“Kamu suka, Sya?” tanyaku saat pagutan kami terlepas dan Asya langsung menyembunyikan wajahnya—menunduk malu. “Hah, semakin berat aku mau pergi,” ucapku. Aku kembali meminta Asya segera turun karena kelasnya tidak lama lagi dimulai. “See you, Farhan,” ucapnya sendu. “Masa sudah tiga minggu menjadi kekasih, sekalipun aku belum pernah dipanggil sayang. Sejak dulu saja aku sudah memanggilmu sayang,” rajukku. “Haruskah?” tanyanya polos. “Sudahlah kebanyakan bertanya, waktumu juga sudah hampir habis,” kesalku. “Okey, aku turun ya,” ucapnya dan aku melempar bombastic side eye ke arahnya. Tepat saat dia akan menutup pintu mobil, dia kembali bersuara, “See you, Farhan sayang,” katanya lalu menutup pintu dan berlari kecil. “Sya, ulang!” pekikku membuka jendela mobil dan dia menoleh memeletkan

