Setipis tissue

1428 Kata
"Kirain keluar jemput suami." sindir wanita paruh baya yang duduk di sebuah sofa panjang di ruang tengah sambil menikmati setiap hisapan kepulan asap aroma tembakau di sela-sela jarinya. Wanita itu adalah Juriah, ibu kandung Doris yang pada masa mudanya merupakan wanita paling fenomenal di jamannya. Wajah cantik, tubuh seksi dengan duduk manis sambil tersenyum tipis saja bahkan mampu menarik para jantan yang singgah di rumah kumuh bagi para penjual jasa penghangat ranjang pria hidung belaang di daerah Salatiga. Sebenarnya dulu Juriah gadis baik nan santun, bahkan selalu membantu siapa saja yang membutuhkan jasanya untuk menjadi buruh tani. Namun karena pemuda berandal yang dengan tega menjualnya di rumah singgah tersebut sarang bagi kaum nakal, membuat Juriah berubah tak selugu dulu. "Wong wedok ra becus, punya suami malah di biarin minggat." cibirnya. "Bukannya ibu sudah tau, kalo Abi sudah berpamitan untuk kerja." sahut Doris cepat, berusaha berkata lembut tanpa terprovokasi oleh ucapan sengit itu. "Cih, kerja apanya." Juriah bangkit dari sofa setelah menekan ujung rokoknya begitu kesal, "laki-laki nggak mungkin pergi di saat momen paling indah." ujarnya pada Doris untuk kesekian kalinya, "harusnya malam itu, kamu nggak biarin dia minggat gitu aja. Belum juga apa-apain kamu." Juriah melirik Doris begitu sengit, "punya anak tak berguna memang." cibirnya lagi. Doris mengatur nafasnya agar tak ikut terpancing amarah dari setiap kata-kata menyakitkan dari mulut ibu kandungnya. Baginya meladeni kata-kata sampah itu hanya akan membuang waktunya saja. "Doris makan dulu, bu." putusnya, ia berlalu tanpa melihat Juriah yang tampak bersungut-sungut ingin sekali mencengkramnya. "Jadi perempuan cantik kok bodoh..." seru Juriah dari ruang tengah, "merayu satu pria saja nggak bisa." langkah Juriah terdengar mendekatinya, "guobloknya minta ampun." "Ibu...!!!" geram Doris, "boleh nggak, Do makan dulu?" desisnya. Geregetan rasanya, bila posisi orang sedang lapar tingkat dewa namun di sebelah nampak seseorang tak berhenti mengoceh tanpa memberi jeda untuknya menelan makanan di dalam mulutnya. "Ya makanlah." sahut Juriah, "apa makan saja, kamu juga butuh bantuan ibu?" Doris menghela napas panjang, ia kembali melanjutkan makannya meski sebenarnya hatinya jengkel dengan mulut pedas sang ibu. "Coba kalo bukan karena ibu ngeyakinkan Abi buat nikahin kamu, sudah pasti mantu ibu itu bakal salah langkah dan malah menikahi lonthe piyik." Doris mengerutkan alis, ia tidak menyela ucapan Juriah membiarkan wanita paruh baya itu kembali mengoceh. "Abi tentu setuju dengan perkataan ibu waktu itu, agar Abi tak terkecoh dengan wanita kegatelan itu, karena untuk menjadi istri, kamu tu seratus persen jauh lebih baik dari tu lon-" "Tunggu deh..." sela Doris mengangkat lengannya ke arah sang ibu, "maksudnya tadi apa?" "Kamu nggak dengerin ibu?" "Denger." sahut Doris, "denger banget malah." ia lantas memutar tubuh menoleh ke arah Juriah. "Jadi ibu sudah tau, kalo mas Abi itu selingkuh?" "Tau lah." "Dan ibu nggak kasih tau Doris?" Juriah mencebik, ia menatap Doris sinis, "ngapain kasih tau kamu? Yang ada kamu pasti sakit ati, Do." Doris melongo, nafasnya menggebu melihat sikap sang ibu tampak santai dan tak merasa bersalah sama sekali dengan perbuatannya yang main memutuskan semua apapun secara sepihak tanpa memberitahunya. "Terus, kalo taunya sekarang, apa ibu pikir Do nggak sakit ati?!!!" seru Doris. "Nggak sopan kamu Doris." bentak Juriah tak terima dengan teriakan putrinya, bukannya berterima kasih setelah akhirnya Abi menikahinya, malah sekarang Doris terlihat tak ada rasa terima kasih padanya. "Semua ibu lakukan agar kamu bisa hidup bahagia sama Abi...!" timpalnya, "kamu pikir enak hidup sendiri tanpa ada laki-laki mendampingi?" Juriah menatapnya sinis, Doris itu putrinya dan dirinya tahu pasti apa yang terbaik untuk Doris. "Hidupmu cukup kerja sesuai keinginanmu, dan menikah dengan pria yang kamu cintai harusnya kamu bersyukur...!" Doris tak mampu berkata-kata lagi, bibirnya kelu mendengar kata demi kata yang terlontar dari sang ibu. Sikap keras kepala Juriah semakin membuatnya kecewa, dan matanya terus saja menitik membasahi pipi melihat wanita paruh baya itu yang masih saja belum menyadari dimana letak kesalahannya selama ini. "Kalian bertahun-tahun pacaran itu buat apa kalo bukan buat nikah?" lanjut Juriah masih dengan nada tinggi melihat Doris yang diam saja, "karena ibu lihat, kamu sangat mencintai Abi jadi ibu harus membuat kalian menikah." Pundak Doris luruh, matanya menatap sayu ke arah Juriah. Dadanya terasa ngilu mengetahui fakta yang sama sekali tidak ia sangka sedikit pun. Bagaimana sang ibu bertindak terlalu jauh seperti ini? "Ibu bilang apa ke dia?" "Ya pokoknya semua hal, agar Abi mau menikahi kamu dengan segera." ujarnya bangga. "Kenapa ibu lakuin itu?" "Ya tadi, yang ibu omongin tadi." sahut Juriah, "kalian pacaran lama, ya harusnya nikah donk, Do. Piye to kue ki?" "Harus ya bu?" ujarnya lirih, "harus banget ya?" Doris menelan ludah dengan susah payah menatap sang ibu yang masih saja keukeuh dengan pendiriannya. Perasaan Doris semakin hancur berkeping-keping tanpa sang ibu sadari, akibat terlalu ikut campur dengan hubungan yang selama ini ia jalin. "Ibu benar-benar egois." putusnya. Doris menyahut makanannya yang tak habis tadi lantas membuang nya ke tempat sampah. "Kamu yang bodoh, bukan ibu yang egois, Do!!!" pekik Juriah. Doris mengusap matanya dengan kasar, percuma adu argumen. Lebih baik dia menghindar dari pada dirinya terpancing amarah dalam dirinya yang menyebabkan Doris bisa saja berkata buruk kepada ibunya. "Hiks, hiks." tubuhnya luruh bersandar di balik pintu kamarnya. Tok, tok, tok... ketukan pintu tak membuat Doris ingin membukanya. Buka pintunya, Doris!!! Anak sialan, nggak tau di untung... Doris duduk bersibaku dengan kedua lengan terlipat di atas lutut, "hiks, hiks, kenapa ibu ngelakuin ini semua?" ujarnya teredam dengan tangis yang semakin pecah. Dirinya sudah kenyang dengan cakian makian serta cibiran dari sang ibu, namun Doris tidak pernah mengambil hati karena baginya sang ibu sebenarnya orang baik dan tentu menyayangi Doris tulus dengan caranya sendiri. Selama hidup bersama dan di besarkan seorang diri membuat Doris percaya bahwa ibunya lebih tertekan dari pada dia. Bahkan hidup tak adil setelah tertipu rayu dari lelaki biadaab yang memanfaatkan keluguan sang ibu, Doris tetap saja menjalani hidup layaknya anak seusianya yang sekolah serta bermain dengan anak kecil lainnya, tanpa beban yang biasa ia lihat dan dengar seperti halnya di luaran sana. Doris bangkit dan mengambil sebuah koper kecil dari bawah ranjangnya. Ia pun mulai mengambil beberapa baju dari dalam lemari serta buku penting yang berhubungan dengan pekerjaannya. Meratapi nasibnya terus menerus tentu tak akan sehat baginya, apalagi sang ibu yang tak akan henti-hentinya memojokan dirinya. "Lo dimana?" ujarnya setelah selesai merapikan barang-barangnya. Di rumahlah... sahut Rita. "Jemput gue, gue tunggu." Tut... tut... tut... Rita yang mendapat telepon singkat begitu pun menatap heran ke layar ponselnya sendiri. "Udah gila ya dia?" Rita mengerang kesal lantas melempar cuson dengan asal dan bangkit dari ranjang. Betapa tak mengasikannya Doris, yang sudah mengganggu masa tenangnya. Rita terus saja uring-uring di dalam mobilnya sendiri selama perjalanan menuju rumah Doris. "Otaknya udah miring kali ya? Bisa-bisanya jam segini suruh jemput." gerutunya, melihat waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam semakin membuat Rita terus saja uring-uringan. Tak perlu setengah jam perjalanan, mobilnya pun berhenti dan terparkir cantik di depan pekarangan rumah Doris. "Mikum..." "Kumsalam." "Mak... Doris ada?" Juriah menunjuk ke arah kamar putrinya tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, tampaknya sebelumnya telah terjadi sesuatu di antara ibu dan anak itu tanpa sepengetahuan Rita. Gadis itu mengusap tengkuknya karena canggung, "saya boleh masuk, mak?" Juriah tak menjawab lagi, ia berlalu begitu saja dari hadapan Rita yang membuat gadis bertinggi badan semeter kotor itu semakin meringis melihat tingkah Juriah. "Doris memang sialan." gerutunya lirih sendiri. Rita memutuskan duduk di bangku depan rumah mereka, karena baginya menghindar dari peperangan dalam keluarga adalah sesuatu yang membuat hidupnya merana. Bagaimana tidak? Di saat orang lain yang berbuat, dirinya akan ikutan klarifikasi sebagai alasan sahabat dekatnya. "Ayok." Rita menghela nafas panjang akhirnya yang di nanti keluar dari persembunyiannya, namun tak lama kemudian matanya melotot setelah menyadari barang bawa'an Doris. "Lo...?" Rita melongo sambil menunjuk koper serta lainnya seakan sedang berhitung, "mau minggat lo?" "Udah, ayok." "Eh... Tunggu, tunggu." Rita yang tak mampu mengelak pun pasrah saja, saat Doris menggiringnya masuk ke dalam mobil. "Gue belum pamit sama enyak lo." "Nggak usah." sahut Doris, menghidupkan mobil Rita dan melaju meninggalkan pekarangan rumahnya. Sebagai sahabat dirinya memang kepo, namun melihat tatapan Doris yang begitu dingin saat sedang menyetir membuatnya bungkam seribu bahasa. Tak lama kemudian mobil itu berhenti di sebuah rumah yang lebih kecil dari rumah Doris, "sampe Ta." Rita mengangguk kaku, ia masih setia dengan kebingungan serta kecanggungan semua ini. "Masuk atau langsung balik?" Rita menoleh ke jok belakang sudah tampak kosong sebab barang-barang Doris sudah tertata cantik di teras rumah tersebut. "Hmmm..." Rita berpikir sejenak, "sebaiknya gue balik ada, emosi lo nggak stabil." putusnya. Dari pada menjadi amukan Doris yang kesabarannya setipis tissue, Rita mencari aman dan memilih untuk pulang. "Bye Do..." mobil Rita pun melaju meninggalkan rumah kecil itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN