POV Ardika Saat pintu besi ini terbuka, aku berjalan menuju ruang kunjungan. Kulihat Bram duduk di seberang pembatas, sementara aku duduk di ruang kunjungan. "Bagaimana keadaan di luar?" tanyaku, meskipun tak sepenuhnya ingin mendengar jawabannya. Bram duduk di hadapanku, mengambil napas panjang sebelum mulai berbicara. "Mbak Asya ... dia sudah pergi ke Jepang bersama papanya. Perusahaan jatuh, tersisa perusahaan Pak Prastyo yang kini berada di ujung tanduk." Bram terdengar menghela napas. Rahangku mengeras, tanganku mengepal. Namun, tak ada kata yang keluar dari bibirku. Bram melanjutkan kalimatnya, "Seperti permintaan Pak Ardika, Kakek sudah berada di Amerika. Bandung masih belum aman dan stabil untuk keluarga ini. Dan ... Bu Ajeng, beliau sekarang lumpuh, meski kakinya masih utuh

