Rita ikutan panik, hingga ia memeluk tubuh Doris yang tak henti-hentinya memukul lelaki asing yang telah duduk di dekat mereka, lebih tepatnya di samping Doris duduk.
"Do... Do...!!!" Rita menariknya paksa, "bisa tenang nggak sih, banyak yang liatin bitch." bisiknya kesal.
Nafas Doris terengah-engah, matanya masih menatap lelaki di hadapannya penuh permusuhan, amarah seperti ini memang pantas ia luapkan sepenuh hati mengingat kejadian yang baru saja menimpa dirinya.
Semenjak kepergian Abi, dirinya hanya diam saja. Dengan begini suasana hatinya berangsur membaik. Memaki menampar serta memukul lelaki asing di hadapannya begitu antusias, seolah Abi lah yang menjadi korban amukan liar Doris
"Awas lo ya..." ancam Doris menunjuk pada lelaki asing itu, yang tak lain dan tak bukan adalah Zahir. Orang yang sama yang berani masuk ke ruangannya tanpa permisi di pertemuan mereka sebelumnya.
Ia menatap Zahir amat sengit, sejenak sebelum pergi meninggalkan kantin.
"Do...!" seru Rita, gadis itu berlari demi mengimbangi langkah kakinya.
"Doris...!!!"
Rita dan Doris sudah pergi meninggalkan kantin, namun Zahir masih tetap diam saja di tempatnya. Rahangnya mengeras saat tangannya menyentuh pipi bekas cakaran Doris. Ia tertawa pelan dalam amarahnya yang ia tahan, menatap koridor begitu dingin di mana gadis yang mengamuk padanya pergi menjauh.
"Doris." gumamnya.
Zahir pun bangkit dari duduk, ia menyibak rambutnya yang sempat acak-acakan lantas berlalu kembali ke arah parkiran mobilnya.
*****
Yogyakarta merupakan daerah istimewa yang terkenal dengan sebutan kota gudeg. Kota yang masih kental akan nuansa mistis, adat istiadat serta budayanya yang khas, sarat akan sejarah. Semua yang ada di kota ini sangat membuat Zahir kagum, di tambah dengan keramahan penduduk sekitar, bahkan dia tak akan malu menginap di sebuah kontrakan kecil milik keluarga teman sekolahnya dulu.
"Malem-malem, mau kemana den?"
Zahir tersenyum, "cari angin, bulek." sahutnya.
"Pulangnya jangan tengah malam ya." tegur lelaki paruh baya yang ikut keluar menengok Zahir, "ora elok..." jelasnya.
Zahir mengangguk paham, ia hanya ingin membeli sesuatu di warung pojok sana karena makanan yang ia makan sore tadi tidaklah cukup membuatnya kenyang.
"Cuma ke angkringan kok pak lek." ujarnya sambil menunjukan ibu jarinya ke arah ujung jalan.
"Ya udah, hati-hati..."
Anak ke empat dari pasangan Bimo dan Riana mengangguk sopan lantas berpamitan. Hanya beberapa langkah dari kontrakan dia menginap, Zahir kini berdiri di samping gerobak menunggu antrian sang penjual tersebut yang tampak sibuk membuat minuman pada para pembeli.
"Pak tolong wedang ronde satu, minum sini."
"Siap mas..." sahut sang penjual, "mau makan juga?"
Zahir mengangguk, ia menerima nampan kecil serta sendok dari penjual tersebut, "monggo ambil sendiri, di dalamnya ada menu yang sudah tertulis pada bungkusnya." jelas lelaki paruh baya itu.
Karena nasi bungkus yang di jual pada angkringan tersebut hanya sebesar kepalan tangan anak balita menurut Zahir, ia pun mengambil beberapa dari setiap aneka macam rasa nasi bungkus tersebut hingga nampan yang ada pada genggamannya tampak penuh.
Wajahnya tampak cerah sumringah begitu ceria memandang makanan yang tertata rapi di hadapannya. Apalagi malam ini dia bisa makan kenyang mengingat biasanya akan ada yang menegur dan mengontrol pola makannya. Katanya memiliki tubuh gempal membuat dirinya terlihat bodoh dan tak lagi tampan. Tentu Zahir yang sangat mempercayai setiap kata yang terucap darinya akan membuat Zahir percaya serta patuh. Siapa lagi kalau bukan ucapan ibunya yaitu Riana.
"Skip sehari kan nggak papa." monolog Zahir menyetujui tindakannya.
Zahir memilih duduk lesehan paling ujung. Sedikit jauh dari tenda dan lumayan sepi. Apalagi pencahayaan yang minim, membuat Zahir merasa tenang karena tak akan ada yang mengusik kegiatan makannya.
Ia makan begitu lahap, saking lahapnya tak terasa sudah habis sepuluh bungkus.
"Kasihan Doris ya." ujar salah satu pemuda yang berhasil menarik atensinya yang duduk tak jauh dari ia duduk.
Tampak beberapa dari mereka telah membicarakan hal tentang seseorang yang sepertinya seorang itu sama dengan yang ia jumpai hari ini.
"Abis nikah, di tinggal gitu aja."
Bukan orang yang sama pikirnya, Zahir pun kembali menyantap makanannya. Baginya sudah bukan urusannya apalagi yang di bicarakan adalah istri orang. Tentu menurutnya ini beda orang.
"Katanya suaminya kerja?"
"Kata siapa?"
"Banyak kok saksinya."
"Cih..." pemuda yang memulai topik pembicaraan tadi itu tampak kesal, "aku lihat Abi kemarin itu, sama Mona di Solo kalo kalian nggak percaya."
"Weh, serius?"
"Iya, sumpah..."
"Mereka kerja di sana?"
"Kerja apanya, wong keluar dari hotel." cibir pemuda tadi.
"Waahh... Parah..." pekik salah satu di antaranya, "Doris kok mau sama cecurut begitu?"
Mereka kompak mengendikan bahu, hingga lelaki paruh baya pemilik gerobak angkringan tadi menyela pembicaraan mereka.
"Ojo sok rasan-rasan, orangnya di sini."
Kumpulan pemuda tadi sontak menoleh ke arah gadis yang di bicarakan. Mereka saling mengangguk saling sapa yang entah kenapa membuat Zahir sangat amat penasaran.
"Jangan di dengerin, mereka kurang kerjaan nduk." ujar penjual tersebut.
"Sudah biasa mbok, kulo mpun kebal..." gurau Doris.
Mata Zahir melotot setelah dirinya melihat sendiri dengan mata kepalanya, bahwa gadis yang di bicarakan oleh beberapa pemuda tadi adalah Doris yang memukulnya tadi siang. Dan lebih parahnya lagi, gadis itu adalah istri orang.
"Ya kan Bud?" goda Doris terkekeh melihat beberapa dari mereka tampak canggung dengannya.
"Suwun yo mbok..."
Gadis itu berlalu setelah menerima sekantong plastik entah apa yang ia beli.
Zahir yang masih betah dengan keterkejutannya pun bergidik pada akhirnya. Lelaki itu melanjutkan acara makannya, meski nafsu makannya sudah tak selahap tadi.
"Ini mas, wedang rondenya." segelas minuman pesanan miliknya, akhirnya datang, "maaf ya telat, banyak yang beli soalnya."
"Pak, bentar..."
"Ya mas?"
"Cewek tadi, beneran udah nikah?"
Lelaki paruh baya itu sempat berpikir sejenak, lantas mengangguk setelah mengerti dengan apa yang di maksud Zahir.
"Iya, minggu lalu." jawab penjual itu.
"Baru seminggu donk?" pekik Zahir lirih.
"Betul mas, tapi ya itu." lelaki paruh baya tersebut mendekat dan berbisik, "suaminya kabur setelah mereka sah menikah, di malam pas harinya mereka selesai mengadakan resepsi."
Zahir meringis, begitu mengerikan nasib sang gadis. Ia pun memutuskan kembali ke kontrakan miliknya, lantaran sudah merasa risih dengan sekumpulan pemuda yang suka membicarakan siapapun di angkringan tersebut.
"Gue kira lo nggak balik bro." ujar seseorang yang duduk manis di teras depan kontrakannya.
Zahir memutar bola mata malas, ia meraih kunci pintu rumah dari dalam saku celana pendeknya, "ngapain lo kemari?"
"Tengok adik kesayangan gue." sahutnya merangkul pundak Zahir.
Zahir mendecih, ia masuk terlebih dahulu lantas di susul oleh orang itu yang tak lain dan tak bukan saudara kembarnya.
Mereka bukan kembar identik pada umumnya, sebab masing-masing dari keduanya memiliki kemiripan khusus menurun dari orang tuanya.
"Sama siapa lo kemari?"
"Sendirian."
"Nggak percaya."
"Sama om David."
"Nah itu baru percaya."
"Sialan lo." Zahid merebahkan tubuhnya pada sofa panjang di ruang tengah, "kontrakan lo, asik."
"Jelas donk."
"Mahal pasti."
"Gratis." sahut Zahir sambil cengengesan, "gue jual nama papa, haha."
Zahid hanya geleng-geleng kepala, "gue nginep malam ini, besok ada temu klien di resort BR group."
"Kenapa nggak nginep di sana aja?" tanya Zahir heran.
"Udah gue bilang, gue mau nengok adik kesayangan gue."
Zahir melempar bantal kecil pada lelaki di hadapannya itu, ia pun berlalu karena sebal meladeni sikap kekanakan Zahid.
"Oh iya, gue tadi di maki-maki orang aneh."
Zahir yang hendak masuk ke dalam kamar pun tertahan, "siapa?" tanyanya.
"Nggak tau." Zahid bangkit dan duduk, "tapi setelah dia ngedeketin gue, katanya salah orang." jelasnya.
Zahir mengerutkan alis, sempat bingung dalam sekejap hingga akhirnya dirinya menyadari suatu hal.
"Dia pake baju pink, kan?"
"Lupa gue, tapi kayanya sih iya." sahut Zahid ragu, "lo kenal dia?"
"Enggak."
"Kok lo tau, kalo dia pake baju pink?"
"Ya secara, dia kan cewek bro." kilah Zahir, "udah ah, gue mau tidur."
"Lo abis makan, langsung tidur?" pekik Zahid, "gue laporin ke mama...!"
Zahir yang sudah menutup rapat pintu kamarnya pun tak menghiraukan seruan Zahid. Dirinya sudah cukup merasa lelah dan kesal hari ini. Terlalu banyak tragedi kecil yang seperti sebuah warna yang menitik pada selembar kertas putih.
"Kenapa gue malah kepikiran si mak lampir sih?" gerutunya.
Ya, memang setelah kejadian siang tadi. Zahir sudah memutuskan untuk menjuluki Doris dengan sebutan kata mak lampir. Dengan sikapnya yang tidak memakai otak saat bertindak, membuat Zahir yakin bahwa Doris hanya gadis bodoh nan lugu.
Untung saja, bukan dia yang di temui oleh Doris. Kalau tidak maka bisa di pastikan dirinya akan menjadi amukan gadis itu lagi.
"Sebenernya lo menarik, tapi lo galak." gumam Zahir, lelaki itu menguap lantas tidur melanjutkan acara tidurnya yang sempat tertunda karena lapar.