Sudah pagi saja... Ayam milik pak Kiwo selalu berkokok di waktu yang sama, tentu mengganggu tidur nyenyaknya. Padahal dirinya baru saja tidur setelah semalam terjaga hingga pukul tiga dini hari.
"Bangun, Do..."
Tak punya pilihan, dirinya memang wajib bangun. Apalagi hari ini akan banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan karena sempat tertunda beberapa hari lalu.
"Jam berapa mbah?"
"Tujuh."
Doris menghela nafas panjang, untung saja dirinya tidak memiliki jadwal mengajar di pagi hari.
"Mbah nggak buatin sarapan, soalnya roti yang kamu beli kemarin masih ada."
"Iya mbah." ia turun dari ranjang kayu yang keras itu lantas gegas menuju kamar mandi.
Oh tidak, jangan lagi... Bagaimana mungkin Doris lupa membeli pasta gigi kemarin. Wanita itu menepuk jidatnya lantas menggulung pasta gigi tersebut sebagai jurus terakhir saat kepepet seperti sekarang ini.
"Masih sisa sedikit." gumamnya lega.
Acara mandi pun tak harus lama, ia yang terbiasa apa adanya tak membuatnya betah-betah bermandi ria layaknya gadis lainnya, mengingat suhu udara pagi itu bagaikan mandi menggunakan air es saja.
"Mau kemana mbah?"
"Balikin rantang." sahut mbah uti, "lupa terus sampe yang punya negur mbah pas di pasar kemarin." Doris hanya geleng-geleng kepala melihat sikap mbah uti.
"Jalan ati-ati mbah."
"Iya..."
Belum lama mbah uti keluar untuk mengembalikan rantang milik tetangga, namun Doris mendengar ada seseorang yang bertamu saja.
"Walaikumsal-" Doris terkejut, "laam..." tubuhnya mematung melihat siapakah gerangan tamu di pagi hari ini.
"Boleh masuk?"
Tubuhnya menegang, seseorang memeluknya begitu erat, "sumpah Doris, aku merindukanmu."
Dirinya pasrah di giring masuk ke dalam kamar yang tak terdapat ranjang sebelah kamar sang nenek, karena itu memang dibiarkan kosong mengingat mbah uti hanya hidup seorang diri.
"Sayang..." nada berat itu menggelitik telinganya, namun Doris masih saja diam.
"Apa kabar?"
"Baik." sahut Doris singkat, ia akhirnya membalas pelukan Abi.
Betapa bahagianya Abi, seolah dirinya ingin sekali melepas rindu setelah beberapa bulan tak bersama istrinya.
"Kamu sengaja menyambutku?" ujarnya senang, Abi tak menunggu jawaban Doris lagi, begitu rakus lelaki itu meraup bibir Doris.
Ah...
Baju tipis yang biasa ia kenakan untuk tidur itu telah raib entah kemana, Doris di himpit ke arah dinding kayu tanpa berhenti aksi kecupan di tubuhnya yang masih terasa bekas bibir Abi.
"Abihhh... Mbah utihh..."
Abi sepertinya tak peduli teguran Doris, tak gentar dirinya meraba serta menikmati setiap jengkal kulit mulus istrinya.
Harum sabun meruak menyegarkan membuat nafsu Abi semakin membumbung tinggi.
Aahaagh...
Doris tak kuasa meloloskan desahannya, mulut Abi yang penuh menyusu di dadanya hingga jemarinya yang ikut beraksi bermain di kacangnya membuat darah Doris seakan mendidih dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.
"Aku merindukanmu." ujar Abi berkali-kali, yang membuat Doris sempat bingung sebab tubuhnya di putar cepat oleh lelaki itu lantas didorongnya untuk menungging.
Aahhh...
Erangannya tertahan lelaki itu, saat miliknya berhasil masuk di lubang liat nan basah itu.
"Aku merindukanmu sayang..."
Hentakan Abi saat menumbuknya sangatlah kasar. Doris yang ikut merasakan nikmat pun berusaha mencari pegangan di depannya.
Plak... plak... plak...
Doris mendengar tepukan nyaring saat bertemunya kulit mereka membuatnya meringis berharap tetangga tak ada yang mendengar dan menyadari suara khas ini.
Lelaki itu begitu liar, menusuk-nusuknya penuh nafsu.
"Aaahhh... Milikmu sempit sayang, ouh..."
Doris tak tahu harus bagaimana lagi, selain dirinya menahan desahan dari mulutnya sendiri, perasaan hatinya merasa bahwa yang terjadi sekarang adalah salah.
"Aaahh, bihhh,, hhaaah.." Doris mendengar hentakan tongkat sang nenek semakin mendekat, "mbah hahhh pulang haa...sshhh.."
Abi seperti tuli saja, otaknya hanya berguna untuk menikmati penyatu ini. Bongkahan bulat di matanya membuat lelaki itu terus saja meremas hingga sesekali menamparnya karena gemas, "ini seksiihh." pujinya nakal, lelaki iku mendongak, pinggangnya tak henti bergerak maju mundur.
Alangkah nikmatnya miliknya menusuk semakin dalam saja, merasakan pijatan dari lubang liat milik Doris sehingga membuat Abi semakin semangat menusuk-nusuk milik Doris bergerak maju mundur menghentak keras.
"Kamu sudah keluar, huh?" kekeh Abi bangga pada dirinya sendiri.
Doo...
"Abihhh, ah ah ah mbah manggil." panik Doris yang sontak berdiri tegap namun cepat di tahan Abi.
"Sebentar lagih sahyaang.."
Doo...
"Abihssshh.."
Otaknya sudah tidak lagi terfokus dengan nikmatnya penyatuan itu. Mendengar sang nenek terus saja memanggil bahkan suara wanita tua itu semakin mendekat saja.
"Sebentar lagi..." Abi menahan punggung Doris, membuat wanita itu kembali menungging dan menusuknya lagi semakin keras.
Dooo... Dimana ni bocah...
Wanita itu berharap permainan ini segera berakhir, ia bahkan berusaha menjauh dari Abi agar bisa lepas dan selesai.
"Aaahhhahgghhh."
Desahan Abi membuat Doris ingin menyumpal mulutnya, sudah jelas sang nenek pulang namun semakin kencang saja lelaki itu mendesah, "sebentar lagi sayang..."
Dooo...!!!
Muncrat, milik Abi menyembur deras bersamaan dengan mbah uti yang membuka pintu kamarnya.
"Kamu dimana Do?!"
"Ganti baju mbah..." sahut Doris, mereka segera merapikan penampilan masing-masing sebab mbah uti tepat berada di kamar sebelah mereka saat ini.
"Kamu rapiin dulu, itu." bisik Doris, membantu mengancingkan kemeja Abi yang lepas beberapa.
"Tunggu di luar, aku ganti baju dulu." perintahnya dan Abi pun mengecup singkat bibir manis Doris.
"Jangan lama-lama dandannya."
Doris mengangguk, sembunyi di balik pintu saat Abi hendak keluar dari kamar itu. Setelah Abi menghilang di balik pintu tersebut, tapi kenapa di luar tak terdengar apapun?
Ia pun meraih kembali kain tipis yang ia kenakan sebelumnya sudah tergeletak di lantai, lantas mengenakan pakaian kerjanya dengan segera sebelum simbah bingung sebab Abi sudah berada di rumah ini.
"Mana mbah uti?"
"Nggak tau."
Doris menutup kembali pintu kamar tersebut, dirinya heran karena tak menemukan sang nenek di dalam rumah. Bahkan Abi malah berdiri saja bersandar pada tiang kayu di tengah-tengah ruangan, sambil memejamkan mata.
"Kamu tadi belum ketemu mbah uti?"
"Belum." Abi tersenyum, ia merentangkan kedua lengannya berharap Doris masuk ke dalam pelukannya.
"Aku buatin teh dulu ya?"
"Nggak perlu, nanti kamu terlambat sayang."
Doris mengusap punggung Abi, entah kenapa tubuh lelaki itu tampak lebih kurus dari sebelumnya.
"Itu mbah uti." Doris menunjuk sang nenek yang tampak melangkah pelan dari luar menuju pekarangan rumahnya.
"Mbah dari mana?"
Doris menyambutnya, menuntunnya masuk ke dalam rumah.
"Loh, ada tamu?"
"Mbah uti." Abi segera mencium punggung tangan wanita tua itu.
"Kapan sampe?"
"Baru saja mbah."
Mbah uti tertawa pelan lantas menyandarkan tongkat kayunya ke dinding kayu belakang pintu.
"Piye kabare?"
"Baik mbah..." sahut Abi lembut, "mbah uti apa kabar?"
"Mbah juga baik."
Doris mengusap bahu sang nenek yang begitu antusias melihat kedatangan Abi. Obrolan mereka tampak asik sehingga Doris seolah tak nampak di antara mereka.
"Nggak kamu buatin wedang dulu suamimu, Do?"
"Jangan mbah, nanti Doris telat." sahut Abi, "lagian mbah uti juga nggak punya kopi, kan?" candanya sehingga membuat mbah uti tertawa terbahak-bahak.
"Ya sudah, buruan di antar." ujar mbah mengusir, "bukannya semalam kamu bilang, akan ada rapat kan Do."
Doris meringis mendengar itu, waktunya sekarang memang tinggal sedikit untuk sampai dan mengikuti rapat dewan di universitas menjelang siang nanti.
Untung saja Abi mengantarkan dirinya, sehingga Doris masih bisa mengejar waktu untuk rapat nanti.
"Nanti pulang jam berapa?"
"Jam enam."
"Aku jemput ya..."
Doris mengangguk saja, ia bahkan tak menolak sedari tadi Abi terus saja menggenggam jemarinya.
"Malam ini aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
"Kemana?"
"Rumah kita." sahut Abi penuh semangat, "kebetulan semalam pemasangan listrik serta lainnya sudah selesai, jadi kita bisa tinggal kapan saja."
Sesuai janji lelaki itu sebelumnya, dirinya kembali hari ini dan menemuinya di saat Doris sama sekali tak menyangka bahwa kehadiran Abi akan lebih cepat dari perkiraannya.
"Do?"
"Baiklah." sahut Doris singkat menyetujui ajakan Abi.
"Tapi kita harus pulang ke rumah mbah uti dulu."
"Siap sayang."
Entah kenapa percakapan ini terasa hambar bagi Doris. Dulu panggilan sayang saja, sudah membuat hati Doris berbunga-bunga. Di perlakukan begitu manis bahkan tak akan mau lepas disaat Abi menggenggam tanggannya seperti sekarang ini.
"Aku antar masuk ya."
"Nggak usah, Abi."
"Kenapa?"
Doris merutuki sikapnya yang tak bisa mengendalikan emosinya yang sedari tadi ia tahan, "maksudnya aku harus menemui para dosen lainnya." jelas Doris lembut, "setengah jam lagi akan ada rapat dengan mereka mengenai penerimaan mahasiswa baru di kampus ini, jadi aku tak ingin kalo kamu ikut justru membuatku betah berduaan di ruanganku nanti."
Sangat manis dan lembut Doris mengatakan kalimat itu, berharap Abi memahaminya dan tidak menaruh rasa curiga. Entah kenapa saat matanya menangkap satu hal yang aneh pada leher Abi, dirinya seolah baru menyadari jika suaminya itu telah memakai kalung.
"Baiklah."
Abi akhirnya pasrah, menuruti permintaan Doris dengan sedikit tak rela, "ingat, nanti sore aku jemput." Doris mengangguk, matanya menutup saat Abi mengecup dahinya begitu dalam.
Mobil Abi melaju meninggalkan area kampus, yang membuat Doris akhirnya bernafas lega sebab dirinya sudah muak bersikap manis di hadapan lelaki itu.
"Pagi bu Doris."
Sesuai prediksinya Doris tersenyum tipis menanggapi sapaan Fredy, "nunggu lama, kah?"
"Lumayan."
"Hmmm anyway... Abi dia-"
"Aku sudah tau." ia menunjuk ke arah leher Doris, "sudah pasti dia dalangnya." ejeknya.
Doris sontak merapikan rambutnya, menutupi lehernya yang terbuka setelah menyadari ucapan Fredy.
"Banyak kah?" bisiknya.
"Aku lihat..." Fredy melirik ke atas seakan berhitung, "cuma empat sih."
"Hah, sebanyak itu?!" pekik Doris panik tanpa sadar yang membuat Fredy tergelak akan kepolosannya.
"Buruan di cover pake foundation." saran lelaki itu yang masih terkekeh geli hingga akhirnya harus berpisah dengannya di ujung koridor mengingat ruangan mereka tidak searah.