Unbelieve position

1409 Kata
Sepertinya bukan ini yang ia inginkan, bekerja untuk mengurangi rasa bosan namun kini justru terasa membosankan. Doris sudah tidak lagi dipilih menjadi dosen pembimbing, dia hanya akan dibutuhkan bila Fredy mengutusnya. Tadi dari rumah dirinya semangat menghadiri rapat yang akan diselenggarakan siang ini, bahkan tak peduli akan drama di rumah pagi tadi karena baginya bertemu rekan kerja serta mahasiswa di universitas lebih menyenangkan. Tapi bukan malah yang hanya duduk lantas membacakan apa saja yang hendak Fredy lakukan sesuai jadwal yang tercatat rapi dalam buku untuk ke depannya. "Di sini kamu rupanya." seru Fredy lega. Melihat Doris duduk termenung begini, tentu membuatnya tak tega setidaknya mengurangi rasa cemas dirinya mengingat kondisi Doris yang tergeletak di lantai di ruangan ini sendiri. "Aku cariin keliling kampus." "Aku bosan..." "Ini lebih baik, Doris." sahut Fredy lembut, "aku takut kamu kenapa-napa lagi." "Ya tapi kan nggak gini juga." Fredy tergelak melihat raut wajah Doris yang amat tersiksa dan ingin protes saja. "Bagaimana ceritanya harus menjadi asisten kamu." gerutunya. "Bagus donk." "Cih, sia-sia dan sangat disayangkan untuk otak serta kemampuanku dalam mengajar kalo ujung-ujungnya harus jadi asistenmu." Padahal menjadi asisten Fredy, dirinya bisa lebih rileks tanpa kerja keras bahkan lembur terus menerus karena masalah yang datang silih berganti. "Banyak loh yang pengen jadi asistenku." candanya. "Iya banyak, mahasiswa kampus." "Hey... Jangan salah, selain mahasiswa kampus, dosen lain pun selalu mendatangiku dan tak segan menawarkan diri agar mengangkatnya sebagai asistenku." Kalimat itu berhasil membuat Doris jengah bahkan Fredy semakin tergelak saat dirinya melirik kearahnya penuh kesal. Tetap saja semua ini sangat tidak masuk akal, pekerjaan ini bukanlah pekerjaan yang pantas untuknya yang bahkan Doris adalah seorang dosen fakta bergelar doctor dan salah satu dosen muda terbaik berprestasi di negara ini. Haaahhh... helaan nafas panjang terdengar, gairah Doris untuk bekerja pun hilang bahkan tak nafsu melihat tumpukan berkas dihadapannya sekarang. "Aku ingin kamu membantuku, karena aku pasti kerepotan mengatur jadwalku, setelah pak Ahmad pensiun nanti." "Terus?" "Kepala rektor kita tidak sepenuhnya hadir di kampus ini." "Terus maksudnya?" "Itu artinya, aku bertanggung jawab penuh atas universitas ini selama beliau tidak di tempat." Fredy memaklumi nada kesal yang tak percaya dengan ucapannya barusan, apalagi Doris tidak sedang dalam perasaan baik-baik saja. Wanita itu sedang dalam mode marah padanya karena Fredy menyetujui usul untuk mengangkat Doris sebagai asisten wakil rektorat universitas ini dari semua anggota yang hadir dalam rapat tadi, meskipun Fredy tahu bahwa sangat Doris menolak keras atas keputusan hak veto ini. "Dia pengusaha, jadi kita harus memakluminya." "Kita apanya..." sahut Doris kesal, "hadirnya beliau atau tidaknya di kampus ini, bukan berarti aku harus menerima pekerjaan ini." Situasi begini yang selalu membuatnya malas, Doris bukan manusia yang mudah berubah haluan. "Kalian terlalu semena-mena, lebih baik aku pindah mengajar saja." "Aku setuju." "Apa?!!!" seru Doris menatap Fredy tak percaya, semudah itukah lelaki itu menyetujui ucapan asal dari mulutnya. "Bahkan aku lebih mendukungmu, menjadi ibu rumah tangga." "Lelucon apa ini?!!!" "Aku serius." sahut Fredy tenang, "aku ingin kamu selalu menemani Abi dan membimbingnya saat meniti karirnya seperti sekarang ini, agar si manusia penuh bulu itu tidak macam-macam lagi denganmu nantinya." "Dia bukan anak kecil, yang butuh bimbingan dariku." "Kamu salah Doris." Fredy mengambil tempat duduk di kursi berseberangan menghadap dia, "kami tumbuh bersama, jadi aku lebih mengenal dia dan jauh lebih memahaminya lebih dari kamu, meski kamu istrinya." Tak biasanya Doris mendengar nada serius dari ucapan Fredy apalagi ini membahas sesuatu mengenai Abi. ***** Tok, tok, tok. Nada hentakan langkah kaki dari sepatu kulit yang terdengar merdu mengalun melangkah memasuki lobi perusahaan. Para wanita menatapnya penuh binar, mereka saling bisik mengaggumi pesona ketampananya. Tak heran kala dimana dirinya berada maka akan menjadi pusat perhatian. "Pagi pak." Lelaki itu menganggukan kepala lantas menerima jas abu-abu dan memakainya lantas masuk ke arah kotak besi yang di tunjukan padanya. "Setelah makan siang, ada meeting singkat dengan klien." Tanpa menjawab, ia hanya mendengar semua penjelasan asisten pribadi yang dipilih langsung untuknya. Siapa lagi kalau bukan Theo, lelaki yang sudah memiliki keahlian khusus akan pengamanan yang merangkap menjadi asisten pribadi untuk para pengusaha. "Ada kabar dari Prima?" "Belum ada." "Itu artinya dia bisa menangani proyek kita tanpa masalah, bukan?" "Saya rasa begitu pak." Anggukan kecil menunjukan rasa puas dari Zahir, hingga langkahnya terhenti saat seseorang memanggilnya dari arah lain setelah mereka berdua sampai ke tempat tujuan. "Zahir?" seru Fikri. "kapan sampai?" "Semalem bang." "Wah, sudah besar ya sekarang." Fikri memeluk tubuh Zahir penuh bangga. Apa itu artinya Fikri sekarang tua? "Maksudnya gendut?" "Bukan." sahut Fikri tergelak, ia meremas lengan kekarnya dengan decakan takjub, "kalian memang pandai membentuk tubuh sempurna begini, abang ngiri." Di sanjung tak menjadi tinggi, di puja tak membuatnya terlena. Zahir justru ikut menyanjungnya dengan seribu kalimat manis begitu tulus kepada Fikri. "Oh iya ngomong-ngomong." Fikri langsung paham, ia lantas menyampaikan bahwa Bara memang sedang menunggunya dan menyuruhnya masuk saja. Bara mendongak saat ia berseru, sengaja mengejutkannya. Lelaki itu tersenyum lebar lantas beranjak dari duduknya dan memutari meja. Kedua lengannya merentang dengan langkah sedikit cepat membuat Zahir menyambutnya pelukan hangat itu. "Apa kabar?" "Baik bang..." Bara merengkuh wajahnya setelah bertahun-tahun tak berjumpa dengannya tampak jelas ia sangat merindukan Zahir, lebih tepatnya sekeluarga. Tapi sakit hati Bara dengan sikap sang papa, membuatnya tak ingin kembali lagi ke Jakarta selama dua tahun ini dan dengan terpaksa Riana lah yang datang mengunjunginya. "Duduklah." Zahir melempar tubuhnya ke sofa empuk itu, "cukup nyaman." gumamnya sambil mengangguk-angguk. "Bagaimana perjalananmu tadi?" Zahir tertawa pelan, "mama menangis saat aku pamit." jelasnya di sela tawa, "katanya takut supirku mengantuk, takut Zahir capek, takut ada yang menyalahi mobilku." "Sampe akhirnya Zahir bilang kalo kesini 'naik petawat telbang'." ujarnya dengan logat cadelnya waktu kecil. Bara menyulut rokoknya, "jadi akhirnya pake heli?" Zahir mengangguk. "Punya papa?" Ia mengangguk lagi. "Hey ayolah, aku belum sekaya kamu bang." gerutunya saat sadar nada ejekan itu. "Kapan kamu pindah ke sini?" "Minggu depan." "Good...!" "Tapi kamu harus tau satu hal bang." Bara menoleh menaikan satu alis menatap Zahir. "Kak Ara sudah kembali dari UK, dan dia akan ikut gabung di BR Group." Bara melotot, "what the... Kenapa baru kali ini kamu memberitahu abang?" Zahir mengangkat kedua bahunya. Tok, tok... "Masuk..." sahut Zahir. "Pak..." sapa sekretaris Bara membuat Zahir tersenyum mengangguk. "Taruh saja di meja, terima kasih." namun sekretaris itu justru tak bergerak dari tempatnya. "Apa anda akan terus berdiri di sana?" ujar Zahir heran. Sepertinya gadis itu melamun saat membawa penampan berisikan dua cangkir teh panas itu. Hampir saja menumpahkannya karena tersentak dengan tegurannya. "Ma-maaf..." ia lantas mendekat membawa kedua cangkir serta beberapa biskuit kesukaan bos nya. Karena saking gugupnya berhadapan dengan kedua pria tampan, tangannya gemetar hingga berbunyi suara klutak-klutak saat ia meletakan kedua cangkir itu di atas meja. Sekretaris itu berpamit setelah Zahir mempersilakan dia kembali keluar dari ruangan Bara. "Nggak tau juga sih bang, hanya saja Zahir sempat mendengar percakapan papa dengan paman Irfan di kantor seusai rapat minggu lalu." Zahir menjelaskan apa yang ia tahu, agar Bara mempersiapkan diri menghadapi kakak perempuannya yang merepotkan itu. Mereka cukup hidup aman sejahtera saat Arabela menyusul Beni di Inggris, dia juga kuliah di sana hanya saja beda kampus. Meskipun rindu kakak perempuan, akan lebih baik bila mereka dijauhkan oleh manusia mulut seribu itu. "Terus abang harus gimana, Zahir...?" ujarnya mendesah sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. "Kenapa abang bingung? Abang ingat kan kalo bang Rafa mau ikut bergabung dengan perusahaan papa setelah abang yang memimpin perusahaan BR Group." Bara sontak menoleh menghadap Zahir yang sekarang sedang menyeruput teh yang berada dalam cangkir miliknya. "Bang Rafa gabung dengan papa?" Zahir mengangguk yakin, "hah... Kalo ada bang Rafa, hidup abang terasa indah Zahir..." ujarnya sambil terkekeh pelan. "Jadi kapan abang balik ke Jakarta?" "Secepatnya..." sahut Bara, "secepatnya abang kembali ke Jakarta, dan kamu boleh memimpin perusahaan ini sesuai impianmu." ujar Bara lagi sambil menepuk pelan pundak Zahir. Melihat adiknya sudah tumbuh dewasa seperti sekarang, hati Bara langsung menghangat. "Kamu sudah dewasa dek, abang bangga padamu." Zahir bisa merasakan nada kerinduan dari ucapan yang di lontarkan oleh Bara, ia tersenyum tipis dan membalas menepuk pelan pundak Bara. "Kalau begitu Zahir akan meminta Theo agar mengatur semua jadwal ku mulai sekarang, sampai kita bertukar tempat nanti." Ting... Rapat pukul empat sore, pak. Lokasi? (*****) senyum Zahir begitu cerah, Bara lama tak melihat itu, "sms dari ayang?" "Bukan." sahut Zahir lantas menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku jas miliknya. "Sudah makan siang?" "Belum, bang." "Abang akan hubungi Fikri, kita makan siang bersama." Zahir mengangguk saja, karena dirinya masih terdapat waktu untuk bersantai sebelum pergi ke tempat yang Theo atur untuk jadwal kesibukan hari ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN