"Mana Abi, Do?"
"Masih di luar karena nyari tempat parkir mbah." sahut Doris setelah simbah keluar dari kamarnya.
"Kenapa nggak parkir di depan sini saja?"
Tak lama Abi pun menyusul masuk ke dalam rumah mbah uti, "malam mbah." sapanya sopan.
"Kalian mau keluar lagi?"
Kenapa mbah uti menanyakan hal itu, karena Doris memiliki kebiasaan langsung mandi setiap pulang kerja. Namun kini Doris justru masuk ke dalam kamarnya yang memungkinkan bahwa cucunya sedang ganti baju.
"Iya mbah."
"Bagus kalo begitu, soalnya dirumah nggak ada nasi." ujar mbah uti lega.
Memang sengaja wanita tua itu tak memasak untuk sepasang muda mudi tersebut. Sebagai orang tua dirinya pasti mengerti apalagi keduanya baru di pertemukan kembali setelah beberapa bulan berpisah.
"Atau mbah mau ikut?" ajak Abi.
"Kemana?"
"Saya ingin menunjukan rumah kami mbah, rumah baru kami."
Namun sayang, mbah uti tak ingin gabung dan ikut melihat rumah baru mereka. Padahal Doris yang sedari tadi di kamar, ingin sekali mbah uti menyetujui ajakan Abi.
"Ikut yuk mbah." rayu Doris gegas keluar kamar, "Do pengen mbah uti juga melihatnya, bareng Do."
"Nggak ah, mbah capek." tolaknya lagi, "mending kalian ajakin Juriah, dia pasti senang."
Kenapa hal ini tak terpikirkan Doris sama sekali, bagaimana bisa Abi menemukan dirinya dan mengetahui bahwa dia tinggal di rumah ini.
"Oh iya." Doris menatap Abi penuh tanya, "apa kamu sudah bertemu ibu pagi tadi?"
"Tidak." sahut Abi menggeleng, "sepertinya ibu kamu nggak di rumah."
"Masa?"
"Tetangga kalian sempat melihat ibu pergi di jemput seseorang, bawa tas banyak." jelas Abi.
"Terus, kamu tau aku di sini dari tetangga aku juga?"
Abi menggeleng lagi, tak semua yang ia tahu berasal dari tetangganya. Bahkan saat dirinya mendatangi rumah Doris, banyak sekali yang tak segan mencibirnya bahkan berani menatapnya penuh permusuhan.
"Kedatanganku tadi niatnya hanya ingin bertanya, namun tak ku sangka justru aku menemukanmu di sini."
"Mau sampai kapan jagongane?" sela mbah uti menginterupsi percakapan mereka.
"Mbah mau kunci pintu, udah ngantuk."
"Kenapa di kunci, ini baru jam tujuh?" tanya Doris heran.
"Memangnya kalian mau nginep di sini?"
"Kenapa nggak?"
"Terus suami kamu di suruh tidur di mana?"
Sepertinya Doris tidak memahami apa yang di maksud sang nenek, mereka suami istri tentu tidak akan beliau biarkan menginap di rumah reot itu. Sedangkan Abi baru saja mengatakan bahwa mereka hendak mengunjungi rumah baru mereka.
"Kan boleh tidur di sini."
Tuk...
Doris mengaduh saat mbah uti menggetok kepalanya menggunakan tongkat kayu.
"Bocah edan." ujar mbah uti kesal, "mana mungkin kamu biarin Abi tidur di lantai."
Pasalnya di rumah itu hanya ada meja kayu usang serta kursi tunggal yang sudah tak layak pakai akibat hilang beberapa pakunya juga kayu mulai rapuh. Bahkan Doris serta sang nenek tidur bersama di kamar yang hanya tersedia ranjang kayu tanpa alas kasur yang empuk.
"Tapi kan."
Mbah uti menggetok kepala Doris lagi, hal itu membuat Abi meringis merasa kasihan pada istrinya.
"Saya bisa tidur di luar kok mbah."
"Kalian ini gimana? Punya rumah ya tidur di rumah kalian sendiri, jangan bodoh..." seru mbah uti tak suka.
Apa yang dikatakan sang nenek itu benar adanya, kenapa Doris masih bersikeras untuk menetap di sini sedangkan rumah mereka sudah jadi dan layak huni.
"Do..." panggil Abi lembut, "benar kata mbah uti."
"Tapi-"
"Nggak ada tapi-tapian." ucapan mbah uti telak tak terbantahkan, bahkan baju serta barang miliknya yang dulu Doris usung ke sini pun di minta agar di angkut pergi sekalian.
Abi menyesal dan ikut merasakan kesedihan Doris. Dirinya pun mencoba membujuk wanita tua itu namun tak berhasil dan hanya ada penolakan.
"Maafin aku sayang." ujar Abi setelah mereka pamit dari pergi dari tempat mbah uti. Sempat ragu dirinya mengajak Doris pulang. Namun karena Abi membenarkan sikap mbah uti yang memintanya segera memboyong Doris ke rumah baru mereka, Abi sendiri pun tak ingin menundanya lagi.
"Aku hanya ingin mengabdi di masa-masa tua dia sekarang ini." jelas Doris sesenggukan, sedih dan kecewa karena mbah uti tak bersedia dengan usulannya.
Perasaan lelaki itu ikut terluka melihat mata Doris yang basah serta aduan pilu kepadanya, "mungkin tidak sekarang, sayang." ujarnya begitu lembut, "butuh waktu untuk beliau berfikir kalo kamu tiba-tiba memintanya ikut pindah ke sini."
"Aku khawatir dengannya, akhir-akhir ini mbah uti semakin pikun saja." tangis Doris semakin kencang, "apa aku salah memaksanya tadi?"
"Nggak sayang..."
Lelaki itu membunyikan klakson yang membuat sepasang paruh baya keluar dari rumah indah, tampak sedikit tergesa.
Semua ini sesuai impian Doris. Nuansa putih bersih dengan teras dan halaman penuh di tumbuhi berbagai macam pohon kecil serta bunga lili kesukaanya.
"Tolong angkat barang-barang yang di belakang." perintah Abi pada mereka yang kemudian kembali memandangi Doris.
"Turun yuk." ujarnya lembut, "kita masuk dulu agar kamu bisa istirahat."
Bujukan Abi pun berhasil meskipun sebelumnya harus mendengar ringikan-ringikan manja Doris yang kembali mengadukan kesedihannya itu.
"Malam mas Abi, mbak Doris." sapa sepasang paruh baya tadi.
"Mereka berdua bu Suwati dan pak Suladi, suami istri yang akan bekerja mengurus dan membantu keperluan kamu di rumah kita, sayang."
Matanya yang masih sebam itu memaksa dirinya tersenyum ke arah sepasang suami istri tersebut, "mohon bantuannya ya pak, bu." sapanya balik dengan nada suara sengau.
"Anda berdua sudah makan?"
"Belum bu Su." Abi pun meminta wanita paruh baya itu untuk menyiapkan makan malam mereka.
"Dan ini kamar kita sayang."
Begitu antusiasnya Abi menunjukan kamar utama di rumah tersebut, dengan memeluk pinggang Doris begitu posesif memasuki kamar mereka.
"Apa kamu senang?"
Tak ada kata yang pantas menggambarkan perasaannya kali ini, perasaan hangat serta kagum akan apa yang ia lihat membuatnya tak mampu berkata-kata.
Doris mengangguk cepat, ia memeluk tubuh Abi penuh erat dan kembali menangis karena terharu.
"Sejak kapan kamu menyiapkan ini semua?" suaranya teredam samar saat Doris menempelkan wajahnya di dadanya.
Apakah harus Abi mengatakan yang sejujurnya? Dirinya sudah menyiapkan rumah ini lama, setahun lebih sebelum mereka menikah dulu. Awal rencana Abi tidaklah begini, karena dirinya hendak memberi kejutan kepada wanita yang ia cintai itu, tepat pada hari kedua setelah pernikahan mereka. Abi ingin menjadikan rumah ini sebagai hadiah untuk sang istri mengingat tanggal pernikahan dan hari kelahiran Doris hanya selisih lima hari.
"Maafkan aku."
"Kenapa lagi? Kenapa kamu terus saja minta maaf?"
"Tadinya bukan begini rencanaku."
"Maksudnya?"
"Rumah ini sudah lama jadi, tapi aku malah menempatinya sendiri tanpa kamu."
Doris dia tak menjawab, ia ingin mendengar lebih lanjut penjelasan Abi.
"Itu semua gara-gara kesalahanku, sayang."
"Aneh sekali... Kenapa malah menempatinya sendiri?"
"Terus sama siapa?" sahut Abi bingung.
"Aku ini yatim piatu, kerabat ayah dan ibuku juga tidak ada yang tinggal di negara ini. Yang aku punya saat ini cuma kamu."
Ya Tuhan... Kenapa Doris masih saja memiliki pemikiran buruk lainnya? Dirinya jadi merasa bersalah sempat ingin menyebut wanita lain sebagai jawabannya.
"Kalo saja negara kita bukan negara hukum, akan aku bunuh manusia itu, siapapun yang tega merusak kebahagiaan kita." ujarnya lirih. "tapi masalahnya, malam itu karma untukku yang tidak setia padamu."
Abi menunduk malu yang membuat Doris membingkai wajah tampan itu, dirinya sudah tak memiliki alasan lagi untuk menolak dan kembali menerima Abi.
"Hidupku hancur Doris... Hancur melihatmu menangis sendiri dan meninggalkanmu waktu itu."
"Apa sehebat itu?" ujar Doris kemudian, "apa sehebat itu balasan bagi seseorang yang mencintai kekasihnya dengan tulus?"
Itu adalah pertanyaan untuknya sendiri.
"Aku juga mencintaimu Abi."
Tawa dan tangis haru keduanya yang saling berpelukan sungguh menggambarkan kebahagiaan. Abi senang Doris kembali menerimanya. Meski mengutarakan rasa cinta diantara keduanya sudah menjadi hal yang biasa, namun Abi tetap percaya dan bersyukur dengan semua ini.
"Akan aku buat kerajaan cinta untukmu nanti." gombal Abi yang membuat Doris terkekeh geli.
"Iya iya, aku percaya."
Kemampuan Abi tidak pernah ia ragukan, meskipun dirinya meminta bangunan rumah yang berbentuk abstrak sekalipun. Dan sebagai salah satu arsitek ternama di seluruh negeri ini, seharusnya Doris memaklumi. Bukti nyata yang mereka pijak sekarang itu tidaklah sulit untuk Abi mengabulkan rumah impiannya dulu.
"Eits, nanti saja." elak Doris yang terkekeh geli saat Abi hendak menciumnya.
"Kita sekarang harus makan dulu, abis itu mandi dan setelahnya kamu mau apain aku pun, itu terserah kamu." jelas Doris gemas.
Meski kecewa mendapat penolakan, Abi menggeram mencoba menekan hasratnya agar tak bangkit dan harus membuatnya kabur ke kamar mandi untuk manggung solo bersama mic.
"Kasian mickey." lirihnya memelas.
"Mic-mickey?"
Abi melirik ke bawah yang sontak membuat Doris terbahak, tingkah lucu betapa menggemaskannya suaminya ini. Hampir saja ia mengamuk karena Abi menyebut nama lain di hadapannya. Rupanya mickey adalah adik Abi yang pagi tadi membuatnya mendesah nikmat.
"Tugas kamu sekarang adalah bujuk dia agar sabar." goda Doris yang begitu kurang ajarnya menyenggolnya seakan tak sengaja dan melesat pergi sebelum Abi menerkamnya.
"Sabar ya mic..."
Abi merana mengintip sedikit miliknya. Raut wajahnya amat tersiksa yang harus menunda manggung, setelah Doris berhasil membuatnya bangkit sempurna akibat sentuhan ringan kenakalannya tadi.