Jam pelajaran pertama baru saja selesai, dan koridor kampus langsung dipenuhi suara riuh para mahasiswa. Pintu-pintu kelas terbuka hampir bersamaan, menciptakan gelombang manusia yang tumpah ke lorong. Canda, tawa, langkah cepat, suara sandal gesek lantai, semuanya menyatu menjadi satu suasana khas jam istirahat.
Namun tiba-tiba, suasana itu mendadak berubah.
Dari ruang 1.A, muncul seorang gadis yang membuat waktu seolah melambat. Amanda. Rambut panjangnya terurai rapi, pakaian kampusnya tampak sempurna tanpa cela, dan yang paling mencengangkan, wajahnya bersinar cerah dihiasi senyum yang jarang sekali muncul.
Senyum yang cukup untuk membuat koridor mendadak hening beberapa detik.
Kemudian…
“WOI lihat Amanda!” bisik seorang mahasiswa, panik menahan volume suaranya.
“Kok dia cantik banget hari ini?” “Nggak cuma cantik… glowing! Ada apa dia senyum-senyum gitu?” “Wah, wah dunia sudah mau kiamat. Amanda biasanya dingin kayak kulkas lima pintu.”“Jangan-jangan… dia punya gebetan baru?”
“Mustahil. Anak pejabat aja pernah dia tolak mentah-mentah!”
“Terus kenapa dia bahagia banget?” “Entah! Mungkin kena sambaran petir kali!”
Tawa meledak dari berbagai arah, tapi semua itu langsung mereda ketika mereka melihat arah langkah Amanda.
Menuju kelas 1.D.
Menuju seseorang.
Di dalam kelas, Alvaro duduk santai di kursinya. Wajahnya tenang, tanpa suara keramaian koridor sedikit pun memengaruhi. Ia sedang merapikan bukunya, mempersiapkan diri untuk jam berikutnya.
Di belakangnya, Dinda melihat punggung Alvaro sambil menggenggam buku di dadanya. Wajahnya gugup, bibirnya bergerak-gerak tanpa suara.
"Aku harus ajak dia makan siang," pikirnya panik. "Tapi… aku harus bilang apa? ‘Al, makan bareng yuk?’ Aduh mati. Nanti kalau aku salah bicara? Kalau dia nolak? Malu banget aku…"
Namun sebelum ia bisa mengumpulkan keberanian …
Seseorang muncul di pintu kelas.
“Hay, Al!”
Amanda berdiri di ambang pintu dengan senyum selembut matahari pagi.
Hening.
Seisi kelas berhenti bernapas.
“ASTAGA—Amanda?” bisik seseorang di belakang. “Dia… SENYUM?”
“Dan dia… nyapa Alvaro?”
Tanpa memberi jeda, Amanda melanjutkan, suaranya ceria dan terang:
“Kita makan bareng yuk!”
BRUUAAAKKK!!!
Satu kelas — bahkan lorong luar — langsung pecah seperti mercon meledak.
“APAAN?!”
“Amanda ngajak Alvaro makan?!” “Apa aku perlu cek mata?”
“Cewek paling elit naksir cowok paling miskin di kampus?”
“Ini dunia nyata atau mimpi buruk gw?”
Alvaro hanya menatap Amanda sebentar, lalu menarik napas.
“Amanda… kau bikin keributan.” Ia menunjuk seisi ruangan yang sudah menatap mereka seperti penonton sinetron. “Sekarang semua orang melihatku dengan tatapan iri dan benci.”
Tapi Amanda hanya tersenyum makin cerah.
“Aku nggak peduli,” katanya lebih lantang agar semua mendengar. “Aku memang datang buat kamu.”
Kelas makin pecah.
Alvaro berdiri perlahan. “Kau terus menarikku ke masalah yang bukan urusanku.”
Amanda terkikik kecil. “Seharusnya kamu bangga, dong. Aku, Amanda … ngajak kamu makan bareng.”
“Aku nggak butuh kebanggaan seperti itu,” jawab Alvaro datar.
“Aku mau makan sendiri.”
Tanpa menunggu, ia berjalan melewati Amanda.
Namun Amanda langsung mengejar dengan langkah cepat. “Nggak mau. Aku ikut.”
Koridor makin gempar ketika melihat Amanda berjalan di samping Alvaro layaknya pacar yang tidak mau ditinggal.
“Sumpah ini gila.” “Amanda ngejar cowok? Yang biasanya dia cuekin semua cowok itu?” “Dan cowoknya… cuek banget! Memangnya Alvaro siapa sih?!”
Di kelas 1.D, Dinda hanya bisa duduk diam. Tangannya mengepal pelan di bawah meja.
Hatinya mencelos.
Namun ia menahan diri. “Mungkin mereka cuma teman…” bisiknya lirih.
Sementara itu, Alvaro berjalan cepat menuju kantin, tetap tak memedulikan keributan di belakangnya.
“Al! Jalannya pelan dikit dong!” seru Amanda sambil setengah berlari mengejar.
“Ini jam istirahat. Aku mau ke kantin,” balas Alvaro tanpa menoleh.
Amanda menggigit bibir, frustrasi… tapi tetap tersenyum. Ia tidak menyerah.
Dan tiba-tiba—
“Tunggu dulu, Al!”
Tangannya menarik pergelangan tangan Alvaro.
Spontan koridor meledak.
“a***y! Amanda pegang tangan Alvaro!!” “Gila… ini mimpi apa kenyataan?” “Dia nggak pernah sentuh cowok mana pun, sumpah!” “Gila! Gue iri banget!”
Amanda mengangkat sebuah kotak makan. “Aku bawain ini buat kamu,” katanya manis.
Kotak bekal itu rapi seperti sajian restoran: nasi cetak berbentuk hati, ayam bumbu, sayur, telur dadar, bahkan buah segar.
“Ini buatan ibumu?” tanya Alvaro.
Amanda langsung manyun. “Enak aja! Aku yang masak sendiri. Aku bangun pagi-pagi banget buat bikin ini!”
Alvaro terdiam sejenak, sedikit terkejut. Dia? Masak? Buat siapa? Untuk apa?
“Gimana rasanya?” tanya Amanda sambil sedikit condong mendekat.
“Ya… lumayan,” jawab Alvaro datar.
Amanda langsung cemberut lucu. “LUMAYAN? Maksud kamu enak atau nggak?!”
Alvaro menghela napas. “Itu enak.”
Amanda langsung berseri cerah. “Syukurlah! Aku senang banget kamu suka!”
Lalu dengan nada manja:
“Kalau gitu… mulai sekarang aku buatin kamu bekal setiap hari, ya?”
Dan—
“AAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHH!!!!”
Serentak seluruh mahasiswa yang mendengar berteriak seperti paduan suara dadakan.
“Amanda mau bikinin bekal tiap hari?!” “Gila! Ini sudah level pacaran, bukan deket lagi!” “Atau jangan-jangan… Alvaro anak orang kaya nyamar?” “Jangan-jangan mereka udah jadian dari dulu?!” “GILA! Ini BENERAN GILA!”
Suara-suara itu menggema di seluruh kantin.
Sementara Alvaro hanya menghela napas, memandang Amanda yang tersenyum bahagia seperti gadis yang menemukan harta karun.
Hubungan apa ini?
Tidak ada yang tahu.
Dan seluruh kampus kini hanya punya satu pertanyaan …
“Mereka pacaran… atau tidak?”