POV Asya Minggu berganti minggu aku kesulitan menahan rindu yang semakin menyesakkan d**a. Di saat kami asyik-asyiknya bersama, Farhan harus kembali ke Bandung. Aku melihat pantulan wajahku pada ponselku menunggu sambungan panggilan video dengan Farhan yang belum terhubung. Kini mataku terpaku pada bibirku hingga kilas balik ingatan French kiss meresahkan dengan Farhan hari itu memenuhi pikiranku. Farhan tidak menciumku, tapi dia memakanku. Namun, aku menyukainya. Aku sampat tersenyum sendiri mengingatnya. “Sayang! Senyum sama siapa?” tanya Farhan begitu sambungan telepon tersambung tanpa aku sadari. Semburat merah di wajahku membuatnya kian penasaran. “Sayang! Kamu lagi sama siapa?” “Sendirian, aku lagi di kamar,” ucapku bangkit dari meja rias menuju bean bag di dekat jendela. Malam

