Isi hati

1581 Kata
Mengerikan, Rita bergidik ngeri menatap Doris. Wanita di hadapanya itu seperti bukan Doris. Apa mungkin yang duduk di sebelahnya ini adalah jin qorin? Rasanya tidak mungkin, seorang sahabat yang ia kenal bahkah tumbuh bersama sejak mereka mulai di bangku SMP, kini sudah berubah saja, tingkahnya menjadi liar dan berani berulah di luar kendalinya sendiri. Oh Tuhan, mendadak Rita ingat akan dosa-dosanya. Dengan melihat semua hal yang tak lazim ini, apakah menjadi pertanda bahwa sebentar lagi akan kiamat? Rita pun menggelengkan kepala cepat, "tidak-tidak." gumamnya sendiri, dia bahkan belum mendapatkan apa yang diinginkan semasa hidupnya. "Terus Do..." Rita menepuk lengannya pelan, "apa ada yang tau saat lo begituan sama dia?" "Nggak ada." Rita mengangguk paham, "berapa ronde?" Wajah Doris kembali memerah bak tomat busuk, "kenapa pertanyaan lo jadi ngawur gini sih." gerutunya merasa bahwa perbincangan mereka semakin jauh dari topik utama. "Jawab aja napa...!" Memang terkesan memaksa, namun Rita memang sangat penasaran dengan pengalaman Doris yang satu ini. Lagipula jarang-jarang si Doris bersedia membicarakan hal mature di depannya, oleh sebab itu Rita pun ingin dengar sedetail-detailnya dari pengakuan Doris sendiri, meskipun sebenarnya ada rasa ragu dan terkesan aneh, entah itu apa yang pasti itu akan ia pikirkan lain waktu. "Dua." sahut Doris. Dosen cantik itu bak terdakwa yang duduk di hadapan jaksa penuntut umum. Pengakuan Doris yang harusnya tidak ia sampaikan, bahkan ikut terlontar akibat pusing karena Rita terlalu banyak bertanya. Entah Doris yang bodoh atau Rita yang terlalu cerewet, yang jelas semua percakapan ini sesungguhnya sangatlah tidak penting dan sangat tidak berbobot. Satu jam... Sesi wawancara mengenai ranjang empuk di balik selimut hangat itu terus berlanjut tanpa mereka sadari. Rupanya topik ini lebih menarik perhatian Rita, tanpa Rita tahu bagaimana perasaan Doris yang kini mulai merasa tak nyaman dan risih bahkan malu sebab terus-menerus di cecar pertanyaan yang begitu intim ini. "Do... Denger.." Rita melepas sabuk pengamannya dan duduk menghadap ke arah Doris, "lo itu dosen muda terbaik di kota ini, lo juga panutan buat gue." Rita tersenyum dan mengusap lengannya, "lo itu sahabat kebanggaan gue." sanjungnya. "Bahkan hampir di seluruh negeri ini tau, bagaimana prestasi yang lo raih sebagai dosen muda di universitas Jogja." Rita ingin Doris membuka pikirannya kembali, agar Doris tahu sosok seorang Doris yang selama ini ia kenal. "Gue yakin lo pasti ngerti, apa yang akan terjadi kalo lo ngawur dan nggak hati-hati dalam bersikap." "Ta, gue..." Mata Doris berkaca-kaca mendengar kalimat Rita yang begitu tulus. "Demi apa, Do... Gue nggak pengen sesuatu yang nggak lo inginkan terjadi nantinya." ujar Rita serius, "lo ngerti maksud gue kan, Do?" sebagai sahabat tentu Rita tak ingin Doris menjadi manusia gagal setelah sekian lama. Semua yang Rita katakan tidak ada yang keliru, Doris sangat menerimanya, namun mau bagaimana lagi? Yang sudah terjadi tidak bisa ia hindari, dan hanya waktu yang mampu merubah segalanya entah kapan tanpa orang tahu tanpa terkecuali. Kenyataannya sekarang Doris sudah menjadi wanita dewasa, sesuatu dalam dirinya telah tergoda dan tak sanggup menolak akan kehadiran pria tampan dan paling seksi yang pernah ada dan ia jumpai semasa hidupnya. Seingatnya, dulu saat bersama Abi pun, belum pernah dirinya memiliki hasrat untuk menyentuhnya. "Jujur ya Ta.." "Ya...?" sahut Rita lembut. "Mmmm." "Apa Do? Lo boleh kok ungkapin semua uneg-uneg lo, gue siap menampungnya sekarang." Sikap Rita yang lembut membuatnya canggung, membuat Doris bingung saja hingga memainkan ujung kaosnya bahkan tanpa sadar melirik-lirik takut ke arah Rita. Entah kenapa mendadak nyalinya menciut akibat rasa hati yang semakin bersalah. Doris menarik nafas dalam-dalam, memutuskan menatap ke arah luar jendela mobil, "beberapa hari ini-" kenapa begitu sulit baginya merangkai kalimat, Doris bahkan menelan ludahnya susah payah hingga buliran keringat menetes di wajah penuh tegang. "Sebenernya beberapa hari ini adalah masa subur gue." jelasnya lirih. Rita melongo dan sontak menjambak rambut Doris marah, "lo gila?!!!" "Sakit Ta..." Doris meringis. "Jangan bilang, kalian nggak pake pengaman?" tebak Rita, "sumpah Do... Kalo lo hamil gimana, Do...!!!" Doris diam tak berani menjawabnya, ia hanya mampu merapikan rambutnya yang sempat acak-acakan akibat pasrah dengan serangan dari Rita. Ia paham betul bahwa perbuatanya sangat gila dan kelewatan. Dimana setelah penyatuan malam itu berakhir hingga dua kali permainan tak mampu ia pungkiri. Kepuasan yang ia dapatkan dari sentuhan panas Zahir, membuatnya hanyut dan terbuai. Maka dari itu sedari tadi Doris menangis tak jelas, sebab bingung harus berbuat apa hingga tak bisa berpikir bagaimana nasibnya nanti bila sesuatu terjadi setelah apa yang mereka perbuat. Melihat Doris yang sibuk memilin ujung bajunya, menjelaskan apa yang dicemaskan Rita itu rupanya benar. Sikap itu, Rita paham betul. "Gue menikah, kan?" "Ya." sahut Rita cepat, "terus kenapa?" "Dan faktanya gue punya suami." Rita mengangguk setuju. "Meskipun dia nggak jelas kemana perginya." keluhnya asal, "jadi kalo misalkan gue hamil kan nggak masalah." Rita ingin menghilang detik itu juga setelah mendengar penjelasan Doris yang membanggongkan. Doris mendadak kehilangan akal pikirnya sehingga ucapannya semakin amburadul. "Tapi nggak gini, Do..." geregetan memang, namun Rita sendiri tak tahu harus mengatakan apa. Posisi Doris sekarang bukanlah alasan yang tepat untuk mendapatkan sesuatu yang mustahil itu. "Gue nggak akan ikut campur masalah lo mengenai rumah tangga lo, karena itu bukan ranah gue." tegas Rita, "gue ingetin kalo lo sempet bilang, semua orang udah tau gimana hubungan lo sama pecundang itu sekarang." ujar Rita mengingatkan namun hatinya semakin iba melihat nasib sahabatnya itu, "meski nggak ada yang tau siapa yang unboxing lo, tapi gue rasa cara lo ini salah." Rita memang membenci Abi yang kejam mencampakan Doris, tapi sebagai sahabat ia tak ingin Doris juga ikut bertingkah gila. "Kecuali kalo lo pengen hamil sendirian tanpa adanya beban dari pria pecundang itu." celetuknya mendadak, namun Rita menoleh cepat ke arah Doris setelah diam beberapa saat di keheningan mereka. "D-Do... Lo nggak akan ngelakuin itu kan, Do?!!!" tanyanya penuh hati-hati. "Gue memang pengen hamil." sahut Doris cepat, "sama suami gue, niatnya." Sontak punggung Rita rubuh dan bersandar lemas pada jok mobilnya, "emang, udah gituan sama suami lo?" Doris menggeleng, "belum." "Sama sekali?" "Lo sendiri kan tau, gimana gaya pacaran gue dulu." ujar Doris lesu. "sebagai ceweknya, gue setia sama dia." Mata Doris kembali basah, "tapi lucunya sekarang setelah menikah malah pria lain yang pertama nge-gol-in rahim gue." ujarnya menyesal. Semakin rumit Tuhan, seru Rita dalam hati. Ia mengangkat kedua tanganya akibat tak tahu harus berbuat apa lagi. Mereka pun menyenderkan kepala menghadap ke depan bersamaan, "kepala gue rasanya mau pecah." keluh Rita, "lo berhasil bikin gue kesel kasian campur aduk, gara-gara kecerobohan lo itu" "Maaf Ta..." Bukan itu yang ingin Rita dengar dari Doris, masalah sekarang ini memang belum menjadi besar, namun manusia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah hari esok nanti. "Lo harusnya minta maaf pada diri lo sendiri, Do." Doris semakin menunduk, airmatanya kembali keluar dan menitik di buku-buku jarinya. Rita benar, dirinya salah mengikuti hawa nafsunya sendiri. Apalagi dulu dia memegang teguh keyakinan bahwa, kesucian yang ia jaga sepenuhnya adalah hadiah spesial untuk suaminya kelak. Namun sekarang? Dirinya malah menggoda lelaki yang lebih muda darinya, lebih gilanya memaksa lelaki yang belum lama ia kenal dan sempat ia benci hanya untuk menuruti keinginannya akan sesuatu yang nikmat sesaat itu. "Abi dia..." Doris tak melanjutkan kalimatnya. Terlalu sakit mengakibatkan benci semakin dalam hanya mendengar kata Abi saja. "Oke..." Doris menatap Rita penuh ceria, "gue akan urus masalah ini sendiri, Ritaku sayang." ujarnya sungguh-sungguh, "lo nggak usah khawatir, gue pasti bisa ngelewati semua ini." Mendadak hati Rita menghangat dan terharu, "gue percaya sama lo, Do." ujarmya sambil mengangguk, mereka pun saling berpelukan mencoba menumpahkan semua kelu kesah hati mereka. "Makasih ya atas tumpangannya." Rita mengangguk cepat, mengusap ujung matanya sendiri yang basah sambil menepuk pelan punggung Doris. IDoris pun turun dari mobilnya. Sahabatnya itu menyempatkan diri melambaikan tangannya ke arahnya, sambil tersenyum lebar bahkan mengacungkan ibu jarinya sampai mobil Rita menghilang di ujung persimpangan jalan sana. Namun semua itu Rita tentu tahu, senyum Doris yang di tunjukan padanya itu hanya senyum untuk menutup luka di hatinya. ***** "Bang, tolong nanti data-data mengenai perusahaan PA Group kirim semua ke Zahir." perintah Zahir melangkah memasuki ruangan setelah dipersilakan oleh Rafa. Meski kesal dengan sikap Bimo yang memutuskan secara sepihak agar Zahir pindah di sana, dirinya tetap tekun dan berniat mempelajari terlebih dahulu sesuatu yang berhubungan perusahaan tersebut. "Abang tidak punya dan tidak ada di perusahaan ini." "Abang kan bisa cari." "PA Group tidak mudah ditembus semenjak Bara yang mimpin." Rafa kembali membaca beberapa dokumen yang tertumpuk penuh di atas meja kerjanya. "Di sini adalah kantor Zahir, bukan mall." tegur Rafa datar. Zahir mendeham, ia melepas jaketnya lantas melemparnya ke atas sofa, "papa ingin Zahir gantiin bang Bara di sana." "Oh ya?" "Tapi abang kan pernah bilang sama Zahir kalo perusahaan popa itu sulit, apalagi untuk pemimpin pemula seperti Zahir." Rafa menghela nafas panjang, ia melepas kacamata yang bertengger di hidung mancungnya lantas menutup dokumen yang sempat ia baca sesaat. "Kalian terlahir dan besar dari darah pembisnis, abang yakin kamu pasti juga bisa." terang Rafa lembut, "om Bimo tidak akan pernah menjerumuskan anak-anaknya di tempat yang tidak kalian kuasai." Zahir diam termenung, selama ini Bimo selalu menjadi bayang-bayang putra-putrinya tanpa mereka sadari. Namun sikap yang di tunjukan Bimo di hadapan mereka terkadang memang terkesan labil, hingga membuat Bara serta adik-adiknya muak dan merasa sikap Bimo sangatlah berlebihan. "Bang." "Hnn?" Rafa kembali membaca dokumen tadi. "Zahir tau, abang suka kak Ara." Tak mendapat reaksi apapun setelah kejahilan yang ia perbuat, Zahir merasa bahwa Rafa bukanlah manusia normal. "Pulang dan mandi, nanti sore ada meeting dengan pengusaha dari negara tetangga." Zahir mengangguk pasrah, ia pun meninggalkan ruangan Rafa setelah mendapat jadwal yang sudah di atur oleh Rafa untuknya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN