"Mbah uti..."
"Iya."
Senyum itu, Doris mampu merasakan sebuah kehidupan yang damai dari senyum wanita tua renta itu. Begitu teduh dan tanpa beban yang berarti.
"Dulu mbah kung sama mbah uti kok bisa menikah, gimana ceritanya?"
Doris ikut menyiangi kecambah dalam wadah kotak plastik bening bekas dulu membeli nasi kotak. Ia juga ikut duduk di lantai seperti yang mbah uti lakukan.
Entah mungkin sudah menjadi kebiasaan mbah uti sebagai manusia yang terlahir di era jaman dulu, jaman kuno dimana para wanita tua maupun muda memakai kemben dengan baju kebaya serta kain batik yang melilit di pinggang mereka sampai menutupi betis pengganti rok, yang sangat tren dan terkesan ayu lan kalem. Mereka lebih suka duduk di lantai tanpa merasa risih atau duduk di kursi kayu buatan sendiri bila mana seseorang itu merupakan keluarga yang cukup mampu.
"Setelah semalem nggak pulang tanpa memberitahuku, kenapa mendadak menanyakan itu?"
"Do hanya penasaran, siapa gerangan pria yang beruntung mendapatkan mbahku yang masih cantik meskipun sudah setua ini." godanya yang membuat mbah uti terkekeh mendengarnya.
"Asal kamu tau, mbah itu gadis tercantik di seluruh kampung sini." ujarnya penuh bangga.
"Masa?"
"Tentu... Butuh perjuangan buat mbah kung kamu untuk nikahin mbah uti, karena mbah buyut kalian itu orangnya sangat galak dan sangat pemilih."
Ini sudah pernah ia dengar sebelumnya bahkan lebih dari sekali, sebab cerita ini sudah seperti dongeng bagi Doris bila dirinya tidak tahu harus bagaimana menarik atensi sang nenek agar suasana rumah tidak terkesan sepi.
"Dulu ibu pernah cerita, kalo mbah kung itu dari kalangan orang biasa. Kok bisa nikah sama mbah uti?" tanya Doris penasaran, "bukankah mbah buyut ingin menantu yang kaya raya?"
Doris tidak menebak namun itu adalah cerita menurut Juriah.
"Ibu kamu itu memang tidak bisa mingkem, bisa-bisanya bicarain mbah uti sama kakung di hadapanmu."
"Bukan bicarain kalian, tapi bangga sama kalian." sahut Doris lembut.
Sang nenek yang mendengar pembelaan Doris hanya geleng-geleng kepala, pasalnya sebagai orangtua kandung Juriah tentu dirinya paham betul dengan apa yang ada pada Juriah.
"Bangga kok nggak pernah jengukin kami."
Sepertinya jurusnya kali ini gagal, topik yang mereka bicarakan kali ini tidaklah tepat. Doris meringis sambil menggaruk pelipisnya yang tak gatal.
Bagaimana ini?
Doris merutuki kegagalannya kali ini. Apa yang harus Doris lakukan, bila sudah terlanjur melibatkan nama sang ibu pada topik obrolan mereka. Mengingat diantara ibu dan anak ini sedang tidak saling sapa, satu sama lain. Apalagi mbah uti sama sekali tidak pernah menyetujui pernikahan Doris yang terkesan mendadak tanpa meminta restu sang nenek serta tanpa mengikuti adat yang pernah ada sebagai contoh menurut hitungan hari kelahiran kedua belah mempelai calon pengantin.
"Dia bahkan nggak pernah nganggep kami ada." ejek mbah uti.
"Bukan begitu mbah." Doris kehabisan kata untuk menjawab itu, "ibu itu sebenernya sayang sama kalian." putusnya sedikit ragu.
"Sayang apanya, Do... Do..."
Mbah uti bangkit berdiri dari lantai ubin yang dingin itu, ia menggunakan tongkat kayunya lantas melangkah ke arah dapur, "saat mbah kung meninggal, dia nggak pulang to?"
"Pulang mbah, sama Do."
"Setelah seratus harinya, kan? Dan ibumu juga nggak mau nemuin mbah uti."
Doris menghela nafas panjang, kenapa obrolan ini menjadi semakin menyesakan. Pengakuan sang nenek membuat Doris terkesan buruk sebagai seorang cucu. Meskipun waktu itu, dirinya masih kecil bahkan sudah hampir lupa akan kejadian itu.
"Do ingat, ibu nangis terus saat mendengar berita duka ini, dari warga tetangga mbah uti yang kebetulan juga bekerja di Salatiga."
"Iya... Mbah uti tau, itu."
Doris tersenyum tipis lantas memeluk sang nenek dari belakang, "maafkan kami, yang tak mendampingi mbah uti disaat mbah uti membutuhkan kami waktu itu. Do benar-benar minta maaf."
"Sudah ah..." mbah uti memukul pelan pipi Doris, "mbah kung itu sudah tenang di sana, nggak baik bicarain yang sedih-sedih tentang dia."
Doris mengangguk setuju, pernyataan itu. Dan mereka berdua pun melanjutkan mencuci sayuran serta lainnya untuk segera di masak.
Meski sederhana, hanya nasi serta oseng kecambah di campur ikan teri kecil, Doris dan mbah uti makan begitu lahap. Terkadang hal yang sederhana ini membuat hati Doris kembali terasa ngilu, dirinya merindukan sang ibu yang senantiasa cerewet, galak, kasar namun selalu perhatian padanya.
"Malu sebenernya, setiap kamu nanyain kisah mbah uti sama mbah kung kamu." mendadak sang nenek mengatakan itu.
"Dulu aku salah satu menantu juragan keranjang anyaman bambu."
Doris dapat melihat dan menangkap adanya sebuah penyesalan di balik sorot mata sang nenek yang sedang bercerita itu.
"Jadi menantu tapi tertekan, karena mereka selalu menuntut cucu dariku."
Doris menggenggam jemari sang nenek yang sudah keriput, dirinya tak ingin wanita tua di hadapannya itu kembali mengingat hal yang melukai perasaannya.
"Jangan dilanjut mbah, Do nggak mau mbah sedih." ujarnya lembut.
Sang nenek malah tergelak mendengar nada prihatin yang keluar dari mulut cucunya.
"Mbah tidak apa-apa, lagian semua itu sudah berlalu, tapi mbah ingin kamu tau, apa saja yang terjadi pada kami waktu itu." jelas wanita tua itu.
Cerita itu berlanjut dimana ia dinikahkan dengan seorang lelaki pilihan ayahnya. Lalu bagaimana sikap keluarga dari pihak sang suami padanya, yang menganggapnya hanya seorang babu dan harus siap melayani hasrat suaminya kapan saja.
Sebagai seorang wanita naluri hati kecil Doris bisa merasakan kepiluan itu.
Anehnya sang nenek tampak baik-baik saja, malah semakin semangat menceritakan kisah lampaunya. Apalagi ungkapan perasaannya yang harus rela menyaksikan sang suami menikah lagi, memiliki istri lebih dari satu demi mendapat keturunan untuk keluarga tersebut, semasa dia masih menjadi seorang istri serta menantu.
"Suami mbah uti punya berapa istri?"
"Empat." sahut mbah uti.
Tak heran bagi siapa saja yang paham dan pernah hidup di jaman itu. Meskipun banyak pemuda tampan gagah serta pandai dalam segala hal, maka itu tidak akan pernah berlaku bila sebuah keluarga dari pihak wanita menginginkan menantu dari keluarga yang berada demi tahta atau sebuah derajat yang lebih tinggi untuk keturunannya di kala itu.
Semua alur cerita yang di sampaikan oleh mbah uti, seakan menjelaskan bahwa wanita pada jaman itu tidaklah berharga atau lebih parahnya tak dihargai keberadaannya. Mereka rela di madu demi kepentingan keluarga mereka atau demi kekayaan dan hidup sejahtera tanpa harus bersusah payah bekerja.
"Saat suamiku menikahi istri ke-empatnya, entah kenapa mbah bosan. Acara pernikahan berulang kali serta lantunan musik klonengan terkesan biasa."
"Ya iyalah, empat kali." sahut Doris ikutan kesal.
"Akhirnya mbah memutuskan pulang dan terkejut melihat sahabat dari suami mbah yang anehnya sudah menunggu di dalam kamar waktu itu." mbah uti terkekeh mengingatnya, "sejak kejadian itu semuanya berubah total."
"Sahabat suami mbah uti?" tanya Doris bingung, "ngapain dia di kamar mbah uti?"
"Dia cinta sama mbah uti."
"Hah?!"
Sang nenek kembali tergelak, keterkejutan Doris tidak berhenti di bagian itu saja. Apalagi sang nenek menceritakan bagaimana begitu perkasanya sahabat suaminya saat mereka berkumul di atas ranjang kayu sebagai saksi bisu yang tak seorang pun tahu.
"Mbah selingkuh?" pekik Doris, "mana boleh begitu?!!!"
"Biarkan saja, mbah muak dengan keluarga suami mbah waktu itu. Yang penting mbah bisa hamil dan tidak di anggap mandul gara-gara sudah menikah sepuluh tahun tapi nggak bisa hamil." ujar sang nenek tanpa beban sama sekali.
Hamil? Doris sulit mencerna kalimat yang baru saja terlontar dari mulut mbah uti.
"Keluarga suami mbah uti ada yang tau?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Suami mbah meninggal sehari setelah acara syukuran tujuh bulanan kehamilan mbah."
"Kok meninggal?"
"Iya, kendaraan mereka di bom oleh para penjajah."
Doris sontak menutup mulutnya iba, ini benar-benar di luar prediksinya.
"Lalu mbah uti dan para istri lainnya gimana?"
"Ya kami jadi janda kembang." sahut mbah uti ringan, "masing-masing dari kami juga sudah mendapat bagian harta warisan, sebuah tanah serta rumah imbalan menjadi menantu keluarga itu sebelum akhirnya kejadian na'as menimpa satu keluarga suamiku."
"Mbah pasti sedih." tebak Doris iba.
"Nggak juga."
Sang nenek seperti kehilangan hati nuraninya, hingga membuatnya menjadi manusia tak berperasaan.
"Hidup hanya sekali, Do." ujarnya, "buat apa mengasihi pria yang tidak menghargai kita sebagai istrinya."
Ungkapan itu menyadarkan Doris pada satu hal.
"Maka dari itu tiap malam doaku menyertaimu, agar kamu mendapat jodoh pria yang baik, tanggung jawab, jujur, yang menyayangi dan mencintai kamu, syukur-syukur panjang umur mau menemani kamu sampai kalian tua nanti."
Doris tersenyum tipis, "amin..." sahutnya.
Usia pernikahan mereka hampir tiga bulan, namun Abi tak kunjung kembali.
Abi... Apa kabar?
Entah apa yang mendorong niatnya, Doris memutuskan mengirim pesan terlebih dahulu. Dirinya terlalu marah hingga lupa bahwa dalam ponsel miliknya masih terpampang foto mereka berdua serta masih menyimpan nomor telepon Abi.
Sayang? Beneran ini kamu? Ya Tuhan, akhirnya Tuhan mengabulkan doaku...
Doris terhenyak, pesan yang baru saja masuk adalah pesan balasan dari Abi.
Aku merindukanmu, sayang. Sangat...!!!
"I-ini?" gumamnya, tak lama beberapa pesan menyusul dan semua dari pengirim yang sama.
Aku punya kabar gembira untuk kamu, akhirnya aku membeli rumah sesuai impian kita dulu.
Sebuah potret rumah tampak dari depan timbul di pesan singkat Abi.
Apa rumah itu sama dengan yang kamu gambar dulu?
Aku sengaja membayar arsitek serta tukang berkualitas agar rumah kita cepat selesai pembangunannya.
Sayang?
Boleh aku meneleponmu?
Maaf sudah membuatmu kecewa.
Air mata Doris menitik membaca setiap kata demi kata dari Abi.
Tapi percayalah sayang, aku mencintaimu...
Tak sanggup membalas pesan dari Abi, Doris pun menyimpan ponselnya di atas meja.
Besok aku akan pulang, tunggu aku.
Perasaan Doris menjadi tidak karuan, pesan terakhir yang ia baca bagaikan perisa rasa yang tercampur aduk menjadi satu di dalam mulutnya yang kelu.
"Pesan dari siapa, Do?"
"Abi, mbah..." jawabnya lemah.
"Apa katanya?"
"Besok dia pulang."
"Bagus itu." sahut sang nenek, "setidaknya orang lain tidak lagi menanyakan keberadaan Abi lagi."
Doris menghela nafas panjang, entah apa yang baik setelah mengetahui kabar ini. Kepulangan Abi yang mendadak membuat Doris tak tahu harus bagaimana. Kenapa lelaki itu mengatakan akan pulang setelah dirinya yang memulai menanyakan kabarnya terlebih dahulu.
"Doris bingung mbah." keluhnya.
"Mandilah lalu tidur, kamu besok harus berangkat kerja." ujar mbah uti, dirinya tak ingin terlalu ikut campur dengan urusan cucunya.