Rencana untuk menghindar dari Rita pun gagal total, dirinya masih betah mencak-mencak di dalam ruangannya sendiri karena merasa di lecehkan oleh lelaki asing yang lancang masuk dan menciumnya.
"Berengseek, akan ku hajar sampe babak belur kalo ketemu lagi." gerutunya kesal, "awas saja kau pria sialan."
Doris mengusap pipinya berkali-kali, dengan amarah yang belum saja membaik hingga tak terasa wajahnya memerah karena gesekan yang di timbulkannya.
"Kantin yuk." Rita yang baru saja sampai langsung berseru padanya, "laper nih." ujarnya sambil mengusap permukaan perutnya yang datar.
"Nggak napsu."
"Kenapa?"
"Lagi kesel."
Gadis cempreng itu menggaruk kepalanya tampak bingung, pasalnya Doris kelihatan sangat kesal tanpa mau menatapnya. Sahabat serta rekan kerjanya itu terus berjalan mondar-mandir sambil menggerutu dan sesekali memukul mejanya hingga tanpa disadarinya Doris menjerit kencang hingga Rita pun terperanjat.
"Buset, ngapain sih Do?" demi apa, rasanya ingin sekali menepuk mulut Doris saat itu juga.
"Kesel gue."
"Kenapa sih?"
Bukannya menjawab, Doris malah meraih tas miliknya dan pergi meninggalkan Rita yang masih bertanya-tanya.
Suasana kampus lumayan riuh seperti biasanya, apalagi sebentar lagi akan ada kunjungan dari salah satu pihak penting bagian universitas tersebut. Karena Doris tidak ikut mengurus keperluan acara ini, dirinya pun masuk ke dalam ruang rektorat, siapa tahu jasanya mampu membantu acara yang sebentar lagi di selenggarakan.
"Siang pak."
"Bu Doris?" kejut lelaki paruh baya yang baru saja hendak duduk di atas sofa, "mari duduk." silanya pada Doris, salah satu dosen muda di fakultas tersebut.
"Tidak di rumah, kok malah berkunjung?" kekehnya.
Memang benar, tak satu pun yang tahu dengan kisah setelah malam pernikahannya. Doris hanya tersenyum tipis dan mengangguk menanggapi itu, ia pun lantas duduk di salah satu sofa kosong berseberangan dengan lelaki paruh baya selaku rektor atau pemimpin universitas tersebut.
"Ada perlu apa?"
"Kenapa tidak ada informasi kalo ada kunjungan hari ini ya pak?"
"Lah, kan anda cuti."
"Tapi saya bisa membantu kok pak Ahmad."
"Jangan to... Wong anda sibuk dengan keperluan pribadi kok."
Doris meringis, dirinya tentu paham kemana arah pembicaraan itu. Ia pun akhirnya ikut terkekeh meskipun dalam hati merutuki nasib yang terjadi dalam hidupnya.
"Acaranya jam berapa ya pak? Kalo saya boleh tau?" tanyanya mengalihkan pembicaraan tadi.
"Nanti sore jam tiga."
Doris mengangguk-angguk paham, ia pun mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
"Mumpung di sini dan bapak kelihatannya tidak sedang sibuk, boleh saya minta tanda tangannya pak." Doris tersenyum lebar, menyodorkan dokumen kepada pak Ahmad yang langsung di tanda tangani tanpa membaca terlebih dahulu.
"Bisa-bisanya masih mikir pekerjaan."
Doris terkekeh pelan, ia kembali menyimpan dokumen tersebut dan menyambut jabatan tangan pak Ahmad.
"Bosen pak di rumah hanya makan tidur."
Doris pun bangkit dari duduknya, "kalo begitu saya pamit pak, nanti sore saya akan ikut hadir dalam penyelenggaraan penyambutan tamu istimewa bapak."
"Oh iya, silakan bu Doris."
Doris pun keluar dari ruang rektorat, karena matanya terfokus pada layar ponsel, dirinya tanpa sadar bersimpangan dengan lelaki sebelumnya.
Selamat siang om...!!!
Doris sontak menghentikan langkahnya, ia menoleh ke arah belakang namun tak menemukan seseorang yang suaranya seakan pernah ia jumpai.
Drrtt...
"Halo..."
Ia kembali melangkah menuju ke arah kantin, "iya..."
*****
Pak Ahmad terkekeh setelah mengetahui siapa yang masuk ke dalam ruangannya. Dengan tawa khas milik lelaki paruh baya itu, ia pun menyambut pelukan tamunya, "kenapa nggak mau di jemput?"
"Datang sendiri lah, om."
"Nggak bareng Prima?"
"Nggak." sahutnya, "papa pengennya Zahir yang kesini, soalnya Prima lagi nemenin papa di perusahaan."
"Papa kamu masih kerja?"
"Nggak om, sudah pensiun."
"Lah terus?"
"Hari ini ada rapat penting, tapi Zahir nggak bisa hadir jadi papa gantiin."
Lelaki yang baru berusia dua puluh tiga tahun tersebut, menelisik ke penjuru arah di ruang pemimpin universitas tersebut.
"Desain ruangan om, kuno banget." cetusnya.
"Om kan memang sudah tua."
Karena Zahir sudah datang menemuinya, Ahmad pun menggunakan kesempatan seperti yang Doris lakukan padanya. Lelaki paruh baya itu mengambil sebuah berkas dokumen dari dalam laci mejanya, "tanda tangani dulu." ujarnya sambil menyodorkan pena hitam pada Zahir.
Namun Zahir menggeleng cepat, "nggak mau."
"Om juga pengen pensiun, Zahir." keluhnya memelas, "apa kamu nggak kasihan?"
"Om masih muda, masih layak memimpin."
"Om lebih tua dari papa kamu." sahut Ahmad, "bahkan papa kamu sudah pensiun."
"Kan ada wakil om, yang bisa lanjutin."
"Ada penerus Prasodjo kenapa harus orang lain yang mimpin." ujarnya, "sini, duduk sini." Ahmad pun tak ingin kesempatan ini hilang, ia melambai ke arah Zahir yang tampak ogah-ogahan meski akhirnya menurut padanya.
"Semua demi kebaikan kampus ini, jadi om minta kamu yang meneruskan."
"Anak om buat apa?" protesnya.
"Mereka sudah sibuk masing-masing."
"Harusnya mereka yang nerusin, kan pewaris."
"Udah sini, jangan mengoceh."
"Ck..." tanda tangan Zahir pun terukir indah pada dokumen penting tersebut. Ia tak membaca isi dari berkas itu, namun Zahir tahu pasti bahwa inti dari isi berkas yang sudah di simpan kembali ke dalam laci oleh Ahmad adalah dokumen kepemilikan universitas terbesar di kota Jogjakarta.
"Nanti sore, akan banyak mahasiswa hadir dalam seminar kamu."
"Hah?!" Zahir terhenyak, "sejak kapan ada acara seminar, kan niatnya cuma berkunjung om."
Dirinya yang heran masih setia menatap Ahmad, mengikuti setiap gerakan lelaki paruh baya tersebut hingga Ahmad kembali duduk di tempat semula. Mengingat kata banyak mahasiswa yang akan hadir sontak merinding sekujur tubuhnya. Bila hal itu benar terjadi maka bisa di pastikan Zahir akan kembali sembunyi di suatu tempat.
Baru saja tadi dirinya sampai di tempat ini, hampir semua mahasiswi serta mahasiswa di kampus tersebut menatapnya penuh ingin. Lebih parahnya lagi, mereka menaruh rasa tertarik dan terus terang kepadanya di sepanjang koridor menuju ruangan ini.
"Hiii..." ujarnya mendadak.
"Kenapa?"
"Menyeramkan." ujarnya kembali menggigil bergidik ngeri, "mereka seperti zombie, main keroyokan."
Ahmad menatapnya bingung, "siapa maksud kamu?"
"Mahasiswa, om."
Pak Ahmad tergelak, "ada-ada aja kamu."
"Sumpah deh om." sahut Zahir sungguh-sungguh, "tadi Zahir sampe sembunyi di ruangan cewek cantik gara-gara mereka menyerbu Zahir." adunya kesal.
"Ruangan siapa?"
"Nggak tau, pokoknya cantik dan judes."
Lagi-lagi Ahmad tergelak, lelaki paruh baya itu tentu berpikir kalau anak dari sahabat besannya tersebut pasti sedang merayu salah satu mahasiswa atau karyawan di universitas tersebut.
"Dosen atau mahasiswa?"
"Di lihat dari penampilannya serta perawakannya sepertinya mahasiswa." ujarnya sambil menerawang.
Ahmad mengangguk-angguk dengan senyum miring. Melihat cara Zahir menggambarkan karakter sosok wanita tersebut, bisa di pastikan kalau keturunan Prasodjo akan kembali mengukir sejarah percintaan.
"Sebentar lagi Dahlia menantu om datang, bawain om bekal makan siang." ujar Ahmad, "nanti sekalian makan bareng om." ajaknya.
"Wah, mbak Dahlia ke sini?"
"Iya."
"Lama nggak jumpa, kira-kira sekarang kaya apa ya dia." ujarnya sendiri.
Hampir saja Zahir lupa, ia mengambil sesuatu dari balik jas dark gray miliknya. "om..."
Ahmad menerima sebuah kotak kecil dari Zahir, "apa ini?"
"Hadiah dari papa."
Lelaki paruh baya itu lantas membuka kotak kecil tersebut, "mentang-mentang kaya." gerutunya sambil tergelak, karena di dalamnya terdapat sebuah arloji mewah yaitu Paul Newman’s Rolex Daytona. Tanpa pikir panjang, Ahmad pun segera memakainya.
"Gimana, cakep nggak?" tanyanya pada Zahir yang langsung di angguki oleh Zahir.
"Cakep om, keren..." puji Zahir begitu antusias tak lupa di sertai tepuk tangan.
Ahmad terkekeh pelan, mendadak dirinya merasa malu di sanjung dan di puji begini. Ia kembali melepas jam tangan itu dan menyimpannya ke kotak tadi.
"Kamu memang seperti ibumu." ujarnya sambil mendeham.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk."
"Assalammualaikum bah."
Wa'alaikumsalam... Sahut kedua lelaki beda generasi itu kompak menjawab salam.
"Dek Zahir, kapan datang?"
"Baru aja mbak."
Dahlia tersenyum teduh menatap Zahir, sepupu kesayangannya.
"Udah makan?"
"Belum mbak."
"Abah kok nggak bilang sih, kalo Zahir ke sini." ujar Dahlia canggung menyiapkan kotak makan di meja. Pasal nya kali ini dia hanya membawa sedikit dari biasanya, karena Ahmad tidak bisa menghabiskan semua bekal makanan yang ia antar. Ahmad sendiri lupa lantas mendeham sambil membuang pandang ke segala arah.
"Nggak usah repot mbak, nanti aku ke restaurant depan aja."
Dahlia tampak sedih, "maaf ya."
Zahir tergelak, ia pun bangkit dari duduk dan memutuskan segera keluar untuk makan siang. Kalau tidak, maka Dahlia akan terus menerus merasa bersalah hanya dengan masalah sepele seperti ini.
Dirinya melangkah penuh percaya diri untuk kali ini. Dengan menggunakan kaca mata hitam serta masker wajah untuk menutupi wajahnya sesuai saran Dahlia, apalagi jas abu-abu gelap yang tadinya ia pakai di tinggal di ruangan Ahmad sebelum dirinya pamit keluar. Benar saja, aura kampus siang ini berbeda dengan yang sebelumnya, meskipun banyak pasang mata menatapnya penasaran namun mereka tak bertingkah bar-bar seperti pagi tadi. Hanya ada bisikan tanya serta tatapan tajam saja.
Kini Zahir mulai melangkah tenang karena sebentar lagi dirinya sampai ke suatu tempat dimana dirinya memarkirkan mobil kesayangannya.
"Akhirnya." ujarnya lega.
Ia pun memencet kunci mobil hingga alarm kendaraan itu menyahutnya tanda mobil sudah tidak terkunci. Langkah jenjangnya yang hendak memasuki mobilnya pun urun sebab matanya tak sengaja memandang jauh ke arah obyek penuh fokus.
"Oh, di situ kantin rupanya."
Seringai wajahnya menandakan hal baik memihaknya, ia lantas kembali mengunci mobilnya. Mau bagaimana pun, Zahir tetap akan menarik perhatian publik. Apalagi masker yang sempat menutupi sebagian wajahnya telah ia tanggalkan.
"Boleh gabung?" tanyanya yang langsung duduk tanpa menunggu persetujuan.
"Ka-kau?!"
Zahir menaikan satu alis, pasalnya gadis yang ia hampiri tampak amat terkejut hingga tersedak hanya karena melihat keberadaannya.
"Ck, sebegitu tampankah saya? Sampai anda makan saja belepotan." decaknya, Zahir pun meraih sapu tangan dari saku celananya, hendak membersihkan baju yang menjadi basah akibat si empu tersedak.
"Pria, kurang ajar...!!!"
Plak...
Seluruh warga kampus tampak terkejut melihat adegan yang barusan terjadi. Zahir si tampan telah kena tampar akibat dirinya terlalu lancang tak sengaja menyentuh area terlarang. Lelaki itu mematung sebab dirinya sendiri terkejut. Salah satu tangannya mangkir di d**a kiri gadis itu tanpa ia sadari saat ia sibuk mengusap kuah bakso yang tumpah pada pakaian.