Bimbang dan sedih

1531 Kata
Memiliki pasangan memang harus saling memahami. Menjadi seorang istri membuat Doris kini akhirnya mengerti, bahwa tak selamanya kita sebagai wanita harus menahannya menuntutnya agar selalu senantiasa setia di samping kita. Doris adalah wanita berpendidikan, dirinya harus bisa menggunakan logika meskipun hatinya sedikit tak rela. "Nanti malam jam berapa kamu ke bandara?" tanya Doris yang masih saja merangkul lengan Abi, dirinya enggan turun dari mobil padahal mereka sudah sampai parkiran kampus tempatnya bekerja. "Sepertinya jam sepuluh, sayang." Doris mencebik ia menunduk berusaha menutupi matanya yang basah, "aku pengen banget nganterin kamu, tapi nanti aku nangis." "Dulu kamu tidak begini." kekeh Abi, "kamu yang selalu menasehatiku agar semangat dan nggak mikirin kamu loh." Doris tak tahu apa yang terjadi dengannya, dirinya tentu mendukung karir Abi demi kesuksesan lelaki itu, namun sendiri di rumah tanpa adanya Abi mungkin membuatnya terasa sepi. Akhir-akhir ini ia benci sendirian, itulah kenapa bila tak ada jadwal mengajar dirinya tetap memilih menetap di ruangan hingga Abi menelepon untuk menjemputnya. "Aku harus ke kantor sekarang." "Secepat itu?" "Jarot tidak bisa memimpin rapat pagi ini." "Kenapa?" "Istrinya melahirkan." Doris dengan tak rela melepas pelukan di lengan Abi, "baiklah..." "Senyum donk." Doris nyengir sebelum turun dari mobil. Ia tidak sedih, ia hanya trauma bila Abi pergi dan tak kembali seperti sebelumnya. Untungnya pekerjaan hari ini lumayan padat, jadi bisa dipastikan Doris akan fokus pada pekerjaannya itu. Tubuhnya lesu tak semangat, hingga langkahnya amat sangat lambat. "Tumben Rita nggak nyariin aku hari ini." gumamnya aneh. Biasanya gadis itu mengirim pesan singkat yang tak penting hanya ingin memastikan kehadirannya di kampus. "Bu Doris." Salah satu mahasiswa menghampirinya, "pagi." "Pagi..." sahutnya, "ada apa?" "Mengenai penelitian kami minggu lalu, apa ada yang perlu dipelajari lagi bu?" "Penelitian?" "Iya bu." "Bukankah kalian berada dalam bimbingan bu Rita?" "Iya bu." sahut mahasiswa itu lemas, "beliau selalu mengatakan tidak ada waktu." "Mana bisa begitu?" Doris menerima laporan penelitian pemuda itu, ia membaca begitu teliti sebelum dirinya merasa ada yang kurang. "Bukankah kalian mempelajari teori penelitian Atom Thomson?" "Benar bu." sahut mahasiswa tersebut, "apa catatan kami keliru?" "Joko Sutrisman...!" seru Doris tegas, "di catatan hasil penelitian kalian ini bukan teori atom thomson." Mahasiswa tersebut tampak gemetar, jelas sekali bahwa dirinya ketakutan. Tak lama kemudian sekumpulan mahasiswa lainnya pun berdiri di dekat pemuda tersebut dengan sikap yang sama. "Kalo kalian pernah masuk di kelas saya, itu berarti kalian sudah pasti pernah mempelajari ini...! Ini bukan penelitian yang saya berikan sebagai tugas untuk kelas kalian sebelumnya." Doris ingin sekali menjitak satu persatu kepala kelompok mahasiswa bodoh itu. "Apa yang kalian pikirkan? Masih pagi sudah memberi laporan sampah seperti ini... Bagaimana bisa kalian menyelesaikan skripsi di akhir tahun, kalau kalian sendiri tidak ada perkembangan sama sekali. Bahkan teori ini sudah pernah dibahas saat kalian masih duduk di bangku SMA." Mereka ada dua kelompok, masing-masing memiliki tujuh anggota. Doris seperti menghadapi pecundang-pecundang saja. "Kami sudah mengatakan itu pada bu Rita, namun beliau malah menyalahkan pendapat kami." sahut salah satu dari mereka. "Lalu, apa kamu tau teori dalam catatan kalian ini?" "Kami tau, bu Doris." "Apa?" "Teori atom modern yang disebut sebagai teori atom mekanika kuantum." "Lalu, kenapa bisa menjadi teori atom thomson?" Semua diam seribu bahasa, Doris geram ia menyerahkan kembali catatan tersebut kepada Jaka mahasiswa yang mencegat jalannya tadi. "Besok kalian akan saya gabungkan dengan kelompok lainnya." putus Doris, "jadi siapkan semua yang akan kalian butuhkan nanti." "Baik bu..." Doris menghela nafas panjang, tidak biasa dirinya semarah ini pada mahasiswa di kampus tersebut. "Kalo ada sesuatu yang ingin ditanyakan lagi, kalian bisa datangi ruangan saya." Mereka mengangguk paham sebelum bubar dari hadapan Doris. Ada dari mereka yang saling menyalahkan dan ada yang berbisik tak segan meski Doris masih berdiri di tempat yang sama. Sebagai dosen tentu ini tidak mudah baginya. Mengingat dirinya masih sangat muda serta masih masuk kategori pemula, apalagi dirinya belum genap empat tahun mengajar di universitas itu. "Rita..." geregetnya lirih sambil geleng-geleng kepala. "Maunya apa sih tu cebong." Doris harus menemuinya, kalau perlu merukiyah gadis itu agar otaknya di gunakan baik-baik pada tempatnya. "Itu bukan urusan kamu, mas." "Kalau nggak ada niatan bekerja, harusnya kamu di rumah saja." "Apa? Kamu itu siapa? Main ngatur-ngatur orang." "Aku bicara fakta, Rita... Mereka sebentar lagi sidang skripsi, kalo cara kamu begini maka mimpi mereka akan hilang. Kamu pikir kuliah itu hanya permainan? Tak semua anak terlahir seperti kamu yang hidup dari lingkungan keluarga serba kecukupan." "Kalian ngapain?" Doris menerobos masuk mendengar kegaduhan ini, "kalian ngapain di ruanganku?" Doris heran menatap kedua anak manusia yang tampak seperti saling bermusuhan, Rita duduk santai di sofa sambil bersidekap sedangkan Fredy berdiri menghadapnya sambil berkacak pinggang. "Bukankah kamu harusnya ke Jakarta ya Fred?" "Nggak jadi." "Kenapa?" "Nggak tau juga." Doris meletakan tas serta bukunya ke meja kerja. Matanya menatap Rita penuh intens yang sedang duduk di sofa seakan dirinya tuan rumah. Benar-benar tak tahu diri, bagaimana Rita melakukan kesalahan fatal itu. "Ta, penelitian-" "Cukup..." sela Rita, dirinya muak saat Doris baru masuk namun sudah ingin membuka suara mengenai pekerjaan saja. Sebagai lelaki yang memahami situasi ini, Fredy pun tertawa mengejek, melihat tingkah Rita yang bersikap tak ingin di sentuh. Salah namun tak mau disalahkan. "Percuma kamu nasehatin dia, ngeyel dia." cibirnya. "Kenapa lo gini sih Ta? Lo mau bikin nama baik kampus ini jadi buruk?" greget Doris, "gue paham lo sebenernya mengajar di sini itu karena apa...!!! Lo mau pacaran kek, punya gebetan kek, itu terserah lo, tapi jangan lo campur urusan pribadi lo itu sama pekerjaan ini." "Iya..." sahut Rita puas, "lo benar." Gadis itu bangkit dan berdiri begitu congkak, "jangan pernah campur aduk urusan pribadi sama pekerjaan." tegasnya, namun Doris merasa aneh karena Rita menatap Fredy yang juga menatapnya. "Lo ini kenapa? Nggak sopan banget bicara gitu ke Fredy." "Serah lo Do..." sahut Rita, "gue muak sama manusia yang mau menang sendiri." "Maksudnya?" Rita mengangkat tangannya dan keluar dari ruangan Doris, hal itu membuat Doris terheran dan kesal. Bukankah seharusnya dirinya yang marah? "Sebenarnya ada apa ini? Kenapa dia? Harusnya kan aku yang marah." gerutu Doris yang membuat Fredy meringis. "Maaf." "Kenapa malah kamu yang minta maaf, harusnya dia." "Soalnya aku sempet cekcok dan udah marahin dia, sebelum kamu masuk tadi." "Ya itu bagus, agar dia tahu cara kinerjanya." "Bukan itu." Doris mengerutkan alis, tingkah Fredy seakan tak nyaman dengan situasi ini, "sudahlah, kamu tenang saja, urusan dia biar aku yang urus." "Maaf, malah merepotkanmu." "Sudah kewajibanku, Fredy." kekeh Doris, "kamu selaku wakil Rektorat kampus ini, harusnya lebih tegas lagi saat menghadapi makhluk seperti Rita." "Dia sangat keras kepala, sulit sekali mengendalikannya." "Nggak juga sih, dia itu penurut saat dia bucin." Ucapan Doris membuat pundak Fredy luruh seketika, "huft... Mana mungkin aku memaksanya bucin agar nurut padaku." "Mungkin saja, kamu itu salah satu kriteria dia." sahut Doris senang. "Hah, jangan ngaco." Fredy melongo, "aku ini jauh lebih tua dari kalian." "Rita tidak pernah memandang usia, dia paling suka sama cowok yang selalu berpakaian rapi apalagi ahjussi yang macho sepertimu ini." Fredy tertawa terpingkal-pingkal, mungkin dirinya termasuk kategori pria tertampan di seusianya maupun masa muda mereka. Namun bila menjadi paman-paman macho seperti yang Doris katakan, rasanya itu mustahil. Apalagi di dalam otaknya sekarang hanyalah bagaimana menemukan pendamping seumur hidup, bukan status pacar atau pria idaman. "Sudahlah, kamu malah bikin aku kepedean." ujar Fredy di sisa tawanya, "oh iya, minggu ini akan ada acara makan bersama." "Untuk?" "Pak Ahmad ingin makan-makan terakhir sebelum beliau pensiun." jelas Fredy, "jangan lupa ajak Abi." "Abi tidak bisa ikut." Mendadak Doris sedih, "dia nanti malam pergi ke Dubai, perjalanan bisnis." "Wah... Keren..." Fredy mendengarnya tampak takjub, "perjalanan bisnis dulu merupakan impian kami, tapi malah Abi saja yang bisa merealisasikan." ujarnya begitu antusias. "Tapi kalo kamu sudah menikah, jangan pernah meninggalkan istrimu." "Memangnya kenapa? Apa kamu merana? Hey... Kalian bukan lagi ABG." Doris mencebik, sebagai wanita yang baru saja menikah tentu dirinya merana bila suami pergi meninggalkannya sendiri meskipun hanya beberapa hari. "Kami pengantin baru." gerutunya. "Ya tapi kalian sudah sama-sama dewasa." "Kamu nggak akan ngerti, kalo kamu saja belum menikah." Fredy terkekeh geli mendengar sahutan Doris yang begitu kekanakan, "aku sudah menikah, namun aku belum serumah dengannya." Doris menutup mulutnya terperanjat mengenai fakta ini, "kamu bilang tunangan, kenapa sudah menikah saja." "Iya, waktu itu memang tunangan dan menikah baru sebulan." "Dia sudah kembali?" "Sudah..." Doris menghela nafas lega, "syukurlah." "Mungkin aku kurang menarik jadi dia masih menolak tinggal bersama." "Kamu itu tampan dan menarik, bodoh sekali." seru Doris tak habis pikir, bahkan Abi tak setampan Fredy. "Kamu juga setia, kurang apa coba?" "Kurang menarik." "Wanita bodoh mana yang tak tertarik denganmu." "Apa itu artinya, istriku bodoh?" Doris menggelengkan kepala sambil tertawa pelan, "bukan begitu maksudku, ah sudahlah kenapa malah membahas istri orang?" Merasa tak ada lagi yang harus di bahas Fredy pun niat pamit, "ingat, hari minggu makan malam bersama." "Apa itu artinya lusa? Sekarang hari jum'at Fredy...!!!" Lelaki itu terkekeh sambil menganggukan kepala sebelum menghilang dari balik pintu. "Bagaimana ini? Aku nggak mungkin menghadiri makan malam tersebut kalo bosnya Abi mau menginap." Mendadak Doris bingung dan panik sendiri, namun hal itu segera ia tepis sebelum dirinya berpikir bahwa meminimalisir pertemuannya dengan lelaki lain di rumah mereka maka rasa canggung Doris akan semakin menipis. Doris pun akhirnya mengirimkan pesan pada Fredy untuk menanyakan dimana dan jam berapa mereka akan berkumpul nantinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN