Kasmuni beserta pekerja lainnya terkejut mendengar nada tinggi dari Zahir pada telepon tadi. Mereka tahu sebab Kasmuni sengaja menekan tombol loudspeaker berharap para pekerja lainnya membantunya menjawab saat Zahir bicara. Namun sayang, Zahir malah membentak dan mengatakan kalimat kasar.
Selama mereka bekerja dengan tuan muda yang satu ini, tak pernah Zahir mengatakan kata kasar apalagi dengan nada tinggi seperti yang baru saja terjadi. Tuan muda mereka sangat baik dan berhati lembut bahkan murah senyum sepanjang mereka tahu.
"Gimana ini, mbok?" panik salah satu diantara mereka.
Kasmuni menghela nafas panjang, ia menggelengkan kepala pasrah sebab dirinya juga tak tahu harus bagaimana.
"Gimana-gimana?!" Lala yang duduk santai di atas sofa akhirnya bangkit menghampiri mereka, "dia bilang apa, bi?"
"Katanya suruh biarin, non."
"Yaudah, biarin aja." sahut Lala, "lagian kalian sudah bekerja dengan baik kok, masalah tu cewek minggat kan bukan salah kalian."
Semua saling pandang melihat sikap Lala yang ikutan emosi seakan dirinya memaklumi reaksi Zahir. Padahal salah satu dari mereka sempat memergoki Lala berbicara bisik-bisik dengan Doris hingga akhirnya Doris pergi meninggalkan villa tanpa jejak.
"Tapi kami takut non."
"Nggak usah takut." Lala menepuk dadanya penuh percaya diri, "wong kita dekengane pusat..." Lala tergelak dan beranjak dari hadapan mereka setelah mengatakan kalimat yang membanggongkan.
*****
Hiks... Hiks... Hiks... Rita menatap iba ke arah Doris, sedari tadi sahabatnya menangis tanpa ingin menceritakan kisah sedihnya.
"Nasib gue ta.... Huaaaa...!!!"
Lagi-lagi kalimat itu yang terlontar, Rita hanya bisa menghela nafas panjang. Doris memang tidak pernah jelas bila otak pikiran serta perasaan sedang tidak baik-baik saja. Sebagai sahabatnya tentu sudah terbiasa dengan kebiasaan Doris. Apalagi nasib mobil Rita sudah seperti pulau tissue akibat ulah manusia satu ini.
"Haaiisshhh..." Rita kembali membuka satu box tissue lagi. Kalau tidak, maka Doris akan terlihat menjijikan saat menangis tersedu-sedu seperti sekarang ini.
"Ini sudah tiga box, masih mau nangis?" tanyanya lembut, padahal bila di tanya dalam hati, ingin rasanya Rita menelan kepala Doris.
"Lo nggak ngerti perasaan gue, Ta..." sahut Doris merana, "gue lagi sedih tau... Hiks."
Memangnya Rita cenayan, yang harus mengerti semua isi dan perasaan Doris. Dirinya bisa mengendarai mobil, dan melaju begitu cepat saat menjemputnya saja hanya mampu pasrah berharap Tuhan, agar Tuhan mengerti akan isi hatinya. Kalau Doris selalu saja mengganggunya di saat-saatnya dia sedang enak tidur bersama guling kesayangannya.
"Mau tissue lagi?" tawarnya mengingat tissue yang berada di pangkuan Doris hampir habis terpakai, "kalo mau, gue harus beli dulu ni."
"Nggak, ini cukup." Rita mengetuk dashboard di depannya, guna menarik perhatian si gadis yang menangis itu, "jadi lo ini kenapa?" tanyanya lembut.
"Gue diperkosaaa." cicitnya.
"Oh..." Rita tampak biasa saja, "kapan?"
"Semalem."
"Enak nggak?"
Doris sontak menoleh mendengar pertanyaan Rita yang aneh di dengar, "hah, lo ngomong apa tadi?"
"Enak atau nggak?"
"Kok lo nanyainnya gitu sih, Ta?!!!" protesnya, "harusnya lo tu iba sama gue, minimal ikutan kesel, gitu kek..."
"Gue udah iba." sahut Rita, "iba ngeliat kondisi mobil gue yang penuh ingus lo."
Doris mencebik, meski masih sesenggukan namun tangisnya sudah reda, "lo masih punya utang sama gue, jadi mobil ini harus rela gue kotorin." gerutunya.
"Lo yang habis diperkosa, masih bisa mikir ya tentang duit." seru Rita heran.
"Lo nggak ikutan sedih, salah siapa..."
"Idih..." Rita kesel, "dia yang di perkosa, kenapa gue harus sedih."
"Ya lo kan bestie gue, gimana sih lo."
Rita menghela nafas panjang, ia mengusap bahu Doris mencoba menenangkan sahabatnya itu.
"Sorry... Sorry... Abisnya gue kesel sama lo."
Doris tampak memainkan ujung kuku tangannya, "kalo lo semalem jemput gue, gue pasti nggak di perkosa."
"Gue udah nawarin tumpangan buat lo kemaren sore." sahut Rita tak terima dengan alasan Doris yang malah menyalahkannya.
"Ya kan gue butuhnya semalem."
Percuma beradu argumen dengan Doris, ia menyerah dan kembali melajukan mobilnya.
"Ngomong-ngomong kenapa lo kesasar di sana?"
"Nggak tau." jawabnya lirih.
Ini yang bikin Rita males, "sama siapa lo di sana?"
"Sama bajingaan serta para banditnya."
Tuk...
Gemas dengan jawaban Doris, sebuah gelas kertas kosong melayang tepat di kepala Doris, "gue nanya serius, lo nya nggak jelas begini. Ngeselin banget sih jadi orang."
"Gue juga serius."
"Terus siapa bajingaan itu...!!!"
"Orang gila yang sengaja pegang anu gue di kantin."
"Apaan anu?" mendadak Rita menjadi lemot mendengar jawaban Doris, namun sekelibat ia kembali ingat kejadian yang membuatnya malu setengah mati akibat amukan Doris pada orang asing.
"Dia nggak sengaja." bantah Rita.
"Apaan sih..." Doris memegang dadanya sendiri seolah melakukan reka ulang adegan dimana dirinya merasa dilecehkan, "jelas-jelas dia megang gini."
"Dia niatnya baik, tapi lo berlebihan."
Salah, seharusnya Rita tidak mengatakan demikian. Doris semakin sedih dan ingin mengamuk, ia sontak mencubit lengan Rita akibat kesal dengan ucapan yang terlontar barusan.
"Sakit bego..." pekik Rita, "gue lagi nyetir nih."
Lantaran masing-masing dari mereka masih kesal dan menjadikan keduanya diem-dieman. Kini mobil itu melaju tak terasa sudah sampai di daerah perkampungan dekat rumah Doris.
"Jangan ke sini." ujar Doris, "gue nggak mau pulang di rumah itu."
Rita tak menyahut ia menghentikan laju mobilnya di tepi jalan, "terus kemana?" tanyanya malas.
"Gue udah nggak tinggal sama ibu."
"Terus?"
"Anterin gue ke rumah yang malem itu kita ke sana."
"Dasar tukang perintah." meski menggerutu, Rita tetap setia mengantarnya ke tempat tujuan.
"Maaf ya Ta..."
Manusia menyebalkan, akan menyesal dan merasa dirinya sendiri bersalah setelah diam dan memikirkan kata-kata yang ia lontarkan sendiri. Meskipun dirinya masih merasa dirinya benar tapi Doris memang memiliki sikap yang aneh itu.
"Ceritanya gimana?" Rita mulai tenang dan berkata lembut lagi pada Doris.
"Semalem gue gituan sama dia."
"Sama cowok tampan itu?"
"Iya..."
"Kok mau ya?" tanya Rita heran.
"Gimana sih, gue di perkosa Ta, ya nggak mau lah."
"Yang gue maksud tu bukan lo, tapi dia." Rita mematikan mobilnya menarik rem tangan setelah mereka sampai di rumah yang dulu sempat ia datangi saat mengantar Doris.
"Maksud lo apa sih?"
"Dia kan tampan, Do." sahut Rita, "dan lo tu lebih dewasa dari dia."
"Terus apa hubungannya?"
"Kok dia mau sama lo, secara dia tampannya sempurna."
Rupanya Rita tetap tidak menaruh rasa iba kepadanya setelah apa yang terjadi, "gue kehilangan keperawanan gue, kok lo tega bilang gitu sih."
Cih...
"Gue ilang perawan aja saat kuliah, nah lo yang udah pacaran bertahun-tahun sama Abi bahkan sampe menikah, mana mungkin masih perawan." Rita tergelak sendiri mengingat itu, Doris bukanlah gadis belia lagi. Bahkan beberapa bulan lagi akan menginjak usia ke tiga puluh.
"Sumpah lo Ta... Lo kira gue cewek gampangan?!!!" pekik Doris kesal, "gue jaga perawan gue, biar semua orang nggak nganggep gue remeh mengingat masa lalu ibu gue seperti itu." kali ini Doris benar-benar serius mengatakannya, "gue nggak mau harga diri gue jatuh hanya karena satu hal yang menurut kalian itu remeh dan itu murahan, ngerti nggak sih lo?!!!"
Rita sontak salah tingkah, ia mendeham lantas menggaruk keningnya yang tak gatal, "canda doang, kenapa jadi serem gini." cicitnya.
"Ya lo gitu, gue di perkosa malah lo ledekin."
"Enak nggak?"
"Apanya?"
"Gituannya." mendadak jiwa jahil Rita bangkit, "dia tinggi kekar, pasti itunya panjang dan berotot juga kan?"
Wajah Doris langsung memerah bak kepiting rebus, ia bahkan kehilangan kata-kata saat Doris terus menerus membicarakan hal saru ini.
"Do... Ayo kasih tau gue, lo kan udah tau pengalaman pertama gue dulu gimana." desak Rita, "sekarang giliran lo dong, kita kan sahabat." ujarnya sambil memainkan kedua alisnya naik turun.
"Enak."
"Hah?!" Apa?" Rita tak mendengar jelas jawaban itu.
"Enak, Ta." ulang Doris malu-malu.
"Yang mulai siapa?"
"Gue."
"Hah?!" kejut Rita, "sumpah lo?"
Doris mengangguk lemah, "gue tergoda saat dia mencium bibir gue semalem."
"Terus? Kenapa jadi begituan."
"Nggak tau." terang Doris lemah, "gue napsu banget mencium aroma tubuhnya, makanya gue beraniin sentuh-sentuh titik sensitif yang pernah lo ceritain dulu." Rita tercengang, sebenarnya ini Doris bukan?
"Serius?! Wah gila lo!!! Dan dia langsung gituin lo?" cecar Rita lagi, namun Doris menggeleng ia pun melanjutkan cerita dalam aksinya semalam.
"Gue elus itunya, mengeras dan gede banget." Doris kembali membayangkan saat dirinya memberanikan diri bangkit dari ranjang dan duduk di paha Zahir. Meskipun tangannya bergetar namun dirinya memberanikan diri karena sangat penasaran, malu-malu membukanya lalu membebaskan benda keras itu dari balik celana pendeknya.
Semua yang pernah ia dengar dari Rita, sahabatnya. Membuat Doris ingin praktek secara langsung dengan Zahir yang juga ikut tergoda tetap di bawah naungannya.
Doris mengulum benda yang sudah berdiri tegak itu merasakan urat-urat ototnya yang kencang dengan sesekali menambahkan sentuhan jemarinya yang lembut bergerak mengocoknya. Ia bahkan terlihat begitu lihai, memainkan kedua biji yang begitu sensitif ikut mengulum dan menjilatnya sesekali hingga membuat Zahir yang tak berdaya semakin gila dengan gerakan yang ia lakukan.
Zahir memintanya untuk berhenti, namun Doris menolak. Ia bahkan menempatkan diri di atas benda keras itu mencoba memasukan ke dalam miliknya yang sudah gatal dan basah.
"Gue rasa lo musti periksa ke dokter."
"Kenapa?"
"Otak lo bermasalah, Do." ujar Rita geleng-geleng kepala, "libido lo tinggi, sampe lo yang perkosa dia."
Doris tercengang, bagaimana mungkin, dia yang luka hingga robek miliknya, "kok malah gue...?!"
"Dia sudah meminta lo berhenti, tapi lo nekat nyerang dia saat dia sudah sulit untuk tak menerima serangan lo. Lo udah permainkan nafsunya, jelas dia mau sama lo, godaan lo gede, bikin enak lagi..."
Sumpah demi apa... Doris seakan tertampar mendengar pernyataan Rita. Benarkan sebegitu murahan dirinya, hingga menggoda pria asing yang sudah masuk ke daftar blacklist.
"Gue akan periksa, bukan ke psikiater."
"Terus?'
"Dokter kandungan."
Uhuk... Uhuk... Rita sontak tersedak air ludahnya sendiri. Maksudnya apa dengan ucapan Doris, Apa dia memang gila?