Untung Ada Teman

1266 Kata
Cobaan buat Raka belum berhenti. Keesokan paginya dia mendapatkan email dari kantornya yang mengharuskan dirinya berhenti karena dia sudah tidak masuk tiga hari tanpa kabar. Raka shock lalu pingsan. Setelah bangun, Nanda dan Kiki sudah ada di dekat Raka. Dokter memberitahu mereka jika Raka pingsan karena stres berlebihan. Mendengar itu mereka sebagai teman, mencoba menghibur. "Bro, udah lah nggak usah mikirin masalah biaya. Gua ama temen-temen yang lain udah bantuin bayarin kok. Lain kali, nggak usah kayak gitu. Kita nih kawan, nggak boleh kayak sendirian susah, senang aja kita rame-rame!" ucap Nanda menyemangati. "Thanks banget, Bro!" balas Raka. "Pikirin kesehatan lo, Ka. Masalah uang gampang bisa nanti diganti!" seru Kiki yang berada disamping Nanda. "Makasih banyak ya, sekarang gue udah sehat kok. Udah boleh pulang kali. Buseh, gue nggak betah!" Semua tertawa melihat tingkah Raka. Beruntungnya Raka masih ada teman setia yang menemaninya. ** Raka pulang ke kosan. Setelah istirahat dua hari di rumah sakit. Badannya sudah merasa agak sehat. Dia kesal, sampai hari inipun Citra tak kunjung menghubunginya. Raka orang yang positif. Dia tak memikirkan hal-hal yang tak penting di dalam dirinya. Dibenaknya setiap pembicaraan itu adalah doa. Hal inilah yang membuat dia tak pernah memikirkan hal negatif tentang orang lain apalagi orang yang dia sayang. Hari ini Raka bertekad pergi rumah Citra untuk memastikan hubungannya. Motor lusuh yang selalu menemaninya, dikendarai untuk pergi ke sana. Sesampainya di rumah Citra, Raka mendapati banyak sekali mobil terparkir di halaman rumahnya. Dia yang bingung langsung memarkirkan motor lusuhnya itu disebelah rumah Citra. "Permisi Pak, saya numpang parkir motor sebentar ya," ucap Raka pada pemilik rumah samping rumah Citra. "Oh ya. Ya nggak papa kemarin juga bapaknya Citra sudah bilang." Raka semakin bertanya-tanya dalam hatinya. Ada acara apa sampai dirinya tak diberitahu Citra. Raka lanjut melangkahkan kakinya ke dalam rumah Citra. "Permisi, Assalamualaikum," ucap Raka memberi salam. "Waalaikumsalam, ya Mas?" jawab wanita setengah baya, wajahnya sangat persis seperti ayahnya Citra. Raka berpikir pasti itu bibinya. "Maaf Bu, Citra nya ada?" Raka langsung menyebutkan tujuannya. "Citra-nya sedang di dapur membantu ibunya memasak. Sebentar ya saya panggilkan." Raka mengangguk dan menunggu di depan rumahnya. Lalu wanita setengah baya itu masuk memanggil Citra. Tak berapa lama, Citra datang. "Maaf, siapa ya?" ucap Citra. Raka langsung menengok ke arah Citra. Citra pun terdiam melihat Raka. Citra lalu menarik tangan Raka, menjauh ke arah depan rumahnya. "Ah, kita ke sana dulu. Mari kita bicara." Citra melihat ke arah kanan dan kiri, seperti takut ada yang melihat mereka berdua. Raka yang bingung hanya bisa mengikuti. Mereka lalu berbicara dibelakang mobil yang terparkir di rumah tetangga Citra. "Kamu ngapain kesini?" ucap Citra dengan nada bicara seakan tak suka. Raka berusaha tenang menghadapinya. "Ngapain? Kamu nggak salah ngomong?" "Raka, maaf soal ini aku ... hm, aku ingin hubungan kita udahan aja, maaf. Sekali lagi maaf. Tapi aku nggak bisa jelasin sekarang alasannya. Aku mohon kamu ngerti." Degh! Jantung Raka seakan berhenti sejenak. Entah, saat ini dia sangat kaget sekali. Tapi Raka berusaha tenang. "Putus? Alasannya apa? Jadi selama ini kamu diemin aku untuk ini. Oke, aku paham." Citra memegang keningnya. Dirinya terlihat pusing dan kalut. "Nggak gitu, tapi … Ya udah aku nggak mau ngasih harapan kamu lagi. Aku mau kita putus. Aku di jodohin sama ayah dan aku nggak bisa nolak. Maaf." Raka menarik nafas. Mencoba menahan amarah. "Oke. Selamat ya. Semoga kamu bahagia." Raka menahan rasa sakit dihatinya, dia melihat Citra tak sedikit pun sedih dengan ini. Malah terlihat bebas. Raka mencoba mengikhlaskan semuanya. "Citra!" suara kakaknya Citra menggema dari rumahnya. "Ya, Kak! Sebentar!" Citra terlihat takut ketika kakanya memanggil. "Kamu pulang dulu, nanti aku ke kosan kamu." Raka tersenyum kecut. "Tak perlu! Sekali lagi selamat ya!" Raka meninggalkan Citra. Tak lama kakaknya datang dan melihat semua itu. "Cit, dipanggil ibu di dapur. Sana gih!" "Ya Kak." Citra pun berlalu masuk. Kakaknya menghampiri Raka dengan sedikit angkuh, dia melipat kedua tangannya mengekori Raka sampai ke motornya. "Maaf ya. Adik aku malam ini akan bertunangan. Lebih baik kamu mencari yang lain. Lagian kamu nggak pernah mikir kalau kamu itu hanya karyawan biasa. Nggak sepadan sama kita, paham!" ucap Kakaknya Citra yang sedikit menghina Raka. Raka tersenyum. "Iya, saya paham! Saya hanya mau mengucapkan selamat! Oh ya, saya pamit!" Kakaknya tidak menjawab dan langsung berbalik badan meninggalkan Raka masuk ke dalam rumahnya. Raka sedih, marah, dan emosi semua bercampur aduk. Di gas motor butut yang selama ini menemani hidupnya, tak sadar air mata menetes. Perih, itu yang dia rasakan. Empat tahun menjalani kisah cinta. Namun, akhirnya dia memilih yang lain. Empat tahun Raka mempertahankan keadaan. Selalu mengalah dan berusaha menjadi yang terbaik. Semuanya sia-sia. Raka tak paham kenapa dirinya dibuang begitu saja. Dia masih ingat tatkala dirinya bertemu dengan Citra, dulu. ** Empat tahun yang lalu. Raka menscroll Instagramnya asal, tak sengaja melihat foto Citra terlintas. Dia ingat, saat berkenalan dengan Citra di sebuah taman kota saat sedang lari pagi dan mereka hanya bertukar Id i********:. Raka iseng menyukai dan berkomentar di fotonya. (Itu bibir biasa aja kayak mau copot. ) komen Raka dengan emot tertawa. (Ih, Ih ngeselin.) balas Citra cepat yang kala itu juga sedang online. (Coba kakinya agak maju, mukanya agak condongin, cakep deh.) ledek Raka lagi. (Gua mah tiduran juga cakep.) Citra membalas dengan emoticon tersenyum sipu. (Iya, lho mah cantik. Tapi kalo fotonya berdua ama gue, wkwkwk.) (Asik, ada yang ngarep.) (Yuhu, sedikit.) Citra hanya menyukai kata-kata Raka yang terakhir tanpa membalas. Sejak saat itu mereka semakin dekat. Hari berlalu. Baim Raka dan Citra saling bertukar nomor telepon. Mereka juga kerap kali saling memberi kabar. Hingga mereka bersepakat bertemu. (Hai, kita jadi ketemuan hari ini?) tanya Raka ke Citra melalui pesan chat. (Boleh, dimana?) Balas Citra. (Di taman dekat kota, mau?) (Boleh.) (Aku jemput atau ketemu di sana?) (Jemput ya, nanti aku sharelok) (Oke.) Raka tersenyum. Hatinya berbunga-bunga saat ini. Sepertinya dia mulai jatuh cinta dengan sosok Citra. Tiba saatnya jam tiga sore. Raka sudah berpakaian rapi layaknya bertemu gebetan. Kali ini dia ingin mengakhiri masa jomblonya dan memang sudah tertarik lama dengan Citra. Dia juga tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Sesampainya Raka di rumah Citra. "Assalamualaikum," ucap Raka. "Waalaikumsalam." Citra langsung keluar dengan berpakaian rapi, sungguh terlihat cantik dan manis. Raka memandangnya tak henti. Ia langsung jatuh cinta melihat itu. "Ayo, aku udah siap!" ucap Citra membuyarkan lamunan Raka. "Ah, oke. Aku pamit dulu sama Ibu dan Ayah kamu, boleh?" Raka berusaha sopan. "Hmm, Ayah kerja, adanya Mama. Sebentar ya, aku panggilin." Citra masuk lagi ke dalam rumahnya. "Mah... Mah… Raka mau pamit nih." Mamanya Citra lalu keluar,.Raka merasa jantungnya ingin copot karena malu, tapi dia dengan gagah sebagai seorang pria bertanggung jawab,ingin meminta izin untuk membawa anaknya. "Assalamualaikum, Bu." Raka menyalami tangan ibunya Citra. Namun, ibunya Citra menatap tajam ke arah dirinya, melihat penampilannya. Lalu menyerahkan tangannya. "Waalaikumsalam. Mau kemana kalian?" tanya Ibunya Citra. "Maaf Bu, aku mau ngajak Citra jalan-jalan dan nonton mohon izin Bu." "Silakan. Pulangnya jangan malam-malam." "Ya. Bu, assalamualaikum." Raka kembali menyalami, Citra pun begitu. Mereka akhirnya pamit pergi. Raka mengajak Citra pergi ke taman. Mereka berkeliling lalu setelahnya duduk di bangku yang tersedia. "Ayo kita foto bareng," ucap Raka menagih janji ke Citra. Citra tersenyum malu menanggapi. "Hmm, boleh, tapi kok lu gak nanya gua udah punya pacar apa belum?" ledek Citra. "Ya, ngapain! Kalo udah punya, tolong bilang sama pacar lo, gua mau rebut lu. Kalau belum, ya gua beruntung, hehe." Raka tertawa. "Dih, maksa ya hahaha. Kamu lucu!" "Kalau lucu sudah dari dulu. Ditambah tampan kalau sekarang." "Haha, dulu jelek emangnya?" "Ya, item. Kebanyakan main layangan." "Hahaha, kamu lucu banget sumpah!" Citra tersenyum hatinya mulai terpikat oleh Raka yang humoris. Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN