"Tolong kalian rawat dia, selama saya tidak di sini." himbau lelaki itu kepada mereka agar selalu standby setiap Doris membutuhkan sesuatu. Semua yang ada di sana mengangguk patuh di dalam ruangan yang minim akan pencahayaan.
Zahir sebelumnya memang sengaja menunggu para pekerja di villa tersebut. Menunggu mereka bangun pada jam yang sama seperti biasa, karena lelaki itu mulai terbiasa dengan kegiatan mereka yang memiliki kebiasaan menunaikan ibadah sholat subuh terlebih dahulu sebelum melakukan kegiatan bersih-bersih.
"Ini tuan."
"Terima kasih, bi."
Setelah mendapatkan jaket yang di ambilkan oleh salah satu dari mereka, Zahir pun beranjak dari ruang yang ia sediakan khusus bagi pekerjanya untuk menunaikan ibadah mereka.
"Apa pak Usman sudah mengganti lampu di taman belakang?"
"Sudah tuan." sahut kepala asisten rumah tangga tersebut, "tapi katanya, anda harus membeli beberapa lampu lainnya sendiri."
"Oh gitu, kenapa ya?"
"Anu tuan, soalnya di kota ini belum ada."
"Beli online tidak ada?"
"Kata pak Usman tidak ada tuan."
"Baik, nanti saya akan meminta seseorang mengirimnya dari Cina." ujarnya sambil menarik resleting jaketnya.
"Anda mau kemana tuan?" tanya wanita paruh baya itu.
"Ada keperluan mendadak bi, jadi saya harus segera pergi."
"Apa ada yang perlu kami siapkan selain tadi?"
"Tidak ada bi, cukup rawat dia." pesannya lagi, "minimal sampai demamnya turun."
"Tapi kalo temen anda menanyakan anda, bagaimana kami menjawabnya?"
"Jujur aja nggak papa kok bi." sahut Zahir lembut, "kalian nggak perlu panik, dia itu orang yang baik. Cukup katakan saja apa yang kalian lihat saat saya membawanya pulang, kalo ditanyain sih. Lagi pula dia masih tidur nyenyak kok sekarang, setelah minum obat dari Lala."
"Baik tuan."
Tanpa basa basi lagi, ia menarik koper miliknya keluar dari villa megah itu.
Di hari yang masih gelap gulita, Zahir di buat takjub akan energi yang di miliki oleh para pasukan anak buah utusan keluarga Prasodjo.
Lihat saja sekarang, di depan telah terdapat beberapa anak buah dari mereka masih terjaga, bahkan sudah menunggu Zahir tanpa menunggu aba-aba dari perintahnya.
"Apa kalian tidak butuh tidur?" kekehnya, ia pun masuk ke dalam mobil yang di sediakan lantas melirik ke arah spion depan.
"Jalan om." perintahnya.
Mobil yang ia tumpangi pun melaju meninggalkan perkarangan villa tersebut, saat fajar di udara yang masih begitu dingin bahkan belum tampak seorang pun melakukan aktifitas mereka.
"Apa pesan papa, om?"
"Non Arabela pulang, den."
"Oh..." Zahir menganggukkan kepala paham, "kapan?"
"Sudah satu minggu." sahut lelaki paruh baya tersebut, "dan beliau meminta anda membaca email-"
"Saya udah tau, om Agus..." sahut Zahir menyela ucapannya, "memang sengaja tidak saya baca, hehe."
Agus pun menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat sikap Zahir yang nakal karena mengabaikan pesan bos besar mereka, "anda membuat saya repot saja."
Zahir tergelak, ia meraih sebuah laptop dan memangkunya, "ni.. Saya baca sekarang, oke..." ujarnya.
Cukup hening, di saat dirinya membaca beberapa email penting dari perusahan yang dikirim langsung oleh Bimo. Memang pada dasarnya dirinya sudah ditunjuk sebagai pemimpin di perusahaan itu, maka sudah dipastikan Bimo akan murka melihat kinerja Zahir yang telah teledor akan beberapa hal mengenai dokumen yang secara asal ia tanda tangani tanpa mengeceknya terlebih dahulu.
"Ngomong-ngomong, sejak kapan den Jahil punya villa?"
"Baru setahun." sahutnya tanpa mengalihkan matanya dari layar laptopnya.
"Hebat ya, bos kecilnya om." sanjung Agus, "masih muda sudah sukses saja."
"Sukses itu kalo usaha sendiri om, ini mah kagak."
Sesekali Zahir mengerutkan alis, meskipun otaknya terfokus akan hal yang ada di layar itu namun telinganya masih berfungsi dengan baik saat seseorang ingin bercakap dengannya. Zahir termasuk salah satu manusia cerdas dan pandai sepanjang dirinya sekolah lantas meniti karir.
"Kok gitu?"
"Ya om tau sendiri lah." Zahir menutup kembali laptopnya lantas menyimpannya ke dalam tas berwarna biru gelap, "dari popa, opa sampai papa, mereka pengusaha yang merintis dan sukses."
"Iya."
"Itu artinya kita ini bukan sukses om, tapi hanya pewaris yang harus menjalankan usaha mereka agar tetap stabil sampai keturunan selanjutnya."
Agus tersenyum, ada rasa bangga melihat seorang anak laki-laki yang dulu tumbuh hingga menjadi besar, rupanya Zahir sekarang sudah tumbuh menjadi pria dewasa.
"Tak semua pewaris bisa sukses seperti keturunan bos Bimo den." ujar Agus lembut, "apalagi bisnis keluarga kalian bukan main."
Semua yang dikatakan Agus memang benar adanya. Menurut pengalaman pribadinya sebagai seorang ajudan serta asisten pribadi seorang pengusaha besar memang tentu Agus bisa mengamati segala hal mengenai dunia bisnis serta kerasnya kehidupan.
"Kalian sudah buat kami bangga den, terutama saya."
Zahir terkekeh pelan, "makasih om, tapi om juga keren kok." ujarnya, "anak-anak om bahkan lebih membanggakan, semua jadi abdi negara malah." sanjungnya begitu tulus.
"Om..."
"Iya?"
"Apa terjadi sesuatu selama saya di Jogja?"
"Di rumah atau di kantor?'
"Dua-duanya."
"Sepertinya nggak ada, den." ujar Agus, "soalnya kalo ada yang aneh apalagi berhubungan dengan kalian, pasti ibu anda sudah heboh sendiri."
"Kalo papa?"
"Sejauh ini beliau tidak menunjukan hal yang menonjol."
"Yakin om?"
Agus mengangguk, "aman den, tidak ada rahasia bila den Jahil yang nanya, itukan janji kita."
Ucapan Agus mungkin benar, namun Zahir merasa ada sesuatu yang ganjal yang tidak ia ketahui. Perasaannya mulai bimbang, padahal saat ini yang ia tunggu-tunggu, yaitu kembali ke Jakarta sesuai perintah Bimo.
Entah melewati belahan dunia mana, pemandangan begitu indah nan asri. Mobil itu melaju membelah jalanan tanpa hambatan, menyisakan Agus yang masih terjaga menyetir tanpa lagi mengajak Zahir berbincang. Anak ke empat dari pasangan Bimo dan Riana sepertinya kelelahan, ia tampak tidur terlelap bahkan terdengar dengkuran halus meskipun posisi Zahir duduk tak nyaman.
Drrtt...
Agus memasang airpods pada telinga kanannya, "pagi bos." sapanya.
"....."
"Kurang lebih dua jam lagi sampai bos."
"....."
"Baik, saya mengerti."
Tut... Tut... Tut...
Telepon itu terputus secara sepihak seperti biasa, meski terkesan tak sopan namun bagi Agus bukanlah hal yang memberatkannya. Ia menambah kecepatan laju mobil yang di kendarainya, langsung menuju ke arah tempat sesuai yang di utuskan oleh bos besar mereka.
Dan di belahan bumi lain diwaktu yang sama, Doris mencoba menghalau cahaya yang masuk dari sela-sela jendela, dirinya merasa terganggu dengan menarik selimut tebal berwarna putih hingga menutupi sampai kepalanya.
"Harum sekali." gumamnya, tapi ini bukan aroma deterjen yang biasa ia pakai untuk spreinya.
Doris bangkit dan duduk, matanya menyipit menyesuaikan cahaya yang masuk ke penglihatannya.
"Hoam..."
Tok... Tok... Tok...
"Masuk mbah." ujarnya, Doris menggaruk kepalanya mencoba mengumpulkan sisa-sisa nyawanya yang masih berhamburan.
"Pagi non, sarapan sudah siap."
"Kalian siapa?" Doris bingung, kenapa di ambang pintu terdapat beberapa wanita dengan berpakaian yang sama berdiri berbaris menghadap ke arahnya.
"Saya Kasmuni, dia Mulyani dan dia Inaya." jelas satu di antaranya.
"Mbah uti mana?"
"Mbah uti?"
Doris mengangguk, ia menyibak selimutnya dan duduk di tepi ranjang.
"Buruan tutup pintunya Mul, nanti ada yang liat." pekik lirih Kasmuni.
"Non mau mandi?"
"Iya."
"Baiklah."
Doris menatap penuh tanya kepada ketiga wanita tadi, mereka sibuk mengambil sesuatu dan satu di antaranya menghilang di balik pintu berwarna putih.
"Mari non."
"Loh, apa maksudnya?"
"Mari mandi non."
"Loh..." Doris panik, "kalian mau ngapain?"
"Bantuin anda mandi."
"Tidak, saya bisa sendiri." Doris sontak bangkit dari duduknya, ia pun melangkah ke arah yang tidak ketahui, "ngomong-ngomong kamar mandi di mana ya?" cicitnya.
Ketiga pekerja wanita itu menunjuk ke samping kiri Doris yang membuat Doris mengangguk dan melesat cepat.
"Ini dimana?!" gumamnya lirih, "kok bisa aku di sini?"
"Aaaarrgghh...!!!" serunya terkejut melihat cermin satu badan di balik pintu kamar mandi. Bukan karena cerminnya namun tubuhnya yang tidak mengenakan pakaian atau telanjang bulat.
"Apa itu." pekiknya.
Tok... Tok...
Non... Anda tidak apa-apa?
Terdengar ketiga wanita yang tadi panik akibat dirinya teriak di dalam.
"Saya nggak papa." serunya dari balik pintu.
Doria meringis menatap tubuhnya sendiri, "apa yang terjadi? Kenapa aku?" gumamnya sendiri.
Non yakin bisa mandi sendiri, apa perlu kami membantu anda?
Gila ini gila, Doris tak tahu apa yang sudah terjadi padanya. Ia menarik rambutnya begitu frustasi dan akhirnya menyalakan kran air dari shower lantas memutuskan mandi karena jengkel sebelum para pekerja tadi terus menerus mengkhawatirkan dirinya.
"Ah..." Doris sontak menarik jarinya keluar, sepertinya terjadi iritasi pada organ intimnya. Karena ia merasakan sengatan panas saat dirinya mencoba menggosok dan membersihkan miliknya sesuai kebiasaannya saat mandi.
"Perih..." lirihnya mendesis, ia akhirnya menyerah, semakin digosok tampaknya semakin lecet saja permukaan kulit itu.
Mandi tak perlu waktu lama, meskipun air hangat sangat membuainya. Doris pun mengambil salah satu bathrobe yang tersedia di laci, membalutnya pada tubuh polosnya lantas melangkah pelan keluar kamar mandi sedikit tertatih efek rasa perih mengganjal di pusat intimnya.
"Non..."
"Kok kalian masih di sini?" tanya Doris heran, ia sesekali meringis sebab sengatan panas itu sangat mengganggunya.
"Maaf mbak, apa kalian ada salep luka untuk iritasi?" tanya Doris ragu, "sepertinya anu saya lecet, karena kekencengan saat bersihin tadi, hehe." Doris salah tingkah sendiri.
"Nggak ada non, apa perlu saya minta ke dokter Lala agar beliau kesini buat memeriksa anda?"
"Siapa dokter Lala?"
"Dokter keluarga majikan kami, non."
Doris sontak mengibaskan tanganya, "nggak usah mbak, nggak usah." tolaknya, "nanti juga sembuh sendiri, lagian nggak sakit kok cuma perih, jadi nggak perlu panggil dokter."
"Ini baju anda non."
Doris mengerutkan alis, ia menerima paperbag warna hitam tersebut, "dari siapa mbak?"
"Tuan Zahir."
"Siapa?"
"Tuan Zahir non, beliau semalam membawa anda pulang. Anda demam tinggi dan harus memanggil dokter untuk memeriksa kondisi badan non." jelas Kasmuni segera, sebab dirinya tak tahu harus bagaimana mengatakan hal lainnya.
Doris mendeham, "makasih mbak."
"Panggil bibi saja."
"Makasih bi." sahut Doris mengerti, ia segera mengganti pakaiannya tanpa mengatakan hal lainnya meski otaknya terdapat ribuan pertanyaan yang ingin terlontar.