bc

Pendakian Terakhir

book_age18+
1
IKUTI
1K
BACA
revenge
dark
love-triangle
BE
brave
drama
tragedy
bxg
serious
scary
campus
city
highschool
secrets
like
intro-logo
Uraian

Lima sahabat mahasiswa—Tama, Ibra, Abe, Zee, dan Maira—akhirnya menepati janji yang mereka buat sejak tahun pertama kuliah: mendaki Gunung Gede bersama sebelum kehidupan membawa mereka ke jalan masing-masing.Bagi mereka, perjalanan ini seharusnya menjadi kenangan terakhir sebagai mahasiswa. Ada tawa, persahabatan, dan perasaan yang selama ini disembunyikan. Tama diam-diam menyimpan perasaan kepada Zee, sementara Maira memendam perasaan yang jauh lebih dalam kepada Tama.Namun, sejak mereka tiba di kawasan Gunung Gede, sesuatu terasa tidak beres.Cahaya aneh terlihat di antara pepohonan. Suara langkah terdengar ketika tidak ada siapa pun di sekitar mereka. Barang-barang mulai berpindah tempat, dan jejak misterius muncul di jalur pendakian. Semakin jauh mereka berjalan, semakin sulit membedakan mana kebetulan dan mana sesuatu yang memang sengaja direncanakan.Ketika satu demi satu rahasia masa lalu mulai terbuka, kepercayaan di antara mereka perlahan runtuh. Mereka mulai mencurigai satu sama lain. Bahkan orang yang paling mereka percaya bisa saja menjadi dalang di balik semua kejadian mengerikan itu.Pendakian yang awalnya bertujuan mempererat persahabatan berubah menjadi perjuangan untuk bertahan hidup.Di tengah kabut, kegelapan, dan ketakutan, mereka harus menemukan jawaban sebelum semuanya terlambat.Karena di Gunung Gede, tidak semua orang yang berangkat akan kembali.Lima sahabat. Satu janji. Satu pendakian. Dan sebuah rahasia yang akan mengubah segalanya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Episode 1 "lima langkah menuju gunung gede"
Pukul lima lewat dua puluh pagi, halaman depan gedung kampus masih diselimuti udara dingin. Sebagian besar mahasiswa belum datang. Hanya beberapa kendaraan yang terparkir di sisi jalan, sementara lampu-lampu gedung masih menyala seperti belum siap menyambut pagi. Di bawah sebuah pohon besar dekat gerbang kampus, lima orang berdiri mengelilingi beberapa tas carrier. “Gue masih nggak ngerti kenapa harus berangkat sepagi ini.” Ibra menguap lebar sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri. Tama yang sedang memeriksa tali carrier hanya tertawa. “Karena kalau kita berangkat siang, perjalanan bakal lebih lama.” “Perjalanan lebih lama atau penderitaan lebih lama?” “Dua-duanya,” jawab Abe datar. Ibra menoleh. “Terima kasih, Abe. Sangat membantu.” Abe hanya mengangkat bahu. Di samping mereka, Zee sedang memeriksa isi tasnya untuk ketiga kalinya. “Air minum?” “Ada,” jawab Tama. “Obat?” “Ada.” “Jas hujan?” “Ada.” “Headlamp?” “Ada.” Zee mengangguk puas. Maira yang sejak tadi memperhatikan Tama tersenyum kecil. “Kamu bawa semua perlengkapan sendiri?” Tama mengangkat carrier di punggungnya. “Sebagian.” “Sebagian?” “Sebagian lagi dibawa oleh orang yang dari tadi nanya terus.” Zee langsung tertawa. “Ya kan harus dipastikan.” Maira ikut tertawa. Namun matanya beberapa kali berhenti pada Tama. Ada sesuatu dalam cara Tama memperhatikan Zee. Sesuatu yang mungkin tidak disadari Zee. Tetapi Maira menyadarinya. Sudah lama. Ia menundukkan wajah ketika Tama kembali memeriksa perlengkapan. “Kenapa diam?” tanya Ibra. Maira tersentak. “Hah?” “Dari tadi senyum sendiri.” “Nggak.” “Bohong.” Maira mencubit lengan Ibra. “Berisik.” Ibra tertawa. Tidak ada yang tahu bahwa di balik senyum kecil Maira, ada perasaan yang sudah lama ia simpan. Perasaan yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Termasuk kepada Tama. JANJI YANG HARUS DITEPATI Perjalanan menuju Gunung Gede bukan ide yang muncul begitu saja. Tiga bulan sebelumnya, setelah menyelesaikan semester terakhir, kelima sahabat itu duduk bersama di sebuah kedai kopi dekat kampus. Mereka sedang membicarakan kehidupan setelah kuliah. Pekerjaan. Keluarga. Kota yang berbeda. Dan kemungkinan bahwa mereka tidak akan bisa berkumpul sesering sekarang. Tama kemudian meletakkan gelasnya. “Gimana kalau sebelum semuanya berubah, kita melakukan sesuatu yang bakal kita ingat terus?” Ibra langsung menjawab, “Jangan bilang mau nikah.” Semua tertawa. Tama menggeleng. “Naik gunung.” Zee mengangkat alis. “Gunung apa?” “Gunung Gede.” Ruangan langsung hening beberapa detik. Abe yang sejak tadi memainkan sendok di atas meja akhirnya menatap Tama. “Serius?” Tama mengangguk. “Serius.” Sebenarnya, mereka berlima sudah pernah membuat janji itu bertahun-tahun lalu. Saat masih menjadi mahasiswa baru, mereka pernah mengatakan bahwa suatu hari mereka akan mendaki bersama. Saat itu hanya sebuah keinginan. Sebuah rencana yang terdengar indah karena terasa masih jauh. Sekarang waktu itu akhirnya tiba. Sebelum kehidupan membawa mereka ke jalan masing-masing, Tama ingin menepati janji tersebut. “Anggap aja ini perjalanan terakhir kita sebagai mahasiswa,” kata Tama. Ibra tersenyum. “Kalau berhasil sampai puncak, berarti kita resmi lulus dari masa muda.” “Lebay,” kata Zee. “Biarin.” Maira hanya tersenyum. Bagi Maira, ada alasan lain yang jauh lebih sederhana untuk ikut. Tama akan berada di sana. Mungkin perjalanan itu akan memberinya kesempatan untuk lebih dekat dengan Tama. Mungkin. Ia sendiri tidak tahu. Namun saat melihat Tama tersenyum kepada Zee malam itu, sebuah perasaan lain muncul di dalam dirinya. Perasaan yang jauh lebih gelap daripada sekadar cemburu. Ia segera menyembunyikannya. Tidak ada seorang pun yang melihat. Tidak bahkan Abe. Setelah semua perlengkapan selesai diperiksa, mereka berangkat. Perjalanan menuju kawasan Gunung Gede dipenuhi suara musik, tawa, dan percakapan yang tidak pernah benar-benar berhenti. Ibra menjadi orang yang paling banyak bicara. Ia bercerita tentang dosen yang menurutnya terlalu galak, tugas kuliah yang belum dikerjakan, sampai rencana masa depan yang berubah-ubah setiap lima menit. “Kalau nanti gue sudah sukses,” katanya sambil menunjuk dirinya sendiri, “gue bakal beli rumah di tempat yang sepi.” Abe menatapnya dari kursi belakang. “Supaya nggak ada yang mau berteman sama lo?” “Bukan.” Ibra tersenyum. “Supaya kalian semua bisa datang dan numpang makan.” Tawa pecah di dalam kendaraan. Maira tertawa paling keras. Tama hanya menggeleng. Zee tersenyum sambil melihat pemandangan di luar jendela. Untuk beberapa jam, semuanya terasa sederhana. Lima sahabat. Satu janji. Satu tujuan. Mencapai puncak Gunung Gede bersama-sama. Tidak ada yang tahu bahwa salah satu dari mereka sudah membawa sebuah rahasia. Dan rahasia itu bukan berada di dalam tas carrier. Rahasia itu berada di dalam hati seseorang. Menjelang sore, kendaraan mereka berhenti di sebuah tempat makan. Mereka turun satu per satu. Udara sudah jauh lebih dingin dibandingkan ketika mereka berangkat dari kampus. “Gue lapar.” Ibra langsung masuk lebih dulu. Tama membawa beberapa botol minuman. Maira berjalan di samping Zee. “Kamu sama Tama memang dekat, ya?” Zee menoleh. “Kenapa?” “Enggak. Cuma nanya.” Zee tersenyum. “Tama memang baik sama semua orang.” Maira mengangguk. “Iya.” Jawaban itu terdengar sederhana. Tetapi entah kenapa terasa berat. Zee kemudian menatap Maira. “Kenapa?” “Nggak kenapa-kenapa.” Maira tersenyum. “Ayo makan.” Mereka masuk. Dari kejauhan, Tama sempat melihat keduanya. Kemudian matanya berhenti pada Zee. Maira melihatnya. Dan sekali lagi, ia memilih diam. Malam mulai turun ketika mereka melanjutkan perjalanan. Lampu-lampu kendaraan terlihat seperti garis panjang di jalan. Percakapan mulai berkurang. Ibra bahkan sudah tertidur. Abe masih terjaga. Ia melihat ke luar jendela. Kemudian tiba-tiba berkata, “Tam.” Tama menoleh. “Kenapa?” “Besok kita mulai naik jam berapa?” “Pagi.” “Jangan terlalu pagi.” “Kenapa?” Abe tidak langsung menjawab. Ia melihat ke luar jendela beberapa detik. “Entahlah.” Tama mengerutkan kening. “Entahlah?” Abe tersenyum tipis. “Perasaan aja.” Tama tertawa kecil. “Lo kebanyakan nonton film horor.” Abe kembali melihat keluar. Namun kali ini wajahnya tidak tersenyum. Di kursi depan, Maira yang mendengar percakapan itu hanya diam. Tangannya perlahan meremas tali tas kecil yang ada di pangkuannya. Beberapa jam kemudian mereka tiba di penginapan sederhana sebelum melanjutkan perjalanan menuju titik awal pendakian. Malam sudah sangat larut. Kelima sahabat itu turun dengan tubuh lelah. Tama mengangkat beberapa barang. Maira membantu Zee membawa perlengkapan. Ibra langsung mencari tempat untuk tidur. “Gue tidur duluan.” “Baru juga masuk,” kata Zee. “Energi gue tinggal tiga persen.” Abe tertawa kecil. Malam itu mereka makan bersama dan membicarakan perjalanan esok hari. Mereka membicarakan jalur. Membicarakan puncak. Membicarakan foto yang akan mereka ambil. Dan akhirnya membuat satu kesepakatan. Tidak seorang pun boleh meninggalkan kelompok sendirian. Mereka berlima harus tetap bersama. Setidaknya sampai turun kembali. “Setuju?” tanya Tama. “Setuju,” jawab Zee. Ibra mengangkat tangan. “Setuju.” Abe mengangguk. Maira tersenyum. “Setuju.” Mereka berlima kemudian saling menatap. Tidak ada yang tahu bahwa kesepakatan sederhana itu suatu hari akan menjadi sangat penting. Karena ketika perjalanan mereka mencapai puncaknya... tidak semua dari mereka akan kembali. Sebelum tidur, Maira keluar sebentar ke teras penginapan. Ia ingin mencari udara. Langit malam begitu gelap. Gunung di kejauhan hanya terlihat sebagai bayangan besar. Maira berdiri sendirian. Kemudian terdengar suara langkah. Ia menoleh. Tidak ada siapa-siapa. Maira mengernyit. Mungkin suara orang lewat. Ia kembali melihat ke arah gunung. Dan saat itulah ia melihat sesuatu. Jauh di antara gelapnya pepohonan, ada sebuah cahaya kecil. Seperti lampu senter. Cahaya itu bergerak perlahan. Naik. Kemudian berhenti. Maira menyipitkan mata. “Siapa yang masih di gunung malam-malam?” Tiba-tiba cahaya itu bergerak turun. Cepat. Sangat cepat. Maira mundur selangkah. Kemudian cahaya itu menghilang. “Mai?” Suara Tama membuatnya terkejut. Maira berbalik. Tama berdiri di pintu. “Kamu ngapain di luar?” Maira menunjuk gunung. “Tadi aku lihat cahaya.” Tama melihat ke arah yang ditunjuk. Tidak ada apa-apa. “Cahaya apa?” “Kayak senter.” Tama diam beberapa detik. Kemudian tersenyum. “Mungkin pendaki lain.” Maira mengangguk. “Mungkin.” Tama masuk lebih dulu. Maira masih berdiri di sana. Sebelum akhirnya masuk, ia melihat sekali lagi ke arah gunung. Gelap. Tidak ada cahaya. Tidak ada suara. Tidak ada apa pun. Namun tanpa diketahui siapa pun... di balik pepohonan yang gelap... sebuah cahaya kecil kembali menyala. Lalu mati. Menyala. Mati. Tiga kali. Maira menatapnya. Kali ini ekspresinya berbeda. Tidak takut. Tidak terkejut. Hanya diam. Kemudian ia berbisik sangat pelan, “Besok semuanya dimulai.” Ia berbalik dan masuk ke dalam penginapan. Di luar, cahaya itu kembali menyala. Dan seseorang yang tidak terlihat berdiri di antara pepohonan. Perjalanan mereka bahkan belum dimulai. -Bersambung-

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Gairah Lama Kembali Membakar

read
2.2K
bc

Orang Ketiga

read
36.6K
bc

Putri Haram Konglomerat untuk Tuan Muda Cacat

read
13.3K
bc

NIKAH??? BOHONGAN???!!!

read
3.2K
bc

Kuliah Malam Bersama Dosen Hot

read
156.3K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pilihan Hatimu

read
114.1K
bc

Babysitter Canduku

read
19.9K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook