“Mama jangan bohong.” Radela merengek tak yakin, takut ibunya berbohong. Renata tak menyahuti lagi, sibuk merias wajahnya tipis-tipis. Radela ada di sampingnya, memperhatikan pergerakannya. Sudah kebiasaan gadis itu yang akan anteng melihat ibunya merias diri, terkadang ia ikut-ikutan hingga membuat meja rias berantakan. “Mama, Dela mau sarapannya disuapi sama Mama,” pinta Radela terdengar manja. “Sama Bibi aja. Mama mau berangkat.” Renata beralibi, padahal ia tak mau duduk satu meja bersama Rasyadan. “Mama mau kerja?” tanya Radela penasaran, tak tahu bahwa ibunya telah dipecat oleh ayahnya sendiri. “Iya.” Renata mengangguk pelan, tak fokus pada pertanyaan putrinya. Wajah Radela langsung berubah sedih, dan Renata melihatnya dari cermin. “Kenapa?” tanyanya sambil menoleh. “Sayang

