Damn it

1486 Kata
Mobil BMW berwarna hitam metalic, berhenti di sebuah mansion yang sangat megah. Agus melirik ke arah spion depan, tampak Zahir masih terlelap dengan duduk yang sedikit merosot. "Den... Sudah sampai." Lenguhan kecil terdengar, Zahir menegakan punggungnya lantas meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku, "makasih om." Ia turun terlebih dahulu, membiarkan Agus serta pekerja lainnya menurunkan barang-barang miliknya. Kakinya yang jenjang melangkah masuk yang di sambut beberapa pekerja asisten rumah tangga seperti biasa. Tunggu... Kenapa Agus mengantar dirinya pulang ke rumah orangtuanya? Lelaki itu pun putar balik yang kebetulan Agus beserta bibi Imah masuk ke dalam rumah, "om... Kok malah di rumah papa?" bisiknya. "Iya den." "Bukan ke kantor?" Agus menggelengkan kepala, tangannya menengadah ke arah samping, "silakan den, bos Bimo sudah menunggu." Ada perasaan ragu saat Agus memberi isyarat agar Zahir melangkah terlebih dahulu, apalagi Agus tidak berani menatap ke arahnya yang terus saja menunduk sedari tadi. Sudahlah, Zahir pun melangkah sesuai arahan Agus. Rupanya dirinya digiring ke arah taman belakang yang tampak Riana serta Bimo sedang duduk berdua begitu mesra bahkan sesekali Bimo mencium kepala Riana. "Pa.. Ma..." Riana menoleh, "Zahir?!" pekik Riana senang, ia bangkit dari duduk lantas memeluk Zahir, "kamu sudah makan, sayang?" "Belum ma." jawab Zahir sambil mengecup puncak kepala Riana namun matanya menatap punggung lebar Bimo yang entah kenapa tidak ada niatan menyambut kedatangannya. "Riana...!" "Iya mas?" "Kamu masaklah buat anakmu, mas ingin bicara dengan dia." Kedua ibu dan anak itu saling pandang sepertinya Bimo tidak sedang baik-baik saja mengingat ucapannya yang tidak menyebut nama anaknya sendiri. Riana hanya mampu menghela nafas panjang lantas mengusap lengan putranya, "mama masuk dulu ya, sayang." "Iya ma." ujar Zahir lembut. Setelah kepergian Riana, Zahir melangkah menghampiri Bimo. Berdiri di sampingnya sambil menundukan kepala dengan kedua tangan bertautan. "Pa..." "Bagaimana bisa, hal sekecil itu kamu melakukan kesalahan, Zahir." ujar Bimo dingin, "papa sudah memperingatkan kamu berkali-kali, bukan?!" "Maaf pa." "Duduklah...!" Zahir menganggukan kepala sekali, ia pun duduk di salah satu kursi kosong sana. "Papa akan mengirimmu ke PA Group." Zahir sontak menoleh ke arah Bimo, "kenapa pa? Di sana sudah ada bang Bara." Sepertinya akan ada perjanjian kolot antara dirinya serta sang papa, apalagi Bimo bukanlah manusia yang mudah sekali berubah pikiran bila dirinya sudah memutusan semua itu secara matang. Hanya saja Bimo selalu memutuskan semua itu secara sepihak, dan hal itu membuat anak-anak Bimo kesal akan sikap keras kepala Bimo Aji Prasodjo. "Apa sekarang itu penting bagimu?" "Maksud papa?" "Kamu berulah Zahir, maka kamu harus menanggung semua perbuatanmu." Aneh, Zahir pun menatap sang papa penuh tanya, apa maksud perkataan dari Bimo? Dari kecil hingga sekarang, dirinya selalu mempertanggung jawabkan pekerjaannya dengan baik. Lalu apa hanya karena satu lembar dokumen yang tidak terdapat bumbuhan coretan tangannya, lantas membuat Zahir langsung di mutasi ke perusahaan inti milik keluarga Prasodjo? Beban karirnya akan semakin berat, bukan? Dirinya hanya lelaki yang masih berusia dua puluh empat tahun, apa Bimo setega itu padanya. Dia sudah terlalu banyak berkorban untuk keluarga ini. "Tapi kan dokumen yang papa kirimkan itu masih bisa menyusul pa." protes Zahir, "masa masalah yang tidak fatal terus membuat papa harus mengirim Zahir ke sana sih. Kan ini nggak adil pa..." "Kamu yakin, masalah yang kamu perbuat tidak fatal?!" "Harusnya sih begitu." Mendadak Bimo bangkit dari duduk dan menarik kerah Zahir penuh kasar, "ini bukan taman bermain, dan papa sudah berkali-kali memperingati kalian, jadilah manusia yang bertanggung jawab dan beradab." desis Bimo. Brakk... Tubuh Zahir kembali mendarat ke kursi yang ia duduki, dadanya mendadak sesak seakan sulit bernafas akibat terkejut saat melihat tatapan Bimo yang tampak begitu marah padanya. Otaknya belum mampu mencerna semua perkataan yang baru saja di lontarkan oleh Bimo padanya. Bimo sendiri muak akan sikap putranya yang mengecewakan, ia pun beranjak meninggalkan Zahir yang penuh tanda tanya. "Nak..." Pelukan Riana dari samping sejenak membuat hatinya tenang, "mama tau, kamu pasti bingung dan terkejut. Tapi apa yang papa katakan semuanya benar, sayang." "Maaf ma." sahut Zahir lirih, "Zahir baru melakukan kesalahan sekali, tapi kenapa papa harus marah begini?" adunya, "ini tidak adil ma, papa keterlaluan." "Suatu saat kamu akan mengerti sayang." ujar Riana sambil mengusap kepala Zahir, "ayo masuk." ajak Riana, "mama sudah buatin kamu salad." Zahir mengangguk lemah, ia pun bangkit dari duduknya. "Mama apa kabar?" Hampir dua bulan dirinya tidak lagi tinggal serumah dengan orang tua, rasanya Zahir seperti lama tak mengunjungi sang mama tercinta. "Mama baik, papa baik, kakak sama adik kamu pun baik." Zahir tersenyum tipis, mendengar sahutan Riana yang begitu antusias menjawab pertanyaannya. "Kak Ara, dia-" "Kakakmu di tugaskan papa kalian di Bali." "Sendiri?" "Sama Agus tadinya, cuma papa kalian meminta om Irfan buat nemenin kakakmu." "Memangnya bang Rafa kemana?" "Dia sibuk, mengurus pekerjaanmu yang berantakan." sahut Bimo dari belakang, "kalian memang tidak becus, papa malu dengan Rafa." Zahir mencebik kesal, namun itu hanya sebentar karena Riana mengusap lengannya. "Papa suka sekali dengan bang Rafa, sampai anak sendiri di nomor duakan." gerutunya, "lagian Prima juga ada, kenapa harus bang Rafa?!" "Prima sudah bekerja di perusahaan Irfan, jadi Rafa harus bekerja dengan papa." Lagi-lagi Bimo bertingkah seenaknya sendiri, "kenapa papa nggak pernah berunding terlebih dahulu sama kita, papa anggap kita ini pion dalam catur? Prima pasti tertekan..." protes Zahir. "Kalian hanya bisa senang-senang tanpa memikirkan perusahaan yang papa, opa dan popa rintis, tentu papa harus turun tangan sendiri agar kalian tidak keblinger..." Perkataan Bimo barusan membuat Zahir semakin muak, apa dia pikir menjadi anak yang lahir hanya bergerak sesuai keinginan orang tuanya adalah kebahagiaan? Zahir merasa dunianya terlalu di kekang oleh Bimo, ia bahkan tak memiliki kesempatan untuk bermain dengan kawan-kawannya. "Siapa yang kamu bawa pulang semalam?" "Temen." sahut Zahir malas. "Temen?" "Iya, dia dosen di universitas kita." "Kenapa kamu membawanya pulang?" "Dia sakit." "Kalo sakit kenapa malah kamu bawa pulang? Kenapa tidak kamu antar ke rumah sakit saja, Zahir?" "Papa tau dari Lala?" "Apa itu sekarang penting?" Geregetan rasanya di tembak ribuan pertanyaan seperti ini, ia pun mengerang kesal dan malas mendengar omong kosong Bimo ini. "Dia sakit dan Zahir sudah meminta Lala untuk memeriksanya." jawabnya terpaksa sebab Riana seperti ingin tahu alasan Zahir yang membawa gadis asing ke villa miliknya. "Kenapa harus ke villa kamu? Memangnya dia tidak punya rumah?" "Oh... Ayolah pa, apa ini sekarang juga penting?" "Penting, karena papa tidak ingin kamu menjadi pria bejat." Zahir memutar bola mata malas, ia pun duduk di salah satu kursi meja makan tanpa berniat membalas ucapan Bimo lagi. "Zahir?" "Sudahlah mas, jangan terlalu memojokan Zahir, dia kan hanya ingin menolong." Brakk... Bimo menggebrak meja makan begitu keras, "apa menidurinya itu termasuk menolong Riana?!!!" desisnya dingin menatap tajam ke arah Zahir. "Wanita yang kata putramu sakit tadi, dia tega menidurinya...!!!" Riana sontak menutup mulutnya karena terkejut, jantungnya seakan berhenti berdetak mendengar teriakan Bimo yang murka. "S-sayang, apa itu benar?" Zahir diam, namun hati kecilnya marah saat Bimo begitu lantang memarahinya. Dirinya bukan lagi balita atau anak remaja, namun Bimo menyudutkannya di waktu yang tidak tepat. "Terserah kalian." ia bangkit dari duduk karena rasa laparnya lenyap sudah. "Pengecut." "Mas...." sela Riana, "sudah cukup." pintanya. "Dia hanya pria pengecut, yang terus sembunyi di balik ketek induknya." "Papa maunya apa sih?!" "Ya kamu harus tanggung jawab." Zahir menyisir rambutnya menggunakan jari sambil berkacak pinggang, "tanggung jawab bagaimana maksud papa? Dengan cara menikahinya? Begitu kah?" desis Zahir. "Itu nggak mungkin pa, dan nggak akan terjadi." lelaki itu semakin frustasi melihat cara Bimo seakan ingin mengintimidasinya, "wanita itu sudah menikah, dia punya suami...!!!" Plakk... Semua mata melotot terkejut mendengar suara nyaring dari ruang makan itu. Zahir meraba pipinya yang terasa panas setelah mendapat tamparan dari Riana. "Ma-mama?" "Apa mama mendidikmu jadi begini?" Drrt... Drrt... Drrtt... Ponsel Zahir ikut berdering, semua bisa membaca siapa yang sedang menghubunginya. Pada layar ponsel yang tergeletak di meja makan, tertulis nama bi Kasmuni menelepon. "Ma, Zahir bisa jelasin ma." "Perbuatanmu mengecewakan, Zahir." "Paaa... Please diem dulu..." rengek Zahir, jangan sampai Bimo mengompori amarah Riana, "ma dengerin Zahir dulu, semua ini nggak seperti yang kalian pikirkan." Sebagai seorang ibu yang mengandungnya, Riana sangat kecewa dengan sikap Zahir. Apa mungkin sifat buruk Bimo waktu muda telah menurun pada putra ke empatnya. "Mama nggak pernah melahirkan anak yang kurang ajar, Zahir." tangis Riana pecah sudah, "mama sedih kenapa kamu harus begini, nak." Rasa-rasanya Zahir ingin sekali menghajar siapa saja yang membuat Riana menangis seperti ini, namun masalahnya sekarang Riana menangis karena kecewa dengan sikapnya. "Kesenangan duniawi memang indah." Nada cemo'oh Bimo membuat Zahir geram, "Zahir tidak sengaja, pa..." geramnya, "dia yang terus memaksa Zahir." pekiknya, kedua lenganya di angkat tanda menyerah. "Terserah kalian mau percaya atau tidak, yang jelas Zahir tidak sengaja ngelakuin itu." Percuma menjelaskan sesuatu yang hanya memperkeruh keadaan, Zahir pun memutuskan pergi dari hadapan mereka. Dia meraih ponsel yang sedari tadi berdering tanpa henti yang tergeletak di atas meja, lantas melangkah keluar dengan amarah yang membumbung tinggi. "Ada apa?!!!" bentaknya. Tu-tuan, teman anda kabur. "Biarkan saja, biarkan dia pergi. Mati pun saya sudah nggak peduli." Zahir memutus panggilan itu secara sepihak, lantas masuk ke dalam mobil dan melaju meninggalkan mansion.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN