Sedih rasanya saat mendengar Abi harus pergi tiga hari lagi. Doris terus saja memandanginya semenjak lelaki itu pulang kerja sampai detik ini.
"Sayang..."
"Iya."
Doris menyambut begitu hangat saat Abi memanggilnya dengan nada manja begini. Untuk sebagian orang-orang yang tidak memahami ini, pasti beranggapan bahwa Abi dan dia hanyalah pasangan yang berlebihan melalui cara mereka saling bermanja.
"Bos kami ingin mengunjungi kantor cabang kami di Jogja, tapi dia tidak mau menginap di resort milik keluarganya." ujarnya, yang seperti biasa saat dirinya pulang kerja, maka apapun akan Abi adukan pada sang istri tercinta.
"Lalu?"
"Dia memintaku mencarikan kontrakan untuknya menginap beberapa hari ini."
Tak paham dengan yang disampaikan oleh Abi, Doris menatapnya bingung. Sebagai bos dari perusahaan Abi bekerja, tentu beliau memiliki uang yang banyak, bukan? Apalagi Abi yang hanya karyawannya saja, bahkan memiliki upah kerja yang begitu fantastik jauh dari umumnya sebagai nominal rata-rata penghasilan penduduk kota tersebut.
"Kenapa nggak nginep saja di hotel?"
"Dia tidak menyukai segala hal mengenai tempat itu."
"Aneh sekali."
Lelaki itu hanya mengendikan kedua bahunya, "ada alasan yang menyebabkan itu, sih."
"Apa? Kenapa memangnya?"
"Aku dengar dari teman kerjaku yang lebih lama bekerja dengannya, dulu saat mereka kecil sempat diculik penjahat."
Mata Doris melotot, ia menutup mulutnya yang menganga akibat terkejut, "di-diculik?" gagapnya.
"Benar, sangat mengerikan bahkan hampir terbunuh."
Sekujur tubuh Doris bergidik ngeri, dirinya tak pernah berfikir sekalipun diculik atau adanya penculik di sekitarnya.
"Pasti mereka dari keluarga kaya raya."
"Memang... Hampir seluruh negri ini di setiap kotanya terdapat perusahaan mereka."
Tebakan Doris rupanya benar, tapi apa itu penting sekarang?
"Jadi..." Abi tampak gugup saat Doris menatapnya lekat-lekat, "aku pikir rumah kita cukup luas untuk menampung satu orang lagi, bukan?"
"Maksudnya?"
Abi menarik nafas dalam-dalam, menghembusnya perlahan hingga membuat Doris semakin tak sabar, "apa maksudnya? Kamu mau ngomong apa sih Bi?"
"Kita bisa memberi satu kamar untuknya menginap." jawabnya penuh hati-hati, "kamu nggak akan keberatan kan, kalo bos aku menginap di sini?"
"Tunggu deh..." Doris mengangkat satu lengannya setelah mengerti maksud yang ingin di sampaikan oleh Abi.
"Bos kamu cowok?"
Abi mengangguk.
"Dan kamu ingin dia menginap di sini?"
Abi mengangguk lagi.
"Sampai kapan?"
"Tidak tau pastinya." jawab Abi bingung, "biasanya mereka bilang seminggu atau sebulan."
Doris diam membuat Abi semakin gugup, "jadi?"
"Nggak..." putus Doris, "aku nggak setuju."
"Kenapa?"
"Kamu pergi ke Dubai dan nggak tau kapan pulangnya. Mana mungkin kita menampung dia di sini, saat kamu nggak di rumah." jelas Doris kesal.
"Apa yang orang lain pikirkan nanti?"
"Tapi dia bos aku, Doris..."
"Ya, tetap aku nggak setuju."
Abi kecewa dengan keputusan sang istri, dirinya berharap Doris juga bersedia menerima sang bos menginap di rumah mereka. Toh tidak selamanya sang bos di sana. Dan tidak mungkin juga menetap di rumah mereka.
"Tolong kamu pikir lagi."
"Aku nggak mau, Bi."
"Soalnya tadi aku terlanjur setuju."
Itu artinya Doris tidak memiliki pilihan agar bersedia menerima seseorang yang akan menjadi tamu agung tersebut.
"Gimana sih..."
Tak disangka, rupanya Abi memang seceroboh ini. Kemarin Abi lupa membawa dokumen yang harus ia bawa untuk presentasi. Sekarang lelaki itu bahkan asal menyetujui sesuatu yang harus berunding dengannya terlebih dahulu.
Kalau Abi sudah menyetujui hal itu dari awal, lalu kenapa tadi menanyakan pendapat darinya. Buang-buang waktu saja.
"Maaf... Sebagai karyawan aku harus bersikap baik dengan pak bos." sesalnya, "tapi kalo kamu keberatan, aku akan meminta tolong sama temanku saja."
"Biasanya dimana dia nginep?"
"Kontrakan milik bapaknya Gina."
"Mbak Gina?"
"Iya..."
"Kenapa nggak kamu suruh nginep di sana lagi? Kenapa harus memberi tumpangan untuk bos kamu? Dia itu pria, lawan jenisku. Akan canggung kalo di rumah saat suamiku nggak di rumah." gerutunya.
Abi menunduk lesu, sebenarnya ini sudah sempat ia pikirkan. Namun di rumah ini yang selalu berada di rumah adalah bu Suwati dan suaminya pak Suladi. Bahkan Doris akan pulang larut malam bila memiliki jadwal mengajar di malam harinya. Itulah mengapa Abi menyetujui bila sang bos menginap di rumah mereka. Lagi pula hanya beberapa hari.
"Aku akan bilang ke Gina, kalo bos bakal menginap di tempat kos-an bapaknya." putusnya berat.
"Harusnya begitu sih."
Melihat gestur tubuh Abi yang kebingungan membuat Doris tak tega, "tapi karena dia bos kamu, ya nggak papa kalo dia menginap beberapa hari di sini."
"Serius?" Doris mengangguk.
"Makasih, sayang."
"Tapi nggak untuk lain kali, apalagi kalo kamu nggak di rumah seperti ini. Pasti nggak nyaman banget, kan Bi."
"Iya, tau..." ujar Abi menyesal, "aku berharap setelah ini pak bos semakin memperhatikan posisiku di kantor. Aku rajin dan selalu memberi yang terbaik, namun harus pasrah karena di tengah-tengah kami masih banyak manusia yang membutuhkan perhatian, jadi kerja kerasku terasa tak begitu berpengaruh untuk perusahaan."
"Bodoh..." sahut Doris lembut, ia tersenyum dan membingkai wajah Abi, "apa kamu lupa? Masih ada aku di sini."
"Bukan begitu maksudku." Abi membalas tatapnya lesu, "kalian para wanita tidak akan mengerti harga diri pria di saat mereka tak di hargai kerja kerasnya." adunya.
Pada dasarnya semua lelaki yang memiliki semangat tinggi maka rasa menuntut pada dirinya sendiri pun tak kalah tinggi, Doris mengerti apa yang Abi rasakan sekarang ini. Karena tidak ingin memberi kalimat saran dan masukan yang tidak penting, yang Doris bisa lakukan adalah memeluk tubuh Abi berusaha menyalurkan energi positif darinya untuk Abi.
"Apa bos kamu yang tinggi, gagah, tampan, beruban, tapi sangat mempesona dan amat sangat mengagumi istrinya itu?" tanyanya mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Bukan."
"Lalu?"
"Kamu belum sempat menemuinya, soalnya kamu sakit perut setelah makan camilan pedas di sana."
Doris sontak tergelak, memang dirinya kalap sehingga mengambil sebanyak-banyaknya makanan lezat yang terhidang dan di sediakan untuk para tamu di meja pada pesta waktu itu disaat Abi mengajaknya sebagai pasangannya beberapa tahun lalu sebelum mereka menikah.
"Enak semua makanannya." ujarnya begitu antusias, "jadi bikin nagih, tapi lupa kalo aku nggak bisa makan pedas dengan level tinggi seperti itu."
"Itu semua, masakan bos sendiri."
"Yang mana?"
"Yang di meja, semua..."
"Bos kamu atau ibunya bos kamu?"
"Ibunya bos, dia memang hobi masak jadi tidak pernah menggunakan jasa katering."
"Waahh, hebat sekali." ujar Doris takjub, "semua itu makanan terenak yang pernah aku makan."
"Pasti anak-anaknya gendut."
"Memang..."
Doris terkekeh geli membayangkan betapa lucu dan menggemaskan anak-anaknya.
"Mereka masih muda, padahal usianya sudah kepala lima."
Abi mengangguk menyetujui, memang pasangan paruh baya yang merayakan ulang tahun pernikahan mereka ke dua lima, Abi pun sempat sepemikiran dengan Doris. Usia memang tak bisa diukur dari penampilan seseorang.
"Sayang..."
"Hnnn?"
"Kamu bisa tidak, jangan berpakaian seperti ini?"
Doris sontak memandang daster batik super besar yang ia kenakan sekarang.
"Kenapa?" ia bingung karena Abi mendadak mengatakan itu.
"Terlalu kuno, dan itu membuat kamu sedikit lebih tua." Abi meringis mengutarakan isi hatinya selama ini, "kamu nggak marah kan?" tanyanya penuh hati-hati tak ingin menyinggung perasaan sang istri.
"Aku kira, dengan memakai pakaian seperti ini kamu nggak bakal curiga atau merasa cemburu."
"Kamu istriku, aku sudah pasti percaya sama kamu."
Doris mengangguk tipis, "lalu kamu pengen aku berpakaian seksi, gitu?"
"Aku mau kamu berpakaian seperti pas menyambutku pulang pagi itu."
Doris tak menyangka Abi semesum ini, waktu itu Doris tak sengaja memakai pakaian berbahan tipis bahkan sangat menerawang. Padahal Doris menutupi jaket oversize agar seseorang tak mengetahui saat dirinya berpakaian super seksi menggoda pagi itu.
"Ta-tapi i-itu-"
"Aku suka banget, kamu sangat seksi dengan dadamu yang besar seperti sekarang ini." ujar Abi sungguh-sungguh, ia meremas tempat yang selalu menjadi favoritnya akhir-akhir ini.
"Aaahhh, Abi jangan sekarang."
"Kenapa?" erangnya kesal, ia lantas menoleh ke arah yang Doris tunjuk.
Selalu begini, selalu saja ada hal lain yang menginterupsi. Ada saja sesuatu yang seolah berusaha menunda hasratnya yang begitu ingin segera membuat sang istri menjerit geli ketagihan di bawah kungkunganya.
Tok... Tok... Tok...
Mas Abi, mbak Doris...
Pundak Abi pun luruh, saat mengetahui siapa sosok yang berani mengganggunya di balik pintu kamar mereka. Ia bangkit dari tepi ranjang langkahnya lesu sesekali mengerang karena kesal.
"Ada apa bu Su?" tanyanya datar.
"Makan malam sudah siap, mas Abi."
Abi mengerutkan alis lantas memeriksa jam berapa sekarang melalui arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sekarang baru jam enam."
"Iya mas Abi."
"Bukankah biasanya kita makan malam jam setengah delapan?" tanyanya yang mulai tampak tanduknya, Abi ingin sekali marah kepada wanita paruh baya tersebut.
"Jangan pernah mengatur pola makan kami bu Su, sudah kupering-"
"Sayang, Abi." Doris menyela ucapan Abi, segera memeluk lengan sang suami, "jangan salahin bu Suwati, itu aku yang minta makan malam lebih awal."
"Kenapa? Bukankah kamu sendiri yang meminta agar bu Su menyediakan makan malam kita di jam biasanya?" Abi heran.
"Karena terlalu larut makan malamnya, berat badanku naik." ujarnya lirih, "aku sekarang gendut."
Abi menahan tawa mendengar keluhan Doris, "tapi kamu tetap mempesona kok, sayang."
"Benarkah?"
Abi mengangguk yakin, "kalo gitu ayo turun."
"Tunggu...!"
"Kenapa lagi?"
"Tadi ponsel kamu berbunyi." Abi sontak mencari ponselnya yang tidak berada di dalam sakunya, "apa kamu melihat siapa yang menghubungiku?"
"Kalo nggak salah, dari pak..." Doris mencoba mengingatnya, "hehe, aku lupa." ujarnya menyerah, "buruan kamu cek dulu sana, siapa tau penting."
Abi menurut, gegas dirinya mencari ponsel yang rupanya tertinggal di kamar mandi.
"Maafin saya ya mbak Doris, saya pikir hari ini mas Abi pulang lebih awal dari biasanya, makanya saya buru-buru masak." jelas bu Suwati menyesal, "maaf ya mbak."
"Sudah nggak papa, bu Suwati siapin saja makanannya." ujar Doris sambil tersenyum tipis, "sepuluh menit lagi kami akan turun."
Wanita paruh baya itu mengangguk paham dan terus saja meminta maaf atas kesalahan yang ia perbuat hari ini. Kalau saja Doris tidak membantu menjawab dan mengarang cerita mengenai tubuhnya yang semakin berisi, kemungkinan Abi segera memecat mereka di malam ini juga.