Duduk di samping Radela yang sedang tertidur nyenyak, Renata tak henti memainkan ponselnya, menunggu sesuatu yang ia nanti-nantikan, yaitu hasil pemeriksaan ginjalnya. Tidak, ginjal Renata tidak bermasalah, wanita yang kini dilanda depresi ringan itu hanya tak ingin memikirkan cara lain selain menjual organ tubuhnya.
Pikiran sempit, kalimat itu cocok untuk menilai kondisi Renata saat ini. Uang yang harus dikembalikannya kepada Rasyadan bukan hanya 300 juta, tapi 500 juta, sesuai yang Rasyadan bayarkan untuk membeli jam tangannya kembali. Benar, toko jam tersebut tak ingin rugi atau setidaknya balik modal.
Selain uang itu, Renata juga harus menyiapkan banyak biaya atas perawatan Radela yang entah akan memakan berapa hari dirawat di rumah sakit. Untuk menghitung besaran totalnya saja, Renata tak sanggup. Apa yang bisa dijualnya? Tidak ada aset berharga yang bisa ia gadaikan atau bahkan ia jual.
Usai menunggu hampir 24 jam, akhirnya Renata mendapat panggilan dari dokter yang menangani pemeriksaan ginjalnya. Dana, dokter yang masih terbilang muda itu terus memberikan pertanyaan perihal apa niat Renata memeriksa ginjalnya. Awalnya Renata menjawab asal, sayangnya dokter itu sudah tahu tentang niat Renata yang akan menjual ginjalnya di pasar gelap.
“Renata?” panggil Rasyidan sambil memasuki ruangan dokter. “Wah, kayaknya saya harus pindah planet,” ucapnya terdengar sok akrab, bercanda.
Namun, keadaan saat ini begitu tegang hingga Renata tak ingin menyahuti apa pun. Terlebih, Rasyadan juga ada di sana, datang bersamaan dengan Rasyidan. Sedang apa mereka di sini? Juga, mengapa mereka begitu berani masuk ke dalam ruangan dokter tanpa janji temu atau sekadar mengetuk pintu?
“Kita lanjut bicara nanti saja, ya.” Dana mempersilakan Renata untuk pergi.
“Terima kasih, Dok.” Renata lalu berdiri, kemudian berjalan melewati Rasyadan dan Rasyidan untuk keluar dari ruangan.
Rasyidan merasa tak enak. Sejak kemarin, ia merasa diabaikan dan tidak dihargai. Memangnya apa salah dirinya? Sikap Renata benar-benar seolah tidak mengenalinya. Tidak ada senyuman untuk menyapa, atau sekadar kata permisi saat melewatinya.
“Kenal sama dia?” Dana membuyarkan lamunan Rasyadan dan Rasyidan yang segera duduk di hadapannya.
“Kenapa emang?” Rasyidan balik bertanya.
“Gue 'kan nanya.” Dana mendengkus sebal.
“Dia pernah ngajar Rafa sama Rafi waktu di Jakarta,” ungkap Rasyidan pada akhirnya. “Ngapain dia di sini?” tanyanya penasaran.
“Abis benerin bohlam.” Dana malah tampak kesal. “Ya periksa, lah. Ngapain lagi?”
“Perasaan, yang lagi sakit itu anaknya, deh.” Rasyidan terlihat bingung.
“Anaknya komplikasi, kalo emaknya periksa ginjal.” Dana tak menyangkal bahwa benar putri Renata sedang sakit.
“Dia sakit ginjal maksudnya?” Rasyidan hanya menduga.
“Dia mau jual ginjal,” sahut Dana dengan santainya.
“Apa?!” pekik Rasyidan tak percaya. “Serius?” tanyanya sungguh-sungguh.
“Gue desak sih jawabnya gitu. Cuma gue bujuk aja sebisanya, jangan sampai jual ginjal. Dampaknya itu besar banget, dia gak bakal bisa kerja.” Dana manggut-manggut, bicara apa adanya.
“Kira-kira, kenapa sampai mau jual ginjal?” Rasyidan makin tertarik untuk mencari tahu lebih banyak lagi tentang Renata.
“Dia bilang buat pengobatan anaknya.” Lagi-lagi Dana menjawab sesuai jawaban yang diberikan Renata.
“Mahal banget emang?” Rasyidan merasa prihatin.
“Kurang tahu jelasnya. Tapi yang gue dengar, bisa sampai puluhan juta.” Dana tak yakin, hanya mendengar sekilas dari teman seprofesinya.
“Wah.” Rasyidan manggut-manggut, sedikit mengerti kesulitan yang sedang dihadapi Renata.
Dana adalah putra dari sahabat William Abizard, yaitu Dafa. Tak heran, anak-anak dari kedua sahabat itu menjadi sahabat pula. Hanya saja, Dana tidak tertarik untuk menjadi bagian dari kantor Abizard Group dan lebih tertarik menjadi seorang dokter.
Rasyadan dan Rasyidan yang memang sering berkunjung ke Surabaya, selalu menyempatkan waktu untuk bertemu Dana, pria yang sudah beristri dan jarang sekali berkunjung ke Jakarta. Itu sebabnya, Rasyadan dan Rasyidan sering berada di rumah sakit.
Di dalam ruangan rawat inap, Renata terus membaca hasil pemeriksaan ginjalnya. Benar kata Dana, banyak dampak yang akan dialaminya jika saja menghilangkan satu ginjal, dan yang paling mengerikan adalah Renata tidak akan memiliki banyak tenaga untuk bekerja.
Namun, dengan cara apalagi Renata menghasilkan uang? Sebentar, jika tidak salah, kenalannya yang bekerja di pasar gelap juga menerima darah, dan harganya pun terbilang tinggi. Renata akan melakukan apa pun untuk kesembuhan Radela, tapi tidak dengan cara menjual tubuhnya.
Atau, bagaimana jika Renata memberitahu yang sebenarnya pada Rasyadan? Radela sudah pasti akan terawat dengan sangat baik, mendapatkan kasih sayang dari banyak keluarga Abizard, bukan? Pikiran Renata benar-benar sangat kacau hingga kepalanya dirasa akan pecah.
“Sayang, kamu mau ketemu Papa?” Renata menopang kepalanya menggunakan satu tangan, sedangkan satu tangannya lagi ia gunakan untuk menyentuh kening Radela seolah sedang merapikan poninya.
“Dela bisa ketemu Papa?” Radela tersenyum riang.
“Dela juga bisa ketemu kakek, nenek, om, dan yang lainnya.” Renata ikut tersenyum, menyembunyikan perih hatinya saat mengatakan itu.
“Kapan, Ma?” Radela tampak tak sabar.
“Secepatnya.” Renata mengangguk berat, kemudian menundukkan kepalanya.
Meski sudah menahannya sebisa mungkin, air matanya tak segan terurai tanpa bisa dicegah. Sengaja menutup mulut menggunakan telapak tangannya, tapi hal itu tak dapat membuat suara tangisannya reda.
Wajah Radela yang semula ceria karena akan bertemu ayahnya, sekarang berubah menjadi kebingungan. Apa yang terjadi hingga ibunya menangis? Ia merasa ucapan sang ibu memiliki makna yang tidak ia mengerti, tapi apa?
“Kenapa Mama nangis?” Radela berusaha bangkit dari baringnya.
Renata mengangkat kepalanya dengan cepat, memperlihatkan wajahnya yang memerah dan basah. Ia pun berdiri, lalu memeluk Radela cukup erat. “Maafin Mama, ya. Mama gak bisa bahagian Dela, tapi Papa bisa. Papa pasti beliin apa pun yang Dela mau. Dela juga gak bakal kesepian lagi di sana. Maafin Mama suka ninggalin Dela kerja, maafin Mama, Sayang.”
Renata sudah menyerah untuk memperjuangkan putri semata wayangnya. Sepertinya, mengungkapkan siapa Radela adalah pilihan terakhir. Tidak ada cara lain, pikirannya dirasa buntu. Mencari pekerjaan bukanlah hal yang mudah, memerlukan proses hingga berbulan-bulan.
Menjual organ tubuh? Lalu, bagaimana jika ia menjadi sakit-sakitan? Siapa yang akan merawatnya sedangkan Arumi tidak ada? Siapa yang akan bekerja untuk menyambung hidup? Kalaupun Renata menjual beberapa kantong darahnya, Radela akan tetap menuntut pertemuan bersama ayahnya.
Di tempat lain
Rasyadan memasuki rumah berlantai dua yang tidak terlalu luas ataupun terlalu sempit, cukup nyaman untuknya tempati. Surabaya sudah menjadi kota keduanya, dan ia tak ingin keluar masuk hotel. Oleh karena itu, ia sengaja membeli rumah di sana.
Duduk seorang diri, Rasyadan menyandarkan tubuhnya ke sofa saat matanya terpejam. Entah apa alasannya, ucapan Dana tentang Renata begitu mengganggu pikirannya. Tidak, bukan Renata-nya, tapi apa yang telah wanita itu lakukan akhir-akhir ini.
Pertama mencuri jam tangan, kedua berniat menjual tubuhnya, kali ini ingin menjual organ dalamnya? Yang menarik hatinya adalah alasan Renata melakukan itu, yaitu untuk pengobatan anaknya? Memangnya 300 juta hasil penjualan jam tangan tidak cukup? Di mana mantan suaminya? Pria tak bertanggung jawab! Rasyadan terus berbicara dalam hatinya.
Sebagai seorang orang tua, Rasyadan tentu mengerti perasaan Renata. Ia pun memiliki dua anak yang masih kecil, dan tak pernah satu hari pun tanpa mengkhawatirkan mereka. Wajar saja Renata seperti orang gila, melakukan banyak cara untuk mendapatkan uang.
“Bu, ada panggilan untuk Ibu. Mari ikut saya,” kata salah satu perawat, meminta Renata untuk ikut ke meja receptionist.
Penasaran, Renata mengikutinya saja. Perawat itu lalu mempersilakannya untuk menjawab panggilan yang sudah terhubung.
“Dari siapa?” Renata ingin tahu.
“Pak Rasyadan,” jawab perawat itu, lalu duduk di kursinya.
Sempat merasa takut tanpa sebab, akan tetapi Renata tetap mengambil gagang telepon dan menempelkan pada satu telinganya.
“Ya?”
“Saya bebaskan kamu. Gak perlu bayar uang yang sudah kamu terima atas penjualan jam tangan saya. Saya harap, kamu gak akan pernah curi apa pun lagi di rumah orang. Satu lagi, cari pekerjaan halal, kasihan anakmu.”
“Pak Rasya gak perlu khawatir, saya bisa bayar. Saya usahakan besok atau lusa uangnya sudah ada.”
“Gak perlu. Saya sudah bebaskan kamu.”
“Pak Rasya?”
“Ada apa lagi? Ucapan saya kurang jelas?”
“Saya ... anak saya ... maksudnya—”
“Kamu mau pinjam uang?”
“Bukan, Pak. Lupakan.”
Renata buru-buru menekan tombol panggilan berakhir, lalu meletakkan teleponnya begitu saja, tidak pada tempatnya. Lihatnya dirinya, begitu kacau saat berbicara bersama Rasyadan. Besar egonya untuk tetap membayar, padahal ia sendiri menyerah untuk mencari uang.
Pembebasan dari Rasyadan telah membuat Renata mengurungkan niatnya untuk memberitahu yang sebenarnya. Pria itu tidak akan menuntut uangnya dikembalikan, bukan? Entah dengan kata-kata apa Renata mengekspresikan hatinya yang senang. Padahal, hampir saja ia mengungkapkan tentang Radela jika saja otaknya tidak fokus.
Badai telah berlalu, tapi tidak semuanya. Ayah dari ketiga anaknya memang sudah membebaskannya, tapi tanggungan rumah sakit tetap harus Renata bayar, sesuai dengan perawatan yang sudah Radela terima. Artinya, Renata akan tetap mencari cara agar mendapatkan uang secepatnya.
***
Tujuh hari sudah Radela dirawat di rumah sakit. Kondisinya kian membaik dari hari ke hari. Gadis kecil itu sudah bisa berbicara dengan jelas tanpa tertahan-tahan akibat sesak, ia juga sudah mulai aktif meski tetap saja aktivitasnya dibatasi. Napsu makannya pun sedang baik, membuat tubuhnya sedikit berisi.
Ada sesuatu yang membuat Renata merasa aneh, yaitu tidak adanya penagihan biaya rawat inap, pemeriksaan, obat, ataupun tindakan medis lainnya. Namun, ia juga enggan untuk sekadar bertanya, berapa totalan biaya yang harus ia siapkan. Sayangnya, hingga saat ini Renata belum mengantongi uang yang cukup.
Sudah banyak yang Renata hubungi untuk dimintai pertolongan, tapi tak ada satu pun yang mau membantu. Hanya Gibran yang pernah memberikan bantuan berupa uang sebesar dua juta. Jangan harap uang itu cukup untuk biaya rumah sakit, tapi Renata tak berani untuk meminta lebih, takut pria itu akan menuntut sesuatu.
“Bu, kebetulan rumah sakit kami sedang ada program gratis untuk perawatan anak Ibu. Kami hanya perlu tanda tangan Ibu di sini.” Seorang perawat menyodorkan dokumen, menunjuk bagian yang harus Renata tandatangani.
“Gratis?” Renata menatap tak percaya bahkan terasa mimpi.
“Ya, Ibu.” Perawat itu mengangguk sopan.
“Semuanya?” Renata ingin memastikan bahwa pendengarannya baik-baik saja.
“Benar, Ibu. Bahkan obat untuk pasien pun, akan kami bantu secara gratis.” Perawat meyakinkan dengan sungguh-sungguh.
Terdengar tak masuk akal bahkan mustahil perihal program gratis yang dikatakan perawat. Namun, bohong jika Renata tidak merasa senang. Entah ini benar atau hanya mimpi, ia langsung menandatangani dokumen tersebut tanpa membacanya terlebih dahulu seakan-akan takut perawat itu menarik ucapannya kembali.
“Kapan anak saya bisa pulang?” tanya Renata seraya menutup dokumen, lalu menggesernya ke depan.
“Besok sudah bisa pulang, Bu. Untuk aktivitasnya, tolong dijaga dengan baik, ya. Pasien harus banyak istirahat untuk pemulihan. Jangan lupa, pasien harus check up setidaknya dua minggu sekali untuk pemeriksaan.”
“Baik.” Renata mengangguk paham.
Tepat keesokan harinya, Radela mendapat pemeriksaan untuk yang terakhir kalinya sebelum pulang. Tidak ada siapa pun yang membantu, Renata mengemasi barang-barangnya sendirian. Usai semuanya selesai, ia menempatkan Radela di sebuah kursi tunggu seorang diri.
Setelah itu, Renata menemui beberapa perawat yang sering dimintai pertolongan untuk menjaga Radela saat ia harus pulang ke kontrakannya. Mereka sangat baik tanpa pamrih, selalu siap jika Renata membutuhkan bantuan, bagaimana Renata bisa pulang seenaknya tanpa berpamitan?
Di kursi tunggu, Radela memainkan boneka kesayangannya sambil berongkang kaki. Pandangannya tercuri ke arah seorang pria yang sedang berjalan. Pria itu tidak sendirian, melainkan bersama dua pria lainnya. Pakaiannya masih khas perkantoran, terlihat sangat berwibawa dengan tingginya yang samapai serta tegap.
Radela sangat ingat wajah itu meski tidak pernah bertemu secara langsung. Bagaimana tidak? Hampir setiap hari ia memutar sebuah video yang memperlihatkan wajah pria itu, wajah Rasyadan Abizard. Namun, kali ini Rasyidan tidak ada bersamanya karena sudah kembali ke Jakarta.
“Papa ....”
Suara Radela yang amat lembut berhasil menghentikan langkah Rasyadan. Alisnya mengkerut ketika mata elangnya melisik saksama wajah Radela, wajah yang menurutnya tidak begitu asing. Yang jelas, dari pertemuan pertama ini ia sudah yakin bahwa gadis itu tidak sepenuhnya darah Indonesia.
“Papa Rafa Rafi?” Radela ingin memastikan bahwa pria di hadapannya benar ayah Rafa dan Rafi.
Belum sempat menjawab apalagi berinteraksi, Renata datang dengan langkah tergesa-gesa. Hatinya sudah sangat tak karuan melihat sosok Rasyadan bersama putrinya. Sementara Rasyadan, hanya diam tanpa melakukan apa pun, memperhatikan pergerakan Renata yang dirasa tidak wajar.
“Sayang, kita pulang.” Renata segera menyambar tangan Radela dan membawanya untuk menjauh.
“Mama, itu Papa Rafa Rafi, 'kan?” Radela menunjuk Rasyadan saat kepalanya menoleh ke belakang.
“Bukan!” tandas Renata tegas.
“Mama, boneka Dela di sana.” Radela menahan tubuhnya, ingin kembali ke bangku tadi untuk mengambil bonekanya.
Saat memutar setengah tubuhnya, Renata melihat Rasyadan masih ada di sana, memperhatikannya bagai sedang mencurigai sesuatu. Jelas saja, Renata tak sudi untuk kembali meski hanya beberapa langkah.
“Nanti Mama beli yang baru.” Renata kembali memaksa Radela untuk ikut melangkah.
“Gak mau, Ma, Dela mau boneka Dela.” Radela merengek dan menangis, akan tetapi sang ibu terus membawanya keluar dari bangunan tersebut.
Melirik ke arah bangku yang tadi diduduki Radela, Rasyadan mendapati boneka berukuran sedang. Boneka yang terlihat sudah usang, tapi gadis kecil itu tampak sangat menyayanginya.
Sesuatu kembali mengganggu pikiran Rasyadan, yaitu sikap Renata. Sama seperti yang Rasyidan rasakan kemarin, Rasyadan juga merasa tidak dihargai. Tidak ada kata terima kasih karena ia telah membebaskan hutangnya, atau sekadar sebuah anggukkan tanda mengenalnya.
Satu lagi, mengapa Renata tidak menjawab jujur bahwa Rasyadan memang ayah dari Rafa dan Rafi? Sebaliknya, wanita itu berkata 'tidak' seakan Radela hanya asal bicara. Entah mengapa Rasyadan merasa tak terima, karena kenyataannya ia memang ayah dari Rafa dan Rafi.