Melepas Rindu.(18+)

1110 Kata
Lalu, Andrea pun memasuki butiq tersebut. Membeli apa yang dibutuhkan, lanjut membayarnya. Gegas pulang kerumah, dimana putra putrinya sudah menunggu dirumah. Tak berselang lama, Andrea pun sampai dirumah. Langsung dia memarkirkan mobil, dan menyerahkan kunci mobil ke Pak Panjul. Lanjut dia masuk ke rumah, dan menaiki anak tangga menuju lantai Dua. Dimana disana ada kamar pribadinya juga sang suami, dan kamar anak-anak. Dia pun menghampiri anak-anak yang sedang bermain bersama suster. "Hai sayangnya mamih, lagi pada ngapain sayang?" "Eh amih, udah lulang(pulang) amih?" Jawab mereka serempak.! "Udah dong sayang, sini peluk Mamih, Mamih kangen banget sayang.!" Mereka pun berhamburan kepelukan ibunya. "Udah pada Minum s**u belum?" "Udah Amih.!" "Mana coba amih lihat perutnya?" "Ini amih pelutnya ade." Dengan gemasnya adik menunjukan perutnya didepan mamih mereka." "Kalau kakak mana perutnya?" "Ga au(mau) alu(malu) amih." "Ooh yaudah gapapa sayang, sekarang Cium amih dong." Lalu mereka pun mencium pipi Sang Mamih. "Yaudah sekarang, Amih mau mandi dulu ganti baju yah. Ade sama kakak, main sama suster lagi yah." "Iyaa, Amih." Gegas andrea, memasuki kamarnya dan menutup pintu. Lalu, merebah kan badannya diranjang.! Sekarang waktu menunjukan pukul 17.30.WIB "Sekarang tinggal nunggu mas Revan dateng. Udah ga sabar dengan semua sentuhannya." "Aku telpon aja ah." Langsung Andrea menelpon suaminya. Dipanggilan ke tiga, Revandra menjawab telpon nya. "Hallo, sayang aku." "Hallo sayang, lagi dimana sekarang?" "Sekarang lagi perjalanan pulang sayang. Paling juga jam Tujuh, udah sampe rumah." "Yaudah aku siap-siap sekarang, bersih-bersih buat menyambut kamu.!" "Oke Sayang, sampe nantI ya.!" "Iya Sayang." Lanjut Andrea membersihkan diri ke kamar mandi, dan taklupa menggosok gigi di wastafel. Kemudian berganti baju memakai lingerie yang hanya menyangga Payudaranya dan belah tengah diperut. Lalu underware yang hanya menutupi sedikit Vag***nya.Juga menerawang banget sehingga putik melati yang mencuat terpampang nyata. Juga Andrea taklupa memoleskan sedikit make-up, dan lipstik yang menambah keseksian bibirnya. Juga terakhir dia semprotkan parfum dileher dan dipergelangan tangannya. Lanjut dia menelpon Bi Asih, agar mengantar makanan kekamar nya untuk makan malam bersama Revandra nanti. Dipanggilan ketiga, Bi Asih mengangkatnya. "Hallo, Bu." "Bi Asih, tolong antarkan makanan ke kamar ya bi untuk makan malam saya nanti, sekalian buat suami saya. Dan tolong sampe besok pagi jangan ada yang ganggu kami ya Bi." "Iya Bu, baik bu.!" Taklama, Bi Asih pun datang membawa makanan.! Tok.tok. "Masuk Bi, ga dikunci." Jawaban dari dalam. Lalu pintu pun terbuka, menampakan bi Asih dengan membawa makanan Untuk Andrea, dan Revan nanti. "Ini Ibu,makanannya." "iya taro dinakas aja Bi." "Makasih ya Bi." "Sama-sama Ibu.!" Setelah menyimpan makanan, bi Asih keluar dari kamar Andrea, untuk kembali ke lantai bawah.! Taklama waktu pun menunjukan pukul Tujuh malam, taklama deru mesin mobil terdengar di depan rumah, menandakan Revan telah datang. Andrea pun senang bukan kepalang, sekian detik kemudian terdengar suara langkah kaki dianak tangga mulai terdengar., tak lama suara itu tepat didepan pintu kamar. Lalu kriek, suara pintu dibuka. dan ditutup lalu dikunci. tampak Revandra telah berada didalam kamar, Andrea sangat senang dengan kedatangan sang suami, tak ayal Andrea berhambur memeluk sang suami, dan berkata.! "Sayang, akhirnya kamu pulang juga." Kini Andrea, bergelayut manja di badan Revan. Membelitkan kakinya dipinggang sang suami. Sedangkan Revan, mengecup lembut dahi Andrea penuh sayang, meremas b****g Andrea penuh hasrat, juga memuji kagum penampilan Andrea malam itu. "Istriku seksi banget, dan cantik, wangi malam ini bikin aku ga tahan sayang." Lalu Revan melumat bibir sang istri, mengabsen setiap deretan gigi Andrea, menyesap lidah Andrea saling belit dan saling sesap mereka berciuman dengan penuh kehangatan. Lanjut Revan membawa Andrea kedalam kamar, merebahkan Andrea diatas pembaringan, menatap lekat lekuk tubuh sang istri yang begitu dia puja. Dan tatapan Revan terfokus pada putik melati yang dia selalu dambakan, Revan menikmati putik melati itu. Begitupun dengan lembah kenikmatan yang selalu membuatnya menggila jika sudah iya nikmati. Puas menikmati putik melati dengan lidah basahnya, kini Revan menikmati lembah itu penuh semangat membuat Andrea terlarut dalam balutan gairah, hingga mereka menyatu, dan saling mencapai puncak tertinggi, hingga jam 2 pagi. ~~~~~•••~~~~~ Keesokan paginya. Andrea terbangun lebih dulu saat jam sepuluh pagi, sisa pergumulan semalam masih terasa. Tangan Revan melingkar posesif di pinggang'nya, Andrea melepaskan tangan Revan, lanjut turun dari atas ranjang. Andrea berniat berendam agar badan'nya lebih relax, Andrea menyiapkan air hangat di bathtub, serta sabun aromatherafi yang Andrea suka. Setelah siap, langsung Andrea turun menyandarkan kepalanya dipinggir bathtub, sambil memejamkan mata. Setelah Lima Belas menit berendam, terasa ada yang melumat bibir Andrea, dan Andrea'pun tak tinggal diam mereka berciuman penuh gairah, Revan terus ingin memadu kasih tak ada bosannya, hingga mereka'pun kembali larut dalam balutan gairah didalam kamar mandi selama satu jam lamanya. Selesai bercinta, Andrea mandi dibawah guyuran air shower, dan Revan mangikutinya. Taklama mandi mereka usai, lanjut berganti baju. Selesai berganti baju, Andrea mengajak Revan menghampiri anak-anak. "Sayang, kita temui anak-anak dulu yuk." "Ayo sayang." Lalu mereka menghampiri anak-anak kedalam kamarnya, yang tengah tertidur siang. "Sayang banget ya sayang, pas kita kesini mereka lagi tidur siang." "Kamusih ngajakin lagi ronde tambahan, jadinya kita telat." "Kita cium aja pipinya, nanti setelah mereka bangun kita ajak jalan malam mingguan." "Iyaa sayang, ayo kita cium mereka." "Andrea dan Revan pun, mencium mereka satu persatu." Sementara, suster sedang membersihkan botol s**u dan meng steril kannya didapur. Juga menyiapkan makan siang, anak asuh mereka. Sebagai pasangan yang mempunyai karier yang sama-sama cemerlang, Andrea dan Revan mampu mempekerjakan Dua suster, dan Dua ART sekaligus satu orang sopir. Juga, Satu Satpam yang menjaga rumah nya. Namun Andrea, sebagai seorang ibu dia tetap memperhatikan dan menomer satukan kasih sayang pada ke'dua anak nya meski dibantu dua orang baby sitter. Setelah puas mengecup dahi anak-anak, Andrea juga Revan hendak menikmati makan siang dilantai bawah. Sesampainya dilantai bawah, segera mereka keruang makan. Terlihat disana, telah tersedia makanan yang siap santap masakan Bi Asih. Ada ayam bakar, sop iga bakar, dan sambal juga lalapan. Tak lupa bi Asih menyiapkan tahu goreng, juga Capcay kering. Mereka pun makan dengan lahap, hingga piring itu bersih tak bersisa. Lanjut mereka pun pindah keruang santai, menonton TV dan menikmati waktu ber'dua.. Kemudian, ketika Andrea dan Revan sedang asyik mengobrol, Hp Revan berdering tanda telpon masuk. Revan melihat siapa yang menghubunginya, lalu Revan tersentak kaget, namun berusaha tenang dihadapan Andrea. Karena yang menelpon nya adalah orang yang sangat dia hindari, sebab dia mempunyai utang judi sebesar Satu miliyar padanya. Tapi setelah beberapa kali handphone itu berdering, Revan tak kunjung menjawabnya membuat Andrea menegurnya dan meminta Revan untuk menjawabnya agar tidak berisik. "Sayang, ayo angkat tuh ada telpon, bunyi terus lho daritadi berisik." "I-iya sayang, sebentar aku kesana dulu ya, takutnya ada penting dari kantor." Lalu, Revan berlalu meninggalkan Andrea. ~Ko ga biasanya dia menjawab telpon dibelakang aku, biasanya selalu langsung diangkat depan aku sekalipun telpon penting.!~ Andrea bermonolog sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN