Tak apa bila dirinya harus tinggal dengan jarak sedikit jauh dari ibu serta neneknya. Doris tetap bersyukur dengan apa yang Abi berikan padanya sampai saat ini.
Selain menjadi dosen, hidupnya kini lebih tercukup sesuai apa yang pernah di ucapkan oleh ibunya dulu. Kini dia tak lagi yang harus rela menunggu setengah atau satu jam lebih untuk sebuah kendaraan umum demi sampai ke tempat kerja tepat waktu. Karena Abi menyiapkan fasilitas berkendara sepeda motor untuknya, sebab Doris tidak berani menyetir sendiri.
Sayang, aku sudah sampai kantor dengan selamat...
Pesan singkat dari Abi kini kembali hadir menghiasi paginya, setelah sempat absen beberapa bulan yang lalu.
"Menggemaskan." gumamnya lantas membalas emot hati sebagai simbol bahwa dia mencintai suaminya.
Penampilan Doris kembali tertutup, tidaklah seksi dan terbuka seperti beberapa bulan yang lalu. Dirinya ingin menjaga perasaan sang suami yang memang pada dasarnya adalah lelaki pencemburu.
"Kamu cantik bila berpakaian oversize begini." sanjung Fredy, "seperti..."
"Korea style?"
Jarinya menjentik saat Doris menebak apa yang ingin ia sampaikan.
"Benar." seru Fredy, "yang wajahnya sulit untuk di bedakan." keluhnya.
Dirinya selalu selisih pendapat dengan kekasihnya atau bahkan kena marah apabila keliru saat menyebut salah satu artis atau personil pop dari grup mereka.
"Kamu tau apa yang membuat dunia para pria tamat?"
"Apa?"
"Wanita dan anak perempuan pertamanya."
Fredy sontak tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon Doris. Sebenarnya kata itu sering ia dengar namun siapa sangka kalau Doris juga akan menggunakan lelucon kuno itu saat sedang bersama teman atau rekan kerjanya.
"Sekarang aku mengerti, kenapa Abi mencintaimu..."
Tawa Doris yang kencang pun lambat laun berkurang berubah menjadi senyuman canggung.
"Kamu itu menarik."
"Hehe." wanita itu mendeham, semakin dipuji lelaki di hadapannya itu, membuat sesuatu interaksi di antara mereka menjadi tak nyaman.
"Jangan salah paham." ujar Fredy, "aku memuji bukan ingin memiliki."
"Haha." kini Doris kembali tertawa, tertawa garing seolah menegaskan bahwa dirinya tidak akan salah paham dengan kata-kata Fredy sebelumnya, "pak Fredy selalu begini... Orang lain pasti akan salah paham. Tapi kalo aku?" tangan Doris menunjuk ke arahnya sendiri, "aku nggak mungkin berfikir berlebihan begitu." elaknya, "ya meskipun sebenarnya tadi sempet berfikir begitu." cicitnya canggung.
"Maaf."
"Kok maaf?"
"Maaf, karena sudah bikin kamu nggak nyaman." sesal lelaki itu.
"Justru yang begini, yang bikin saya nggak nyaman." cebik Doris, namun tak selang lama wanita itu terbahak karena Fredy tampak begitu serius menanggapinya.
"Hari ini ada mengajar?"
"Tidak."
"Lalu kenapa masuk? Bukankah minggu depan kamu akan ke Jakarta?"
"Iya benar, aku di minta untuk menghadap kepada kepala rektor kita yang baru."
"Pak Ahmad sudah ada yang ganti?" tanya Doris terkejut.
"Tidak sekarang, mungkin enam bulan atau satu tahun lagi."
Entah kenapa Doris merasa sedih mendengar kabar ini, selama bergabung di universitas ini dirinya sudah menganggap Ahmad layaknya ayah sendiri.
"Ini pasti terjadi, kamu akan terbiasa nantinya."
"Tapi-"
"Ya sudah aku pergi dulu, sebelum mereka protes lagi karena keterlambatanku."
Semoga saja pengganti pak Ahmad mampu membawa nasib universitas ini semakin sukses bahkan lebih dari sebelumnya, begitulah doa Doris sekarang.
*****
Nafsu makan Doris menguap, malam ini semua menu yang di siapkan sesuai keinginannya rupanya tak ada satupun yang masuk ke mulutnya. Baru satu suapan namun Doris segera mengeluarkan lagi makanan malang itu dari mulutnya.
"Jangan begini lah sayang, please..."
Doris menepis usapan tangan Abi di pundaknya, perasaan tak karuan membuatnya ingin marah dan menangis.
"Belum empat bulan kamu kembali lagi padaku dan sekarang kamu mau pergi lagi?" ujar Doris kesal, "apa selingkuhanmu yang memintamu mendatanginya lagi?"
"Astaga Doris.. ! Aku bukan pergi darimu, aku ini bekerja... Perusahaan ingin aku pergi sendiri untuk meninjau tempat yang akan menjadi proyek kami nanti di sana...!" sahut Abi membentak, "kenapa kamu masih saja tidak percaya, aku dan dia sudah tidak pernah berhubungan lagi, aku berani bersumpah...!!!"
"Oh ya?!" sahut Doris tak kalah berseru, "kamu meninggalkanku dan lebih memilih dia, bertepatan momen kebahagiaan kita, bukankah itu sangat memungkinkan mengingat kamu lebih mementingkan dia daripada nasib pernikahan kita yang seumur jagung ini..." ujarnya mengungkit itu lagi.
Rahang Abi mengeras saat Doris terus saja menyudutkannya, dirinya sungguh-sungguh ingin memperbaiki apa yang telah rusak. Tapi kenapa Doris justru tidak ingin memberi kesempatan baginya dan terus menuduhnya.
"Sebelum kita menikah, kamu juga paham betul dengan pekerjaanku ini. Kamu tak pernah protes atau menghalangiku. Kamu juga yang selalu menemaniku selama awal masa karir hingga sampai puncak pencapaianku ini." ujar Abi lirih, "apa yang merubahmu Doris, ada apa denganmu sekarang?"
Perkataan Abi rupanya membuat hati Doris semakin tak karuan, dulu dirinya yang begitu tulus pada Abi saja masih harus menerima kenyataan pahit atas Abi yang terang-terangan memiliki wanita lain selain dirinya.
"Benar... Apa yang kamu katakan benar." Doris menatapnya penuh luka, "tapi apa kamu lupa? Aku yang begitu polos dan setia menemanimu, justru membuatmu buta akan ketulusan yang aku berikan."
"Aku tidak pernah buta melihat ketulusanmu itu."
"Tapi kamu tamak Abi, kamu tamak karena memanfaatkan perasaanku."
Sebelum pembicaraan mereka semakin dalam dan semakin menggores lagi luka yang belum mengering, Doris memilih bangkit dan pergi meninggalkan meja makan tanpa menatap ke arah Abi lagi.
"Aarrrgghhh." geram Abi, apa sesulit ini mendapatkan kepercayaan lagi dari wanita yang di cintainya. Rasa sesal dan marah membuat Abi ikut tak memiliki nafsu makan di malam itu.
"Bu Su... Anda bisa menyimpan lagi makanan ini untuk kalian, saya sudah kenyang." perintahnya dan pergi untuk menyusul Doris ke dalam kamar mereka.
"Sayang..."
Abi membuka pintu kamar mereka dan menutupnya kembali. Ia perlahan menghampiri Doris yang sudah membungkus tubuhnya di balik selimut tebal sambil tidur miring memunggunginya.
"Maafkan aku." ujarnya lembut.
"Aku tau, pasti sulit bagimu mempercayaiku."
Lelaki itu pun menyusup ke dalam selimut lantas memeluk Doris dari belakang.
"Semua ini salahku, sampai kamu harus terluka karena ku."
"Pergi sana." ujar Doris ketus.
"Jangan sentuh-sentuh."
"Iya, aku akan pergi beberapa minggu saja dan aku akan kembali lagi." sahut Abi lembut, "dan ingat kalo suami kamu ini pergi untuk bekerja, supaya semakin kaya raya dan mampu membelikan rumah dengan atap terbuat dari emas." candanya menahan tawa, "bukankah kamu ingin rumah yang seperti monas, hmm?"
Memang tak sulit membujuknya, karena Abi sangat mengerti apa yang ada di hati Doris. Wanita yang menjadi istrinya itu memanglah berhati mulia, Doris itu baik dan mudah memaafkan.
"Aku sudah tidak mau lagi dengan monas."
"Lalu apa?"
"Kamu bawakan saja guling yang bisa bernafas."
"Hah, maksudnya?"
Doris memutar tubuhnya dan mereka kini saling bertatapan, "iya... Guling hidup pengganti suamiku yang tidak pulang karena sibuk bekerja." jelasnya penuh riang.
"Mana bisa begitu." seru Abi terkejut.
"Tidak ada yang namanya guling hidup..." jelasnya tak terima, "apalagi sesuatu yang menggantikan aku di sisimu." tegasnya.
"Aku akan kesepian, kalo hanya disuruh menunggumu saja."
"Nggak... Jangan pernah berfikir itu lagi, itu tidak akan terjadi."
Rasakan... Bagaimana jadinya bila Doris benar-benar memiliki pria idaman yang lain, sudah bisa di pastikan Abi tidak akan tega meninggalkan dirinya di rumah sendiri.
"Apa salahnya, ini adil bukan?!"
"Tidak..." sahut Abi cepat, "adil darimana? Itu namanya kamu selingkuh atas ijinku." gerutunya, memang terdengar memalukan saat dirinya sendiri pernah berbuat begitu. Namun apa perlu Doris juga membalasnya begitu?
"Kalo kamu tidak mau di rumah, kamu boleh ikut denganku ke sana." tawarnya.
"Kenapa aku harus ikut?"
"Biar kamu tidak beralasan kesepian."
"Aku harus bekerja, lagi pula bulan ini akan banyak pekerjaan karena mahasiswa kami banyak yang akan sidang skripsi."
Wanita selalu seenaknya sendiri, membuat Abi kehabisan akal saja.
"Lalu? Apa aku harus membatalkan proyek ini? Begitukah maumu?" tanyanya hati-hati.
"Tentu tidak."
"Jadi? Kamu maunya gimana?"
"Aku hanya bercanda..." ujar Doris akhirnya, "aku hanya terkejut tadinya."
Nafas lega Abi membuat Doris sontak terbahak, "kenapa menghela nafas? Apa sikapku tadi mengejutkanmu?"
"Demi Tuhan Doris, kamu membuatku hampir gila." lirih Abi, "tak biasanya kamu rewel begini."
Lagi-lagi Doris terkekeh geli, ia mengecup singkat bibir Abi yang menggemaskan bila sedang bingung.
"Tapi aku serius dengan guling hidup tadi."
"Jangan bercanda." seru Abi, ia geram lantas menggelitik sang istri yang kembali menggodanya.
Ini tidak patut untuk sebuah kalimat canda saja. Abi bisa menjadi gila apabila Doris pergi atau memiliki pria lain selain dirinya.
"Tidak akan aku biarkan pria lain menyentuhmu bahkan celah untuk mereka di hatimu, sayang."
Abi pun memeluk tubuh Doris yang entah kenapa menegang setelah mendengar ucapan darinya. Biar Doris tahu kalau Abi sangat mencintai dan menyayangi melebihi dirinya sendiri.
"Berapa lama kamu di Dubai?"
"Entah." sahut Abi, "mungkin satu atau dua minggu, karena kami belum pernah bekerja dengan perusahaan itu sebelumnya." Doris mengangguk paham, ia kembali memeluk tubuh Abi, hingga mereka berdua mendengar bunyi begitu nyaring dari perutnya yang membuat keduanya tergelak bersama. Rupanya Doris kembali merasakan lapar setelah mereka kembali berbaikan akibat drama kerewelan Doris tadi.