“Mama.” Radela merengek seperti ingin menangis. Renata terkesiap, takut Rasyadan atau kedua putranya terbangun. Tanpa berpikir panjang, ia kembali mendekati ranjang sembari meraba-raba arah depannya. Perasaannya makin tak karuan, membayangkan posisi Radela yang tepat di samping sang ayah. “Mama.” Radela kembali merengek. “Sttt, Mama di sini, Mama di sini.” Renata berbisik sangat pelan, mengusap lengan putrinya dalam keadaan panik. “Kenapa gelap?” Radela celingukan, belum sadar sedang di mana dan bersama siapa. “Dela tidur lagi di samping Papa, ya?” Renata mengingatkan, bahwa saat ini gadis kecil itu sedang bersama ayahnya. “Hati-hati, nanti Papa bangun,” ucapnya sambil merebahkan kembali tubuh Radela. “Mama tidur di sini,” pinta Radela, tak ingin ibunya pergi. “Kasurnya gak muat, S

