“Papa.” Radela menatap tak percaya melihat kedatangan ayahnya. “Sayangnya Papa.” Rasyadan tersenyum lebar, menciumi kedua pipi dan puncak kepala Radela dengan sayang. “Masih belum makan?” tanyanya kemudian. “Mama belum pulang.” Radela menggeleng. “Bi, tolong hangatkan makanannya,” titah Rasyadan yang diangguki asisten rumah dengan segera. Rasyadan membawa Radela ke sofa, sedikit berbincang sambil menunggu asisten rumah selesai menghangatkan makanan. Tadinya ia ingin mengajak putrinya makan di luar, karena ia pun belum makan. Namun, demi menghormati asisten rumah yang sudah susah payah memasak, ia pun memutuskan untuk makan di sana. “Ayo, makan sama Papa.” Rasyadan berdiri dari duduknya ketika asisten rumah selesai mengerjakan perintah. “Dela?” panggilnya kesal. “Papa di sini, loh. Kam

