Menjadi 'Mainan'

1209 Kata
Hari sudah menjelang malam, waktunya Renata untuk meninggalkan Radela di rumah sakit. Supir Gibran yang sejak tadi menunggu, segera mengantarkannya ke butik pilihan majikannya. Ternyata Gibran sudah menghubungi butik tersebut, meminta pihak butik untuk mempercantik Renata. Mulai dari make up, hair style, gaun, dll, Gibran sendiri yang memilihnya. Renata tak bersemangat, tubuhnya benar-benar dirasa lemah. Dress yang dipilih Gibran sangat sexy, mempertontonkan bagian paha dan dadanya. Ingin sekali menolak, tapi apa daya, Renata merasa tak memiliki wewenang untuk sekadar menawar pakaian yang akan dipakainya. Inilah Renata, wanita yang jarang berdandan dan sekalinya berdandan bisa memikat hati siapa pun. Pria sudah pasti akan tertarik, sedangkan wanita akan merasa iri. Penampilannya setelah dirias tidak jauh dari artis-artis yang berjalan di karpet merah, sangat cantik dan nyaris sempurna. Dress yang dipakainya begitu ketat, membentuk indah tubuhnya yang ideal. Supir Gibran lalu membawa Renata ke sebuah tempat. Entah tempat apa, Renata malas bertanya. Hotel? Seharusnya ia tak perlu dirias sedemikian rupa seperti akan menghadiri sebuah pesta saja. Padahal, ia sudah berniat tak akan lama, hanya melakukan 'pekerjaan' yang tak pernah dikerjakannya. Mobil memasuki pekarangan gedung hotel bintang lima. Tempatnya sangat ramai, seperti sedang ada acara di dalam sana. Ternyata benar, Gibran meminta Renata untuk datang ke sebuah pesta. Entah pesta apa, Renata hanya mengikuti langkah supir Gibran yang berjalan di depannya tanpa bertanya. Kedatangan Renata telah mencuri banyak perhatian tamu-tamu yang datang. Renata tidak senang, ia malah ingin bersembunyi dan menangis sekencangnya. Tatapan-tatapan lapar dari pria-pria di sana terus menyerangnya secara bertubi, terutama saat melirik ke arah bagian tubuhnya yang terbuka. “Sayang, akhirnya kamu datang juga.” Gibran tersenyum sumringah, bangkit dari duduknya hanya untuk menyapa kedatangan Renata. “Wah, sudah baru lagi aja.” Pria A yang berada di meja yang sama bersama Gibran menggeleng takjub, tak menyangka wanita cantik yang baru saja datang adalah 'mainannya' seorang Gibran. “Kalau gak gitu, bukan Gibran namanya.” Pria B menyahuti, antara memuji juga iri. “Hallo, cantik.” Pria C langsung mengulurkan tangan sembari mengedipkan sebelah matanya. Tempat macam apa ini? Kelihatannya acara formal, tapi hampir semua tamu berjenis kelamin laki-laki. Ini bukan acara formal, tapi seperti sebuah bar. Bedanya, di sana tidak ada w*************a, tidak ada musik dj, dan tidak ada yang berjoget ria. Para tamu yang hadir pun tampak seperti kalangan atas, tapi sikapnya sungguh memuakkan. Renata hanya bisa diam seolah lupa caranya berekspresi, tak tahu harus menyikapinya seperti apa. Demi apa pun, ia tak ingin lama-lama di sana. Tujuannya hanya untuk menyerahkan sesuatu miliknya yang berharga untuk beberapa jam, hanya itu. Namun, bukan berarti ia sudah mendapat hinaan sebelum melakukannya. “Namanya dong namanya. Masa gak mau kenalan.” Pria C menggoda saat Renata membalas uluran tangannya. “Renata.” Renata memperkenalkan diri dengan nada malas. “Siapa?” Pria B menyosongkan telinganya, mengejek suara Renata yang tak jelas. “Renata.” Renata meninggikan suaranya, tak peduli semua orang tengah memperhatikannya saat ini. “Cantik, persis orangnya.” Pria C kembali mengedipkan sebelah matanya, tersenyum sungging. “Kartu nama saya. Telepon saja kalau lagi butuh bantuan.” Pria C melemparkan kartu namanya ke hadapan Renata. “Kita duduk dulu di sini sebelum bersenang-senang.” Gibran tak mempermasalahkan tindakan teman-temannya, malah dengan santainya meminta Renata untuk duduk. “Saya ke toilet sebentar.” Renata melangkah pergi tanpa menunggu jawaban. Kepalanya terus menunduk sepanjang langkahnya yang entah akan ke mana. Tangannya mengepal kuat, ingin sekali menghukum dirinya yang sebenarnya tak bersalah apa pun. Bukan malu lagi yang dirasanya, tapi sakit di hatinya begitu dalam dari waktu ke waktu. Hanya malam ini, Renata berjanji pada dirinya sendiri. Demi kesembuhan sang buah hati, apa pun akan ia lakukan, hinaan serta cacian akan ia telan bulat-bulat. Memangnya apalagi yang bisa ia lakukan selain bersabar? Pura-pura tuli adalah jalan terbaik, ia harus bisa bertahan. “Oh, jadi kamu punya kerjaan sampingan? Tahu begitu, saya sangat bersyukur kamu berhenti mengajar anak-anak.” Renata menghentikan langkahnya. Ketika mengangkat wajahnya, ia melihat Rasyadan sedang berjalan, hendak berpapasan. Tidak ada siapa pun lagi di sana kecuali mereka berdua, tidak ada Anjar ataupun orang lain, tidak mungkin pria itu bicara sendiri, bukan? Kedua telinganya tidak terdapat earphones, tangannya juga tidak sedang melakukan panggilan. “Anda bicara kepada saya, Pak Rasyadan Abizard?” Renata menyinggung dengan berani. Rasyadan berbalik. Jaraknya hanya empat langkah dari Renata. Seperti biasa, wajahnya memang tak pernah berubah, tetap datar bagai manekin di sebuah toko. “Kasihan anak kamu,” ucapnya pelan. “Apa maksud Anda?” Renata merasa tak terima putrinya terbawa-bawa. “Apalagi? Dia tumbuh dengan uang haram.” Rasyadan mencibir secara terang-terangan. “Anak saya tumbuh baik, Pak. Jangan khawatir soal itu.” Renata ingin membuktikan sesuatu, bahwa dirinya tidak sekotor itu. Namun, apa yang harus ia buktikan? “Pekerjaan kamu jelas haram. Saya harap, karma buruk gak menimpa anak kamu.” Rasyadan tampak acuh tak acuh ketika mengatakan itu. “Jangan bicara tentang karma buruk, Pak.” Renata makin terpancing emosi. “Lupakan. Nikmati malam ini, Renata.” Rasyadan lalu pergi. Renata menatap punggung kekar Rasyadan yang terus menjauh hingga menghilang dari jangkauannya. Senyum pilu ia tampilkan di sudut bibirnya, tampak sangat menyedihkan. Andai pria itu tahu, apa yang sedang dilakukan Renata sekarang ini justru demi anaknya sendiri, anak perempuannya yang tak ia ketahui. Tunggu! Apa yang dilakukan Rasyadan di pesta itu? Tidak, bukan Rasyadan yang menggelar pesta tersebut, tapi salah satu petinggi kantor cabang dalam rangka ulang tahun. Kedatangannya bersama Rasyidan ke Surabaya bukan hanya ingin menghadiri pesta, tapi karena memang ada rapat penting dan urusan lainnya. Di tempat lain, Gibran meninggalkan mejanya untuk mencari keberadaan Renata. Wanita itu tak juga menjawab panggilan telepon, hingga ia panik sendiri karena ingin menyampaikan sesuatu. Ia baru saja mendapat panggilan untuk terbang ke Bali sesegera mungkin. Artinya, rencananya untuk menghabiskan malam bersama Renata gagal. “Renata, saya harus pergi. Ada hal penting,” kata Gibran buru-buru, lalu berbalik untuk pergi. “Pak, maksudnya gimana?” Renata meminta penjelasan, mengekori langkah Gibran. Hatinya langsung tak enak, tak tenang, uang dari mana lagi jika bukan dari Gibran? “Cancel aja. Kita atur ulang waktunya nanti.” Gibran memutuskan secara terpaksa. “Apa?” Renata tak percaya. “Pak, tapi—” “Saya gak bisa malam ini, Renata.” Gibran menekankan kata-katanya. Tubuh Renata terkulai lemah mengingat apa saja yang terjadi hari ini. Lihatlah, takdir mempermainkan perasaannya lagi. Pertama datangnya Rasyadan, kedua pengkhianatan Arumi, dan sekarang Gibran yang menghapus harapannya. Renata bisa saja mencari cara lain untuk mendapatkan uang, tapi malam ini pengorbanannya berupa menjadi objek hinaan sangat sia-sia. Mengapa takdir begitu pahit? Mengapa Tuhan memberikan cobaan yang amat besar seperti sekarang ini? Pantaskah ia ingin menyerah? Merelakan Radela dirawat Abizard, sama saja menyerahkan seluruh dunianya. Namun, ia pun tak tahu caranya mengakhiri semua ini. Berada di titik terendah, dimana air mata pun sulit untuk terurai lagi. Dalam pikirannya hanya ada jalan terakhir, bunuh diri! Ya, rasanya Renata tak kuat dengan semua ini. Tapi, tidak, ia harus bisa mengendalikan dirinya. Ingat, usiamu masih muda, Renata. Perjalanan hidupmu masih panjang. Renata terus bicara dalam hatinya. Tidak ada yang tahu apa rencana takdir. Mungkin besok ada sebuah keajaiban, atau mungkin malapetaka baru. Apa pun itu, Renata harus bisa menghadapinya seorang diri, tanpa ada keluarga, teman, atau sekadar kerabat yang mendukungnya. Ini takdirnya, siapa yang bisa menghindari garis takdir?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN