Believe it or not

1483 Kata
Rapat sudah selesai tepat di waktu jam makan siang, mereka membubarkan diri dan segera kembali ke ruang masing-masing. "Sudah berapa lama Abi pulangnya?" "Baru tadi pagi." Seringai nakal Fredy membuat Doris salah tingkah, "a-anda kenapa?" "Nikmat sangat pastinya, sampai wajah seperti zombie begini, huh?!" goda lelaki itu membuat Doris mendeham sontak merapikan rambutnya. Sialan memang, kenapa Fredy jadi manusia julid sekarang. Belum lama mereka terlihat akrab setelah permintaannya tempo hari, sekarang sudah lancang saja yang berani mengejeknya. "Kalo belum siap, buruan beli morning after." Sontak Doris terbahak, "memangnya orang menikah tujuan utamanya apa sih pak, kalo bukan bikin anak?" "Ya... Siapa tau..." ujar Fredy lemah, "kalo begituan saja sih nggak butuh menikah, menurutku." "Saya tidak senakal itu." "Iya... Abi juga pernah mengatakan itu." aku Fredy. Cih... Benar yang Rita katakan padanya dulu. Rupanya para lelaki sama saja, mereka memang hobi ngerumpi dan membicarakan pasangan mereka pada sahabatnya. "Semoga dia tidak mengatakan hal buruk tentang saja." "Tenang saja, Abi itu sangat mengagumimu." Fredy tersenyum tipis menyampaikan jujur, "cara dia bercerita sangat jelas bahwa dia mencintai kamu, Doris." Doris menghela nafas panjang, semoga saja yang Fredy katakan benar. Abi mengaggumi serta mencintainya. Namun apakah lelaki ini tahu, bahwa ketulusan jugalah penting di saat masing-masing pasangan menjalin sebuah hubungan? "Amin." sahut Doris, tak mungkin dirinya mengatakan hal buruk yang pernah terjadi. Meskipun Abi dan Fredy adalah teman yang sangat akrab, dirinya tak ingin melibatkan siapapun mengenai kejamnya Abi yang pergi meninggalkannya seorang diri di kamar pengantin malam itu. "Aku perhatikan, Rita sering sekali menemui Teguh." "Maaf." "Untuk?" "Rita." "Kenapa?" Jangan menanyakan kenapa lagi bila sudah tahu jawaban dari pertanyaan itu, Doris pastikan dirinya tidak akan menjawabnya. Apalagi hubungan yang mereka jalani tidaklah sehat, dan itu sangatlah tidak etis bila Doris terang-terangan menjelaskan sikap salah Rita kali ini. "Entahlah." ujarnya sambil mengendikan kedua bahu, "siapa tau dia merepotkan kalian, karena Rita itu memang sangat merepotkan, dia itu bodoh..." jelasnya yang membuat Fredy terbahak mendengar ucapannya yang ceplas ceplos. "Sebenarnya dia itu lucu dan menarik." sanjungnya. Mereka pun kembali berpencar sebab ruangan mereka tidak satu arah. ***** Pusing rasanya memperhatikan Rita berjalan mondar mandir tak jelas di hadapannya. Gadis itu kesal mendengar penuturan yang Doris sampaikan mengenai pesan singkat semalam serta panasnya penyatuan di pagi harinya. "Serius gue kaget gue sama sekali belum siap, dan lo jangan terus salahin gue." ujarnya malas. "Dua minggu yang lalu, lo abis gituan sama si tampan. Apa lo nggak risih waktu Abi jilat-jilat itu lo." sahut Rita sarkas, "itu bekas si tampan lo, Do." "Kenapa jadi bahas yang lain, sih?!" "Ya, lo gitu sih." Otak udang, pakai sok-sokan mengomentari kehidupan Doris. Sedangkan Rita sendiri lebih dari satu kalau hanya mencari sebuah perbandingan. "Nggak baik nolak rejeki." kekehnya geli, "lagian Abi itu suami gue." "Dasar kegatelan." cibir Rita. Why not, lelaki itu suaminya, pikir Doris mengakui kelihaian Abi saat menungganginya tadi. Dirinya merasa puas bahkan ingin kembali merasakan sentuhan lelaki itu. Memang terdengar menggelikan dan tampak murahaan. Siapa sangka kegiatan yang selalu ia tolak semasa remaja hingga menikah, membuatnya ketagihan dengan sensasi menggelitik setiap melakukan penetrasi. "Bilang aja sirik." ejeknya, "karena gue bisa ngerasain dua pria tampan yang pernah ada." "Tampan itu relatif, meskipun gue akui mereka berdua tampan." Pecah sudah tawa Doris mendengar pengakuan Rita, baru kali ini sahabatnya itu tidak mengelak saat Doris membuat kalimat mengenai lawan jenis. "Ini sudah jam lima." Rita melirik ke arah jam tangannya. "Lo pulang bareng gue atau gimana?" "Ntar Abi jemput." "Oke, kalo gitu gue balik dulu." Doris mengangguk, ia sendiri pun mulai bersiap-siap sebelum Abi datang dan harus menyusulnya naik mendatangi ruangannya. Maka akan menjadi runyam ceritanya, karena mahasiswa sekarang amat teliti dan gemar mengarang berita yang melenceng. "Bukankah itu...?" Langkahnya melamban saat matanya menangkap hal yang akhir-akhir ini cukup mengganggu pikirannya. Doris berusaha bersikap tak acuh sebelum akhirnya menemukan dimana tempat Abi memarkirkan mobilnya. "Sayang." "Nunggu lama?" "Baru saja." sahut Abi, lelaki itu membantu Doris membawa tas serta buku-buku tebal yang senantiasa selalu bersamanya. "Masuk, Do..." Doris gelagapan bukan karena sikap Abi yang begitu manis membukakan pintu mobil untuknya. Melainkan pandangannya tak sengaja terbalas oleh sepasang mata tajam yang dingin menatapnya. Meski lelaki yang sudah menjadi suaminya itu tak menyadari sikap canggungnya, Doris berusaha tersenyum tulus padahal jantungnya berdebar kencang karena merasa sepasang mata itu terus saja memperhatikan interaksi mereka. "Kenapa sekarang tinggal dengan nenek kamu?" Mobil itu melaju meninggalkan area kampus di senja yang mulai gelap. "Nggak papa." sahut Doris tenang, "aku merindukan mbah uti, jadi aku memutuskan tinggal bersamanya setelah sebulan kita menikah." "Maaf..." Nada penyesalan Abi memang terdengar layak dan pantas terjadi, namun Doris bukanlah wanita kasar atau keras kepala dalam hal ini hingga membuatnya menolak pengakuan salah dari lelaki yang sudah sah menjadi suaminya. "Sudahlah..." sahut Doris lembut, "yang penting kamu nggak ngulangi itu lagi." Semoga saja dari lubuk hati yang paling dalam, Doris benar-benar menerima penuh ikhlas kesalahan lelaki itu. "Demi Tuhan, aku nggak akan ngulangi itu sayang." Mata Abi nampak berkaca-kaca terharu pada kebesaran hati Doris, "betapa terkutuknya aku malam itu." sesalnya. "Aku hanya kasihan sama dia." "Dia?" Doris mengangguk, "orang yang sembunyi di balik punggungmu." cibirnya. Merasa sesuatu harus ia luruskan pada Doris, lelaki itu memutuskan menepi dan berhenti di bahu jalan yang bebas dan kosong. "Biar aku jelaskan." ujar Abi begitu hati-hati. "Aku tidak menaruh perasaan sedikit pun padanya, demi apapun." ujarnya sungguh-sungguh. Menarik sekali mendengar alasan yang sebenarnya sudah umum bagi lelaki yang pernah ketahuan berselingkuh. "Di hari saat kita menikah, dia bilang padaku kalo dia hamil." ujarnya semakin lirih di kata terakhir. "Aku bodoh dan tidak bisa berfikir jernih. Dan memang aku salah, yang sudah bermain di belakangmu yang lebih memilih melakukan itu dengan wanita lain karena aku tak ingin merusakmu sebelum kita halal." sesalnya lagi. Hah... Doris akhirnya menghembuskan nafasnya setelah tadi sempat tertahan. Pengakuan dan penyesalan Abi kini akhirnya bisa menjawab semua pertanyaan yang terus saja menghantui pikirannya. "Kamu bisa melakukan itu denganku, jadi kamu nggak perlu selingkuh kan Bi?" "Iya..." "Iya???" Abi menatap Doris dengan senyum tipisnya, "kenyataannya kamu menolakku dulu." "Ya tapi kan kamu bisa merayuku." pekik Doris kesal. "Apa kamu akan bersedia setelah aku meminta hal itu padamu?" sahut Abi begitu frustasi, "reaksimu saat itu membuatku tak tega, sayang. Kamu menangis kencang seakan aku ini penjahat yang sangat kejam saat tak sengaja meremas dadamu, Doris." "Aku hanya terkejut, karena aku belum pernah begitu dengan siapapun." elak Doris. "Tapi kamu terus saja menuduhku yang bukan-bukan." "Siapa yang menuduh?" "Kamu, Do..." sahut Abi cepat, "kamu mengataiku lelaki yang tidak bisa menghargaimu, memakiku dan menuduhku menganggapmu sebagai seorang wanita murahann. Padahal aku sama sekali tidak pernah memikirkan itu, sedikit pun." Deg... Apa benar Doris sekeras itu? Apa benar dirinya bersikap yang amat berlebihan seperti itu? Bagaimana dirinya tidak menyadari akan tindakannya selama ini, yang membuat orang lain tak nyaman hingga kekasihnya pun akhirnya selingkuh demi kepuasan jasmaninya? "A-apa katamu?" Abi menghela nafas panjang melihat keterkejutan Doris setelah dirinya kembali mengulik kisah itu. "Aku sangat mencintaimu..." tegasnya, "aku sama sekali tak ingin melukaimu... Percayalah..." Ia mencoba menyetuh Doris, namun siapa sangka istrinya itu telah menolak dan mengelak sentuhannya. "Tidak mungkin." "Maksudnya?" "Tidak mungkin karena itu." "Maksud kamu apa, sayang?" Doria menggelengkan kepalanya cepat, "aku rasa alasannya bukan itu." Ia menatap Abi penuh luka, bila memang karena hal ini yang menyebabkan lelaki itu selingkuh, tentu saja Doris akan menyadari sikap Abi yang tak nyaman dengan alasan Doris yang menolak sentuhannya dulu. "Siapa dia?" "Apa maksudmu?" "Siapa wanita itu?" "Dia bukan siapa-siapa." Sontak Doris mendecih mendengar sahutan itu, "bukankah katamu dia hamil?" "Sekarang tidak." Apa ini, kenapa segampang ini Abi menjawabnya. Kenapa Doris semakin jengkel dengan sikap Abi yang tampak biasa saja seolah wanita itu sangatlah tidak penting sekarang. "Kalian membunuh janin kalian?" "Apaan sih?" Abi merasa terganggu dengan ungkapan itu, "aku tidak sejahat itu, Doris." kesalnya. "Aku berniat tanggung jawab, menunggu bayi itu lahir baru aku bisa pergi darinya." Plak... "Kamu gila?" "Tidak..." Abi menggeleng cepat, "aku serius." "Kamu kira wanita semudah itu kamu permainkan?" serunya marah, "kamu menidurinya, menghamilinya lalu mencampakannya setelah bayi itu lahir ke dunia begitu saja, hah?" Benar-benar tak habis pikir dirinya harus menemui lelaki sekejam ini semasa hidupnya. "Itu bukan bayiku." sahut Abi tak terima, "aku begitu karena aku tau, itu bukan bayiku...!!!" Lelaki itu memukul stir mobil sebagai luapan emosinya karena Doris terus menyalahkan dan menatapnya marah hingga tidak mau mempercayainya. "Demi cintaku padamu, aku tidak akan membuatnya hamil meskipun sudah berkali-kali aku menyetubuhinya." Persetan dengan harga diri sekarang ini, bagi Abi dirinya ingin Doris mempercayai kejujurannya. "Apa katamu?" "Yaaa...!" sahut Abi tak membiarkan Doris kembali menyalahkannya, "aku selalu pakai pengaman saat kami melakukan itu, dan itu artinya bayi yang dia kandung bukan milikku." seru Abi. "Fuckoff... Berengsekkk..." umpatnya kembali memukul stir kemudi meluapkan amarahnya. Sekarang terserah Doris mau percaya atau tidak, yang jelas hidup hati dan perasaan Abi sudah ia labuhkan untuk wanita yang sudah resmi ia nikahi ini yang sudah menjadi istri sahnya meskipun usia pernikahan mereka masih seumur jagung. Abi sangat mencintai Doris.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN