Gelak tawa dan pekik riang bocah-bocah peri membaur satu di udara. Menatap sekeliling, maka puluhan rumah pohon bertebaran. Melihat ke bawah, sebuah bola dari anyaman bambu terlihat melambung, direbutkan banyak peri. Mereka berterbangan bebas saling menangkap dan melempar. Semua tampak asik. Memang perkampungan peri ini tiap sorenya selalu ramai oleh aksi mereka.
Namun, di salah satu sudut rumah pohon, seorang bocah peri perempuan tampak duduk bosan. Kepalanya tergeletak tak berdaya di atas pagar pembatas. Terduduk tanpa minat dengan kaki menggantung di udara. Kedua matanya terpancang jelas ke arah gerombolan anak-anak peri. Mereka sebaya, tetapi dia jelas berbeda.
“Menyebalkan. Mereka pikir aku tidak bisa bahagia tanpa mereka,” cibirnya muak.
“Awas saja. Nanti mereka akan menyesal sendiri.”
Rumah pohon yang ditempatinya itu cukup tinggi—sekitar lima meter. Duduk di sana mengartikan kau bisa dengan leluasa mengamati daerah sekitar.
Bocah peri berusia tiga belas tahun itu tak henti-hentinya menyuarakan kekesalannya. Dia sadar, dia itu berbeda. Tak mungkin bisa membaur dengan mereka. Mustahil juga mereka akan menerimanya, kecuali jika dia nekat. Namun, itu tidaklah bagus. Jelas dia tahu, seperti sebelum-sebelumnya, yang ada dia malah dijadikan kucing yang harus mengejar-ngejar tikus menjijikan—maksudnya para bocah peri tersebut. Lantas mereka akan menyoraki dirinya payah, terus-menerus secara bergantian. Cih! Tentu dia tak sudi lagi!
Oh, begini ya namanya hidup?
Sejurus kemudian peri itu tertawa sumbang. Kepalanya tergadah dengan mata memincing muak, menatap siapa saja di atas sana yang telah membuat hidupnya seperti ini. Dia itu peri terkutuk—tidak memiliki kemampuan peri sedikit pun. Warga mengecapnya si pembuat onar sekaligus pembawa sial bagi pedesaannya. Bahkan sejak pertama kali kehadirannya di dunia ini, dia ingat dari cerita anak-anak itu, tiada peri yang mau mengadopsinya. Hanya Kakek Dharma yang mau merawatnya.
Peri itu tergelak lagi. Menertawakan hidupnya yang—
“Daissy!” seru seseorang dari arah belakang.
Daissy terkejut dan nyaris tersedak ludah sendiri. Buru-buru ia duduk dengan benar. “Ka-kek. Ah, kakek mengagetkanku saja.”
Pria tua dengan rambut memutih dan sebuah bekas luka melintang miring di tengah wajahnya itu berjalan khawatir. Sayapnya berhenti mengepak cepat dan ia menghela napas lega. “Kau terlihat seperti sedang tidak waras. Kupikir ada hantu peri yang merasukimu tadi.”
“Eh. Tentu tidak, Kek. Lagipula mana ada hantu. Kakek bicara seperti itu pasti gara-gara kakek terus-terusan percaya terhadap hal-hal mistis, kan,” balas Daissy.
Kakek Dharma mengangkat bahu. “Kau harus percaya pada hal itu, Nak. Dan," Kakek Dharma menghentikan ucapannya lalu melihat sekilas ke bawah. "Kau kenapa malah di sini? Tidak ikut bergabung bersama mereka?”
Daissy melirik gerombolan peri. Melambaikan tangan tanda tak masalah. Lalu tertawa ringan, “Halah. Itu hanya permainan membosankan. Aku tidak tertarik dan lagipula, Kek … itu untuk saat ini aku memang sedang ingin menikmati matahari tenggelam.”
Kakek Dharma menatap Daissy dengan raut tak percaya. “Baiklah. Aku harap itu memang jawabanmu yang sesungguhnya.”
Sontak Daissy terdiam. Otaknya yang belum seberapa itu sudah bisa mencerna apa maksud ucapan Kakek Dharma. Dia berdusta dan kakeknya tahu.
“Apa mereka mengganggumu lagi?” tanya Kakek Dharma.
“Tidak.”
Sebuah tangan besar mendarat di kepala Daissy. Seketika Daissy terperanjat. Mendongak dan mendapati Kakek Dharma tersenyum kecil. Wajahnya terlihat bersinar. Tentu secara harfiah, Karena itu disebabkan dari sorot kekuningan cahaya matahari yang berhasil menerangi muka Kakek Dharma. Sapuan halus turut hadir dan terasa di kepala Daissy. Tanpa sadar ia ikut tersenyum, menyambut hangat sikap Kakek Dharma.
“Baiklah. Sebenarnya tadi kakek sedang mengerjakan sesuatu, tapi gara-gara bocah ini tertawa aneh makanya kakek di sini. Kalau begitu, selamat bersenang-senang menikmati penghujung hari, Bocah!”
Daissy mengangguk menatap kepergiannya.
Kakek Dharma itu sudah sangat tua. Usianya? Barangkali sudah tiga ratus tahun atau bahkan bisa jadi lima ratus tahun. Daissy sempat berasumsi bahwa mungkin saja dulunya Kakek Dharma itu adalah seorang veteran. Apalagi melihat sosoknya, kendati Kakek Dharma kadang lembut, tapi sifat kerasnya jauh lebih sering ditampakkan. Kakek Dharma juga memiliki perawakan yang kekar di usianya yang senja. Wajahnya akan membuat siapapun berpikir dua kali untuk mencari masalah dengannya. Benar-benar memukau dengan balutan garis rahang yang tegas dan sorot mata awas.
Daissy mengagumi Kakek Dharma sepenuhnya dan dia bersyukur karena dirawat olehnya sejak usia dua tahun. Meski hidup di bawah tekanan sikap diskriminatif para peri, setidaknya ada beberapa hal yang membuat Daissy masih bisa berprasangka baik pada dunia. Salah satunya orang-orang yang tulus berinteraksi dengannya. Daissy tersenyum menatap semburat kejinggaan senja.
Damai dan menenangkan.
Yakni, mereka itu ialah Kakek Dharma dan Geo.
***
Ini adalah bagian menakjubkannya!
Perpaduan warna jingga yang melebur dengan orange maupun kuning tercoret nyata di kanvas langit. Sorot cahayanya menyinari seluruh tubuh Daissy. Bahkan, rambut yang biasa terlihat putih keperakannya, kini tampak bewarna keemasan. Senja menjadi bagian favoritenya sejak kecil. Sebab warna yang tertuang sudah menjadi bagian di hidupnya—warna baju kesukaan Daissy. Warna senja juga selalu menenangkan perasaannya. Terasa temaram dan hangat. Hal itu membuat Daissy betah berlama-lama duduk melamun menikmati akan betapa menakjubkannya gradiasi Sang Senja.
“Petik mangga di kebun sebelah yuk!” Seorang peri berambut biru muncul tiba-tiba di hadapan Daissy.
Daissy terlonjak ke belakang. Refleks ia menyeret diri semakin ke belakang. Ia terkejut bukan main. “Ha-hantu! Astaga!”
Peri yang baru datang tergelak kecil.
“Bangun, hei! Apa kau buta? Ini aku Geo,” beritahu Geo. Dia terbang mendekati Daissy dan duduk di sampingnya.
Daissy masih terdiam.
“Kau gemar sekali duduk melamun … Hello? Dai?”
Daissy mengatur napas. Sadar akan keterkejutannya ia melontarkan pukulan-pukulan kecilnya ke Geo.
“Kau?! Dasar kurang ajar! Sengaja ya?” tuding Daissy.
“Hei-hei! Berhenti!” Geo menamengi tubuhnya menggunakan tangan. Menghindari pukulan bertubi-tubi Daissy.
“Lah bukannya kau yang terkejut sendiri, kenapa aku yang kena pukul?”
“DAI!”
“Astaga.”
“Kubilang berhenti, Dai!”
Pukulan beruntun itu berhenti. Daissy mengela napas lega. “Hah, puas rasanya.”
Geo terperangah, mengambil jarak dengan Daissy dan melambaikan tangannya ke wajah peri cilik itu. “Katakan padaku kalau kau masih waras!”
“Hmm. Tadi apa katamu? Mau mengajakku mencuri 'kan? Ya sudah. Ayo!” sahut Daissy.
“Iya, tadinya begitu, tapi,” Geo menghentikan ucapannya dan tampak ragu. “Apa ada masalah? Atau Kakek Dharma menghukummu lagi?”
“Kau itu cerewet juga, ya, untuk ukuran seorang pria,” celoteh Daissy. Menatap Geo—satu-satunya sahabat yang dia miliki.
Geo itu pemilik elemen air. Pengendali air dengan kemampuan yang terbilang hebat. Dia juga senasib dengannya. Termasuk anak peri yang tidak mendapat adopsi di perkampungan peri ini. Bahkan, sampai sekarang pun sama, meski dengan kemampuannya itu ia telah berhasil menarik perhatian warga, tetapi dia selalu menolak tiap peri yang ingin menjadikannya anak. Hidupnya memang jauh lebih baik sekarang berkat kemampuannya itu. Hal itu pula yang membuat Daissy bangga ke Geo.
“Ya sudah, yuk! Omong-omong ke mana ini?” tanya Daissy.
“Ada di dekat kebun jagung. Tapi biasanya masih ada yang menjaga sampai malam benar-benar larut. Kau tahu harus apa?”
Daissy terkekeh kecil sambil mengacungkan jempol.