Hanya Harapan

1500 Kata
“Ngapain kamu di sini?” Gibran terus mendekati setelah yakin wanita yang dipanggilnya benar Renata. “Oh ... itu ....” Renata bingung menjawab. “Mau lamar kerja?” tebak Gibran, merasa aneh dengan kegugupan wanita di hadapannya. “Iya, Pak.” Renata mengangguk saja agar cepat selesai. “Nanti saya bicara sama HRD.” Gibran tampaknya ingin memberi bantuan sebagai 'orang dalam'. Renata terdiam sesaat, menatap wajah Gibran penuh kebingungan. Teringat suatu hal, ia pun berkata, “Bisa kita bicara di tempat lain?” “Tentu.” Gibran mengangguk antusias, segera memimpin jalan untuk keluar dari gedung tersebut. Sepertinya tidak ada pilihan lain selain meminta bantuan kepada Gibran, kakaknya teman Renata. Rasyadan mendesak uangnya untuk dikembalikan dalam waktu satu minggu, Renata harus mencari ke mana uang sebesar itu? Konsekuensinya adalah masuk penjara, tak mungkin ia diam saja. Uang penjualan jam tangan memang masih tersisa banyak, Renata baru memakainya sebesar dua puluh juta. Namun, itu baru permulaannya saja. Biaya rawat inap serta pemulihan pasca operasi tidak bisa disepelekan. Juga, ia tak bisa bekerja secepatnya karena harus merawat Radela. Pria berusia 45 tahun itu sangat terkenal akan sikap buruknya, yaitu mabuk-mabukan dan bermain wanita. Ada satu wanita yang sudah menjadi incarannya sejak lama tapi sulit didapat, siapa lagi kalau bukan Renata? Wanita penjual mahal seolah dirinya seorang perawan, padahal sudah memiliki anak. Pikir Gibran. Sudah sering Gibran mengajak Renata berkencan, kencan yang akan berakhir di atas ranjang. Ia bahkan sudah sering mengeluarkan biaya hanya untuk menyewa tempat terbaik. Renata selalu menolaknya dengan berbagai alasan, terlebih ia masih makmur secara finansial saat itu. Bukan satu atau dua kali Gibran melecehkan Renata melalui ucapan bahkan tindakan, dan hal itu menjadi salah satu alasan Renata memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Namun, entah mengapa saat ini Renata merasa tidak ada cara lain untuk mendapatkan uang selain mengajak Gibran untuk 'membelinya'. “Ke mana aja kamu? Sudah lama kita gak ketemu,” tanya Gibran saat baru saja duduk di atas kursi, di sebuah restoran. “Sena belum pulang lagi?” Renata hanya berbasa-basi, menanyakan temannya yang tidak lain adalah adik Gibran. “Sena jadi anak sekaligus adik durhaka, betah di Bali.” Gibran tampak kesal. “Dia sudah berkeluarga, Pak.” Renata menundukkan kepalanya, tak tahu harus mulai dari mana untuk menyerukkan niatnya. “Oh iya, kamu tadi ngapain aja di kantor Abizard? Baru serahin CV, atau sudah interview?” Gibran kembali menanyakan keberadaan Renata di kantor Abizard Group. “Saya cuma ketemu teman yang lagi magang di sana, Pak.” Renata jelas berbohong. “Pak Gibran sendiri lagi apa di sana?” tanyanya kemudian. “Kamu gak tahu saya kerja di sana?” Gibran malah menatap aneh, tak percaya Renata tidak mengetahui pekerjaan serta tempat kerjanya. “Sena gak pernah cerita soal Pak Gibran.” Renata merasa tak enak. “Saya sudah satu tahun jadi wakil direktur di sana kalau kamu mau tahu,” ungkap Gibran apa adanya. “Kamu ada perlu apa? Saya kaget kamu ngajak ngobrol begini. Biasanya kamu suka nolak kalau saya ajak makan.” “Begini, Pak ... Pak Gibran pernah tawari saya kencan satu malam, apa ... Pak Gibran masih tertarik?” ucap Renata terputus-putus. Hanya ia yang tahu, seberat apa kata-kata itu untuk keluar dari bibirnya. “Wah, ada apa ini, Renata?” Gibran tak bisa mengendalikan keterkejutannya, tak percaya wanita incarannya menyerahkan diri tiba-tiba. “Saya butuh banyak uang, Pak.” Renata menatap penuh pilu. “Ah, saya harus pergi, ada urusan penting. Supir saya yang antar kamu buat percantik diri. Kita ketemu nanti malam.” Gibran bangkit dari duduknya, lalu pergi begitu saja. Apa-apaan ini? Pria itu bahkan belum memberikan harga yang diinginkan Renata. Bagaimana jika harganya tidak setinggi permintaannya? Tidak, Renata harus memastikan lebih dulu, berapa yang akan ia terima nanti. Tubuhnya tak pernah terjamah, dan ia terpaksa menjualnya demi kesembuhan putri tercintanya. Saat di perjalanan menuju butik, Renata memeriksa ponselnya dan mendapati adanya satu pesan mobile banking. Ia segera menggeledah isi tasnya, mencari ATM yang ternyata tidak ada di sana. Arumi, adiknya yang belum cukup dewasa itu mengirimkan semua uangnya ke rekening seseorang. Tak mungkin meneruskan perjalanannya menuju butik, Renata meminta supir Gibran untuk mengantarkannya ke rumah sakit lebih dulu. Beruntung supir itu mau menurutinya, tidak banyak bertanya apalagi menolak. Sepanjang perjalanan, hati Renata benar-benar merasa tak tenang. Ternyata Arumi tidak ada di rumah sakit, pergi dua jam yang lalu. Entah bersama siapa, tapi Renata yakin adiknya itu menemui pria yang sempat menjadi kekasihnya. Uang itu, uang yang didapatkan Renata dengan cara mencuri telah Arumi rampas! Ini bukan yang pertama kalinya Arumi melakukan itu, tapi sudah sangat sering. Renata menangis tak terkendali, menjadi pusat perhatian banyak orang di rumah sakit. Sayangnya ia tidak sadar, bahwa hal itu sangat memalukan. Hatinya sudah sangat hancur mengetahui adiknya sendiri berkhianat. Seharusnya Arumi berpikir, bahwa kondisinya saat ini sangat mendesak. Banyak orang yang merasa iba, mendekati Renata dan mencoba untuk menenangkan wanita yang tampak frustasi itu. Namun, tangisnya malah makin menjadi. Keadaannya persis seperti orang depresi, berteriak sambil menjambak rambutnya sendiri, sangat memprihatinkan. Tidak ada yang tahu apa penyebab Renata seperti itu. “Renata?” Rasyidan membelah kerumunan, yakin suara wanita itu adalah suara Renata. “Mas kenal?” tanya salah satu orang. “Dia ... dia teman saya.” Rasyidan mengangguk cepat, lalu membungkukkan tubuhnya saat menggapai bahu Renata. “Renata?” Renata berusaha untuk mengendalikan emosinya saat mengetahui ada Rasyidan di sana, mulai meredakan tangisnya meski tetap saja napasnya tersedu-sedu hingga untuk bicara saja dirasa sangat sulit. Wajah Renata terangkat penuh tanya. Apa yang dilakukan Rasyidan di rumah sakit itu, di Surabaya? Detik selanjutnya ia baru tersadar, bahwa Abizard Group memiliki kantor cabang di sana. Bahkan, Rasyadan pun ada di sana sekarang ini. “Ayok bangun.” Rasyidan membantu Renata untuk bangkit. Renata tidak menolak, tapi ia segera menepis lengan Rasyidan ketika sudah berdiri. Ia pun berjalan lebih dulu tanpa sepatah kata, atau setidaknya ucapan terima kasih karena pria itu telah membantunya. Meski begitu, Rasyidan tetap membuntutinya, mencoba untuk mensejajarkan langkah. “Ada masalah? Ngapain kamu di sini? Ada yang sakit?” cecar Rasyidan bertubi-tubi. “Ibu Renata, anak Ibu nangis terus.” Seorang perawat melaporkan. Renata mengangguk lemah, meninggalkan Rasyidan yang tak berniat untuk terus mengikutinya. Reaksi Renata tak mengenakan hati, bagaimana Rasyidan bisa terus mengganggunya? Mungkin wanita itu sedang tak ingin bicara dan membutuhkan waktu sendirian, bukan? Saat memasuki ruangan, ternyata ada dua orang perawat wanita yang menemani Radela. Tampaknya mereka juga terus membujuk gadis kecil itu untuk berhenti menangis. Renata merasa bersyukur, tidak adanya Arumi, masih ada orang-orang baik seperti mereka. “Sayang.” Renata mengecup kening Radela berulang kali, senang melihatnya sudah tersadar pasca operasi. “Mama ke mana aja?” Radela bertanya lemah, bahkan hampir tak terdengar. “Mama di sini, Dela.” Renata memaksakan senyumnya meski air mata masih saja sesekali menetes. “Terima kasih sudah jagain anak saya,” ucapnya pada dua perawat. “Sama-sama, Bu.” Kedua perawat itu mengangguk sopan. Mereka tidak langsung pergi, melainkan melakukan pemeriksaan alat-alat yang digunakan Radela. “Mama capek ya cari uang buat Dela?” Radela tampak menyesali sesuatu yang tak seharusnya ia sesali. “Sayang, nanti Mama minta seseorang buat temani kamu, ya? Nanti malam Mama ada kerjaan, dan Mama gak bisa libur. Cuma semalam ini, Sayang, Mama janji.” Renata sengaja mengalihkan pembahasan, meminta izin untuk pergi nanti malam, sekaligus ingin putrinya tenang karena akan tetap ditemani seseorang. “Kalau Ibu gak keberatan, biar saya aja yang jagain Radela. Kebetulan besok saya libur, jadi nanti malam bisa jaga,” kata salah satu perawat, menawarkan diri dengan tulus. “Serius?” Renata menatap tak percaya. “Iya, Bu. Tapi paling cuma saya aja, teman saya mau pulang.” “Nggak keberatan?” Renata ingin memastikan sekali lagi. “Nggak, Bu.” Lagi-lagi perawat itu tersenyum lembut, meyakinkan Renata. Renata berpikir sejenak. Apa perawat muda itu menawarkan diri sebagai bentuk 'bekerja' yang artinya Renata harus membayarnya, atau apa? Kalaupun Renata memberi sejumlah uang, ia takut nominalnya dianggap kecil dan membuatnya merasa tak enak. Namun, untuk menolak pun rasanya tak mungkin, Renata memang butuh seseorang untuk menjaga Radela. Tadinya ia akan meminta bantuan tetangganya, tapi tak apa, Renata akan memberikan uang pada perawat itu nanti. Perawat lebih mengerti caranya menangani pasien kalau-kalau Radela mengalami masalah. “Terima kasih. Saya cuma pergi beberapa jam aja, kok.” Renata mengiyakan. “Baik, Bu. Sekalian nanti saya bilang ke satpam depan, biar izinin Ibu ke sini lagi malam-malam. Kami permisi.” Perawat kembali mengangguk sopan, lalu pergi bersama temannya. “Sayang, kamu dengar, 'kan? Ibu Perawat mau temani kamu selama Mama kerja nanti. Mama bangga sama kamu, karena kamu begitu disayang banyak orang baru.” Renata tersenyum bangga, memuji sang putri yang dengan mudahnya meluluhkan hati seseorang. Namun, senyuman ibunya tak kunjung membuat Radela merasa terhibur. Ia malah menatap saksama dengan sendu. “Dela gak mau di sini, Ma, Dela gak mau Mama capek cari uang buat Dela,” ucapnya lemah. “Mama gak capek, asal Dela sembuh, ya.” Renata menggeleng tegas, memberikan senyuman terbaiknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN