Radela yang Malang

1402 Kata

Renata tak sarapan bersama, mana mungkin berani. Seperti biasa, setiap pagi ia akan menghentikan penjual yang lewat depan rumah. Kadang membeli bubur ayam, lontong, nasi kuning, atau yang lainnya. Tak punya hak, itu perasaannya. Jangankan untuk makan, tidur pun ia merasa tak enak. Keberadaannya di rumah Rasyadan tidak lain adalah karena Radela. Namun, bukan berarti ia merasa bebas menikmati fasilitas rumah tersebut. Respons pemilik rumah itu sendiri selalu tak menyenangkan, bagaimana ia merasa nyaman? Demi Radela, ia rela mengesampingkan perasaannya. Pukul setengah sepuluh, Renata mengantarkan Radela ke sekolahnya. Rasyadan sudah berangkat ke kantor, sedangkan asisten rumah sedang pergi ke pasar. Tak apa, sang asisten akan segera datang dan menunggu selesainya Radela belajar, sesuai per

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN