Dikhianati
Raka masih terbaring lemah di tempat tidurnya. Sudah dua hari ini ia sakit. Ibunya yang merasa khawatir dengan anaknya itu, lalu menelponnya.
“Assalamualaikum," ucap Ibunya Raka di sambungan telepon.
“Waalaikumsalam, Bu. Uhuk ... uhuk,” jawab Raka sambil sedikit terbatuk.
“Eh, Nak, kamu sakit? Tuh kan benar firasat ibu dari tadi tak enak hati mikirin kamu. Kamu sakit apa? Sudah minum obat? Sudah ke dokter? Citra mana?” celoteh ibunya Raka yang khawatir.
“Bu. Raka baik-baik aja kok. Ni Raka lagi sama Citra, Raka mau ke dokter dulu ya, Bu. Nanti Raka telpon lagi.”
“Oh ya sudah. Citra mana? Ibu mau ngomong sama dia."
“Hah! Hmm, Citra lagi di kamar kecil Bu. Raka tutup ya Bu. Raka mau siap-siap dulu. Assalamualaikum.”
“Ah begitu. Ya sudah. Nanti kabari Ibu ya. Waalaikumsalam.”
Raka menutup teleponnya. Hatinya terisak. Dia terpaksa berbohong mengatakan itu kepada ibunya.
“Bu, maaf Raka udah bohong!” gumam Raka.
Tak lama Raka menelepon Citra tapi tak diangkat sejak dua hari lalu. Di mana dirinya pertama kali sakit. Dia kelelahan karena lembur seminggu penuh. Dirinya ingin mendapatkan penghasilan tambahan untuk membeli sebuah cincin.
Raka Atmaja, seorang karyawan pabrik biasa yang bercita-cita menikahi dan membahagiakan Citra Herlina. Gadis cantik yang sudah dipacari sejak empat tahun.
Tahun ini Raka berniat untuk melamar Citra saat ulang tahunnya.
Raka lalu mengirimi Citra pesan, tapi tak ada balasan untuk itu. Dia yang terbaring lemah hanya bisa berdiam diri dan menguatkan hati dari prasangka buruk yang terlintas di kepalanya.
Raka membuat status tentang dirinya yang sakit di salah satu medsosnya. Hal ini membuat teman-temannya berkomentar.
[ Eh Nge, sakit lo? ] send Nandut. Teman kerja sekaligus teman mainnya.
(Ah, sial! Komen mulu lo!) Balas Raka.
[ Jiah, robot bengek juga! ] send Kiki, teman mainnya juga.
(Kusem! Dimana lu? Sini kosan gue! Mabar kita.) Balas Raka.
[ Bengek lo! Baru gua mau ajak ke gang sebelah, ada kenalan gua! Tenggorokan lo bengkok!] Kiki membalas.
( Anjim, gua setia Men!)
Raka tersenyum setelah beberapa teman mencoba menghibur dirinya saat dia pasang status sedang sakit.
Ya, sahabat jauh lebih baik dari segalanya.
**
Keesokan harinya, Raka terbangun. Badannya tambah sakit dan dingin. Ibu kosan yang melihat Raka tidak keluar dari kemarin mencoba mengetuk kamarnya.
Tok… tok… tok…
"Raka, kamu sudah bangun nak?" teriak Ibu kos.
"Ya Bu, sudah. Sebentar Bu." Raka lalu bergegas bangun dengan langkah tertatih membukakan pintu.
"Hmm, maaf Bu ada apa?" lanjut Raka dengan suara lemas.
"Begini, kemarin teman-temanmu bilang kalau kamu sakit, makanya Ibu hanya mengecek kamu sudah sembuh apa belum." Ibu kos memegang dahi Raka. "Aduh! panas sekali. Ayo, segera berobat ke Rumah Sakit. Ibu nggak mau ya, anak kos Ibu kenapa-napa. Nanti diantar ya sama bapak," lanjutnya.
"Aku nggak apa kok, Bu. Cuma butuh istirahat," lirih Raka kemudian.
"Aduh! Nak Raka tuh jangan sungkan, biar hanya anak kos, tapi Ibu dan Bapak menganggap semua anak-anak yang ngekos, seperti anak-anak sendiri, sebentar Ibu panggilkan Bapak dulu ya."
Raka hanya bisa terdiam sambil menahan sakit di dadanya. Dia lalu bergegas kembali ke tempat tidur karena kepalanya sangat pusing jika terlalu lama berdiri.
Tak lama Ibu kos datang bersama dengan suaminya.
"Tuh Pak, ayo kita antar Raka!" ucap Ibu kos menunjuk ke arah Raka memberitahu suaminya.
"Raka, Raka, kamu kalau sakit mbok ngomong! Jangan diem aja. Anggap Bapak sama Ibu orang tua kamu sendiri," seru Bapak Kos.
"Hmm, uh, Makasih Bu, Pak," lirih Raka.
Pak Tejo dan Bu Tejo pemilik kosan yang ditempati oleh Raka. Mereka sungguh baik, menganggap semua penghuni kosan seperti anaknya sendiri. Makanya tak jarang Raka juga sering membantu Pak Tejo dan Bu Tejo untuk sekedar menyirami tanaman rumahnya dan kosan sebagai terima kasih.
**
Bu Tejo dan suaminya membawa Raka ke rumah sakit. Di ruang IGD tak lama dokter keluar menemui mereka.
"Dok, gimana keadaan anak saya, apakah baik-baik saja?" ucap Bu Tejo dengan wajah panik.
"Tenang Bu, tenang." Pak Tejo menenangkannya.
"Begini Bu, Pak, anak bapak dan ibu terkena tipes dan harus dirawat tiga hari di sini, karena kondisinya sangat mengkhawatirkan. Dia terlalu lemah."
"Berikan yang terbaik untuk anak saya, Dok," ujar Pak Tejo.
"Baik, kami akan berusaha sebaik mungkin. Kalau begitu saya permisi ya, Pak."
Pak Tejo dan Bu Tejo masuk menemui Raka yang sedang terbaring, Raka mendengar percakapan mereka dengan Dokter yang menanganinya.
"Pak, Bu, mohon jangan bilang ke ibu Raka ya. Nanti aku akan ganti semua biaya perawatan selama di sini Bu, Pak," ucap Raka memohon.
"Sudah, kamu sekarang sehat aja dulu. Masalah biaya, tak usah kamu pikirkan." tukas Pak Tejo.
"Terima kasih Pak, Bu, terima kasih ya," jawab Raka terharu.
"Kalau begitu, Bapak sama Ibu pamit, ya. Binar di rumah sendirian. Tapi kamu nggak apa kan sendiri?" pamit Pak Tejo, diikuti istrinya.
"Ya Pak, Bu. Sekali lagi, terima kasih ya. Nanti Nanda mau ke sini kok. Temenin Raka."
"Ya sudah kalau begitu. Cepat sehat ya. Saya pamit."
Raka lalu bersalaman dengan Pak Tejo.
"Iya Raka, Semangat ya semoga cepat sembuh!" lanjut Bu Tejo yang juga mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Pak Tejo dan Bu Tejo berlalu pergi.
Raka mengambil ponselnya yang sejak tadi dia taruh di atas meja samping bangsal, lalu menelpon Nanda.
"Halo, Nan, lu di mana? Lu bisa kesini nggak?" ucap Raka di sambungan telepon.
"Halo, ya! Ngapa? Biasa, gua di rumah! Bisa kesini kemana pea, emang gue tahu lo dimana? Haha," jawab Nandut sambil tertawa.
"Nan. Lu mau nggak temenin gua. Gua lagi di rumah sakit. Lu sendirian tapi jangan ajak banyak bocah ya, gue takut diomelin!"
"Bujuk, Lu ngapa? Ya udah, tunggu bentar. Gua ke sono! Citra disana nggak? Tadi gue lihat dia jalan ama si Doni ama si Vira!"
Degh!
Seketika hati Raka berdegup kencang, berdebar, dan bergejolak ingin marah. Dia menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya pelan. Nanda yang menunggu jawaban Raka memanggilnya lagi di saluran telepon.
"Ka, woi! Lu kagak ngapa-ngapa kan?"
"Ah, hmm… Sorry, d**a gue tadi sakit. Ya udah lu ke sini dulu aja! Tolong bawain gue bubur ya, bubur ayam! Kagak enak banget makan-makanan di sini, sumpah!"
"Yaudah, oke. Siap!"
Raka pun menutup teleponnya, lalu dia mencoba menghubungi Citra lagi tapi masih sama seperti kemarin, tak ada jawaban. Sudah banyak juga pesan, namun Citra tak membalasnya.
"Cit, kamu kenapa sih? Kenapa kamu berubah? Apa salah aku?" batin Raka bergumam tak menentu. Pikirannya kalut. Ingin sekali dia menemui pacarnya itu, tetapi apa daya dia sedang tak ada kekuatan.
Raka berselancar di i********: lamanya. Dia melihat foto Citra bersama teman-temannya sedang berpesta. Dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Citra beberapa kali berfoto seperti dekat dengan temannya yang bernama Doni. Foto mereka terlihat seperti sepasang kekasih.
Namun, Raka menggubris semua pikiran negatif yang ada di pikirannya, dia masih berpikir kalau Citra sangat sayang padanya.
Raka mematikan layar ponselnya lalu menaruhnya di atas meja
"Stop! Gue harus berhenti dari dunia maya dulu." lirih Raka.
Meski kesal. Sesungguhnya dia sangat merindukan Citra, pacarnya itu.
**
Cobaan buat Raka belum berhenti. Keesokan paginya dia mendapatkan email dari kantornya yang mengharuskan dirinya berhenti karena dia sudah tidak masuk tiga hari tanpa kabar. Raka shock lalu pingsan.
Setelah bangun, Nanda dan Kiki sudah ada di dekat Raka. Dokter memberitahu mereka jika Raka pingsan karena stres berlebihan. Mendengar itu mereka sebagai teman, mencoba menghibur.
"Bro, udah lah nggak usah mikirin masalah biaya. Gua ama temen-temen yang lain udah bantuin bayarin kok. Lain kali, nggak usah kayak gitu. Kita nih kawan, nggak boleh kayak sendirian susah, senang aja kita rame-rame!" ucap Nanda menyemangati.
"Thanks banget, Bro!" balas Raka.
"Pikirin kesehatan lo, Ka. Masalah uang gampang bisa nanti diganti!" seru Kiki yang berada disamping Nanda.
"Makasih banyak ya, sekarang gue udah sehat kok. Udah boleh pulang kali. Buseh, gue nggak betah!"
Semua tertawa melihat tingkah Raka. Beruntungnya Raka masih ada teman setia yang menemaninya.
Bersambung ...