Waktu begitu cepat bergulir, senja menyapa menjelang malam. Doris menutup semua buku-buku yang cukup menyita perhatiannya, beberapa laporan dan pekerjaan lainnya.
"Huuffttt..." sakit kepala Doris kenapa tak kunjung hilang, dirinya sudah minum obat namun rupanya tak manjur.
Apa karena belum makan sehingga sakit di kepala terus saja mengganggu? Doris pun bangkit dari duduk, justru itu semakin buruk baginya, padangan matanya mendadak kabur.
Brukk...
Telinga Doris mendengung, entah apa yang terjadi karena dirinya sempat mendengar seseorang memanggilnya sebelum akhirnya semua tampak gelap.
Ini kesalahan dirinya sendiri, setiap kali memikirkan hal yang berlebihan maka Doris akan memilih bekerja terus menerus tanpa henti hingga dari siang sampai malam perutnya kosong tak terisi makanan apapun.
Biasanya Rita senantiasa mengajaknya makan siang atau mengemil di sore hari. Namun hari ini dirinya sedang berada di zona terabaikan sebab Rita memilih marah dan mengacuhkan siapa saja yang menyalahkan kinerjanya. Hal itu tidak bisa dibenarkan oleh Doris. Bagaimanapun juga sahabat tidak akan menjual jabatan. Ruang kerja akan menjadi cerita lain untuk Doris. Maka dari itu dirinya selalu memperingatkan Rita agar se-profesional mungkin bila mereka dihadapan para mahasiswa di universitas tersebut.
"Mbak, mbak..."
Doris menyesuaikan cahaya yang mengganggu di pandangannya, matanya menyipit saat seseorang berusaha membangunkannya.
"Mbak Doris?"
Kepala Doris rasanya mau pecah, sakit menghantam membuatnya tak mampu membuka mata lebar-lebar.
"Pusing..." gumamnya sambil memegangi pelipis meski raganya masih lemas.
"Akhirnya mbak bangun juga."
Setelah memastikan Doris sadar sepenuhnya, bu Suwati memberikan minuman teh hangat yang manis untuk Doris. Membantunya memposisikan duduk lantas menahan tubuh Doris agar tidak rubuh kembali.
"Makasih bu Su..."
Wanita paruh baya itu mengangguk, ia segera meletakan kembali teh hangatnya lantas membantu Doris berbaring lagi di tempat tidurnya.
"Makan ya mbak."
"Nanti dulu bi, kepala saya sakit."
"Iya makan sedikit saja lalu minum obatnya."
Doris pun mengangguk pasrah, saat bu Su menyuapinya sedikit demi sedikit yang tak terasa sudah habis semangkuk bubur.
"Siapa yang mengantar saya pulang, bu Su?"
"Itu mbak, mas Fredy sama bos-nya."
"Fredy?"
"Iya..."
Doris mengangguk paham, dirinya memang sempat mendengar seseorang memanggilnya dan suara itu sangat jelas suara lelaki dewasa. Maka Doris yakin kalau Fredy yang menolongnya saat dirinya pingsan di ruangan tadi.
"Apa Fredy sudah pulang?"
"Sudah mbak." bu Suwati merapikan peralatan kotor bekas makan dan minum Doris, "saya permisi dulu ya mbak, kalo ada apa-apa anda telpon saja." pesan wanita paruh baya itu.
"Makasih bu Su."
"Sama-sama."
Wanita paruh baya tersebut berlalu dari hadapannya lantas menutup pintu kamarnya.
Doris meraih ponselnya yang sudah tergeletak di atas nakas samping ranjang. Ada beberapa pesan masuk, salah satunya dari Abi.
Sang suami mengatakan bahwa tidak bisa mampir ke rumah sebab pihak perusahaan sudah menunggunya di bandara di saat Abi mendengar kabar bahwa Doris pingsan sehingga Fredy harus mengantarkannya pulang.
"Katanya terbang tengah malam, kenapa jam tujuh sudah harus sampe bandara." gerutunya yang merasa itu tak masuk akal.
Doris pun melihat pesan dari Rita, Fredy serta rekan kerja lainnya. Sebagai ucapan terima kasih, Doris menyempatkan diri untuk menelepon Fredy sesaat. Andai saja Fredy tidak menemukannya saat dirinya pingsan di ruangannya sendiri, mungkin Doris sudah menjadi mayat yang tak diketahui oleh siapa pun. Menguntungkan bisa berteman dengan Fredy.
Bos aku akan menginap nanti malam.
Doris mengerutkan alis, ia lantas membalas pesan singkat Abi yang merasa heran kenapa secepat itu, bukankah Abi bilang kalau bosnya itu akan datang hari minggu besok.
Dia ada urusan mendadak, sayang... Maaf ya sudah buat kamu nggak nyaman nantinya.
Doris pun melempar asal ponselnya ke ranjang. Ia kesal dengan Abi yang tidak mengerti perasaannya mengenai rasa yang sangat tak nyaman itu. Doris pikir seorang yang belum ia kenali lantas tiba-tiba tinggal serumah dan harus bersikap manis pada tamu tersebut membuat Doris harus bekerja ekstra agar sikapnya tampak natural tanpa rasa keterpaksaan.
Ia pun memilih kembali tidur karena malas memikirkan hal yang sangat tak menyenangkan hatinya. Dirinya yang sedang sakit saja, tak mampu menarik rasa simpatik Abi yang barang sedikitpun menengok bahkan hanya satu detik saja.
Memang lelaki tak berperasaan. Untung saja, Doris tidak pernah memberi kehangatan ranjang untuk Abi selama ini setelah pagi dimana dirinya tak sengaja memancing gairah lelaki itu di rumah simbah uti. Karena baginya, Abi hanya akan peduli pada sesuatu yang lebih menguntungkannya dirinya sendiri ketimbang jalinan rumah tangga mereka. Hanya karena daster kedodoran, Abi menganggapnya tak lagi menarik bahkan tanpa sungkan menyebutnya terlihat lebih tua, lelaki itu tampak jelas sudah tak memiliki hasrat untuk menggaulinya. Dia hanya menggoda tipis-tipis saja namun tak ada niatan untuk sungguh-sungguh melakukan hubungan yang lebih intim dengannya.
Tapi sekarang Doris ingin sekali memaki, kenapa setiap Doris sakit, hasratnya untuk melakukan hal panas sangat mendominasi. Gairah Doris melambung tinggi sehingga dirinya tanpa sadar bermain sendiri meraba pusat intinya.
"Butuh bantuan?"
Doris seperti mendengar seseorang yang masuk ke dalam kamarnya, namun ia rasa itu hanya halusinasinya saja mengingat dirinya menginginkan seseorang bermain lebih jauh dari permainan solo ini.
Ranjangnya bergoyang, tubuh Doris meliuk-liuk bergerak tak beraturan, aahhhhh....
Semakin cepat menggerakan lihai jemarinya, bergerak memutar bermain di titik kacang yang mungil penuh birahii.
Matanya sontak terbuka hingga terperanjat saat seseorang ikut bergabung dengannya.
"S-si-siapa kamu?" ujarnya takut.
Namun otaknya tak bisa berbagi akan sebuah kenikmatan ini, jemarinya yang berhenti tadi pun di lanjutkan oleh lelaki yang tak tahu datang dari mana.
"Aaahhhh, kamuuhh.... Aaahhhhh...."
Tubuh Doris gelinjangan bak cacing kepanasan, sesekali menyembungkan dadanya berharap mulut yang lihai itu menelah habis putingnya yang gatal.
Jemari kakinya meregang kaku, jemarinya meremas kuat selimut berwarna merah maroon itu, sampai akhirnya tubuhnya tersentak-sentak saat dirinya mendapat pelepasan.
Nafas Doris terengah-engah, keringat di tubuhnya tampak bercucuran hingga menampilkan kilatan seksi pada permukaan kulitnya yang putih dan mulus itu.
"Sekarang giliranku."
Seringai itu, Doris panik melihat seringai lelaki yang sudah duduk di antara kedua pahanya. Menarik kakinya dan di tompangkan bahu kekarnya, mengancang-ancang untuk masuk pada lubangnya yang sudah basah dan basah itu.
"Ka-kamu...?! A-apa yang kamu laku-aaaahhh..."
Doris menjerit, lelaki itu dengan lancang masuk begitu kasar. Menumbuknya dengan keras tanpa memberi jeda untuknya menghindar atau menolak serangan itu. Ini sakit tapi enak.
"Selamat, aku kembali menjadi milikmu." ujar lelaki itu tenang yang sudah mengungkungnya dan menatapnya begitu tajam.
"Sekarang kamu tak akan bisa lepas dariku lagi."
Doris merinding namun gerakan yang ia lakukan membuat tubuhnya menyambutnya begitu senang. Ia ingin sekali menolak ini, namun tubuhnya berkata lain. Apa yang dilakukan lelaki ini, sangat mendamba dan ingin menikmatinya lebih, lebih dan lebih lagi.
"Apah mak-aaahh, maksudmuuhh..."
Desahan Doris menggema di seluruh ruangan kamarnya, wajahnya memerah bahkan menyambut kecupan-kecupan panas pertemuan bibir mereka hingga menjadi ciuman lumatan yang lebih liar dan memabukan.
"Jangan lagi bersetubuh dengan pria lain, aahh aahh..."
"Apaah?"
"Akan aku bunuh pria itu, bila kamu membantah atau tak menuruti perintahku."
Lelaki yang mengancamnya ini adalah Zahir.
"Kamu gilaah..." seru Doris, dia kembali memekik terkejut saat Zahir membalikan tubuhnya begitu ringan seolah tanpa beban lantas menungging membuat Zahir gemas yang menjilati punggungnya dan kembali menyatukan milik mereka.
Ini gaya favorit saat dirinya melakukan pertama kali penyatuan mereka di villa itu. Zahir menusuknya dari belakang tanpa ampun, membuat tubuhnya maju mundur hingga desahan Doris semakin kencang menyulut gairah Zahir lebih.
Lelaki itu menggeram sesekali menampar bulatan p****t seksi yang lebih berisi dan padat dari sebelumnya.
Desahan, erangan, serta tepukan kedua kulit saling bertemu bak irama di dalam kamar itu.
Zahir melepas penyatuan mereka, itu jelas membuat Doris amat kecewa, dia merasa ada sesuatu yang hilang saat melihat lelaki yang amat gagah itu turun dari ranjang.
Matanya menatap bingung ke arah Zahir, hingga dirinya lagi-lagi memekik, saat Zahir menarik tangan kanan serta kaki tangannya begitu entengnya. Memang laki-laki sialan gerutu Doris dalam hati.
Ia kembali memekik terkejut saat Zahir menggendongnya di depan layaknya koala namun anehnya lelaki itu masih sempat menyatukan milik mereka yang membuat Doris berpegangan merangkul lehernya kuat meskipun desahannya terus saja menggema.
"Kenapa pintunya di buka?" ujar Doris panik.
Wanita itu menyembunyikan wajahnya saat tahu bahwa Zahir membuka pintu balkon kamarnya lantas keluar dengan posisi penyatuan seperti itu.
"Ayo masuk... Nanti di liat orang..." rengeknya.
Namun Zahir malah duduk pada sofa yang tersedia tanpa menghiraukan protes Doris itu. Lelaki itu menjambak rambut Doris yang dengan bodohnya menyembunyikan wajahnya yang penuh biraahi itu.
"Orang apa yang kamu maksud? Orang-orangan sawah...?" ejek Zahir yang meremas pinggang Doris agar wanita itu memimpin permainan mereka, menggoyangkan pinggulnya maju mundur begitu lihai layaknya wanita malam yang begitu menggoda.
"Aahhh..." Erang Zahir, lelaki menyeringai puas bersandar pada sofa sambil mendongak dengan mulutnya menganga.
Zahir lantas meraup dadanya, menyusunya begitu rakus saat milik Doris semakin menyempit dan terus berkedut memijat miliknya. Itu tandanya Doris sudah mencapai puncaknya, bahkan mencoba menutupi wajahnya sendiri dengan rambut panjangnya saat mata mereka tak sengaja bersibobrok saling tatap penuh nafsu. Doris puas, milik Zahir menusuk begitu dalam seakan tak memiliki rongga pada lubang liat yang basah dan basah itu.
"Ouh... Ahhh aahhh aahhhhh..." Doris mendesah merengek memelas. Meskipun tubuhnya sudah tersentak-sentak lemas, namun Zahir tak membiarkan dirinya berhenti menggerakan pinggulnya.
"Ouhhh pleaaaseeehhh..."
Ia berharap Zahir segera menyelesaikan penyatuan ini. Kedua kakinya gemetar, pinggulnya semakin melamban, tenaganya terkuras setelah kembali mendapatkan pelepasannya.
Namun berbeda dengan apa yang Zahir lihat darinya, Doris sedari tadi menggigit bibir bawahnya membuat Zahir tak tahan dengan desahan nakal Doris hingga lelaki itu menyusu begitu kuat, membantu pergerakan pinggul Doris, meremas kedua bongkahan sital itu.
Entah apa yang di perbuat Doris, lelaki itu menggeram mendesah panjang, bersamaan miliknya menyembur cairan kental putih ke dalam dinding rahim wanita itu begitu deras dan tak putus-putus.