BAB 1: KELAHIRAN PERI
“Tak kusangka kau datang kemari juga,” sambut sebuah suara. Suara itu tanpa raga bergema dengan cara berbisik dari dalam gua.
“Kau yang membawaku kemari. Siapa kau!” sahut seorang peri pria tepat di depan mulut gua.
Sedari tadi peri tersebut merasakan adanya suatu energi yang berusaha menarik dirinya menyambangi gua tersebut. Ada sedikit rasa terkejut ketika dia menangkap gema suara itu.
Peri itu dikelilingi kegelapan malam, sementara itu tepat di hadapannya menganga kegelapan yang lebih pekat seolah siap menghisap apapun yang mengganggunya tanpa ampun. Aura di sana sangat mencekam. Namun, bagi peri itu, semua di hadapannya hanyalah batuan kecil yang cukup ditendang agar menyingkir. Dia tidak pernah sudi jika ada yang mempermainkannya.
Suara yang tidak begitu jelas jenis kelaminnya bergema lagi, kali ini dibarengi kekehan kecil.
“Sebentar lagi dia terlahir,” beritahunya.
“Tepat bersamaan dengan kelahiran sang Putri,” lanjutnya masih dengan suara yang menggema.
Peri itu terhenyak, “Kau .. A-apa maksudmu? Tahun ini memang tahun kelahiran para peri. Apa maksudmu ramalan itu semakin dekat?” tanya peri itu sedikit tercekat.
Suara itu menghilang seperti ditelan bumi. Peri yang berada di depan gua keheranan. Melihat ke sana ke mari. Suasana senyap dan desir udara yang dingin ditambah fakta yang baru saja diterimanya cukup mengganggunya. Dia mengedarkan pandang tanpa gentar, mencari asal sumber suara tersebut, tetapi nihil. Tak ada siapa pun.
“Kau hidup lebih lama daripada peri lainnya,” sambung suara itu.
“Cukup bimbing dia untuk menembus kesalahanmu di masa lampau.”
Gaungan suara itu cukup menohok peri tersebut. Tidak salah lagi, pikirnya sambil membayangkan apa yang tengah dihadapinya itu.
“Perlu kau ingat. Peri dan manusia itu sama-sama sering lupa diri. Makhluk fana yang tak tahu diri.”
“Camkan ini. Dia berada di daerah Hutan Terlarang. Dia ditakdirkan bukan untukmu. Dia ditakdirkan bukan untuk menjaga hari tuamu. Tapi dia ditakdirkan ….”
Sunyi, mendadak saja suara itu menghilang. Peri tersebut mengedarkan pandang sekali lagi, masih sambil bertanya-tanya siapa yang sebenarnya berbicara dengannya. Namun, nihil, semua masih tetap sama, tak ada lagi sahutan dari dalam lorong gelap tersebut.
“Aku mengerti. Beri aku sedikit penangguhan waktu untuk menyelesaikan segala urusanku terlebih dahulu,” tutur peri tersebut. Namun, kali ini suara itu benar-benar telah lenyap dari dalam gua. Yang terdengar hanyalah deru napas peri tersebut beserta suara keremangan malam.
Takdir telah tertulis. Waktu semakin mengikis. Sebentar lagi jerit dan derit tangis akan silih mengisi. Puncak pertunjukan dari keegoisan, ketamakan, serta kesombongan akan digelar sebentar lagi. Siap atau tidak siap semua akan merasakan imbasnya.
Semua semakin jelas, meski ragu peri itu akan membantu sosok peri tersebut untuk menyiapkan diri mengarungi takdirnya. Jika benar dugaannya akan siapa sumber bunyi itu, maka dia rela melakukannya demi menembus kesalahannya di masa lalu. Entah bagaimana pun takdir itu akan bermuara nantinya.
***
“Lihat!”
“Kelopak bunganya mulai terbuka,” seru seorang peri menarik perhatian peri lainnya.
Mereka berdesak-desakkan mengerubungi lima belas batang kuncup bunga berukuran super besar. Diameter kuncup bunga itu nyaris mencapai satu meter, tinggi batangnya dua meter, dan lebar bunga ketika mekar diperkirakan mencapai dua meter lebih. Satu bunganya cukup untuk menampung satu peri dewasa.
Bunga-bunga ajaib itu hanya hadir tiap lima puluh tahun sekali. Sehingga tahun kemunculan bunga ini menjadi tahun yang paling dinanti-nantikan para peri bangsa Adzenar. Setiap bunga dihuni oleh seorang calon peri yang siap lahir di dalamnya. Sedangkan itu, para peri akan berjajar menyambut jelang kelahirannya. Namun, tidak semua daerah peri disambangi fenomena menakjubkan ini. Bahkan kapan datangnya pun akan berbeda tiap daerah.
Bangsa Peri Adzenar sendiri adalah sekelompok peri yang hidup menyebar dengan pusat peradaban berada di Istana Ranunculus. Mungkin, bagi kebanyakan peri, kejadian kelahiran peri adalah hal yang didamba-dambakan. Namun, bagaimana kabarnya dengan para peri yang tinggal di dekat Hutan Terlarang?
Awalnya mungkin mereka akan merasa takjub dengan kehadiran fenomena langka tersebut. Melihat bayi-bayi terlahir dengan kelucuan yang tiada terkira, serta mekarnya bunga ajaib tersebut. Namun, kenyataan bahwa mereka tinggal di dekat Hutan Terlarang tak terelakan.
Hidup di daerah dekat Hutan Terlarang mengartikan bahwa, hidup di sana sama saja hidup di bawah ancaman mengerikan segala isi yang bersumber dari hutan tersebut. Dibayang-bayangi maut dan tidak mungkin kabur. Sebab mau bagaimanapun mereka telah ditugaskan menjaga kawasan itu dari dimasukinya makhluk lain layaknya manusia. Alam di sana pun tidak begitu kaya, meski mereka telah berusaha menyuburkannya dengan kemampuan milik mereka. Sekarang ditambah kedatangan para peri? Semakin bertambah beratlah beban tanggung jawab mereka.
Jadi, sudah jelas. Kemunculan bunga-bunga tersebut di perkampungan peri dekat Hutan Terlarang bukanlah suatu hal yang begitu baik bagi mereka. Di samping keadaan yang menyeramkan, penduduknya pun sedikit. Begitulah nasib lima belas kuncup bunga yang siap mekar itu. Pasti akan ada peri yang kurang beruntung nantinya.
“Wah, lihat bunga warna ungu itu! Sudah mulai bergerak!”
Perlahan dengan pasti, satu-persatu kelopak bunga membuka. Para peri mengamati takjub dengan mulut yang tak henti-hentinya menggumamkan kata ‘wah’. Pemandangan di hadapannya tak hanya berupa padang bunga biasa. Melainkan sebuah panorama yang membius sekaligus memaku penglihatan mereka agar tidak berpaling dari tiap kuncup bunganya.
Warna-warni dan beraneka macam. Satu kelopak terbuka. Terbuka lagi. Satu lagi. Terus-menerus. Sebentar lagi! Maka mereka akan segera terlahir ke dunia ini.
“Ha-harumnya. Astaga!”
“Ini wangi sekali!”
Semerbak harum terpancar dari tiap bunga. Menguar di udara dan menebarkan bau wangi yang cukup melenakan para peri untuk menghirup udara lebih dalam lagi.
“Menakjubkan!”
Perlahan kelopak itu tersingkap, menampilkan sesosok bocah peri. Bergiliran dari bunga warna merah, hijau, kuning, dan terus bergulir dan berlanjut. Sungguh mengagumkan! Para peri masih terus tercengang. Bagi mereka itu semua teramat indah. Bocah peri itu berukuran seperti anak manusia usia lima tahun. Memiliki telinga runcing dan sepasang sayap transparan di punggungnya. Tubuhnya dibalut pakaian polos berwarna-warni menyesuaikan bunga yang didiaminya tadi.
Mereka terbangun, ada yang menguap sembari kucek-kucek mata, menatap kebingungan, terduduk manis, dan ada yang masih tertidur. Peri dewasa menghambur berterbangan mendekati mereka. Betapa menggemaskannya mereka sehingga membuat para peri tak sabar menurunkannya. Namun, sebuah suara gaduh tiba-tiba terdengar dari salah satu kuncup bunga. Tepat di tengah. Bunga yang belum mekar. Bewarna putih serta bergerak-gerak tak karuan. Semua peri siaga. Menatap was-was bunga tersebut.
“Kenapa bunga itu belum juga mekar?”
“Jangan-jangan, itu di dalamnya peri gagal.”
“Iya. Warnanya pun sangat putih. Belum pernah aku melihat bunga seputih itu.”
Peri dewasa terus melontarkan argumen. Saling mendebat dan mengait-ngaitkan dengan ramalan. Hingga tanpa mereka sadari bunga itu terbuka. Semua mata spontan teralih fokusnya. Lihatlah! Ada seorang anak peri di sana dan dia sedang berterbangan bebas mengejar sesuatu. Gedebak-gedebuk. Tumbur sana, tabrak sini. Semua peri terperangah akannya.
Belum pernah mereka melihat peri dengan rambut putih, pengecualian untuk peri lanjut usia—itu pun usianya harus mencapai empat, lima atau enam ratus tahun. Sedangkan peri di hadapan mereka, ia mempunyai rambut putih. Bukan putih, lebih tepatnya keperakan yang nyaris seperti transparan. Dia dibalut pakaian yang sama putihnya dengan kelopak bunga, polos, dan tanpa ornament.
Saat sudah sadar bahwa kelopak bunga yang ditinggalinya terbuka, peri itu menatap bingung sekumpulan peri yang melemparkan tatapan aneh padanya. Sejenak peri itu tak habis pikir, dia pun kembali melanjutakan aksi kejar-kejarannya lagi. Meluncur bebas dan menumbur bunga yang didiaminya. Akibatnya bunga itu bergoyang, oleng, dan jatuh menimpa bunga sebelahnya. Bunga di sebelahnya didekami seorang bocah peri, mendadak tanaman itu bergerak juga, bocah peri di dalamnya hilang keseimbangan dan tak menunggu lama dia jatuh tergelincir ke tanah. Sontak semua peri terperanjat kaget.
Peri putih itu tergelak sambil mengejar seekor lebah. Lihatlah keanehan pada dirinya. Saat semua peri belum bisa menggerakan sayapnya, tapi peri itu sudah dengan lincah melesat ke manapun. Tangan dan kakinya ikut andil sekarang. Memukul dan menendang asal bunga yang dilalui tawon. Berderet dari kanan hingga ke kiri, mengeliling, semua pepohonan dia tumbur hingga mulai limbung dan berjatuhan. Saat bersamaan, ledakan tangis pecah di mana-mana. Suasana yang mulanya mengagumkan seketika berubah riuh.
Tak tahan lagi, seorang peri berteriak lantang. “Tangkap peri terkutuk itu!”
“Baru lahir saja sudah membuat keributan.”
“Ayo!”
“Dasar peri sialan!”
“Lihat kegaduhan yang terjadi. Tangkap saja sudah!”
“Cukup!” Seorang peri menengahi keadaan. Semua pun terdiam, kecuali derai tangis anak peri yang kian membahana. “Hentikan! Kalian segera bawa anak-anak itu turun dan tenangkanlah mereka. Peri itu biar aku yang mengurusnya.”
Bergegas para peri menurut. Dia adalah ketua peri di perkampungan ini. Wajar saja bila para peri seketika menurut saat dia bersuara.
Peri yang tadi menengahi langsung mendekati peri yang baru saja membuat keributan.
Ketika didekati, peri putih itu sudah tergeletak di tanah dengan posisi terlentang dan sebelah tangan kanan menggenggam sesuatu. Napasnya terengah-engah. Namun, seulas senyum menghiasi bibirnya yang mungil.
“Nak,” panggil Ketua Peri. Jongkok di hadapan peri tersebut sembari mengulurkan tangan.
Peri itu bangkit dan menyeret dirinya mundur. Ketakutan serta-merta menguasainya. Dia tidak kenal dengan peri di hadapannya.
“Ikut aku!” pintanya. “Jangan takut, kemarilah! Mari kita segera selesaikan keributan ini.”
Setelah bisa ditenangkan, keributan telah diatasi, kini semua peri berkumpul. Tak terkecuali. Masing-masing peri berbaris dan tak lupa menggandeng seorang anak peri.
Di antara deretan peri itu, peri pembuat kegaduhan sadar ia berada di deretan terpisah. Berdiri terpisah bersama tiga peri lainnya. Dia menatap bingung, Bertanya-tanya kenapa mereka bertiga tidak di barisan yang sama dengan para peri dewasa?
Ternyata benar, kemunculan fenomena bunga di perkampungan peri dekat Hutan Terlarang, memang tidak begitulah baik. Karena pada akhirnya, hasil akhir dari pertunjukan tersebut yakni tersisa tiga peri yang tidak mendapatkan hak asuh, termasuk si peri putih.
“Mari kita akhiri pertemuan ini. Silakan kembali ke kediaman masing-masing dan untuk tiga peri ini biarkan aku saja yang mengurusnya meski tidak secara langsung. Namun, suatu saat sebelum usia mereka mencapai 15 tahun kalian boleh mengambil hak asuh lagi kepada salah satu dari mereka jika berminat,” terang Ketua Peri menutup kejadian hari itu.
Saat itulah kesadaran anak peri putih itu pecah. Rasa sesak menyergapnya, menyesak hingga ke relung dadanya. Fakta memilukan bahwa tidak ada seorang peri pun yang menginginkannya.
***