Kedua anak manusia tersebut saling berebut oksigen, nafas mereka terengah-engah di liputi keringat yang bercucuran pada tubuh polos keduanya.
"Le-lebih baik kita masuk."
Zahir menahan pinggang Doris yang hendak turun dari pangkuannya. Wanita itu tampak malu dan gugup bila di pandang oleh lelaki tampan di hadapannya sekarang.
"Mau kemana?"
"Nanti di liat orang." cicitnya menunduk.
"Maksud kamu orang-orangan sawah?" ulang Zahir mengejek kekhawatiran Doris.
Doris yang tak mengerti justru menoleh kan kepala ke belakang, terus celungukan karena ia pikir benar-benar ada manusia lain yang melihatnya.
Rupanya hanya manusia sawah buatan petani di tengah sawah sana.
"Memangnya ada manusia yang mau punya tetangga sepertimu?"
Doris mendelik kesal, "apa kamu nggak liat itu disana ada jalan?"
"Liat." sahut Zahir santai, "lalu?"
"Bisa saja mereka melihat kita yang begituan, kan malu."
Tuk...
Zahir menggetok dahinya pelan, rupanya status dosen tak membuat wanita itu menjadi cerdas.
"Kamar ini tinggi di lantai dua, tak mungkin manusia berjalan bisa melihat kita."
"Yang bawa motor dan mobil kan bisa." serunya kesal.
"Mata mereka hanya fokus di jalan saat berkendara, jangan bodoh..."
Doris mencebik setiap mendengar bantahan-bantahan menyebalkan itu. Tidakkah lelaki itu berpikir bahwa dirinya hanya ingin menghilang dari hadapannya saat itu juga tanpa harus mencari-cari alasan agar Zahir mau melepasnya.
Tubuhnya mulai merasakan dingin akan angin malam, mereka sama sekali tidak tertutup satu helai kain pun. Dan duduk saling pangku apalagi berhadapan begini tentu membuat Doris mati kutu. Mereka bukan sepasang kekasih, bukan suami istri, bukan teman entah apa pun itu untuk sebuah kata kenal. Meski tak mampu ia pungkiri, pesona Zahir membuat dirinya mabuk kepayang. Ia bahkan tak merasa risih jika hanya tatapan penuh ingin dari Zahir.
"Siapa saja wanita yang pernah tidur denganmu?"
"Kenapa menanyakan itu?"
"Penasaran."
Bukan hanya itu, Doris akan tak pernah rela bahkan membayangkan saja dirinya merinding. Meskipun diantara mereka tak ada hubungan yang jelas bahkan saling mengenal satu sama lain pun tak begitu, namun Doris rasa dirinya akan marah bila melihat Zahir berdua atau bahkan melakukan hubungan intim dengan wanita lain selain dirinya.
"Tak terhitung..."
"Maksudnya?" Apa itu artinya lebih dari satu?"
Zahir hanya menatapnya saja tanpa ada niatan menjawab pertanyaannya lagi dan itu membuat Doris yakin bahwa lelaki itu memiliki wanita lain di luar sana. Tanpa Doris ketahui jelas apa arti dari yang dimaksud oleh Zahir.
"Dasar pria tak tau diri."
Zahir mencoba menyentuh wajah Doris, namun selalu di tepis oleh wanita itu, "kamu cemburu?"
"Buat apa aku cemburu?" sahutnya mengelak, "biasa aja..."
"Tapi aku hanya tertarik dengan desahanmu.. " ujar Zahir dengan nada suara berat membuat wanita yang tadinya memasang wajah kesal sontak menatap ke arahnya.
Sepertinya otak Doris habis di gerogoti parasit. Rasa malu, kesal, marah tadi hilang begitu saja, tatapan mata ingin serta jemarinya yang kembali merayap menjadikan Doris menjelma wanita nakal dan kembali menyambut godaannya. Ia memajukan wajahnya ragu mengecup ringan bibir Zahir yang berubah melumat penuh nafsu yang tentu di sambut cepat oleh Zahir.
Matanya terbelalak saat sesuatu kembali bangun dan menegang, Doris sontak memandangi milik mereka yang sedari tadi masih menyatu dengan tatapan ngeri akan gairah lelaki yang lebih muda darinya ini.
"K-ka-kamu? I-itu?"
Hanya berciuman saja, mampu membangunkan benda tumpulnya.
"Memang penggoda, kamu harus tanggung jawab." bisik Zahir menjilati daun telinga Doris dengan kedua tangan memilin ujung p****g Doris yang ikut menegang.
"Tanggung jawab?"
Zahir mengangguk sekali, ia menghentak pinggulnya naik turun yang membuat Doris sontak mencondongkan tubuhnya ke depan dan memeluk leher Zahir.
Desahan Doris kembali hadir dan terus melolong saat Zahir menghentaknya begitu kencang. Milik Zahir terasa penuh di dalam.
"Kamu selalu memakai pengaman saat main dengan bajingaan itu bukan?"
Doris mengangguk cepat namun juga menggelengkan kepalanya.
"Apa maksudnya? Iya atau tidak?"
"Awalnya dia selalu pakai pengaman namun sebulan terakhir ini tidak."
Rahang Zahir mengeras, ia menghentak milik Doris semakin kasar, "berapa kali kalian melakukan penetrasi tanpa pengaman?"
"Dua atau tiga, aku lupa aaahhhh..."
Doris tak kuasa dengan serangan Zahir ini, lelaki itu seperti ingin menghajarnya saja melalui penyatuan ini.
"Dengar..." ujar Zahir dingin, ia membiarkan Doris menggigit telinganya akibat Zahir yang terus menghentakan pinggulnya begitu keras dan kasar.
"Mulai hari ini dan seterusnya, jangan biarkan b******n itu menyentuhmu."
Doris tak menjawab, otaknya tak mampu berpikir lagi. Bagaimana mungkin disaat melakukan seks seperti ini tapi Zahir terus saja merundingkan sesuatu dengannya.
"Dia suamiku." sahut Doris lugas, tubuhnya kembali terhentak kencang karena Zahir marah.
"Dia b******n, bukan suamimu."
"Jaga ucapanmu." sahut Doris lagi, namun lagi-lagi ia harus mendesak kesakitan akibat hentakan kasar itu. Bahkan miliknya mati rasa, nyeri ngilu kering dan mungkin saja lecet hingga robek akibat Zahir terlalu lama menumbuk tanpa memberinya rangsangan agar miliknya memiliki pelumas alami dan menikmati permainan ini.
Zahir menghentakan pinggulnya semakin tinggi semakin dalam, gerakannya tak beraturan hingga miliknya kembali menyembur memenuhi dinding rahim Doris.
Lelaki itu berdiri dan mendorong tubuh Doris menjauh darinya dengan tatapan yang begitu dingin namun penuh arti.
"Turuti perintahku, atau nyawa dia hilang di negara orang." ancamnya.
Selepas penyatuan mereka beberapa jam yang lalu, Doris tak mampu memejamkan matanya lagi. Ucapan Zahir terus saja menghantui pikirannya. Doris tak habis pikir dengan manusia yang begitu otoriter ini. Apa yang terjadi, serta apa yang tidak ia pahami sehingga Zahir membuang ranjang tidurnya bersama Abi.
Menatap wajah Zahir yang tidur terlelap di sampingnya, seperti bukan dirinya saja. Ia menurut saja dengan apa yang di katakan lelaki tampan ini.
Sosok yang lebih muda darinya sudah menjadi seorang pemimpin perusahaan cukup ternama di jajaran perusahaan lainnya tanpa embel-embel nama keluarga yang mengusungnya. Meski perusahaan yang baru di rintis selama hampir enam tahun ini namun sudah diakui kualitas kinerjanya dan itu artinya Zahir memulai karir pertamanya disaat dia masih berusia remaja.
"Abi orang hebat, namun harus menjadi karyawan bawahan anak ingusan ini." gumamnya sendiri.
Rahang tegas, bibir penuh, hidung mancung, bulu mata lebat nan lentik, dan terakhir alis tebal yang memberi kesan garang pada lelaki yang ia pandangi sekarang.
Lenguhan Zahir membuat Doris sontak kembali memejamkan matanya, apalagi lelaki itu menarik tubuhnya agar semakin merapatkan tubuh mereka.
"Tidurlah, jangan terus mengagumi ketampananku." ujarnya lirih yang membuat Doris terkejut berada dalam dekapan hangat lelaki itu.
*****
Dubai memang mengagumkan. Merupakan kota terpadat di negara Uni Emirat Arab dan merupakan ibukota Emirat Dubai. Tak sedikit wisatawan asing yang ingin mendatangi kota tersebut, yang menjadi salah satu kota pariwisata yang sangat populer di dunia.
Disini lah para crazy rich berbelanja, kota tersebut menjadi kota perbelanjaan mewah, arsitektur ultramodern, dan kehidupan malam yang semarak.
Abi... Berdiri menatap takjub ke arah Burj Khalifa, menara setinggi 830m, mendominasi cakrawala yang dipenuhi gedung pencakar langit. Di kakinya terdapat Air Mancur Dubai, dengan jet dan lampu yang dikoreografikan mengikuti musik. Di pulau-pulau buatan di lepas pantai terdapat Atlantis, The Palm, sebuah resor dengan taman air dan hewan laut.
"Ini semua sangat indah." kagumnya untuk kesekian kalinya.
"Apa menjadi arsitek merupakan impian anda?"
Abi sontak menoleh ke arah wanita cantik berdarah Arab-Indonesia. Lelaki itu mengangguk menyetujui tebakan wanita cerdas itu. Tak hayal Abi juga mengaggumi wanita cantik tersebut.
"Iya..."
"Selamat ya... Anda beruntung bisa menjadi salah satu arsitek anggota yang nantinya kami akan menggunakan semua gagasan rancangan kalian untuk sebuah bangunan di kota ini nantinya."
"Terima kasih atas kepercayaan anda serta perusahaan anda, miss Khalifa..." ujarnya tulus.
"Panggil saja aku Khalifa."
"Mana boleh begitu, hehe."
Wanita itu tersenyum tipis lalu kembali menengadahkan tangannya sebagai penunjuk arah selanjutnya, "nanti malam anda akan berjumpa dengan para ahli lainnya, jadi anda boleh istirahat siang ini."
"Baiklah."
"Jangan ragu untuk menghubungi saya, bila anda membutuhkan sesuatu."
Abi menatapnya lekat-lekat, hatinya terus saja berdebar memandang wanita cantik ini. Kalau boleh berkata jujur, Abi akan senantiasa senang bila Khalifa bersedia menemaninya istirahat.
Nikmat Tuhan mana yang akan kau dustakan, Abi sangat berharap itu benar terjadi maka akan terjadi. Khalifa menemani dirinya istirahat di dalam kamar hotel yang disediakan bahkan berbagi kehangatan bersama hingga malam tiba.
"Bersiaplah, sebentar lagi para investor akan datang."
Abi tersenyum setelah Khalifa mengecup singkat bibirnya, "baiklah, terima kasih sudah menemani saya."
"Saya akan menyambut mereka terlebih dahulu, anda boleh menyusul."
Abi mengangguk senang menyibak selimut tebal itu dan gegas turun menahan lengan wanita itu.
"Kenapa buru-buru? Anda bilang mereka datang jam delapan, bukan?"
"Saya harus segera pergi, sebelum saya tidak mau keluar kamar lagi."
"Baiklah." Abi melepas lengannya begitu tak rela, ia pun melangkah ke arah kamar mandi.
"Saya milik anda malam ini, jangan sedih."
Abi sontak menoleh, ia tersenyum lebar dan mengangguk. Ingin sekali berlari dan memeluk wanita cantik itu, namun Khalifa menghilang dari balik pintu setelah mengatakan kalimat tadi. Rasanya Abi seperti terbang melayang, bisa bertemu dengan wanita cantik dan seksi bahkan sangat lihai saat bertempur di ranjang bersamanya.
"Mengesankan." gumam Abi dengan seringai wajah penuh arti.