Ini sudah kesekian kalinya Abi mendapat sanjungan dari wanita yang beberapa hari ini selalu menemaninya kemana Abi pergi. Sebagai petunjuk arah serta sebagai penerjemah sebab pada dasarnya bahasa pribumi di kota Dubai bukanlah keahliannya.
"Kami sangat puas dengan kinerja anda tuan Abi."
"Hey..." sahut Prima, "disini yang bekerja bukan cuma Abi, saya juga."
"Tapi anda bukan bagian proyek kami, anda hanya menggantikan kehadiran bos anda di sini."
"Itu sama saja, tanpa kehadiran saya sebagai pengganti, proyek ini tidak akan berjalan."
Sebagai mantan asisten Zahir dulu memang dirinya di tegaskan bukanlah bagian dari proyek ini. Namun karena Zahir berkata dan ingin dirinya menggantikan kehadirannya yang mungkin pihak luar belum mengetahui status Prima yang sudah pindah di perusahaan milik Rafa, tentu dirinya ingin memberikan yang terbaik demi perusahaan yang dulu pernah membuatnya menjadi besar seperti sekarang ini.
"Lagi pula, ini masih jam bekerja jadi saya harap anda berdua jaga sikap."
"Maksud anda pak?"
"Maksud saya, anda harus ingat istri yang di rumah pak Abi."
Abi sontak mendeham, sikapnya yang menjadi salah tingkah membuat Prima menyeringai. Ini sudah kesekian kalinya Abi teledor melewati batas sebagai seorang arsitek kepercayaan perusahaan mereka. Andai saja Zahir tidak membantu Abi lepas dari tuntutan Wulan atas kehamilannya yang gugur akibat obat yang Abi berikan pada minuman s**u hamil, mungkin Abi sekarang sudah mendekam di penjara.
"Siapa maksud anda? Tuan Abi sudah menikah?"
Khalifah terkejut sangat. Matanya menatap Abi dengan tatapan tak percaya. Bagaimana dirinya mudah jatuh kepelukan suami orang lain lebih parahnya lelaki yang baru ia jumpai beberapa hari yang lalu. Bahkan Khalifah memberi fasilitas apartemen untuknya, agar mereka leluasa bersama di luar jam kerja.
"Benar... Memangnya anda tidak mengetahuinya?"
"Tentu belum, karena ini bukan ranah saya." sahut Khalifah tenang yang sudah mampu menguasai keterkejutannya.
"Bahkan kalau anda memiliki istri, itu pun juga bukan ranah saya."
"Saya terkesan dengan sikap profesional anda, dan saya harap hal itu masih anda pertahankan meski di luar jam kerja."
Mata Prima tak henti menatap Abi yang semakin salah tingkah, "rasanya akan lucu bila pada akhirnya akan ada yang kecewa dan terluka setelah saya mengatakan ini, bukan?"
Prima meraih cangkir putih di meja lantas mengesapnya begitu nikmat, "kopi, kopi..." ujarnya menggeleng sambil mendecak nikmat, "memang kopi itu mantap ya pak Abi... Yaaa... Walaupun semua orang sudah mengetahui dirinya hitam serta terdapat sensasi pahit pekat saat menyeruputnya, namun entah kenapa masih saja banyak peminatnya."
Mendengar sindiran halus itu tak memungkiri hati Abi meradang, ingin rasanya menghajar wajah penuh mengejek Prima saat ini juga.
"Itu karena kopi memiliki rasa yang spesial pak Prima." sahut Abi tenang, "bagi penikmat kopi khususnya tidak akan mendapatkan rasa senikmat kopi pada jenis minuman lainnya karena aroma dan rasanya membuat penikmat kopi ketagihan akan kenikmatannya meskipun ada varian rasa lain di dalamnya. Kopi tetap nomor satu, yang lain hanya pemanis."
"Oh, anda benar..." Prima meraih gelas Khalifah dan menaruhnya di antara gelas mereka, "apalagi kopi sekarang pandai berbaur dengan minuman lainnya, contohnya ini."
Kopi-latte dalam cangkir mug putih itu seakan membenarkan ucapan Prima. Gelas yang lebih tinggi bersanding di antara cangkir mereka bahkan terdapat ukiran khusus yang akan membuat semua mata penuh minat untuk menikmatinya.
Suasana ruangan mulai hening, bahkan direktur dari perusahaan Dubai yang bekerja sama dengan mereka menatap keduanya seakan ikut menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.
Prima selalu berbicara dengan senyum manisnya, begitu ramah namun memberi bumbuhan setiap aksen kata sindiran halus yang hanya dimengerti oleh seseorang yang ia ajak berunding saja. Bagi pemikiran otak yang bodoh, pasti berpikir obrolan mereka ini tidaklah menarik.
"Saya rasa apa yang dikatakan beliau adalah benar." sahut Abi pada Khalifah, ia tersenyum tipis sangat tipis namun memabukan.
"Anda pasti mengerti kemana arah pembicaraan beliau."
"Kopi adalah anda?"
Abi terkekeh pelan seakan membenarkan itu, "mungkin saja beliau mengakui kehebatan saya, bukan?"
Rupanya rasa malu tidak akan ada dalam kamus Abi, nada remeh yang ia lontarkan barusan adalah sebuah penegasan bahwa dirinya lelaki pujaan para wanita. Tak hayal bila sang istri kembali ke dalam pelukan, meskipun dirinya sempat membuat hati Doris terluka tentang fakta kejujuran dirinya yang mendua.
"Benar-benar pria sejati..."
Prima menyeringai membiarkan Abi serta para investor lainnya penasaran setelah dirinya mengatakan hal itu, yang pergi begitu saja dari hadapan mereka dengan tatapan penuh mengejek.
*****
"Mbak Doris."
"Ya bu Su... Anda kenapa?"
"Maaf mbak, semalam kami ketiduran."
Tampak jelas sepasang paruh baya itu ketakutan menatap Doris yang justru bingung sendiri. Memangnya apa yang salah bila mereka tidur di malam hari, bahkan Doris tidak meminta mereka berdua buat berjaga malam layaknya seperti petugas keamanan.
Wanita itu terkekeh geli, ia meletakan tasnya ke sofa lantas ikut melangkah ke arah dapur.
"Anda sakit, tapi kami malah tidur."
"Haish..." Doris mengibaskan lengannya ke udara sambil mendecak, "saya sudah sehat, jangan terlalu khawatir."
Ia berusaha meyakinkan wanita paruh baya itu agar tidak berlebihan memikirkan kesehatannya yang sebenarnya hanya lantaran kurang istirahat. Tidur cukup, bugar kembali.
"Ini buat anda."
"Salad?"
Doris menatap bingung piring yang di hidangkan untuknya, sejak kapan dirinya memesan makanan sehat ini?
Alpukat, bery, semangka dan anggur tertata rapi bersama sayuran serta suwiran daging d**a ayam di tengahnya.
"Nggak ada roti, bu?"
"Nggak ada mbak, itu tadi yang bikin bosnya mas Abi." ringis bu Suwati.
"T-ta-tapi saya nggak biasa makan ini bu."
"Maaf non."
Doris menghela nafas panjang, "sudahlah bu, ini juga oke kok, sepertinya enak." Doris menyuap setiap salad yang ia ceruk dengan sendok lantas masuk ke mulut begitu lahap. Meskipun dirinya tak terbiasa memakan makanan yang sangat sehat ini, rupanya perutnya mau menerima dengan baik.
Isi piring hampir habis, namun matanya menatap heran ke arah pekerja rumah tangga tadi. Dirinya lantas disuguhkan segelas s**u segar yang entah sejak kapan rumah ini juga tersedia.
"Hah, ada lagi?"
Perut rasanya mau meledak kekenyangan, namun kenapa harus disuruh minum sebanyak itu. Kalau tidak diminum pasti akan dibuang oleh bu Suwati. Kan sayang, pikirnya.
Dengan terpaksa meski wajahnya tampak biasa saja, ia meraih gelas s**u itu dan menegaknya pelan. s**u segar yang sangat bagus untuk kesehatan, dengan sekuat tenaga masuk melalui mulut dan mengalir masuk ke tenggorokan, Doris bahkan menahan gejolak perutnya sambil sesekali menahan nafas berharap s**u itu habis segera.
Huek...
Doris yang sontak berlari menuju kamar mandi, memuntahkan semua isi perutnya.
Huek...
Hal itu tentu menarik perhatian bu Su serta suaminya, "mbak Doris." pekiknya.
Mereka membantu Doris yang masih belum selesai dengan muntahan yang hanya tersisa cairan bening saja.
"Aduh... Piye iki pak..." ujar bu Su panik dan sedih.
Wanita paruh baya itu mengerti bahwa setiap pagi memang menjadi kebiasaan Doris yang tidak bisa menelan makanan apapun selain roti tawar rasa asin.
"Kamu kasih apa tadi mbak Dorisnya, bu?"
"Salad, pak..."
"Loh gimana kamu ini."
Pak Suladi cepat mencari minyak angin yang ia simpan di laci dapur, "buruan olesin perutnya, sama hidungnya."
Namun Doris menolak, ia menggelengkan kepala sambil melambaikan tangan di udara dengan lemah. Ia hanya butuh di papah dan duduk di kursi untuk saat ini.
"Maafin istri saya ya mbak Doris, dia nggak berani menolak bosnya mas Abi."
"Nggak pak, nggak perlu minta maaf."
Doris menerima air putih dalam gelas dari bu Suwati, "memang saya saja yang lagi nggak bisa makan seminggu ini."
"Tapi mbak."
"Kalian nggak usah khawatir, saya baik-baik saja."
Bu Suwati tampak mengusap matanya yang basah, "gimana nggak khawatir, mbak Doris makan sebanyak itu sampe harus muntah segala." ujarnya menangis sesenggukan, "saya merasa nggak becus jagain mbak Doris, saat mas Abi nggak di rumah."
"Kan sekarang sudah nggak muntah lagi."
"Ya tapi tetap saja, saya takut dan khawatir."
Doris menghela nafas panjang, serba salah bila sudah begini. Memang dari awal dirinya sudah memesan untuk bu Suwati agar tidak memberinya sarapan selain roti setiap harinya. Sedikit merepotkan tapi Doris tidak punya pilihan lain. Akhir-akhir ini asam lambungnya seperti tidak bisa di ajak kompromi.
"Ya sudah, sekarang tolong siapin roti yang biasanya." putusnya agar wanita paruh baya itu berhenti meratapi kesalahannya.
"Roti yang kemarin saya beli, dibuang sama bosnya mas Abi." cicitnya takut.
"Hah?"
"Beliau bilang, mbak Doris harus makan makanan yang bergizi agar mbak nggak gampang pingsan dan sakit seperti akhir-akhir ini." jelasnya.
"Ta-tapi kenapa harus di buang." pekiknya heran, "bukan maksud saya bukan menyalahkan anda bu Su, kenapa di buang kalo rotinya belum kadaluarsa?" lanjut Doris yang tak ingin menyakiti perasaan wanita paruh baya itu.
"Saya tadi sempet ngambil roti tadi dari situ."
Doris kembali melongo, pak Suladi menunjuk ke arah tong sampah, "niatnya biar roti tadi nggak mubadzir kalo kasih makan ikan."
"Memangnya disini ada kolam ikan ya pak?"
"Nggak ada mbak."
"Terus?"
"Ya siapa tau, nanti malam atau kapan gitu ada yang ngajakin saya mancing." sahut pak Suladi lemas, "tapi nggak berani soalnya bosnya mas Abi keburu bawa kantong sampahnya keluar sendiri nggak nyuruh kita yang buang."
Sepertinya membahas roti hanya akan membuat waktu paginya terbuang sia-sia, Doris yang sempat melirik ke arah arloji di pergelangan tangan lantas meraih tas kerja miliknya sebab tak terasa hampir pukul sepuluh pagi.
"Saya berangkat dulu ya pak, bu."
"Tapi anda belum sarapan mbak." cegah bu Suwati panik.
"Saya bisa sarapan di kampus, bareng Rita."
"Tapi mbak-"
"Sudah bu, nggak usah khawatir..." sahut Doris lagi dengan tawa kecilnya, "kita bahas nanti malam saja, oke?!"
Doris sudah tak peduli dengan pasangan paruh baya itu, yang hendak protes atau memaksa dirinya agar sarapan lagi setelah tadi sempat dimuntahkan kembali. Dirinya sudah telat karena nanti siang akan ada rapat sesuai informasi dari rekan kerjanya yang juga ikut terpilih sebagai dosen pembimbing bagi beberapa mahasiswa yang hendak melanjutkan pendidikannya di negeri sakura, yaitu Jepang.