Bugh... Doris membanting buku-buku tebal yang mulai sekarang mungkin tak akan terpakai lagi. Hatinya kesal menjadi seseorang yang menurutnya bukanlah hal penting di universitas tersebut. Huft... Doris mengatur nafas berkali-kali, mencoba mengendalikan emosinya sendiri yang merasa tak adil dengan keputusan sepihak serentak tanpa memberinya kesempatan menolak sama sekali. "Kenapa mereka selalu seenaknya sendiri." gerutunya. Doris kembali merapikan barang-barang berharga miliknya ke dalam box besar yang nantinya akan di bawa pulang ke rumah, sebab ruangan ini sudah bukan lagi menjadi ruangan kesayangannya. Dirinya harus rela melepaskan untuk calon dosen lain yang akan menempati ruangan tersebut, karena Doris ditegaskan agar menempati ruangan milik pemimpin yang kemungkinan satu ruang den

