jam tangan itu, mustahil ada yang berani menyentuhnya.
Tidak sulit mencari keberadaan Renata. Fotocopy KTP yang diberikannya saat melamar menjadi guru les privat, tertera Kota Surabaya. Rasyadan awalnya hanya menebak, mungkin wanita itu kembali ke Surabaya dan ia memerintahkan orang-orang suruhannya untuk mencari Renata.
Sebuah kebetulan, ada suatu hal yang mengharuskan Rasyadan datang ke kantor cabang Abizard Group di Surabaya. Ia berangkat saat pesta ulang tahun Rafa dan Rafi selesai, bahkan sebelum ada laporan tentang keberadaan Renata. Dalam kata lain, ada atau tidaknya Renata di Surabaya, Rasyadan akan tetap mengunjungi kantor cabangnya.
Harga jam tangannya bukan masalah bagi Rasyadan, ia hanya tak suka pembohongan, apalagi pengkhianatan seperti yang dilakukan Renata. Ditambah, barang itu sangat berharga bagi hidupnya, tentu Rasyadan tak akan memaafkan Renata apa pun alasannya.
“Renata?” panggil seorang pria membuat Renata menghentikan langkahnya.
“Pak Gibran?” Renata terheran-heran melihat pria itu ada di sana, di kantor cabang Abizard Group.