"Makasih pak Panjul, jangan lupa nanti jemput saya pas makan siang."
"Iyaa Bu, kalau begitu saya permisi Buu."
"Iya pak Panjul, hati-hati."
Kendaraan itu pun berlalu meninggalkan halaman kantor tempatnya Andrea mencari uang.
Pak Tomo, satpam kantor menyapanya.
"Pagi, Bu Andrea."
"Pagi Pak, semangat kerjanya yah."
"Iyaa, Buu."
Andrea, dikantornya dikenal ramah pada siapapun tidak pandang bulu.
Gegas Andrea memasuki gedung tersebut, masuk kedalam lif khusus karyawan.
Dan kebetulan, didalam lif ada atasannya dia dikantor yaitu Direktur Utama Perusahaan XXXXXX tempat Andrea bekerja sekarang, Andrea pun menyapanya.
"Eh Pak Irwan, selamat pagi pak."
"Pagi Andrea, apakabar hari ini?"
"Kabar baik, Pak."
Irwan Setiawan, merupakan pria yang cukup matang dalam usia dia sudah tiga puluh delapan tahun. Namun sebagai Kasanova, dia belum berhenti berpetualang dalam hal menaklukan perempuan.
Hampir semua perempuan bertekuk lutut padanya, hanya Andrea yang tak bisa dia taklukan.
Ketika didalam lif, Irwan tak henti-henti nya melihat Andrea dari atas sampai bawah, seolah Andrea sedang ditelanjangi.
Andrea pagi itu, memakai atasan kaos lengan pendek yang fresh body, sehingga tonjolan dua gunung yang montok kelihatan menggoda meski ditutupi dengan bra, dan dilapisi dengan blazer lengan panjang.
Dan untuk bawahan, Andrea memakai rok span pendek pas lutut dan ada belahan tengah sedikit dibelakang, jadi ada celah pahanya terlihat mengintip di bagian belakang, untuk di kaki dia memakai sepatu highheels yang menampakan kaki lebih kelihatan jenjang.
Irwan, yang memang dia sangat tergoda dengan Andrea, dia menelan salivanya dan dibalik celana terasa ada yang sesak.
"Sial, pagi-pagi udah ada yang bikin tegang. gimana caranya biar gw bisa dapetin Andrea, pasti dia menggairahkan kalau diranjang."
~Rutuknya dalam hati.~
Taklama lif pun terbuka, tanda Andrea sampai kelantai yang dituju, begitu juga dengan Irwan.
Namun, begitu mau keluar Andrea nyaris jatuh. Beruntung Irwan, dengan sigap menangkapnya.
Dengan tidak sengaja, mereka pun berpelukan.
Sekian detik, mereka saling bertemu pandang.
Namun Andrea tersadar.
"Eh bapak maaf pak ga sengaja, makasih ya pak udah nolongin saya."
"Iya gapapa, untuk perempuan secantik kamu tidak ada yang tak mungkin."
Oppss, keceplosan. (Irwan menutup bibirnya dengan telapak tangan)
Irwan merasa malu, karena udah ngelantur berbicara.
"Ah bapak bisa aja. Hehe"
Gegas Andrea memasuki ruangannya, dan berpapasan dengan Tika rekan kerjanya.
"Pagi, Drea."
"Pagi juga, Tika."
"Gimana, banyak kerjaan ga Tik hari ini?"
"Ga terlalu Sih Drea, biasa aja seperti kemarin-kemarin."
Disela obrolan mereka, tiba-tiba sekretaris pak Irwan muncul dihadapan ruang kerja Andrea.
Tok.tok.
"Masuk."
Muncul lah, Tivani sekretaris Irwan.
"Maaf Bu Andrea, Ibu dipanggil sama Pak Irwan ke ruangan'nya."
"Ada apa, yah Vani"
"Saya, kurang tau Buu."
"Yaudah, tolong bilangin saya segera kesana sekarang."
"Baik bu, kalau begitu saya permisi."
"Iya Vani, makasih ya."
"Sama-sama bu."
Ketika Vani pergi dari hadapan Andrea, langsung Andrea berbicara dengan Tika, perihal atasan'nya memanggil dia.
"Tika, ada apa yah Pak Irwan manggil gw?"
"Ga tau drea, gw kan juga baru dateng."
"Yaudah gw kesana ajadeh takutnya penting."
"Iya, good luck ya drea."
"Oke, Tika sayang."
Gegas, Andrea berjalan menuju Ruangan Irwan, lalu mengetuknya.
Tok.tok.
"Masuk,"
jawaban dari dalam.
"ceklek" suara knop pintu terbuka, tampak Irwan di dalam sana menampakan senyum menyambut kedatangan Andrea.
"Bapak, panggil saya?"
"Iyaa, duduk Andrea."
Andrea pun menurutinya.
"Gini Andrea, jujur saya ga bisa nahan ini lagi."
"Lalu Irwan mendekati Andrea, dan berbisik ditelinga'nya."
"Saya suka sama kamu, Andrea.!"
"Tapi pak saya sudah bersuami, tolong hargai saya Pak."
"Tapi, kita bisa menjalin hubungan dibelakang suami kamu Andrea. Dan aku, akan mengangkat kamu jadi Wakil direktur kalau kamu mau."
Irwan mengusap bahu Andrea, hingga ke leher. Membuat Andrea meremang seketika.
"Maaf Pak, Bapak jangan sentuh saya, bapak lancang sama saya."
Tanpa banyak berkata lagi, langsung Andrea meninggalkan Irwan keluar ruangan dengan membanting pintu dan menitikan air mata.
Sepeninggal Andrea, Irwan merasa terhina dengan penolakan Andrea..
Udah berkali-kali gwa pancing dia, masih susah gwa taklukan. Tapi gwa yakin, suatu saat dia yang akan menghampiri gwa.
Sesampainya diruangan, Andrea mengusap air matanya yang tak terasa keluar dari pelupuk matanya.
"Fokus, Andrea Fokus biarkan laki-laki seperti itu mengganggumu asal jangan kau layani. Yakin kamu bisa Andrea."
Rutuknya dalam hati.
Bukan baru kali ini, Irwan melakukannya tapi sudah berulang kali. Namun, Andrea tetap teguh pada pendirian nya.
Tak lama, jam makan siang telah tiba.
Gegas Andrea bersiap untuk pulang karena mau perawatan ke salon, menyambut kedatangan sang suami. Tak lama menunggu di depan kantor Pak Panjul muncul.
Lalu dia menghentikan mobilnya didepan Andrea, dan membukakan pintu mobil untuk majikan nya.
"Kemana sekarang kita buu?"
"ke Salon Citra Pak yang ada di jalan Xxxx, saya mau perawatan disana."
Tak lama, wPak Panjul melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. seiring melajunya kendaraan. Dan ketika di perjalanan, Andrea memulai pembicaraan, menjelaskan tugas Pak Panjul siang itu.
"Oi'yah pak, biar nanti saya yang bawa mobilnya kerumah ya pak, biar bapak naik taxi saja, sebab nanti saya lama di salon. Takutnya bapak kelamaan nunggu, dan anak-anak pingin jalan-jalan nanti butuh Bapak."
"Yaa baik bu."
"Ini ongkos buat Taxi'nya Pak."
Andrea, memberikan satu lembar uang merah pada pak Panjul.
"Makasih banyak Bu."
"Iyaa, sama-sama pak."
Taklama mereka pun sampai di depan Salon Citra.
Gegas pak Panjul membuka pintu mobil untuk sang majikan, dan memberikan kunci mobil pada Andrea.
"Ini bu kunci mobilnya, saya tinggal ya buu."
"Iya pak Panjul, makasih ya sudah mengantar saya."
Lalu Andrea masuk kedalam Salon tersebut.
Dan disambut oleh karyawan disana.
"Siang bu Andrea, mau ngambil perawatan apa buu?"
"Semuanya dari ujung rambut sampai ujung kaki, dan tolong gundulin bulu ja**ut saya."
"Iya baik buu."
"Oi'yah saya belum makan siang tolong belikan makan diresto depan sana, nanti saya kasih double tif'nya yah!"
"Baik bu, mau pesan makan apa ibu?"
"Ayam bakar pedas komplit, sama minumnya jus jeruk aja yah. Oi'yah, kamu sama temen kamu berapa orang disini."
"Ada, lima belas orang bu."
"Yaudah, beli ayam bakar nya nambah jadi Enam Belas ya. Minumnya terserah bebas, dan ini uangnya"
Andrea memberikan Sepuluh lembar uang merah, pada salah satu karyawan.
"Makasih, banyak Buu."
"Sama-sama, eh kamu ajak temen kamu belinya biar ga ribet nanti bawanya ya."
"Iya Bu"
Lalu gadis yang bernama Dena itu memanggil temannya untuk menemaninya pergi ke Restaurant yang dimaksud.
"Mita, Mit."
Lalu, temennya yang bernama Mita muncul dihadapannya.
"Ada apasih, Dena?"
"Ini kita di tlaktir makan oleh bu Andrea, aku diminta beli ayam bakar sama beliau, di Resto sebrang sana buat makan siang beliau, sekaligus untuk kita. Luh temenin gwa ya buat belinya."
"Oke siap, ayok kita berangkat."
Lalu mereka pun berangkat membeli ayam bakar ke Resto yang disebrang salon.
Sementara Andrea menunggu disalon.
Merekapun, menggibah Andrea yang baik dimata mereka.
"Coba yah Dena, kalau pelanggan semua kayak bu Andrea."
"Iya ya Mita, orang kayak beliau tuh jarang Mita."
"Kebanyakan dari mereka itu, sombong bahkan diajak ngobrol aja susah. Kalau bu Andrea lagi nyalon, pasti ada aja rezeki yang dia kasih sama kita."
"Lalu, mereka tak lama sampai di Resto yang dituju."
Gegas mereka pun memesan Enam belas bungkus ayam bakar pedas, dan Enam Belas bungkus jus jeruk. Satu jam kemudian, pesanan mereka pun selesai.
Lalu Dena, membayarnya ke kasir.
"Jadi berapa bu?"
"Semuanya jadi Satu juta seratus ribu, tapi karena pesanannya banyak di discount Jadi satu juta pas."
Mereka pun menyerah kan uang nya kepada kasir tersebut.
"Makasih ya bu."
"Iya Neng sama-sama."
"Langsung mereka kembali ke salon, dan tak lama sampe. Begitu sampe Salon, langsung mereka memberikan pesanan Andrea."
"Ini Bu, makanannya Buu."
"Iya makasih yah, kalian juga makan ya biar nanti kalau ada pelanggan bersemangat."
"Justru kita yang terimakasih sama ibu, udah tlaktir kita makan. Kalau gitu, kita permisi kebelakang bu, mau makan dulu."
"Iya sana, makan dulu habisin ya."
"Iya Bu, mari."
Lalu mereka pun kebelakang, membagikan makanan nya keteman mereka.
Setelah selesai menikmati makan siang, Andrea langsung memulai perawatan, dan tentunya dengan pelayanan yang sangat memuaskan.
Tak terasa Andrea selesai perawatan, waktu menunjukan pukul 16.00 sore hari.
Langsung dia meninggalkan salon tersebut, dan pergi ke Butiq langganannya. Untuk membeli lingerie lengkap dengan G-string, dan kemeja transparan menerawang, juga underware seksi.
Taklama Andrea, sampai ke Butiq yang dimaksud.